PADANG (RIAUPOS.CO) — Bencana hidrometeorologi kembali melanda Sumatera Barat, dengan Kabupaten Agam menjadi wilayah paling terdampak banjir bandang (galodo). Hingga Jumat (28/11/2025) pukul 20.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 74 orang, sementara akses menuju Bukittinggi dari berbagai arah dinyatakan terputus.
Kepala BPBD Agam, Rahmad Lasmono, menyampaikan data terbaru tersebut berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops). “Jumlah korban meninggal saat ini mencapai 74 orang. Tim masih melakukan pendataan dan evakuasi lanjutan di lokasi terdampak,” katanya di Lubuk Basung.
Korban tersebar di sejumlah kecamatan yang menerima dampak terparah, seperti Malalak, Palembayan, Matur, Tanjung Raya, Palupuh, Koto Alam, Kampuang Tangah, dan Subarang Aia. Sebagian korban masih dalam proses identifikasi.
Dari data lengkap BPBD hingga 28 November 2025 pukul 20.00 WIB, total 74 korban meninggal tercatat berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Malalak 10 orang, Matur satu orang, Tanjung Raya dua orang, Palupuh satu orang, Koto Alam 27 orang, Palembayan – Kampung Tangah Barat tujuh orang, Kampung Tangah Timur sembilan orang, serta Subarang Aia 17 orang.
Selain menelan banyak korban jiwa, bencana ini juga melumpuhkan berbagai jalur utama menuju Bukittinggi. Enam ruas jalan besar tidak bisa dilalui, termasuk Padang–Bukittinggi via Lembah Anai dan Padang–Bukittinggi via Malalak. Jalur dari Pasaman, Palupuh, Palembayan, hingga Lubuk Basung juga mengalami kerusakan parah.
Meski demikian, beberapa jalur alternatif masih dapat dilewati, seperti Batusangkar–Baso, Payakumbuh–Baso, serta akses dari Sawahlunto, Sijunjung, dan Solok melalui Singkarak menuju Bukittinggi.
BPBD Agam memastikan upaya evakuasi, asesmen kerusakan, dan pendataan korban tetap berlangsung dengan dukungan tim gabungan. Rahmad mengimbau masyarakat untuk tidak memaksakan melintas di jalan yang telah dinyatakan putus. “Keselamatan harus menjadi prioritas,” ujarnya.



