Jumat, 4 April 2025
spot_img

Kebaya Simbol Modernitas, Beradaptasi dengan Zaman

(RIAUPOS.CO) – Kebaya merupakan simbol modernitas atau perubahan. Begitulah prinsip yang dipegang desainer Lenny Agustin. Dia mengatakan bahwa sejak kali pertama kemunculannya, kebaya selalu mengalami perubahan.

Pemahaman itu membuat Lenny tidak takut ”menabrak” pakem berkebaya. Jika biasanya kebaya berpadu anggun dengan kain sebagai bawahan, di tangan perancang yang juga mahasiswi S-3 Universitas Indonesia (UI) itu kebaya tidak selalu berdampingan dengan kain. Lenny juga mendobrak pandangan lawas yang selalu menyejajarkan kebaya dan kain dengan sanggul.

”Kalau pakai kebaya pakem, kemudian jalan-jalan naik MRT atau di mal, nanti ditanya mau kondangan ke mana,” kata perempuan yang menyemaikan tren kebaya funky sejak 2001 itu.

Baca Juga:  Medsos Bikinan Donald Trump, Truth Social Laris di iOS, Pengguna Android Belum Kebagian

Dalam wawancara dengan Jawa Pos (Jawa Pos Group) pada Kamis (14/7/2022), dia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak anti terhadap kebaya pakem. Dia hanya berupaya lebih melazimkan kebaya agar bisa lebih sering dipakai, tidak hanya saat hajatan atau kondangan.

Kebaya, menurut Lenny, mengalami stagnasi dalam pemakaiannya. Terutama di kalangan anak muda. Karena itulah, kebaya funky hadir sebagai modernitas kebaya pakem.

”Ada yang bilang keluar dari pakem kebaya. Karena bawahannya tidak pakai kain,” tuturnya.

Di mata Lenny, kebaya adalah baju yang trendi. Kebaya bukan baju tradisional yang stuck dengan penampilan begitu-begitu saja. Dengan konsep kebaya funky, Lenny memperkenalkan rok tutu atau celana dan model bawahan lainnya sebagai padanan kebaya. Lenny juga menampilkan banyak model kebaya. Termasuk kebaya lengan pendek.

Baca Juga:  Pakar Fengshui: 2021 Kesehatan Lebih Baik, Namun Rentan Perselingkuhan

Terpisah, Didiet Maulana mengapresiasi tampilnya begitu banyak macam dan ragam kebaya. Baik warna maupun modelnya. Perancang senior itu menyatakan bahwa perkembangan kebaya selama satu abad terakhir begitu menarik. Kebaya mengikuti tren dan lebih muda. Perancang dan pengguna kebaya pun lebih bebas dalam mengekspresikan dirinya.

Kendati demikian, menurut Didiet, esensi kebaya tidak luntur. ”Justru makin kentara bahwa kebaya menampilkan kesederhanaan dan keanggunan di saat yang bersamaan,” tegas penulis buku Kisah Kebaya tersebut.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

(RIAUPOS.CO) – Kebaya merupakan simbol modernitas atau perubahan. Begitulah prinsip yang dipegang desainer Lenny Agustin. Dia mengatakan bahwa sejak kali pertama kemunculannya, kebaya selalu mengalami perubahan.

Pemahaman itu membuat Lenny tidak takut ”menabrak” pakem berkebaya. Jika biasanya kebaya berpadu anggun dengan kain sebagai bawahan, di tangan perancang yang juga mahasiswi S-3 Universitas Indonesia (UI) itu kebaya tidak selalu berdampingan dengan kain. Lenny juga mendobrak pandangan lawas yang selalu menyejajarkan kebaya dan kain dengan sanggul.

”Kalau pakai kebaya pakem, kemudian jalan-jalan naik MRT atau di mal, nanti ditanya mau kondangan ke mana,” kata perempuan yang menyemaikan tren kebaya funky sejak 2001 itu.

Baca Juga:  7 Sikap Bijaksana saat Pasangan Beda Pandangan Politiknya

Dalam wawancara dengan Jawa Pos (Jawa Pos Group) pada Kamis (14/7/2022), dia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak anti terhadap kebaya pakem. Dia hanya berupaya lebih melazimkan kebaya agar bisa lebih sering dipakai, tidak hanya saat hajatan atau kondangan.

Kebaya, menurut Lenny, mengalami stagnasi dalam pemakaiannya. Terutama di kalangan anak muda. Karena itulah, kebaya funky hadir sebagai modernitas kebaya pakem.

”Ada yang bilang keluar dari pakem kebaya. Karena bawahannya tidak pakai kain,” tuturnya.

Di mata Lenny, kebaya adalah baju yang trendi. Kebaya bukan baju tradisional yang stuck dengan penampilan begitu-begitu saja. Dengan konsep kebaya funky, Lenny memperkenalkan rok tutu atau celana dan model bawahan lainnya sebagai padanan kebaya. Lenny juga menampilkan banyak model kebaya. Termasuk kebaya lengan pendek.

Baca Juga:  Simpel dan Beri Kehangatan

Terpisah, Didiet Maulana mengapresiasi tampilnya begitu banyak macam dan ragam kebaya. Baik warna maupun modelnya. Perancang senior itu menyatakan bahwa perkembangan kebaya selama satu abad terakhir begitu menarik. Kebaya mengikuti tren dan lebih muda. Perancang dan pengguna kebaya pun lebih bebas dalam mengekspresikan dirinya.

Kendati demikian, menurut Didiet, esensi kebaya tidak luntur. ”Justru makin kentara bahwa kebaya menampilkan kesederhanaan dan keanggunan di saat yang bersamaan,” tegas penulis buku Kisah Kebaya tersebut.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Kebaya Simbol Modernitas, Beradaptasi dengan Zaman

(RIAUPOS.CO) – Kebaya merupakan simbol modernitas atau perubahan. Begitulah prinsip yang dipegang desainer Lenny Agustin. Dia mengatakan bahwa sejak kali pertama kemunculannya, kebaya selalu mengalami perubahan.

Pemahaman itu membuat Lenny tidak takut ”menabrak” pakem berkebaya. Jika biasanya kebaya berpadu anggun dengan kain sebagai bawahan, di tangan perancang yang juga mahasiswi S-3 Universitas Indonesia (UI) itu kebaya tidak selalu berdampingan dengan kain. Lenny juga mendobrak pandangan lawas yang selalu menyejajarkan kebaya dan kain dengan sanggul.

”Kalau pakai kebaya pakem, kemudian jalan-jalan naik MRT atau di mal, nanti ditanya mau kondangan ke mana,” kata perempuan yang menyemaikan tren kebaya funky sejak 2001 itu.

Baca Juga:  Ayah Bunda! Kenali Potensi Anak lewat Sidik Jari

Dalam wawancara dengan Jawa Pos (Jawa Pos Group) pada Kamis (14/7/2022), dia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak anti terhadap kebaya pakem. Dia hanya berupaya lebih melazimkan kebaya agar bisa lebih sering dipakai, tidak hanya saat hajatan atau kondangan.

Kebaya, menurut Lenny, mengalami stagnasi dalam pemakaiannya. Terutama di kalangan anak muda. Karena itulah, kebaya funky hadir sebagai modernitas kebaya pakem.

”Ada yang bilang keluar dari pakem kebaya. Karena bawahannya tidak pakai kain,” tuturnya.

Di mata Lenny, kebaya adalah baju yang trendi. Kebaya bukan baju tradisional yang stuck dengan penampilan begitu-begitu saja. Dengan konsep kebaya funky, Lenny memperkenalkan rok tutu atau celana dan model bawahan lainnya sebagai padanan kebaya. Lenny juga menampilkan banyak model kebaya. Termasuk kebaya lengan pendek.

Baca Juga:  Medsos Bikinan Donald Trump, Truth Social Laris di iOS, Pengguna Android Belum Kebagian

Terpisah, Didiet Maulana mengapresiasi tampilnya begitu banyak macam dan ragam kebaya. Baik warna maupun modelnya. Perancang senior itu menyatakan bahwa perkembangan kebaya selama satu abad terakhir begitu menarik. Kebaya mengikuti tren dan lebih muda. Perancang dan pengguna kebaya pun lebih bebas dalam mengekspresikan dirinya.

Kendati demikian, menurut Didiet, esensi kebaya tidak luntur. ”Justru makin kentara bahwa kebaya menampilkan kesederhanaan dan keanggunan di saat yang bersamaan,” tegas penulis buku Kisah Kebaya tersebut.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

(RIAUPOS.CO) – Kebaya merupakan simbol modernitas atau perubahan. Begitulah prinsip yang dipegang desainer Lenny Agustin. Dia mengatakan bahwa sejak kali pertama kemunculannya, kebaya selalu mengalami perubahan.

Pemahaman itu membuat Lenny tidak takut ”menabrak” pakem berkebaya. Jika biasanya kebaya berpadu anggun dengan kain sebagai bawahan, di tangan perancang yang juga mahasiswi S-3 Universitas Indonesia (UI) itu kebaya tidak selalu berdampingan dengan kain. Lenny juga mendobrak pandangan lawas yang selalu menyejajarkan kebaya dan kain dengan sanggul.

”Kalau pakai kebaya pakem, kemudian jalan-jalan naik MRT atau di mal, nanti ditanya mau kondangan ke mana,” kata perempuan yang menyemaikan tren kebaya funky sejak 2001 itu.

Baca Juga:  Medsos Bikinan Donald Trump, Truth Social Laris di iOS, Pengguna Android Belum Kebagian

Dalam wawancara dengan Jawa Pos (Jawa Pos Group) pada Kamis (14/7/2022), dia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak anti terhadap kebaya pakem. Dia hanya berupaya lebih melazimkan kebaya agar bisa lebih sering dipakai, tidak hanya saat hajatan atau kondangan.

Kebaya, menurut Lenny, mengalami stagnasi dalam pemakaiannya. Terutama di kalangan anak muda. Karena itulah, kebaya funky hadir sebagai modernitas kebaya pakem.

”Ada yang bilang keluar dari pakem kebaya. Karena bawahannya tidak pakai kain,” tuturnya.

Di mata Lenny, kebaya adalah baju yang trendi. Kebaya bukan baju tradisional yang stuck dengan penampilan begitu-begitu saja. Dengan konsep kebaya funky, Lenny memperkenalkan rok tutu atau celana dan model bawahan lainnya sebagai padanan kebaya. Lenny juga menampilkan banyak model kebaya. Termasuk kebaya lengan pendek.

Baca Juga:  7 Sikap Bijaksana saat Pasangan Beda Pandangan Politiknya

Terpisah, Didiet Maulana mengapresiasi tampilnya begitu banyak macam dan ragam kebaya. Baik warna maupun modelnya. Perancang senior itu menyatakan bahwa perkembangan kebaya selama satu abad terakhir begitu menarik. Kebaya mengikuti tren dan lebih muda. Perancang dan pengguna kebaya pun lebih bebas dalam mengekspresikan dirinya.

Kendati demikian, menurut Didiet, esensi kebaya tidak luntur. ”Justru makin kentara bahwa kebaya menampilkan kesederhanaan dan keanggunan di saat yang bersamaan,” tegas penulis buku Kisah Kebaya tersebut.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari