Jumat, 9 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Gelar Pahlawan Nasional untuk Sultan Abdul Jalil Muzaffarsyah Masuk Tahap Pendalaman

SIAK SRIINDRAPURA (RIAUPOS.CO) – Tengku Buwang Asmara atau Sultan Abdul Jalil Muzaffarsyah belum berhasil ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2025 karena bukti perjuangannya dinilai masih perlu pendalaman, terutama terkait kontribusinya bagi nusantara dalam melawan penjajah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial Siak, Wan Idris. Ia menjelaskan, bukti-bukti perlawanan Tengku Buwang Asmara di Selat Guntung dan Selat Malaka masih harus diperkuat sebelum kembali diajukan.

Pendalaman kontribusi sejarah tokoh Kerajaan Siak itu terus dilakukan bersama Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) tingkat provinsi dan kabupaten. “Kami mengusulkan pada 2024, namun pada 2025 belum terpilih. Perbaikan terus dilakukan, terutama mengenai kontribusinya untuk nusantara,” ujar Wan Idris, Rabu (19/11).

Baca Juga:  Rumah Tuan Kadi Direstorasi, Pemko Pekanbaru Gandeng BI Tanpa Gunakan APBD

Pada 2024, pemerintah daerah telah menggelar seminar nasional dengan anggaran Rp500 juta sebagai bagian dari proses pengusulan. Namun, pada 2025 dan 2026 tidak ada alokasi anggaran khusus, meski kajian tetap berjalan untuk kembali diajukan pada 2027.

Pengusulan gelar pahlawan dilakukan setiap dua tahun. Dalam rentang waktu tersebut, pemerintah daerah melengkapi berbagai syarat agar nama Tengku Buwang Asmara bisa masuk daftar tunggu. “Kami terus berupaya agar bisa masuk daftar tunggu. Proses ini memakan waktu panjang karena seluruh dokumen harus benar-benar lengkap,” tambahnya.

Tengku Buwang Asmara, bergelar Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah, tercatat sebagai pemimpin Kerajaan Siak yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda, salah satunya melalui Perang Guntung. Kerajaan Siak sendiri merupakan salah satu kerajaan besar yang berlangsung lebih dari dua abad (1723–1945) dan menjadi estafet kemaharajaan Melayu setelah runtuhnya Melaka pada 1511.

Baca Juga:  Bupati Siak Resmikan RTH Taman Motuyoko di Tualang

Kerajaan Siak didirikan oleh Raja Kecik, bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1723–1746). Setelah wafatnya Raja Kecik, tampuk kepemimpinan diteruskan oleh Tengku Buwang atau Raja Muhammad yang dikenal juga sebagai Sultan Mahmud bergelar Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah, memimpin dari 1746 hingga 1760.

SIAK SRIINDRAPURA (RIAUPOS.CO) – Tengku Buwang Asmara atau Sultan Abdul Jalil Muzaffarsyah belum berhasil ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2025 karena bukti perjuangannya dinilai masih perlu pendalaman, terutama terkait kontribusinya bagi nusantara dalam melawan penjajah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial Siak, Wan Idris. Ia menjelaskan, bukti-bukti perlawanan Tengku Buwang Asmara di Selat Guntung dan Selat Malaka masih harus diperkuat sebelum kembali diajukan.

Pendalaman kontribusi sejarah tokoh Kerajaan Siak itu terus dilakukan bersama Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) tingkat provinsi dan kabupaten. “Kami mengusulkan pada 2024, namun pada 2025 belum terpilih. Perbaikan terus dilakukan, terutama mengenai kontribusinya untuk nusantara,” ujar Wan Idris, Rabu (19/11).

Baca Juga:  Dengar Kabar Rumah Warganya Terbakar, Alfedri Langsung Beri Bantuan

Pada 2024, pemerintah daerah telah menggelar seminar nasional dengan anggaran Rp500 juta sebagai bagian dari proses pengusulan. Namun, pada 2025 dan 2026 tidak ada alokasi anggaran khusus, meski kajian tetap berjalan untuk kembali diajukan pada 2027.

Pengusulan gelar pahlawan dilakukan setiap dua tahun. Dalam rentang waktu tersebut, pemerintah daerah melengkapi berbagai syarat agar nama Tengku Buwang Asmara bisa masuk daftar tunggu. “Kami terus berupaya agar bisa masuk daftar tunggu. Proses ini memakan waktu panjang karena seluruh dokumen harus benar-benar lengkap,” tambahnya.

- Advertisement -

Tengku Buwang Asmara, bergelar Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah, tercatat sebagai pemimpin Kerajaan Siak yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda, salah satunya melalui Perang Guntung. Kerajaan Siak sendiri merupakan salah satu kerajaan besar yang berlangsung lebih dari dua abad (1723–1945) dan menjadi estafet kemaharajaan Melayu setelah runtuhnya Melaka pada 1511.

Baca Juga:  Bupati Siak Resmikan RTH Taman Motuyoko di Tualang

Kerajaan Siak didirikan oleh Raja Kecik, bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1723–1746). Setelah wafatnya Raja Kecik, tampuk kepemimpinan diteruskan oleh Tengku Buwang atau Raja Muhammad yang dikenal juga sebagai Sultan Mahmud bergelar Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah, memimpin dari 1746 hingga 1760.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

SIAK SRIINDRAPURA (RIAUPOS.CO) – Tengku Buwang Asmara atau Sultan Abdul Jalil Muzaffarsyah belum berhasil ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2025 karena bukti perjuangannya dinilai masih perlu pendalaman, terutama terkait kontribusinya bagi nusantara dalam melawan penjajah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Sosial Siak, Wan Idris. Ia menjelaskan, bukti-bukti perlawanan Tengku Buwang Asmara di Selat Guntung dan Selat Malaka masih harus diperkuat sebelum kembali diajukan.

Pendalaman kontribusi sejarah tokoh Kerajaan Siak itu terus dilakukan bersama Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) tingkat provinsi dan kabupaten. “Kami mengusulkan pada 2024, namun pada 2025 belum terpilih. Perbaikan terus dilakukan, terutama mengenai kontribusinya untuk nusantara,” ujar Wan Idris, Rabu (19/11).

Baca Juga:  Antisipasi Politik Uang, Bawaslu Siak Siapkan Warung Pengawasan 

Pada 2024, pemerintah daerah telah menggelar seminar nasional dengan anggaran Rp500 juta sebagai bagian dari proses pengusulan. Namun, pada 2025 dan 2026 tidak ada alokasi anggaran khusus, meski kajian tetap berjalan untuk kembali diajukan pada 2027.

Pengusulan gelar pahlawan dilakukan setiap dua tahun. Dalam rentang waktu tersebut, pemerintah daerah melengkapi berbagai syarat agar nama Tengku Buwang Asmara bisa masuk daftar tunggu. “Kami terus berupaya agar bisa masuk daftar tunggu. Proses ini memakan waktu panjang karena seluruh dokumen harus benar-benar lengkap,” tambahnya.

Tengku Buwang Asmara, bergelar Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah, tercatat sebagai pemimpin Kerajaan Siak yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda, salah satunya melalui Perang Guntung. Kerajaan Siak sendiri merupakan salah satu kerajaan besar yang berlangsung lebih dari dua abad (1723–1945) dan menjadi estafet kemaharajaan Melayu setelah runtuhnya Melaka pada 1511.

Baca Juga:  Drama Final HSBL Perawang: SMAN 1 Lubuk Dalam Angkat Trofi, SMAN 1 Siak Menang Tipis di Laga Putri

Kerajaan Siak didirikan oleh Raja Kecik, bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1723–1746). Setelah wafatnya Raja Kecik, tampuk kepemimpinan diteruskan oleh Tengku Buwang atau Raja Muhammad yang dikenal juga sebagai Sultan Mahmud bergelar Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah, memimpin dari 1746 hingga 1760.

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari