Senin, 22 Juli 2024

Sensasi Menupang dan River Tubing di Subayang

Wisata air di Sungai Subayang Kampar Kiri Hulu menggabungkan sisi tradisional dan modern. Ada tradisi tupang atau menupang yang diperbarui. Ada juga river tubing, wisata air modern dengan berha­nyut di Sungai Subayang menggunakan ban dalam besar.

Laporan MUHAMMAD AMIN Pekanbaru

- Advertisement -

Tupang atau menupang merupakan tradisi masyarakat di sepanjang Sungai Subayang sejak masyarakat di kawasan ini masih terisolir. Tradisi ini adalah memburu ikan dengan cara menombaknya menggunakan tombak bermata tiga atau trisula. Masyarakat biasa menyebutnya dengan juligh.

“Kami perkenalkan cara tradisional ini kepada wisatawan yang hadir. Cuma kami ubah dengan garpu saat ini,” ujar Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Dedi Irawan, pekan lalu.

Di masa sebelumnya, menupang dilakukan masyarakat sekitar Sungai Subayang, khususnya di Tanjung Belit untuk bertahan hidup. Mereka turun ke wilayah Sungai Subayang yang dangkal sebetis untuk menupang ikan pantau hingga anak baung. Besarnya bisa hingga pergelangan tangan. Menupang dilakukan di malam hari dengan menggunakan lampu petromak.

- Advertisement -

“Ikan itu tetap tenang walaupun kena sinar lampu,” ujar Dedi.

Kini, wisawatan yang datang ke Tanjung Belit bisa menupang juga seperti halnya masyarakat tradisional sekitar Sungai Subayang ini. Paket wisata tupang ini dilakukan berbarengan dengan berkemping di Pulau Tongah, masih di Desa Tanjung Belit. Wisatawan asal Pekanbaru bisa datang dan parkir mobil ke sekitar pelabuhan Tanjung Belit. Perjalanan sekitar 2,5 hingga 3 jam. Akses jalan sudah bagus. Dari sana, wisatawan diajak menggunakan perahu dengan perjalanan sekitar 10-15 menit ke Pulau Tongah, sebuah pulau yang terletak di tengah Sungai Subayang. Luasnya sekitar 7 hektare. Pulau ini benar-benar berada di tengah Sungai Subayang. Masing-masing sisi kiri dan kanan sungai memiliki lebar yang hampir sama, yakni sekitar 30 meter. Bedanya, sisi kiri sungai ini dari arah hulu lebih dangkal. Ia memiliki kedalaman hanya satu meter di tempat terdalamnya. Biasanya arus transportasi digunakan di sisi kanan sungai yang dalam. Standar sisi kanan Sungai Subayang antara 4-5 meter. Sedangkan sisi dangkal, salah satunya digunakan untuk wisata, misalnya menupang ini. Kerap juga menupang dilakukan di Sungai Lalan, sungai kecil yang bermuara ke Sungai Subayang.

Wisatawan yang datang dikenalkan cara menupang di malam hari. Mereka menggunakan senter dan garpu. Menupang dilakukan pada kedalaman air semata kaki, lebih dangkal dibandingkan menupang masyarakat tradisional Tanjung Belit. Ikan yang didapatkan pun biasanya relatif kecil, yakni sebesar ibu jari. Satu kelompok wisatawan yang kemping dengan jumlah 7-10 orang biasanya bisa mendapatkan 50 hingga 100 ekor ikan dalam semalam. Wisatawan diajarkan menupang dengan melihat ikan di air dangkal yang biasanya bersembunyi di balik batu, kayu, atau daun. Diajarkan juga teknik menupang. Mereka memegang senter dan garpu sebagai peralatan.

Baca Juga:  Melihat Festival Bakar Tongkang di Rohil; Aktivitas di Daratan Lebih Hoki

“Ikan-ikan kecil itu biasanya digoreng. Wisatawan juga bisa membakarnya. Atau bisa membakar yang lain misalnya jagung karena dalam kemping ini sering juga ada api unggun,” ujarnya.

Setelah menupang dan api unggun, wisatawan bisa beristirahat di kemah yang disediakan. Pulau Tongah saat ini sudah menjadi sebuah camping ground dengan kapasitas tenda yang banyak. Pernah terjadi, 200 orang yang kemping di satu waktu di tempat ini. Biasanya para mahasiswa dari Unri, UIR, UIN, dan kampus lainnya. Saat ini sudah biasa ada rombongan antara 50 hingga 100 orang.

“Kami siap menyediakan tenda kemping. Jadi jika mau kemping di sini, bisa langsung datang tanpa membawa tenda,” ujar Dedi.

Air Terjun Tujuh Tingkat
Salah satu objek wisata menarik di Tanjung Belit adalah keberadaan air terjun tujuh tingkat. Biasanya, setelah bermalam di kemah, sarapan dan senam, wisatawan akan diajak dengan perahu menuju lokasi air terjun tujuh tingkat. Hanya saja, jarak masing-masing air terjun ini berjauhan. Air terjun pertama bisa ditempuh dalam lima menit perjalanan. Sedangkan air terjun ketujuh memerlukan waktu perjalanan dengan berjalan kaki selama sekitar dua jam.

“Biasanya wisatawan lebih suka pada air terjun tingkat ketiga karena telaganya luas, air terjunnya cukup tinggi dan yang terpenting jaraknya dekat. Cukup 15 hingga 20 menit jalan kaki,” ujarnya.

Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 10 meter. Lebarnya sekitar 1 hingga 2 meter, tergantung banyaknya debit air. Ini dipengaruhi oleh hujan di hulu dan pasokan air yang tersedia. Adapun telaga yang bisa digunakan untuk mandi memiliki lebar sekitar 20 x 30 meter atau 600 meter persegi, cukup luas untuk kawasan permandian. Wisatawan bisa berenang di sekitar air terjun ini. Bisa juga sekadar untuk berswafoto. Alam sekitar juga indah, bertabur bunga dan mulai dari anggrek hingga pakis.

Selain air terjun tingkat ketiga, yang keempat juga banyak digunakan wisatawan. Hanya saja tingkat keempat ini memiliki tantangan lebih. Jalurnya mendaki cukup curam, sehingga memerlukan tenaga ekstra. Luasan telaga dan tinggi air terjunnya relatif sama. Makin ke atas, makin curam juga pendakian yang dilakukan.

“Makanya yang sering dikunjungi hanya air terjun satu hingga empat. Paling sering yang ketiga. Yang lainnya kelima, enam, apalagi tujuh itu makin tinggi pendakiannya. Cuma kalau wisatawan mau, kami siap mendampingi,” ujar Dedi.

Selain didampingi pemandu wisata atau guide, di kawasan ini juga ada dubalang adat. Mereka adalah penjaga hutan adat, sekaligus penjaga kawasan Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Desa-desa itu memang sudah masuk ke dalam kawasan suaka. Wisatawan jangan sampai masuk ke kawasan hutan tanpa pengawasan karena selain berbahaya karena masih banyak hewan buas seperti harimau dan beruang, hutan juga harus dijaga dari ilegal logging. Dubalang adat dan pemandu biasanya juga menyampaikan perihal Suaka Margasatwa Rimbang Baling di antara perjalanan.

Baca Juga:  Perlu Pengawasan Media Dari Media Gathering Sinergi Media Bersama Bawaslu Riau

“Biasanya kami sampaikan jelang pulang di Stasiun Lapangan Subayang. Di sana diterangkan tentang pentingnya menjaga hutan,” ujar Dedi.

Berhanyut dengan River Tubing
River tubing merupakan salah satu kegiatan favorit di Tanjung Belit. Aktivitas river tubing adalah berhanyut-hanyut menggunakan ban dalam besar. Biasanya river tubing dilakukan setelah wisatawan mengikuti sesi pengarahan tentang kawasan konservasi Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling. River tubing dilakukan dari objek wisata air terjun batu dinding menuju Pulau Tengah.

“Biasanya aktivitas ini dilakukan selama satu jam. Jadi rutenya cukup panjang,” ujar Dedi Irawan.

Tentunya savety atau keamanan menjadi salah satu yang diperhatikan penyelenggara. Ada beberapa tips aman yang bisa diterapkan. Pertama, ikuti semua arahan dari pemandu. Kedua, ketahui tingkat kesulitan sungai, arus airnya, hingga potensi bahaya seperti jeram atau bebatuan. Sungai Subayang sendiri memiliki arus deras dan berbatu di kawasan lebih hulu dan beberapa kawasan tertentu.

“Tapi di rute ini relatif tidak deras dan jarang yang berbatu,” ujarnya.

Ketiga, kenakan peralatan keselamatan yang disediakan. Di antaranya adalah jaket pelampung (life jackert) yang sesuai dengan standar keselamatan. Lalu, perlengkapan pelindung seperti helm juga diperlukan. Keempat, bawa perlengkapan yang diperlukan, seperti air minum, pelindung matahari, dan pakaian yang sesuai. Hindari pakaian yang dapat menghambat pergerakan atau menjadi berat saat basah.

Kelima, gunakan ban yang tepat. Pastikan ban yang digunakan dalam keadaan baik dan tidak bocor. Jangan gunakan ban yang terlalu besar atau kecil untuk tubuh karena itu dapat mengganggu keseimbangan. Jika tidak sesuai, bisa meminta ganti kepada pemandu. Keenam, pastikan cuaca mendukung. Jika hujan lebat dan petir sebaiknya tunda river tubing. Sebab, petir bisa menyambar dan hujan lebat di hulu sungai bisa membuat arus deras yang sangat berbahaya. Banjir bah di hulu bisa menghanyutkan apa saja.

Ketujuh, tetap waspada terhadap kemungkinan bahaya, terutama bebatuan tajam, pohon tumbang, hewan buas, hingga arus yang kuat. Jangan mencoba melewati jeram yang terlalu berbahaya jika tidak berpengalaman. Bagi pemula, sangat tidak disarankan untuk mencoba river tubing di sungai yang terlalu sulit atau berbahaya. Jeram yang tajam hanya bisa diarungi oleh yang berpengalaman arung jeram.

“Karena kita untuk fun, maka kami pilihkan yang kurang jeram dan arusnya tidak terlalu deras,” ujarnya.

Kedelapan, lakukan dengan berkelompok, misalnya komunitas atau keluarga. Canda tawa selama river tubing akan mengurangi stres dan membuat healing berjalan lebih baik.

“Kawasan kita ini relatif aman untuk river tubing. Bahkan untuk anak SD masih aman asalkan mematuhi saran kami. Pakai life jacket, dan peralatan keamanan lainnya,” ujarnya.***






Reporter: Redaksi Riau Pos Riau Pos

Wisata air di Sungai Subayang Kampar Kiri Hulu menggabungkan sisi tradisional dan modern. Ada tradisi tupang atau menupang yang diperbarui. Ada juga river tubing, wisata air modern dengan berha­nyut di Sungai Subayang menggunakan ban dalam besar.

Laporan MUHAMMAD AMIN Pekanbaru

Tupang atau menupang merupakan tradisi masyarakat di sepanjang Sungai Subayang sejak masyarakat di kawasan ini masih terisolir. Tradisi ini adalah memburu ikan dengan cara menombaknya menggunakan tombak bermata tiga atau trisula. Masyarakat biasa menyebutnya dengan juligh.

“Kami perkenalkan cara tradisional ini kepada wisatawan yang hadir. Cuma kami ubah dengan garpu saat ini,” ujar Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Dedi Irawan, pekan lalu.

Di masa sebelumnya, menupang dilakukan masyarakat sekitar Sungai Subayang, khususnya di Tanjung Belit untuk bertahan hidup. Mereka turun ke wilayah Sungai Subayang yang dangkal sebetis untuk menupang ikan pantau hingga anak baung. Besarnya bisa hingga pergelangan tangan. Menupang dilakukan di malam hari dengan menggunakan lampu petromak.

“Ikan itu tetap tenang walaupun kena sinar lampu,” ujar Dedi.

Kini, wisawatan yang datang ke Tanjung Belit bisa menupang juga seperti halnya masyarakat tradisional sekitar Sungai Subayang ini. Paket wisata tupang ini dilakukan berbarengan dengan berkemping di Pulau Tongah, masih di Desa Tanjung Belit. Wisatawan asal Pekanbaru bisa datang dan parkir mobil ke sekitar pelabuhan Tanjung Belit. Perjalanan sekitar 2,5 hingga 3 jam. Akses jalan sudah bagus. Dari sana, wisatawan diajak menggunakan perahu dengan perjalanan sekitar 10-15 menit ke Pulau Tongah, sebuah pulau yang terletak di tengah Sungai Subayang. Luasnya sekitar 7 hektare. Pulau ini benar-benar berada di tengah Sungai Subayang. Masing-masing sisi kiri dan kanan sungai memiliki lebar yang hampir sama, yakni sekitar 30 meter. Bedanya, sisi kiri sungai ini dari arah hulu lebih dangkal. Ia memiliki kedalaman hanya satu meter di tempat terdalamnya. Biasanya arus transportasi digunakan di sisi kanan sungai yang dalam. Standar sisi kanan Sungai Subayang antara 4-5 meter. Sedangkan sisi dangkal, salah satunya digunakan untuk wisata, misalnya menupang ini. Kerap juga menupang dilakukan di Sungai Lalan, sungai kecil yang bermuara ke Sungai Subayang.

Wisatawan yang datang dikenalkan cara menupang di malam hari. Mereka menggunakan senter dan garpu. Menupang dilakukan pada kedalaman air semata kaki, lebih dangkal dibandingkan menupang masyarakat tradisional Tanjung Belit. Ikan yang didapatkan pun biasanya relatif kecil, yakni sebesar ibu jari. Satu kelompok wisatawan yang kemping dengan jumlah 7-10 orang biasanya bisa mendapatkan 50 hingga 100 ekor ikan dalam semalam. Wisatawan diajarkan menupang dengan melihat ikan di air dangkal yang biasanya bersembunyi di balik batu, kayu, atau daun. Diajarkan juga teknik menupang. Mereka memegang senter dan garpu sebagai peralatan.

Baca Juga:  In Memoriam Indra Muchlis Adnan, Bupati Indragiri Hilir Periode 2003-2013

“Ikan-ikan kecil itu biasanya digoreng. Wisatawan juga bisa membakarnya. Atau bisa membakar yang lain misalnya jagung karena dalam kemping ini sering juga ada api unggun,” ujarnya.

Setelah menupang dan api unggun, wisatawan bisa beristirahat di kemah yang disediakan. Pulau Tongah saat ini sudah menjadi sebuah camping ground dengan kapasitas tenda yang banyak. Pernah terjadi, 200 orang yang kemping di satu waktu di tempat ini. Biasanya para mahasiswa dari Unri, UIR, UIN, dan kampus lainnya. Saat ini sudah biasa ada rombongan antara 50 hingga 100 orang.

“Kami siap menyediakan tenda kemping. Jadi jika mau kemping di sini, bisa langsung datang tanpa membawa tenda,” ujar Dedi.

Air Terjun Tujuh Tingkat
Salah satu objek wisata menarik di Tanjung Belit adalah keberadaan air terjun tujuh tingkat. Biasanya, setelah bermalam di kemah, sarapan dan senam, wisatawan akan diajak dengan perahu menuju lokasi air terjun tujuh tingkat. Hanya saja, jarak masing-masing air terjun ini berjauhan. Air terjun pertama bisa ditempuh dalam lima menit perjalanan. Sedangkan air terjun ketujuh memerlukan waktu perjalanan dengan berjalan kaki selama sekitar dua jam.

“Biasanya wisatawan lebih suka pada air terjun tingkat ketiga karena telaganya luas, air terjunnya cukup tinggi dan yang terpenting jaraknya dekat. Cukup 15 hingga 20 menit jalan kaki,” ujarnya.

Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 10 meter. Lebarnya sekitar 1 hingga 2 meter, tergantung banyaknya debit air. Ini dipengaruhi oleh hujan di hulu dan pasokan air yang tersedia. Adapun telaga yang bisa digunakan untuk mandi memiliki lebar sekitar 20 x 30 meter atau 600 meter persegi, cukup luas untuk kawasan permandian. Wisatawan bisa berenang di sekitar air terjun ini. Bisa juga sekadar untuk berswafoto. Alam sekitar juga indah, bertabur bunga dan mulai dari anggrek hingga pakis.

Selain air terjun tingkat ketiga, yang keempat juga banyak digunakan wisatawan. Hanya saja tingkat keempat ini memiliki tantangan lebih. Jalurnya mendaki cukup curam, sehingga memerlukan tenaga ekstra. Luasan telaga dan tinggi air terjunnya relatif sama. Makin ke atas, makin curam juga pendakian yang dilakukan.

“Makanya yang sering dikunjungi hanya air terjun satu hingga empat. Paling sering yang ketiga. Yang lainnya kelima, enam, apalagi tujuh itu makin tinggi pendakiannya. Cuma kalau wisatawan mau, kami siap mendampingi,” ujar Dedi.

Selain didampingi pemandu wisata atau guide, di kawasan ini juga ada dubalang adat. Mereka adalah penjaga hutan adat, sekaligus penjaga kawasan Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Desa-desa itu memang sudah masuk ke dalam kawasan suaka. Wisatawan jangan sampai masuk ke kawasan hutan tanpa pengawasan karena selain berbahaya karena masih banyak hewan buas seperti harimau dan beruang, hutan juga harus dijaga dari ilegal logging. Dubalang adat dan pemandu biasanya juga menyampaikan perihal Suaka Margasatwa Rimbang Baling di antara perjalanan.

Baca Juga:  Melihat Festival Bakar Tongkang di Rohil; Aktivitas di Daratan Lebih Hoki

“Biasanya kami sampaikan jelang pulang di Stasiun Lapangan Subayang. Di sana diterangkan tentang pentingnya menjaga hutan,” ujar Dedi.

Berhanyut dengan River Tubing
River tubing merupakan salah satu kegiatan favorit di Tanjung Belit. Aktivitas river tubing adalah berhanyut-hanyut menggunakan ban dalam besar. Biasanya river tubing dilakukan setelah wisatawan mengikuti sesi pengarahan tentang kawasan konservasi Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling. River tubing dilakukan dari objek wisata air terjun batu dinding menuju Pulau Tengah.

“Biasanya aktivitas ini dilakukan selama satu jam. Jadi rutenya cukup panjang,” ujar Dedi Irawan.

Tentunya savety atau keamanan menjadi salah satu yang diperhatikan penyelenggara. Ada beberapa tips aman yang bisa diterapkan. Pertama, ikuti semua arahan dari pemandu. Kedua, ketahui tingkat kesulitan sungai, arus airnya, hingga potensi bahaya seperti jeram atau bebatuan. Sungai Subayang sendiri memiliki arus deras dan berbatu di kawasan lebih hulu dan beberapa kawasan tertentu.

“Tapi di rute ini relatif tidak deras dan jarang yang berbatu,” ujarnya.

Ketiga, kenakan peralatan keselamatan yang disediakan. Di antaranya adalah jaket pelampung (life jackert) yang sesuai dengan standar keselamatan. Lalu, perlengkapan pelindung seperti helm juga diperlukan. Keempat, bawa perlengkapan yang diperlukan, seperti air minum, pelindung matahari, dan pakaian yang sesuai. Hindari pakaian yang dapat menghambat pergerakan atau menjadi berat saat basah.

Kelima, gunakan ban yang tepat. Pastikan ban yang digunakan dalam keadaan baik dan tidak bocor. Jangan gunakan ban yang terlalu besar atau kecil untuk tubuh karena itu dapat mengganggu keseimbangan. Jika tidak sesuai, bisa meminta ganti kepada pemandu. Keenam, pastikan cuaca mendukung. Jika hujan lebat dan petir sebaiknya tunda river tubing. Sebab, petir bisa menyambar dan hujan lebat di hulu sungai bisa membuat arus deras yang sangat berbahaya. Banjir bah di hulu bisa menghanyutkan apa saja.

Ketujuh, tetap waspada terhadap kemungkinan bahaya, terutama bebatuan tajam, pohon tumbang, hewan buas, hingga arus yang kuat. Jangan mencoba melewati jeram yang terlalu berbahaya jika tidak berpengalaman. Bagi pemula, sangat tidak disarankan untuk mencoba river tubing di sungai yang terlalu sulit atau berbahaya. Jeram yang tajam hanya bisa diarungi oleh yang berpengalaman arung jeram.

“Karena kita untuk fun, maka kami pilihkan yang kurang jeram dan arusnya tidak terlalu deras,” ujarnya.

Kedelapan, lakukan dengan berkelompok, misalnya komunitas atau keluarga. Canda tawa selama river tubing akan mengurangi stres dan membuat healing berjalan lebih baik.

“Kawasan kita ini relatif aman untuk river tubing. Bahkan untuk anak SD masih aman asalkan mematuhi saran kami. Pakai life jacket, dan peralatan keamanan lainnya,” ujarnya.***






Reporter: Redaksi Riau Pos Riau Pos
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari