Jumat, 6 November 2026
- Advertisement -

Guru Besar IPB Apresiasi Langkah Penghentian Ekspor Benur

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah kepemimpinan Sakti Wahyu Trenggono tengah berbenah terkait tata kelola benih bening lobster (BBL) atau benur. Guru Besar IPB Ari Purbayanto memuji langkah KKP untuk menghentikan ekspor benur.

“Keputusan penghentian sementara ekspor BBL dapat dipandang tepat, karena bila tidak dihentikan, dugaan monopoli ekspor dan permasalahan tata niaga BBL di lapangan akan menjadi bertambah kompleks dan bahkan pada akhirnya sulit diselesaikan,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (8/1).

Dia meyakini bahwa stok BBL tergolong tinggi dibanding negara-negara lain di dunia. Namun, bila tak dikelola dengan baik mulai dari penetapan jumlah tangkapan yang diizinkan, termasuk jumlah alokasi penangkapan, stoknya yang melimpah tersebut bisa cepat terkuras habis.

Baca Juga:  BMW M2 CS Siap Dilepas ke Jalan

Kebijakan ini sudah diatur dalam PermenKP Nomor 12 tahun 2020. Salah satu aturannya, eksportir wajib melakukan usaha budidaya lobster sebagai syarat sebelum izin ekspor. “Pada kenyataannya tidak demikian. Jadi kegiatan budidaya BBL ini belum dilakukan secara serius, apalagi masif. Sehingga BBL yang dibeli dari nelayan sebagian besar diekpor,” jelasnya.

Menururtya, sudah saatnya membuat tata kelola soal BBL yang baik. Salah satunya dibangun kemitraan yang saling menguntungkan antara eksportir atau industri budidaya dengan nelayan. Salah satunya melalui koperasi atau Kelompok Usaha Bersama (KUB).

“Mekanisme ini sebenarnya sudah diarahkan dalam kebijakan KKP. Di mana eksportir tidak hanya membeli BBL dari nelayan melalui KUB untuk diekspor atau dibudidayakan, tetapi juga melakukan pembinaan kerja sama dengan nelayan.(jpg)

Baca Juga:  Edisi Spesial Xpander dan Xpander Cross, Ini Spesifikasi Lengkapnya

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah kepemimpinan Sakti Wahyu Trenggono tengah berbenah terkait tata kelola benih bening lobster (BBL) atau benur. Guru Besar IPB Ari Purbayanto memuji langkah KKP untuk menghentikan ekspor benur.

“Keputusan penghentian sementara ekspor BBL dapat dipandang tepat, karena bila tidak dihentikan, dugaan monopoli ekspor dan permasalahan tata niaga BBL di lapangan akan menjadi bertambah kompleks dan bahkan pada akhirnya sulit diselesaikan,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (8/1).

Dia meyakini bahwa stok BBL tergolong tinggi dibanding negara-negara lain di dunia. Namun, bila tak dikelola dengan baik mulai dari penetapan jumlah tangkapan yang diizinkan, termasuk jumlah alokasi penangkapan, stoknya yang melimpah tersebut bisa cepat terkuras habis.

Baca Juga:  DPR: Pajak Sembako Merupakan Pengkhianatan kepada

Kebijakan ini sudah diatur dalam PermenKP Nomor 12 tahun 2020. Salah satu aturannya, eksportir wajib melakukan usaha budidaya lobster sebagai syarat sebelum izin ekspor. “Pada kenyataannya tidak demikian. Jadi kegiatan budidaya BBL ini belum dilakukan secara serius, apalagi masif. Sehingga BBL yang dibeli dari nelayan sebagian besar diekpor,” jelasnya.

Menururtya, sudah saatnya membuat tata kelola soal BBL yang baik. Salah satunya dibangun kemitraan yang saling menguntungkan antara eksportir atau industri budidaya dengan nelayan. Salah satunya melalui koperasi atau Kelompok Usaha Bersama (KUB).

- Advertisement -

“Mekanisme ini sebenarnya sudah diarahkan dalam kebijakan KKP. Di mana eksportir tidak hanya membeli BBL dari nelayan melalui KUB untuk diekspor atau dibudidayakan, tetapi juga melakukan pembinaan kerja sama dengan nelayan.(jpg)

Baca Juga:  Serahkan Hadiah Program Livin’ to the Max

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah kepemimpinan Sakti Wahyu Trenggono tengah berbenah terkait tata kelola benih bening lobster (BBL) atau benur. Guru Besar IPB Ari Purbayanto memuji langkah KKP untuk menghentikan ekspor benur.

“Keputusan penghentian sementara ekspor BBL dapat dipandang tepat, karena bila tidak dihentikan, dugaan monopoli ekspor dan permasalahan tata niaga BBL di lapangan akan menjadi bertambah kompleks dan bahkan pada akhirnya sulit diselesaikan,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (8/1).

Dia meyakini bahwa stok BBL tergolong tinggi dibanding negara-negara lain di dunia. Namun, bila tak dikelola dengan baik mulai dari penetapan jumlah tangkapan yang diizinkan, termasuk jumlah alokasi penangkapan, stoknya yang melimpah tersebut bisa cepat terkuras habis.

Baca Juga:  Gunakan Media Digital, Strategi Pengusaha Perempuan Pekanbaru Bertahan

Kebijakan ini sudah diatur dalam PermenKP Nomor 12 tahun 2020. Salah satu aturannya, eksportir wajib melakukan usaha budidaya lobster sebagai syarat sebelum izin ekspor. “Pada kenyataannya tidak demikian. Jadi kegiatan budidaya BBL ini belum dilakukan secara serius, apalagi masif. Sehingga BBL yang dibeli dari nelayan sebagian besar diekpor,” jelasnya.

Menururtya, sudah saatnya membuat tata kelola soal BBL yang baik. Salah satunya dibangun kemitraan yang saling menguntungkan antara eksportir atau industri budidaya dengan nelayan. Salah satunya melalui koperasi atau Kelompok Usaha Bersama (KUB).

“Mekanisme ini sebenarnya sudah diarahkan dalam kebijakan KKP. Di mana eksportir tidak hanya membeli BBL dari nelayan melalui KUB untuk diekspor atau dibudidayakan, tetapi juga melakukan pembinaan kerja sama dengan nelayan.(jpg)

Baca Juga:  PalmCo Perkuat Peran Strategis Jaga Ketahanan Pangan Nasional

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari