Senin, 7 April 2025
spot_img

Rupiah Melemah, karena Investor Ragukan Keseriusan Pemerintah

JAKARTA (RIAUWabah virus corona Covid-19 di tanah air turut menggerogoti perekonomian nasional termasuk pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tembus di bawah level 4.000 dan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), Senin (23/3) ini tembus 16.608, berdasar JISDOR Bank Indonesia (BI).

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal melihat, saat ini para investor mengalami kepanikan akibat wabah virus corona yang penyebarannya terus meningkat dari hari ke hari. Sehingga, stimulus yang diberikan oleh pemerintahpun tak dapat meredam pelemahan mata uang Garuda yang semakin dalam.

“Bukan hanya permasalahan supply-demand mata uang, atau tingkat suku bunga. Ini lebih banyak terlihat dari sisi psikologis. Ada sentimen pasar, ada kepanikan pasar masalah corona,” ujarnya kepada JawaPos.com, Senin (23/3).

Baca Juga:  Dipecat, Dirut Garuda Terancam Pidana

Meskipun demikian, dia mengakui bukan hanya Rupiah yang mengalami tekanan akibat pandemi ini. Negara-negara berkembang lain yang punya kasus serupa juga mengalami tekanan.

Faisal menuturkan, investor tak lagi melirik rendahnya suku bunga global namun lebih mencermati langkah pemerintah masing-masing dalam menangani Covid-19. “Pelaku pasar enggak lagi lihat suku bunga rendah atau tinggi, tapi mencari portofolio yang lebih nyaman untuk menyelamatkan investasinya,” tuturnya.

Menurutnya, saat ini para investor tengah mencermati upaya serius pemerintah dalam mempercepat penanganan penyebaran Covid-19. Sebab, angka kematian dan orang yang terpapar virus tersebut semakin meningkat.

“Sejauh mana pemerintah menanggulangi wabah korona,” katanya.

Faisal menurutkan, selama tidak terlihat upaya serius yang efektif, maka tekanan di pasar keuangan akan terus berlangsung. Dia pun berpesan agar pemerintah tanggap dengan gejolak di pasar keuangan ini, agar tidak merembet ke sektor ekonomi lainnya, terutama industri.

Baca Juga:  FOX Harris Hotel Beri Kejutan buat Riau Pos

“Sepanjang penanggulangan wabah enggak baik, sepanjang itu pula tekanan ekonomi terjadi. Karena virus korona dampaknya ke mana-mana dari sisi ekonomi,” pungkasnya.

JAKARTA (RIAUWabah virus corona Covid-19 di tanah air turut menggerogoti perekonomian nasional termasuk pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tembus di bawah level 4.000 dan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), Senin (23/3) ini tembus 16.608, berdasar JISDOR Bank Indonesia (BI).

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal melihat, saat ini para investor mengalami kepanikan akibat wabah virus corona yang penyebarannya terus meningkat dari hari ke hari. Sehingga, stimulus yang diberikan oleh pemerintahpun tak dapat meredam pelemahan mata uang Garuda yang semakin dalam.

“Bukan hanya permasalahan supply-demand mata uang, atau tingkat suku bunga. Ini lebih banyak terlihat dari sisi psikologis. Ada sentimen pasar, ada kepanikan pasar masalah corona,” ujarnya kepada JawaPos.com, Senin (23/3).

Baca Juga:  Selamat Tinggal Resesi, Pertumbuhan Ekonomi RI Melesat 7,07 Persen

Meskipun demikian, dia mengakui bukan hanya Rupiah yang mengalami tekanan akibat pandemi ini. Negara-negara berkembang lain yang punya kasus serupa juga mengalami tekanan.

Faisal menuturkan, investor tak lagi melirik rendahnya suku bunga global namun lebih mencermati langkah pemerintah masing-masing dalam menangani Covid-19. “Pelaku pasar enggak lagi lihat suku bunga rendah atau tinggi, tapi mencari portofolio yang lebih nyaman untuk menyelamatkan investasinya,” tuturnya.

Menurutnya, saat ini para investor tengah mencermati upaya serius pemerintah dalam mempercepat penanganan penyebaran Covid-19. Sebab, angka kematian dan orang yang terpapar virus tersebut semakin meningkat.

“Sejauh mana pemerintah menanggulangi wabah korona,” katanya.

Faisal menurutkan, selama tidak terlihat upaya serius yang efektif, maka tekanan di pasar keuangan akan terus berlangsung. Dia pun berpesan agar pemerintah tanggap dengan gejolak di pasar keuangan ini, agar tidak merembet ke sektor ekonomi lainnya, terutama industri.

Baca Juga:  PT BRK Luncurkan Program SDC untuk Milenial

“Sepanjang penanggulangan wabah enggak baik, sepanjang itu pula tekanan ekonomi terjadi. Karena virus korona dampaknya ke mana-mana dari sisi ekonomi,” pungkasnya.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Rupiah Melemah, karena Investor Ragukan Keseriusan Pemerintah

JAKARTA (RIAUWabah virus corona Covid-19 di tanah air turut menggerogoti perekonomian nasional termasuk pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tembus di bawah level 4.000 dan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), Senin (23/3) ini tembus 16.608, berdasar JISDOR Bank Indonesia (BI).

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal melihat, saat ini para investor mengalami kepanikan akibat wabah virus corona yang penyebarannya terus meningkat dari hari ke hari. Sehingga, stimulus yang diberikan oleh pemerintahpun tak dapat meredam pelemahan mata uang Garuda yang semakin dalam.

“Bukan hanya permasalahan supply-demand mata uang, atau tingkat suku bunga. Ini lebih banyak terlihat dari sisi psikologis. Ada sentimen pasar, ada kepanikan pasar masalah corona,” ujarnya kepada JawaPos.com, Senin (23/3).

Baca Juga:  Selamat Tinggal Resesi, Pertumbuhan Ekonomi RI Melesat 7,07 Persen

Meskipun demikian, dia mengakui bukan hanya Rupiah yang mengalami tekanan akibat pandemi ini. Negara-negara berkembang lain yang punya kasus serupa juga mengalami tekanan.

Faisal menuturkan, investor tak lagi melirik rendahnya suku bunga global namun lebih mencermati langkah pemerintah masing-masing dalam menangani Covid-19. “Pelaku pasar enggak lagi lihat suku bunga rendah atau tinggi, tapi mencari portofolio yang lebih nyaman untuk menyelamatkan investasinya,” tuturnya.

Menurutnya, saat ini para investor tengah mencermati upaya serius pemerintah dalam mempercepat penanganan penyebaran Covid-19. Sebab, angka kematian dan orang yang terpapar virus tersebut semakin meningkat.

“Sejauh mana pemerintah menanggulangi wabah korona,” katanya.

Faisal menurutkan, selama tidak terlihat upaya serius yang efektif, maka tekanan di pasar keuangan akan terus berlangsung. Dia pun berpesan agar pemerintah tanggap dengan gejolak di pasar keuangan ini, agar tidak merembet ke sektor ekonomi lainnya, terutama industri.

Baca Juga:  Dipecat, Dirut Garuda Terancam Pidana

“Sepanjang penanggulangan wabah enggak baik, sepanjang itu pula tekanan ekonomi terjadi. Karena virus korona dampaknya ke mana-mana dari sisi ekonomi,” pungkasnya.

JAKARTA (RIAUWabah virus corona Covid-19 di tanah air turut menggerogoti perekonomian nasional termasuk pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tembus di bawah level 4.000 dan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), Senin (23/3) ini tembus 16.608, berdasar JISDOR Bank Indonesia (BI).

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal melihat, saat ini para investor mengalami kepanikan akibat wabah virus corona yang penyebarannya terus meningkat dari hari ke hari. Sehingga, stimulus yang diberikan oleh pemerintahpun tak dapat meredam pelemahan mata uang Garuda yang semakin dalam.

“Bukan hanya permasalahan supply-demand mata uang, atau tingkat suku bunga. Ini lebih banyak terlihat dari sisi psikologis. Ada sentimen pasar, ada kepanikan pasar masalah corona,” ujarnya kepada JawaPos.com, Senin (23/3).

Baca Juga:  Seru Bareng Akhir Pekan lewat Virtual Daihatsu Festival

Meskipun demikian, dia mengakui bukan hanya Rupiah yang mengalami tekanan akibat pandemi ini. Negara-negara berkembang lain yang punya kasus serupa juga mengalami tekanan.

Faisal menuturkan, investor tak lagi melirik rendahnya suku bunga global namun lebih mencermati langkah pemerintah masing-masing dalam menangani Covid-19. “Pelaku pasar enggak lagi lihat suku bunga rendah atau tinggi, tapi mencari portofolio yang lebih nyaman untuk menyelamatkan investasinya,” tuturnya.

Menurutnya, saat ini para investor tengah mencermati upaya serius pemerintah dalam mempercepat penanganan penyebaran Covid-19. Sebab, angka kematian dan orang yang terpapar virus tersebut semakin meningkat.

“Sejauh mana pemerintah menanggulangi wabah korona,” katanya.

Faisal menurutkan, selama tidak terlihat upaya serius yang efektif, maka tekanan di pasar keuangan akan terus berlangsung. Dia pun berpesan agar pemerintah tanggap dengan gejolak di pasar keuangan ini, agar tidak merembet ke sektor ekonomi lainnya, terutama industri.

Baca Juga:  Dipecat, Dirut Garuda Terancam Pidana

“Sepanjang penanggulangan wabah enggak baik, sepanjang itu pula tekanan ekonomi terjadi. Karena virus korona dampaknya ke mana-mana dari sisi ekonomi,” pungkasnya.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari