Sabtu, 14 Februari 2026
- Advertisement -

Tolong Selamatkan Juga  Guru dari Jerebu 

(RIAUPOS.CO) — Di tengah pekatnya kabut asap, para pelajar diliburkan, demikian juga dengan anak didik di PAUD. Namun, tidak dengan sejumlah guru. Mereka tetap wajib masuk dan siaga di sekolah.

Kepala PAUD TPA dan TK Islamic Centre Zhurotul Hayati SPd mengatakan, kondisi itu tentu menimbulkan tanya bagi para guru. Sebab mereka juga makhluk yang perlu dilindungi dari pekatnya asap. Jika pelajar dan anak didik diliburkan, guru sebaiknya ikut libur.

“Ini bukan karena kami ingin libur, tapi karena kami juga makhluk yang perlu dilindungi dari jerebu,” ungkapnya.

Apa jadinya jika saat pelajar dan anak didik sudah kembali ke sekolah karena  jerebu sudah menipis, namun gurunya yang sakit karena harus tetap masuk dan menghirup jerebu, tentu semua pihak tidak menginginkan hal itu. “Saat ini, peserta didik kami berjumlah 300 sedang libur. Kami masih tetap masuk dan siaga di sekolah. Untung ada NGO dari Jikalahari memberikan masker N95. Kami sangat berterima masih,” ungkapnya.

Baca Juga:  Mencari Lailatulqadar

Staf Advokasi dan Kampanye Jikalahari  Arfian Sagita atau Aldo mengatakan, sasaran mereka anak PAUD dan murid SD karena mereka lebih rentan.

“Kami sudah membagikan masker di Kampar, Pekanbaru Siak dan Inhil. Setiap kabupaten kota ada beberapa titik dan setiap titik kami bagikan 250 masker berikut susu beruang,” ungkapnya. Lebih jauh dikatakannya, untuk di Siak pihaknya menggandeng  Forum Siak Hijau diwakili Aminsya.

Meski anak PAUD di Islamic Centre libur, tapi setidaknya para guru yang tidak libur dapat menggunakan masker N95, sehingga mereka dapat terbebas dari jerebu.  “Mereka juga harus dilindungi dari jerebu, karena mereka makhluk hidup sama dengan anak didiknya,” ungkapnya.(adv/a)

Baca Juga:  Penghulu Diharapkan Jalin Dialog dengan Masyarakat

(RIAUPOS.CO) — Di tengah pekatnya kabut asap, para pelajar diliburkan, demikian juga dengan anak didik di PAUD. Namun, tidak dengan sejumlah guru. Mereka tetap wajib masuk dan siaga di sekolah.

Kepala PAUD TPA dan TK Islamic Centre Zhurotul Hayati SPd mengatakan, kondisi itu tentu menimbulkan tanya bagi para guru. Sebab mereka juga makhluk yang perlu dilindungi dari pekatnya asap. Jika pelajar dan anak didik diliburkan, guru sebaiknya ikut libur.

“Ini bukan karena kami ingin libur, tapi karena kami juga makhluk yang perlu dilindungi dari jerebu,” ungkapnya.

Apa jadinya jika saat pelajar dan anak didik sudah kembali ke sekolah karena  jerebu sudah menipis, namun gurunya yang sakit karena harus tetap masuk dan menghirup jerebu, tentu semua pihak tidak menginginkan hal itu. “Saat ini, peserta didik kami berjumlah 300 sedang libur. Kami masih tetap masuk dan siaga di sekolah. Untung ada NGO dari Jikalahari memberikan masker N95. Kami sangat berterima masih,” ungkapnya.

Baca Juga:  Jadikan RSUD Tangku Rafian Rumah Sakit Wisata

Staf Advokasi dan Kampanye Jikalahari  Arfian Sagita atau Aldo mengatakan, sasaran mereka anak PAUD dan murid SD karena mereka lebih rentan.

- Advertisement -

“Kami sudah membagikan masker di Kampar, Pekanbaru Siak dan Inhil. Setiap kabupaten kota ada beberapa titik dan setiap titik kami bagikan 250 masker berikut susu beruang,” ungkapnya. Lebih jauh dikatakannya, untuk di Siak pihaknya menggandeng  Forum Siak Hijau diwakili Aminsya.

Meski anak PAUD di Islamic Centre libur, tapi setidaknya para guru yang tidak libur dapat menggunakan masker N95, sehingga mereka dapat terbebas dari jerebu.  “Mereka juga harus dilindungi dari jerebu, karena mereka makhluk hidup sama dengan anak didiknya,” ungkapnya.(adv/a)

Baca Juga:  Warga Mandi Angin Dapat Penyuluhan Narkotika
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

(RIAUPOS.CO) — Di tengah pekatnya kabut asap, para pelajar diliburkan, demikian juga dengan anak didik di PAUD. Namun, tidak dengan sejumlah guru. Mereka tetap wajib masuk dan siaga di sekolah.

Kepala PAUD TPA dan TK Islamic Centre Zhurotul Hayati SPd mengatakan, kondisi itu tentu menimbulkan tanya bagi para guru. Sebab mereka juga makhluk yang perlu dilindungi dari pekatnya asap. Jika pelajar dan anak didik diliburkan, guru sebaiknya ikut libur.

“Ini bukan karena kami ingin libur, tapi karena kami juga makhluk yang perlu dilindungi dari jerebu,” ungkapnya.

Apa jadinya jika saat pelajar dan anak didik sudah kembali ke sekolah karena  jerebu sudah menipis, namun gurunya yang sakit karena harus tetap masuk dan menghirup jerebu, tentu semua pihak tidak menginginkan hal itu. “Saat ini, peserta didik kami berjumlah 300 sedang libur. Kami masih tetap masuk dan siaga di sekolah. Untung ada NGO dari Jikalahari memberikan masker N95. Kami sangat berterima masih,” ungkapnya.

Baca Juga:  Serbu Minyak Goreng di Pasar Murah Bulog

Staf Advokasi dan Kampanye Jikalahari  Arfian Sagita atau Aldo mengatakan, sasaran mereka anak PAUD dan murid SD karena mereka lebih rentan.

“Kami sudah membagikan masker di Kampar, Pekanbaru Siak dan Inhil. Setiap kabupaten kota ada beberapa titik dan setiap titik kami bagikan 250 masker berikut susu beruang,” ungkapnya. Lebih jauh dikatakannya, untuk di Siak pihaknya menggandeng  Forum Siak Hijau diwakili Aminsya.

Meski anak PAUD di Islamic Centre libur, tapi setidaknya para guru yang tidak libur dapat menggunakan masker N95, sehingga mereka dapat terbebas dari jerebu.  “Mereka juga harus dilindungi dari jerebu, karena mereka makhluk hidup sama dengan anak didiknya,” ungkapnya.(adv/a)

Baca Juga:  Corona Bisa Dihilangkan kalau Masyarakat Kompak Lakukan Protokol Kesehatan

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari