RIAUPOS.CO – Sebuah momen tak terduga dialami Heri saat bersantai bersama teman-temannya di sebuah kafe di Pekanbaru. Suasana yang awalnya cair dengan obrolan ringan berubah jadi bahan tawa sekafe hanya dalam hitungan detik.
Saat itu, Heri tengah menikmati kopi hangat sembari berbincang santai. Obrolan mengalir bebas, dari gosip ringan hingga rencana hidup yang entah kapan akan terwujud. Namun, fokus Heri mendadak buyar ketika seorang perempuan cantik melangkah masuk ke kafe.
Rambut terurai dan senyum singkat perempuan tersebut sukses membuat Heri terpaku. Pandangannya seakan berhenti, otaknya sejenak nge-lag, sementara tangannya lupa dengan tugas menjaga gelas kopi di meja.
Tanpa disadari, gelas kopi di hadapannya terjatuh dan isinya tumpah ke mana-mana. Suasana kafe yang semula riuh mendadak hening sesaat, sebelum akhirnya pecah oleh tawa para pengunjung. Teman-teman Heri bahkan sampai menepuk meja, sementara barista hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Heri sendiri hanya bisa duduk kaku. Wajahnya memerah, menahan malu yang rasanya lebih panas dari kopi yang baru saja tumpah. Dengan suara lirih dan pasrah, ia hanya mampu berujar, “Alamaak… tumpah.”
Celetukan salah satu temannya justru menambah derai tawa. “Bukan kopinya yang tumpah, Ri. Fokus hidup kau yang jatuh,” ujarnya sambil tertawa.
Perempuan yang menjadi pusat perhatian itu sempat menoleh dan melempar senyum kecil sebelum melangkah pergi. Sementara Heri masih sibuk mengelap meja, berusaha menyelamatkan sisa martabat yang ikut tumpah bersama kopi.(dof)
RIAUPOS.CO – Sebuah momen tak terduga dialami Heri saat bersantai bersama teman-temannya di sebuah kafe di Pekanbaru. Suasana yang awalnya cair dengan obrolan ringan berubah jadi bahan tawa sekafe hanya dalam hitungan detik.
Saat itu, Heri tengah menikmati kopi hangat sembari berbincang santai. Obrolan mengalir bebas, dari gosip ringan hingga rencana hidup yang entah kapan akan terwujud. Namun, fokus Heri mendadak buyar ketika seorang perempuan cantik melangkah masuk ke kafe.
Rambut terurai dan senyum singkat perempuan tersebut sukses membuat Heri terpaku. Pandangannya seakan berhenti, otaknya sejenak nge-lag, sementara tangannya lupa dengan tugas menjaga gelas kopi di meja.
Tanpa disadari, gelas kopi di hadapannya terjatuh dan isinya tumpah ke mana-mana. Suasana kafe yang semula riuh mendadak hening sesaat, sebelum akhirnya pecah oleh tawa para pengunjung. Teman-teman Heri bahkan sampai menepuk meja, sementara barista hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Heri sendiri hanya bisa duduk kaku. Wajahnya memerah, menahan malu yang rasanya lebih panas dari kopi yang baru saja tumpah. Dengan suara lirih dan pasrah, ia hanya mampu berujar, “Alamaak… tumpah.”
Celetukan salah satu temannya justru menambah derai tawa. “Bukan kopinya yang tumpah, Ri. Fokus hidup kau yang jatuh,” ujarnya sambil tertawa.
Perempuan yang menjadi pusat perhatian itu sempat menoleh dan melempar senyum kecil sebelum melangkah pergi. Sementara Heri masih sibuk mengelap meja, berusaha menyelamatkan sisa martabat yang ikut tumpah bersama kopi.(dof)