Kamis, 2 Juli 2026
- Advertisement -

Bobby Ferly: Tantangan UMKM Perempuan Bukan Akses, tapi Literasi Digital

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Imam Syafii (IMSYA) Indonesia, Bobby Ferly SH MH, menjadi narasumber dalam seminar bertajuk Digital Gender Gap dalam Ekosistem UMKM dengan tema “Strategi dalam Mendorong Literasi Perempuan Pelaku Usaha”. Kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-97.

Seminar tersebut berlangsung di Gedung Daerah Balai Pauh Janggi, Kota Pekanbaru, Senin (15/12). Kegiatan ini diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan dan pelaku UMKM perempuan yang ingin meningkatkan pemahaman literasi digital di era ekonomi modern.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas P3AP2KB Provinsi Riau, Hj Fariza SH MH. Dalam sambutannya, ia menyoroti tantangan besar di era digital, khususnya kesenjangan akses dan pemanfaatan teknologi antara laki-laki dan perempuan di sektor UMKM.

Baca Juga:  Ponpes Dar El Hikmah Wisuda 145 Santri

Menurut Hj Fariza, perempuan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Lebih dari 64 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan yang menjadi motor penggerak ekonomi keluarga sekaligus penopang ketahanan ekonomi negara.

Sejalan dengan hal tersebut, Bobby Ferly SH MH yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Hukum Ekonomi Syariah IMSYA serta berprofesi sebagai advokat dan penyuluh literasi digital, menegaskan bahwa anggapan perempuan tertinggal karena tidak memiliki akses atau perangkat digital tidak sepenuhnya benar.

Ia menjelaskan, persoalan utama saat ini bukan lagi ketiadaan gawai, melainkan minimnya kemampuan memanfaatkan teknologi untuk kepentingan bisnis. Riset terbaru menunjukkan adanya digital gender gap yang cukup krusial, di mana tingginya kepemilikan ponsel pintar di kalangan perempuan tidak sejalan dengan pemanfaatannya untuk produktivitas ekonomi.

Baca Juga:  Wisuda ke-22 PCR: 448 Lulusan Siap Bersaing di Dunia Global

Bobby menambahkan, sebagian besar perempuan pelaku UMKM sejatinya telah memiliki teknologi di tangan mereka. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada fungsi komunikasi dasar. Kesenjangan kecakapan digital inilah yang menjadi penghambat utama, membuat banyak perempuan terhubung secara perangkat, tetapi belum terkoneksi dengan peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar global. (nto/c)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Imam Syafii (IMSYA) Indonesia, Bobby Ferly SH MH, menjadi narasumber dalam seminar bertajuk Digital Gender Gap dalam Ekosistem UMKM dengan tema “Strategi dalam Mendorong Literasi Perempuan Pelaku Usaha”. Kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-97.

Seminar tersebut berlangsung di Gedung Daerah Balai Pauh Janggi, Kota Pekanbaru, Senin (15/12). Kegiatan ini diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan dan pelaku UMKM perempuan yang ingin meningkatkan pemahaman literasi digital di era ekonomi modern.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas P3AP2KB Provinsi Riau, Hj Fariza SH MH. Dalam sambutannya, ia menyoroti tantangan besar di era digital, khususnya kesenjangan akses dan pemanfaatan teknologi antara laki-laki dan perempuan di sektor UMKM.

Baca Juga:  Penanganan Karhutla Diperkuat, Satu Helikopter Water Bombing Tiba di Pekanbaru

Menurut Hj Fariza, perempuan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Lebih dari 64 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan yang menjadi motor penggerak ekonomi keluarga sekaligus penopang ketahanan ekonomi negara.

Sejalan dengan hal tersebut, Bobby Ferly SH MH yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Hukum Ekonomi Syariah IMSYA serta berprofesi sebagai advokat dan penyuluh literasi digital, menegaskan bahwa anggapan perempuan tertinggal karena tidak memiliki akses atau perangkat digital tidak sepenuhnya benar.

- Advertisement -

Ia menjelaskan, persoalan utama saat ini bukan lagi ketiadaan gawai, melainkan minimnya kemampuan memanfaatkan teknologi untuk kepentingan bisnis. Riset terbaru menunjukkan adanya digital gender gap yang cukup krusial, di mana tingginya kepemilikan ponsel pintar di kalangan perempuan tidak sejalan dengan pemanfaatannya untuk produktivitas ekonomi.

Baca Juga:  Wisuda ke-22 PCR: 448 Lulusan Siap Bersaing di Dunia Global

Bobby menambahkan, sebagian besar perempuan pelaku UMKM sejatinya telah memiliki teknologi di tangan mereka. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada fungsi komunikasi dasar. Kesenjangan kecakapan digital inilah yang menjadi penghambat utama, membuat banyak perempuan terhubung secara perangkat, tetapi belum terkoneksi dengan peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar global. (nto/c)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Dosen Fakultas Syariah Institut Agama Imam Syafii (IMSYA) Indonesia, Bobby Ferly SH MH, menjadi narasumber dalam seminar bertajuk Digital Gender Gap dalam Ekosistem UMKM dengan tema “Strategi dalam Mendorong Literasi Perempuan Pelaku Usaha”. Kegiatan ini digelar dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-97.

Seminar tersebut berlangsung di Gedung Daerah Balai Pauh Janggi, Kota Pekanbaru, Senin (15/12). Kegiatan ini diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan dan pelaku UMKM perempuan yang ingin meningkatkan pemahaman literasi digital di era ekonomi modern.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas P3AP2KB Provinsi Riau, Hj Fariza SH MH. Dalam sambutannya, ia menyoroti tantangan besar di era digital, khususnya kesenjangan akses dan pemanfaatan teknologi antara laki-laki dan perempuan di sektor UMKM.

Baca Juga:  Tanpa APBD, 1.000 Titik WiFi Gratis Hadir untuk Warga Pekanbaru

Menurut Hj Fariza, perempuan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Lebih dari 64 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan yang menjadi motor penggerak ekonomi keluarga sekaligus penopang ketahanan ekonomi negara.

Sejalan dengan hal tersebut, Bobby Ferly SH MH yang juga menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Hukum Ekonomi Syariah IMSYA serta berprofesi sebagai advokat dan penyuluh literasi digital, menegaskan bahwa anggapan perempuan tertinggal karena tidak memiliki akses atau perangkat digital tidak sepenuhnya benar.

Ia menjelaskan, persoalan utama saat ini bukan lagi ketiadaan gawai, melainkan minimnya kemampuan memanfaatkan teknologi untuk kepentingan bisnis. Riset terbaru menunjukkan adanya digital gender gap yang cukup krusial, di mana tingginya kepemilikan ponsel pintar di kalangan perempuan tidak sejalan dengan pemanfaatannya untuk produktivitas ekonomi.

Baca Juga:  Pertanyakan Kapan Pasar Bawah Selesai Direvitalisasi

Bobby menambahkan, sebagian besar perempuan pelaku UMKM sejatinya telah memiliki teknologi di tangan mereka. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada fungsi komunikasi dasar. Kesenjangan kecakapan digital inilah yang menjadi penghambat utama, membuat banyak perempuan terhubung secara perangkat, tetapi belum terkoneksi dengan peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar global. (nto/c)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari