Senin, 12 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Kuansing Masih Kekurangan 15 Ribu Ton Beras Tiap Tahun

TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) – Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) masih menghadapi kekurangan beras sekitar 15.000 ton per tahun dari total kebutuhan 31.000 ton. Saat ini, dengan lahan sawah seluas 5.000 hektare, produksi beras baru mencapai 16.000 ton per tahun.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kuansing, Deflides Gusni SP MSi, Senin (29/9), menyebut pihaknya menargetkan peningkatan produksi agar Kuansing ke depan bisa swasembada beras.

Produktivitas gabah kering giling saat ini rata-rata baru 4,7 ton per hektare. Untuk meningkatkannya, ada beberapa langkah yang akan dilakukan. Pertama, intensifikasi lahan sawah yang ada. Kedua, mengubah pola tanam masyarakat yang belum menerapkan sistem IP200, padahal lahan memungkinkan panen dua hingga tiga kali setahun. Karena itu, penyuluhan kepada petani akan lebih digencarkan.

Baca Juga:  Jalan Putus, Dinas PUPR Kuansing Segera Dibangun Jembatan Darurat

Selain itu, masih ada kebiasaan sistem “lepas enam bulan ternak dan kandang enam bulan” yang kerap mengganggu pola tanam padi. Untuk perluasan lahan, pemerintah pusat sudah mengalokasikan program pembukaan sawah baru seluas 500 hektare pada 2025. Namun, hingga kini baru tersedia 100 hektare. Dari kuota itu, minimal daerah harus menyiapkan 200 hektare agar bantuan bisa dicairkan.

“Ini menjadi target kita agar ke depan Kuansing bisa mandiri dan swasembada beras,” tegas Deflides.

TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) – Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) masih menghadapi kekurangan beras sekitar 15.000 ton per tahun dari total kebutuhan 31.000 ton. Saat ini, dengan lahan sawah seluas 5.000 hektare, produksi beras baru mencapai 16.000 ton per tahun.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kuansing, Deflides Gusni SP MSi, Senin (29/9), menyebut pihaknya menargetkan peningkatan produksi agar Kuansing ke depan bisa swasembada beras.

Produktivitas gabah kering giling saat ini rata-rata baru 4,7 ton per hektare. Untuk meningkatkannya, ada beberapa langkah yang akan dilakukan. Pertama, intensifikasi lahan sawah yang ada. Kedua, mengubah pola tanam masyarakat yang belum menerapkan sistem IP200, padahal lahan memungkinkan panen dua hingga tiga kali setahun. Karena itu, penyuluhan kepada petani akan lebih digencarkan.

Baca Juga:  Polemik Pemilihan Kades di Inhil Selesai

Selain itu, masih ada kebiasaan sistem “lepas enam bulan ternak dan kandang enam bulan” yang kerap mengganggu pola tanam padi. Untuk perluasan lahan, pemerintah pusat sudah mengalokasikan program pembukaan sawah baru seluas 500 hektare pada 2025. Namun, hingga kini baru tersedia 100 hektare. Dari kuota itu, minimal daerah harus menyiapkan 200 hektare agar bantuan bisa dicairkan.

“Ini menjadi target kita agar ke depan Kuansing bisa mandiri dan swasembada beras,” tegas Deflides.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) – Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) masih menghadapi kekurangan beras sekitar 15.000 ton per tahun dari total kebutuhan 31.000 ton. Saat ini, dengan lahan sawah seluas 5.000 hektare, produksi beras baru mencapai 16.000 ton per tahun.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kuansing, Deflides Gusni SP MSi, Senin (29/9), menyebut pihaknya menargetkan peningkatan produksi agar Kuansing ke depan bisa swasembada beras.

Produktivitas gabah kering giling saat ini rata-rata baru 4,7 ton per hektare. Untuk meningkatkannya, ada beberapa langkah yang akan dilakukan. Pertama, intensifikasi lahan sawah yang ada. Kedua, mengubah pola tanam masyarakat yang belum menerapkan sistem IP200, padahal lahan memungkinkan panen dua hingga tiga kali setahun. Karena itu, penyuluhan kepada petani akan lebih digencarkan.

Baca Juga:  Setiap Hari, DLH Kuansing Angkut 40 Ton Sampah di Kota Telukkuantan

Selain itu, masih ada kebiasaan sistem “lepas enam bulan ternak dan kandang enam bulan” yang kerap mengganggu pola tanam padi. Untuk perluasan lahan, pemerintah pusat sudah mengalokasikan program pembukaan sawah baru seluas 500 hektare pada 2025. Namun, hingga kini baru tersedia 100 hektare. Dari kuota itu, minimal daerah harus menyiapkan 200 hektare agar bantuan bisa dicairkan.

“Ini menjadi target kita agar ke depan Kuansing bisa mandiri dan swasembada beras,” tegas Deflides.

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari