Minggu, 6 April 2025
spot_img

Asita: Rapid Antigen Bikin Bisnis Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Para pelaku usaha bidang perjalanan wisata meminta pemerintah lebih serius mendukung pemulihan bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan menerbitkan kebijakan yang pro-pariwisata. Itu disebabkan kebijakan akhir tahun lalu dianggap menghambat bisnis pariwisata.

Kabid Komunikasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) 1971 Nanik Sutaningtyas menyebut bisnis perjalanan wisata mati suri selama pandemi Covid-19. Pemasukan hanya ada pada Februari lalu. Setelah itu, nyaris tidak ada pendapatan.

“Pada pengujung tahun 2020, kami berharap ada pemasukan kembali. Ada harapan bisnis bangkit. Tapi, kemudian ada peraturan rapid antigen. Jadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ucapnya.

Namun, Nanik menyadari bahwa dampak pandemi memang serius. Terutama bagi kesehatan masyarakat.

“Kami menyadari kebijakan keharusan rapid antigen merupakan strategi pemerintah untuk mengantisipasi persebaran virus. Tapi, harus dipahami juga dampaknya terhadap pelaku usaha bidang pariwisata,” paparnya. Tahun ini dia berharap ada solusi untuk membuat bisnis pariwisata kembali menggeliat.

Baca Juga:  Ekspor Luar Negeri Meningkat, Dongkrak Ekonomi Riau

Regulasi Harus Dukung Recovery Wisata

Para pelaku usaha bidang perjalanan wisata meminta pemerintah lebih serius mendukung pemulihan bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan menerbitkan kebijakan yang pro-pariwisata. Itu disebabkan kebijakan akhir tahun lalu dianggap menghambat bisnis pariwisata.

Kabid Komunikasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) 1971 Nanik Sutaningtyas menyebut bisnis perjalanan wisata mati suri selama pandemi Covid-19. Pemasukan hanya ada pada Februari lalu. Setelah itu, nyaris tidak ada pendapatan.

’’Pada pengujung tahun 2020, kami berharap ada pemasukan kembali. Ada harapan bisnis bangkit. Tapi, kemudian ada peraturan rapid antigen. Jadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ucapnya.

Namun, Nanik menyadari bahwa dampak pandemi memang serius. Terutama bagi kesehatan masyarakat. ”Kami menyadari kebijakan keharusan rapid antigen merupakan strategi pemerintah untuk mengantisipasi persebaran virus. Tapi, harus dipahami juga dampaknya terhadap pelaku usaha bidang pariwisata,’’ paparnya.

Baca Juga:  PLN UP3 Pekanbaru Lakukan Pemeliharaan Jaringan, Berikut Lokasi Terdampak

Tahun ini dia berharap ada solusi untuk membuat bisnis pariwisata kembali menggeliat. ”Bagaimana caranya bisnis tetap jalan, tapi aman dari penularan,’’ ujarnya. Menurut dia, vaksin juga sebaiknya segera didistribusikan ke sektor pariwisata. Dengan demikian, bisnis pariwisata dan seluruh sektor yang merupakan multiplier effect-nya juga kembali bangkit.

Data BPS menunjukkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui Juanda pada Oktober naik 160 persen ketimbang bulan sebelumnya. Tapi, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, jumlah kunjungan wisman Oktober 2020 turun 99,75 persen.(res/c6/hep/jpg)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Para pelaku usaha bidang perjalanan wisata meminta pemerintah lebih serius mendukung pemulihan bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan menerbitkan kebijakan yang pro-pariwisata. Itu disebabkan kebijakan akhir tahun lalu dianggap menghambat bisnis pariwisata.

Kabid Komunikasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) 1971 Nanik Sutaningtyas menyebut bisnis perjalanan wisata mati suri selama pandemi Covid-19. Pemasukan hanya ada pada Februari lalu. Setelah itu, nyaris tidak ada pendapatan.

“Pada pengujung tahun 2020, kami berharap ada pemasukan kembali. Ada harapan bisnis bangkit. Tapi, kemudian ada peraturan rapid antigen. Jadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ucapnya.

Namun, Nanik menyadari bahwa dampak pandemi memang serius. Terutama bagi kesehatan masyarakat.

“Kami menyadari kebijakan keharusan rapid antigen merupakan strategi pemerintah untuk mengantisipasi persebaran virus. Tapi, harus dipahami juga dampaknya terhadap pelaku usaha bidang pariwisata,” paparnya. Tahun ini dia berharap ada solusi untuk membuat bisnis pariwisata kembali menggeliat.

Baca Juga:  Daihatsu Beberkan Tips Merawat Kendaraan

Regulasi Harus Dukung Recovery Wisata

Para pelaku usaha bidang perjalanan wisata meminta pemerintah lebih serius mendukung pemulihan bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan menerbitkan kebijakan yang pro-pariwisata. Itu disebabkan kebijakan akhir tahun lalu dianggap menghambat bisnis pariwisata.

Kabid Komunikasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) 1971 Nanik Sutaningtyas menyebut bisnis perjalanan wisata mati suri selama pandemi Covid-19. Pemasukan hanya ada pada Februari lalu. Setelah itu, nyaris tidak ada pendapatan.

’’Pada pengujung tahun 2020, kami berharap ada pemasukan kembali. Ada harapan bisnis bangkit. Tapi, kemudian ada peraturan rapid antigen. Jadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ucapnya.

Namun, Nanik menyadari bahwa dampak pandemi memang serius. Terutama bagi kesehatan masyarakat. ”Kami menyadari kebijakan keharusan rapid antigen merupakan strategi pemerintah untuk mengantisipasi persebaran virus. Tapi, harus dipahami juga dampaknya terhadap pelaku usaha bidang pariwisata,’’ paparnya.

Baca Juga:  Honda CB150X Dijual dengan Harga Rp33 Juta

Tahun ini dia berharap ada solusi untuk membuat bisnis pariwisata kembali menggeliat. ”Bagaimana caranya bisnis tetap jalan, tapi aman dari penularan,’’ ujarnya. Menurut dia, vaksin juga sebaiknya segera didistribusikan ke sektor pariwisata. Dengan demikian, bisnis pariwisata dan seluruh sektor yang merupakan multiplier effect-nya juga kembali bangkit.

Data BPS menunjukkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui Juanda pada Oktober naik 160 persen ketimbang bulan sebelumnya. Tapi, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, jumlah kunjungan wisman Oktober 2020 turun 99,75 persen.(res/c6/hep/jpg)

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Asita: Rapid Antigen Bikin Bisnis Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Para pelaku usaha bidang perjalanan wisata meminta pemerintah lebih serius mendukung pemulihan bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan menerbitkan kebijakan yang pro-pariwisata. Itu disebabkan kebijakan akhir tahun lalu dianggap menghambat bisnis pariwisata.

Kabid Komunikasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) 1971 Nanik Sutaningtyas menyebut bisnis perjalanan wisata mati suri selama pandemi Covid-19. Pemasukan hanya ada pada Februari lalu. Setelah itu, nyaris tidak ada pendapatan.

“Pada pengujung tahun 2020, kami berharap ada pemasukan kembali. Ada harapan bisnis bangkit. Tapi, kemudian ada peraturan rapid antigen. Jadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ucapnya.

Namun, Nanik menyadari bahwa dampak pandemi memang serius. Terutama bagi kesehatan masyarakat.

“Kami menyadari kebijakan keharusan rapid antigen merupakan strategi pemerintah untuk mengantisipasi persebaran virus. Tapi, harus dipahami juga dampaknya terhadap pelaku usaha bidang pariwisata,” paparnya. Tahun ini dia berharap ada solusi untuk membuat bisnis pariwisata kembali menggeliat.

Baca Juga:  Swiss Belinn SKA Pekanbaru 2 Jam Sekali Pengelapan dengan Sanitasi Disinfektan

Regulasi Harus Dukung Recovery Wisata

Para pelaku usaha bidang perjalanan wisata meminta pemerintah lebih serius mendukung pemulihan bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan menerbitkan kebijakan yang pro-pariwisata. Itu disebabkan kebijakan akhir tahun lalu dianggap menghambat bisnis pariwisata.

Kabid Komunikasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) 1971 Nanik Sutaningtyas menyebut bisnis perjalanan wisata mati suri selama pandemi Covid-19. Pemasukan hanya ada pada Februari lalu. Setelah itu, nyaris tidak ada pendapatan.

’’Pada pengujung tahun 2020, kami berharap ada pemasukan kembali. Ada harapan bisnis bangkit. Tapi, kemudian ada peraturan rapid antigen. Jadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ucapnya.

Namun, Nanik menyadari bahwa dampak pandemi memang serius. Terutama bagi kesehatan masyarakat. ”Kami menyadari kebijakan keharusan rapid antigen merupakan strategi pemerintah untuk mengantisipasi persebaran virus. Tapi, harus dipahami juga dampaknya terhadap pelaku usaha bidang pariwisata,’’ paparnya.

Baca Juga:  Pangkas Aturan Izin, IMB Bakal Dihapus

Tahun ini dia berharap ada solusi untuk membuat bisnis pariwisata kembali menggeliat. ”Bagaimana caranya bisnis tetap jalan, tapi aman dari penularan,’’ ujarnya. Menurut dia, vaksin juga sebaiknya segera didistribusikan ke sektor pariwisata. Dengan demikian, bisnis pariwisata dan seluruh sektor yang merupakan multiplier effect-nya juga kembali bangkit.

Data BPS menunjukkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui Juanda pada Oktober naik 160 persen ketimbang bulan sebelumnya. Tapi, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, jumlah kunjungan wisman Oktober 2020 turun 99,75 persen.(res/c6/hep/jpg)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Para pelaku usaha bidang perjalanan wisata meminta pemerintah lebih serius mendukung pemulihan bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan menerbitkan kebijakan yang pro-pariwisata. Itu disebabkan kebijakan akhir tahun lalu dianggap menghambat bisnis pariwisata.

Kabid Komunikasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) 1971 Nanik Sutaningtyas menyebut bisnis perjalanan wisata mati suri selama pandemi Covid-19. Pemasukan hanya ada pada Februari lalu. Setelah itu, nyaris tidak ada pendapatan.

“Pada pengujung tahun 2020, kami berharap ada pemasukan kembali. Ada harapan bisnis bangkit. Tapi, kemudian ada peraturan rapid antigen. Jadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ucapnya.

Namun, Nanik menyadari bahwa dampak pandemi memang serius. Terutama bagi kesehatan masyarakat.

“Kami menyadari kebijakan keharusan rapid antigen merupakan strategi pemerintah untuk mengantisipasi persebaran virus. Tapi, harus dipahami juga dampaknya terhadap pelaku usaha bidang pariwisata,” paparnya. Tahun ini dia berharap ada solusi untuk membuat bisnis pariwisata kembali menggeliat.

Baca Juga:  Daihatsu Beberkan Tips Merawat Kendaraan

Regulasi Harus Dukung Recovery Wisata

Para pelaku usaha bidang perjalanan wisata meminta pemerintah lebih serius mendukung pemulihan bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan menerbitkan kebijakan yang pro-pariwisata. Itu disebabkan kebijakan akhir tahun lalu dianggap menghambat bisnis pariwisata.

Kabid Komunikasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) 1971 Nanik Sutaningtyas menyebut bisnis perjalanan wisata mati suri selama pandemi Covid-19. Pemasukan hanya ada pada Februari lalu. Setelah itu, nyaris tidak ada pendapatan.

’’Pada pengujung tahun 2020, kami berharap ada pemasukan kembali. Ada harapan bisnis bangkit. Tapi, kemudian ada peraturan rapid antigen. Jadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga,” ucapnya.

Namun, Nanik menyadari bahwa dampak pandemi memang serius. Terutama bagi kesehatan masyarakat. ”Kami menyadari kebijakan keharusan rapid antigen merupakan strategi pemerintah untuk mengantisipasi persebaran virus. Tapi, harus dipahami juga dampaknya terhadap pelaku usaha bidang pariwisata,’’ paparnya.

Baca Juga:  Gara-gara Laporan Keuangan Tahunan Garuda Indonesia Kena Denda Rp100 Juta

Tahun ini dia berharap ada solusi untuk membuat bisnis pariwisata kembali menggeliat. ”Bagaimana caranya bisnis tetap jalan, tapi aman dari penularan,’’ ujarnya. Menurut dia, vaksin juga sebaiknya segera didistribusikan ke sektor pariwisata. Dengan demikian, bisnis pariwisata dan seluruh sektor yang merupakan multiplier effect-nya juga kembali bangkit.

Data BPS menunjukkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui Juanda pada Oktober naik 160 persen ketimbang bulan sebelumnya. Tapi, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, jumlah kunjungan wisman Oktober 2020 turun 99,75 persen.(res/c6/hep/jpg)

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari