Sabtu, 5 April 2025
spot_img

Pertamina Ingin Akuisisi Perusahaan Migas Asing, Ini Alasannya

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – PT Pertamina (Persero) menyampaikan, Indonesia masih perlu banyak membangun kilang yang menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) dengan kualitas sesuai standar global. Direktur Utama Nicke Widyawati menyampaikan, melalui Refinery Development Master Plan (RDMP), BUMN migas itu berupaya mewujudkannya.

“Jangan lupa, kita bangun kilang sebagian besar itu kita improvement dari kilang eksisting untuk meningkatkan kualitas produk,” ujarnya melalui konferensi pers virtual, Ahad (26/7/2020).

Nicke menyebut, saat ini produksi standar bahan bakar Indonesia masih Euro 2. Padahal, tuntutan bahan bakar dunia saat ini adalah Euro 4, yang diklaim lebih ramah lingkungan.

Artinya, Indonesia masih belum memenuhi standar tersebut. Pasokan BBM dengan kualitas Euro 4 juga belum mencukupi permintaan domestik. 

Baca Juga:  PT Alfa Scorpii Berikan Fasilitas Ekstra untuk Perempuan

“Saat ini, produksi kita masih Euro 2 sebagian besar. Padahal tuntutan dunia dari segi lingkungan itu Euro 4 dan Euro 5,” ucapnya.

Di sisi lain, Pertamina juga berencana mengakuisisi sejumlah perusahaan migas di luar negeri. Sebab, reserve to production (RTP) ratio Pertamina saat ini adalah 7 tahun.

Jika perseroan tidak segera mencari cadangan minyak baru atau melakukan akuisisi dengan perusahaan lain, maka cadangan eksisting akan habis dalam 7 tahun. 

“Akuisisi ini cara cepatnya, jadi langsung mendapatkan peningkatan cadangan dan produksi,” pungkas Nicke.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Hary B Koriun

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – PT Pertamina (Persero) menyampaikan, Indonesia masih perlu banyak membangun kilang yang menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) dengan kualitas sesuai standar global. Direktur Utama Nicke Widyawati menyampaikan, melalui Refinery Development Master Plan (RDMP), BUMN migas itu berupaya mewujudkannya.

“Jangan lupa, kita bangun kilang sebagian besar itu kita improvement dari kilang eksisting untuk meningkatkan kualitas produk,” ujarnya melalui konferensi pers virtual, Ahad (26/7/2020).

Nicke menyebut, saat ini produksi standar bahan bakar Indonesia masih Euro 2. Padahal, tuntutan bahan bakar dunia saat ini adalah Euro 4, yang diklaim lebih ramah lingkungan.

Artinya, Indonesia masih belum memenuhi standar tersebut. Pasokan BBM dengan kualitas Euro 4 juga belum mencukupi permintaan domestik. 

Baca Juga:  Dukung Masyarakat Saat Mudik, BRI Sediakan Layanan Terbatas

“Saat ini, produksi kita masih Euro 2 sebagian besar. Padahal tuntutan dunia dari segi lingkungan itu Euro 4 dan Euro 5,” ucapnya.

Di sisi lain, Pertamina juga berencana mengakuisisi sejumlah perusahaan migas di luar negeri. Sebab, reserve to production (RTP) ratio Pertamina saat ini adalah 7 tahun.

Jika perseroan tidak segera mencari cadangan minyak baru atau melakukan akuisisi dengan perusahaan lain, maka cadangan eksisting akan habis dalam 7 tahun. 

“Akuisisi ini cara cepatnya, jadi langsung mendapatkan peningkatan cadangan dan produksi,” pungkas Nicke.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Pertamina Ingin Akuisisi Perusahaan Migas Asing, Ini Alasannya

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – PT Pertamina (Persero) menyampaikan, Indonesia masih perlu banyak membangun kilang yang menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) dengan kualitas sesuai standar global. Direktur Utama Nicke Widyawati menyampaikan, melalui Refinery Development Master Plan (RDMP), BUMN migas itu berupaya mewujudkannya.

“Jangan lupa, kita bangun kilang sebagian besar itu kita improvement dari kilang eksisting untuk meningkatkan kualitas produk,” ujarnya melalui konferensi pers virtual, Ahad (26/7/2020).

Nicke menyebut, saat ini produksi standar bahan bakar Indonesia masih Euro 2. Padahal, tuntutan bahan bakar dunia saat ini adalah Euro 4, yang diklaim lebih ramah lingkungan.

Artinya, Indonesia masih belum memenuhi standar tersebut. Pasokan BBM dengan kualitas Euro 4 juga belum mencukupi permintaan domestik. 

Baca Juga:  BRK-UIR Jalin Kerja Sama Pembayaran Biaya Pendidikan

“Saat ini, produksi kita masih Euro 2 sebagian besar. Padahal tuntutan dunia dari segi lingkungan itu Euro 4 dan Euro 5,” ucapnya.

Di sisi lain, Pertamina juga berencana mengakuisisi sejumlah perusahaan migas di luar negeri. Sebab, reserve to production (RTP) ratio Pertamina saat ini adalah 7 tahun.

Jika perseroan tidak segera mencari cadangan minyak baru atau melakukan akuisisi dengan perusahaan lain, maka cadangan eksisting akan habis dalam 7 tahun. 

“Akuisisi ini cara cepatnya, jadi langsung mendapatkan peningkatan cadangan dan produksi,” pungkas Nicke.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Hary B Koriun

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – PT Pertamina (Persero) menyampaikan, Indonesia masih perlu banyak membangun kilang yang menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) dengan kualitas sesuai standar global. Direktur Utama Nicke Widyawati menyampaikan, melalui Refinery Development Master Plan (RDMP), BUMN migas itu berupaya mewujudkannya.

“Jangan lupa, kita bangun kilang sebagian besar itu kita improvement dari kilang eksisting untuk meningkatkan kualitas produk,” ujarnya melalui konferensi pers virtual, Ahad (26/7/2020).

Nicke menyebut, saat ini produksi standar bahan bakar Indonesia masih Euro 2. Padahal, tuntutan bahan bakar dunia saat ini adalah Euro 4, yang diklaim lebih ramah lingkungan.

Artinya, Indonesia masih belum memenuhi standar tersebut. Pasokan BBM dengan kualitas Euro 4 juga belum mencukupi permintaan domestik. 

Baca Juga:  Pameran Bertabur Diskon di Plaza Mebel

“Saat ini, produksi kita masih Euro 2 sebagian besar. Padahal tuntutan dunia dari segi lingkungan itu Euro 4 dan Euro 5,” ucapnya.

Di sisi lain, Pertamina juga berencana mengakuisisi sejumlah perusahaan migas di luar negeri. Sebab, reserve to production (RTP) ratio Pertamina saat ini adalah 7 tahun.

Jika perseroan tidak segera mencari cadangan minyak baru atau melakukan akuisisi dengan perusahaan lain, maka cadangan eksisting akan habis dalam 7 tahun. 

“Akuisisi ini cara cepatnya, jadi langsung mendapatkan peningkatan cadangan dan produksi,” pungkas Nicke.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari