Rabu, 19 Juni 2024

Israel Bom Rumah Warga dan Masjid

GAZA CITY (RIAUPOS.CO) – Israel berhasil membebaskan dua tawanan saat menyerang Rafah, Ahad (11/2) malam hingga Senin (12/2) pagi. Dua tawanan itu adalah Fernando Simon Marman (60) dan Louis Har (70). Namun sebagai gantinya, setidaknya 100 nyawa penduduk sipil di Rafah melayang.

’’Israel secara resmi terus menargetkan warga sipil dan mengalihkan perang ke Rafah untuk mendorong penduduk mengungsi akibat pemboman,’’ bunyi unggahan Kementerian Luar Negeri Palestina yang dirilis di X.

- Advertisement -

Dalam serangan di distrik Shaboura, Rafah tersebut setidaknya ada 14 rumah penduduk dan 3 masjid yang dibombardir. Kementerian Kesehatan Palestina memaparkan bahwa di seluruh Jalur Gaza korban serangan Israel mencapai 164 orang. Total korban meninggal sejak 7 Oktober sudah mencapai 28.100 orang dan sekitar 67.500 korban luka.

Rafah dihuni sekitar 1,4 juta-1,5 juta pengungsi warga sipil Gaza. Serangan dini hari di saat orang-orang tengah terlelap itu memicu kepanikan. Ziad Obeid, seorang pengungsi, mengatakan bahwa dia terbangun pukul 02.00 karena rentetan ledakan yang membuat langit terang benderang. ’’Itu seperti tengah hari, bukan malam. Itu adalah malam yang mengerikan,’’ ujarnya seperti dikutip BBC.

Baca Juga:  Mahasiswa Indonesia Meninggal Dunia Tertimpa Pohon

Sekutu-sekutu Israel terus memberikan peringatan terkait serangan ke Rafah tersebut. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menegaskan bahwa serangan ke Rafah menimbulkan bahaya bagi warga sipil yang berlindung di sana. Kegagalan untuk memastikan perawatan khusus bagi lebih dari 1 juta warga sipil di wilayah tersebut akan menyebabkan kerugian serius bagi kepentingan Israel sendiri.

- Advertisement -

Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron juga telah meminta Israel untuk menghentikan strategi militernya itu. Dia menegaskan kembali seruan untuk menghentikan pertempuran yang dapat mengarah pada gencatan senjata permanen. Mantan PM Inggris tersebut juga memaparkan bahwa tidak ada tempat bagi para pengungsi tersebut untuk melarikan diri. ’’Kami ingin Israel berhenti dan berpikir serius sebelum mengambil tindakan lebih lanjut,’’ terangnya.

Amerika Serikat juga memberikan peringatan yang sama. Namun, di sisi lain, AS masih terus mengucurkan bantuan kepada Israel. Ahad, senat baru meloloskan RUU paket bantuan ke Israel, Ukraina dan Taiwan senilai 95,34 miliar dolar AS atau Rp1,5 kuadriliun.

Baca Juga:  Israel Ancam Serang Rafah hingga Bulan Ramadan

Sementara itu, pengadilan banding Belanda memerintahkan pemerintah Belanda untuk memblokir semua ekspor suku cadang jet tempur F-35 ke Israel dalam waktu tujuh hari. Pengadilan menemukan bahwa ada risiko jet tempur F-35 Israel dapat digunakan untuk melanggar hukum kemanusiaan internasional.

Terpisah, di belahan Eropa perang juga masih berkobar di Ukraina. Situasinya kini kian sulit karena pemerintah mulai kesulitan mencari tentara untuk dikirim ke garis depan. Hampir dua tahun setelah invasi besar-besaran Rusia pada 24 Februari 2022 lalu, tidak ada lagi banjir sukarelawan di garis depan. Kebanyakan dari mereka yang ingin berperang sudah tewas, terluka, atau masih terjebak di garis depan.

Pavlo Zhilin memaparkan kesulitan itu. Dia adalah petugas wajib militer yang mencari tentara untuk militer Ukraina. ’’Saya tidak mengerti. Orang-orang sedang beraktivitas di luar seolah-olah perang akan terjadi jauh sekali. Tapi ini adalah invasi besar-besaran, dan sepertinya orang-orang masih tidak peduli,’’ ujar Zhilin seperti dikutip BBC.(sha/bay/jpg)

GAZA CITY (RIAUPOS.CO) – Israel berhasil membebaskan dua tawanan saat menyerang Rafah, Ahad (11/2) malam hingga Senin (12/2) pagi. Dua tawanan itu adalah Fernando Simon Marman (60) dan Louis Har (70). Namun sebagai gantinya, setidaknya 100 nyawa penduduk sipil di Rafah melayang.

’’Israel secara resmi terus menargetkan warga sipil dan mengalihkan perang ke Rafah untuk mendorong penduduk mengungsi akibat pemboman,’’ bunyi unggahan Kementerian Luar Negeri Palestina yang dirilis di X.

Dalam serangan di distrik Shaboura, Rafah tersebut setidaknya ada 14 rumah penduduk dan 3 masjid yang dibombardir. Kementerian Kesehatan Palestina memaparkan bahwa di seluruh Jalur Gaza korban serangan Israel mencapai 164 orang. Total korban meninggal sejak 7 Oktober sudah mencapai 28.100 orang dan sekitar 67.500 korban luka.

Rafah dihuni sekitar 1,4 juta-1,5 juta pengungsi warga sipil Gaza. Serangan dini hari di saat orang-orang tengah terlelap itu memicu kepanikan. Ziad Obeid, seorang pengungsi, mengatakan bahwa dia terbangun pukul 02.00 karena rentetan ledakan yang membuat langit terang benderang. ’’Itu seperti tengah hari, bukan malam. Itu adalah malam yang mengerikan,’’ ujarnya seperti dikutip BBC.

Baca Juga:  Hak Angket Digulirkan PDIP, PKS dan PKB

Sekutu-sekutu Israel terus memberikan peringatan terkait serangan ke Rafah tersebut. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menegaskan bahwa serangan ke Rafah menimbulkan bahaya bagi warga sipil yang berlindung di sana. Kegagalan untuk memastikan perawatan khusus bagi lebih dari 1 juta warga sipil di wilayah tersebut akan menyebabkan kerugian serius bagi kepentingan Israel sendiri.

Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron juga telah meminta Israel untuk menghentikan strategi militernya itu. Dia menegaskan kembali seruan untuk menghentikan pertempuran yang dapat mengarah pada gencatan senjata permanen. Mantan PM Inggris tersebut juga memaparkan bahwa tidak ada tempat bagi para pengungsi tersebut untuk melarikan diri. ’’Kami ingin Israel berhenti dan berpikir serius sebelum mengambil tindakan lebih lanjut,’’ terangnya.

Amerika Serikat juga memberikan peringatan yang sama. Namun, di sisi lain, AS masih terus mengucurkan bantuan kepada Israel. Ahad, senat baru meloloskan RUU paket bantuan ke Israel, Ukraina dan Taiwan senilai 95,34 miliar dolar AS atau Rp1,5 kuadriliun.

Baca Juga:  Israel Ancam Serang Rafah hingga Bulan Ramadan

Sementara itu, pengadilan banding Belanda memerintahkan pemerintah Belanda untuk memblokir semua ekspor suku cadang jet tempur F-35 ke Israel dalam waktu tujuh hari. Pengadilan menemukan bahwa ada risiko jet tempur F-35 Israel dapat digunakan untuk melanggar hukum kemanusiaan internasional.

Terpisah, di belahan Eropa perang juga masih berkobar di Ukraina. Situasinya kini kian sulit karena pemerintah mulai kesulitan mencari tentara untuk dikirim ke garis depan. Hampir dua tahun setelah invasi besar-besaran Rusia pada 24 Februari 2022 lalu, tidak ada lagi banjir sukarelawan di garis depan. Kebanyakan dari mereka yang ingin berperang sudah tewas, terluka, atau masih terjebak di garis depan.

Pavlo Zhilin memaparkan kesulitan itu. Dia adalah petugas wajib militer yang mencari tentara untuk militer Ukraina. ’’Saya tidak mengerti. Orang-orang sedang beraktivitas di luar seolah-olah perang akan terjadi jauh sekali. Tapi ini adalah invasi besar-besaran, dan sepertinya orang-orang masih tidak peduli,’’ ujar Zhilin seperti dikutip BBC.(sha/bay/jpg)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari