Rabu, 15 Juli 2026
- Advertisement -

Pemkab Siak Kembangkan Teknologi Aero Hydro Culture

(RIAUPOS.CO) — PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Siak bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG), melakukan kajian Hydrologi gambut dan pengembangan teknologi Aero Hydro Culture.

Pengembangan teknologi Aero Hydro Culture ini hasil dari penemuan Prof Ozaki dari Jepang yang bertujuan untuk meningkatkan hasil dari perkebunan kelapa sawit di lahan gambut, juga menjaga ekosistem gambut.

Asisten II Setda Kabupaten Siak Hendrisan juga menyampaikan, Pemerintah Kabupaten menyambut baik dan sangat mendukung dengan adanya kegiatan pengembangan teknologi terbaru ini di Kabupaten Siak.

“Jika ada kendala dalam pengembangan teknologi ini, kami Pemerintah Kabupaten Siak akan memfasilitasi dan siap membantu,” ujar Hendrisan saat membuka kegiatan pelatihan pembuatan kompos di lokasi riset Aerohydro Culture Kampung Koto Ringin, Kecamatan Mempura, Kamis  (13/6).

Baca Juga:  Diduga Korban Kabut Asap, ASN Pemprov Riau Meninggal, Ini Penjelasan Rumah Sakit

Dalam hal ini, BRG juga bekerjasama dengan Word Research International (WRI) Indonesia, LIPI, Unri, Balitbang, Pertanian Pusat, Badan Penelitian Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (LHK), serta melibatkan NGO (LSM) yang tergabung dalam Sedagho Siak, seperti Winrock, WRI, dan Elang.

Hendrisan juga berpesan kepada kelompok tani, agar mengikuti pelatihan tersebut  dengan sebaik mungkin, sehingga teknologi ini benar-benar bisa diterapkan di lahan gambut di daerah Siak.

Dirinya berharap dengan teknologi terbaru ini nantinya hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat akan meningkat, tentunya akan meningkatkan penghasilan mereka.

Sementara Prof Anton dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, menjelaskan bahwa teknologi Aero Hydro Culture merupakan teknologi yang berfungsi untuk memancing akar tanaman naik ke atas, sehingga lebih mendapat makanan dari pupuk organik yang telah disediakan.

Baca Juga:  Positif Narkoba, 38 Pegawai Pemprov Bakal Disanksi

“Teknologi Aero Hydro Culture, terbuat dari pupuk organik yang dibuat dari rumput, tandan sawit yang kosong (tangkos), dan campuran kotoran hewan,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Siak Budiman Safari menambahkan, teknologi ini  akan coba dikembangkan terlebih dahulu di lahan Koperasi Beringin Jaya, Kampung Koto Ringin dengan luas kurang lebih 400 hektare.

“Setelah teknologi ini berhasil dikembangkan, saya berharap koperasi Beringin Jaya menjadi pengembang usaha primadona bagi pelaku usaha sawit di daerah lain,” ungkapnya.(adv/a)

(RIAUPOS.CO) — PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Siak bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG), melakukan kajian Hydrologi gambut dan pengembangan teknologi Aero Hydro Culture.

Pengembangan teknologi Aero Hydro Culture ini hasil dari penemuan Prof Ozaki dari Jepang yang bertujuan untuk meningkatkan hasil dari perkebunan kelapa sawit di lahan gambut, juga menjaga ekosistem gambut.

Asisten II Setda Kabupaten Siak Hendrisan juga menyampaikan, Pemerintah Kabupaten menyambut baik dan sangat mendukung dengan adanya kegiatan pengembangan teknologi terbaru ini di Kabupaten Siak.

“Jika ada kendala dalam pengembangan teknologi ini, kami Pemerintah Kabupaten Siak akan memfasilitasi dan siap membantu,” ujar Hendrisan saat membuka kegiatan pelatihan pembuatan kompos di lokasi riset Aerohydro Culture Kampung Koto Ringin, Kecamatan Mempura, Kamis  (13/6).

Baca Juga:  Temuan Tim Satgas Terpadu, 32 Korporasi Garap 58.350 Ha Kebun Ilegal

Dalam hal ini, BRG juga bekerjasama dengan Word Research International (WRI) Indonesia, LIPI, Unri, Balitbang, Pertanian Pusat, Badan Penelitian Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (LHK), serta melibatkan NGO (LSM) yang tergabung dalam Sedagho Siak, seperti Winrock, WRI, dan Elang.

- Advertisement -

Hendrisan juga berpesan kepada kelompok tani, agar mengikuti pelatihan tersebut  dengan sebaik mungkin, sehingga teknologi ini benar-benar bisa diterapkan di lahan gambut di daerah Siak.

Dirinya berharap dengan teknologi terbaru ini nantinya hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat akan meningkat, tentunya akan meningkatkan penghasilan mereka.

- Advertisement -

Sementara Prof Anton dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, menjelaskan bahwa teknologi Aero Hydro Culture merupakan teknologi yang berfungsi untuk memancing akar tanaman naik ke atas, sehingga lebih mendapat makanan dari pupuk organik yang telah disediakan.

Baca Juga:  Truk vs Minibus di Tol Permai, Enam Orang Luka-Luka

“Teknologi Aero Hydro Culture, terbuat dari pupuk organik yang dibuat dari rumput, tandan sawit yang kosong (tangkos), dan campuran kotoran hewan,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Siak Budiman Safari menambahkan, teknologi ini  akan coba dikembangkan terlebih dahulu di lahan Koperasi Beringin Jaya, Kampung Koto Ringin dengan luas kurang lebih 400 hektare.

“Setelah teknologi ini berhasil dikembangkan, saya berharap koperasi Beringin Jaya menjadi pengembang usaha primadona bagi pelaku usaha sawit di daerah lain,” ungkapnya.(adv/a)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

(RIAUPOS.CO) — PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Siak bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG), melakukan kajian Hydrologi gambut dan pengembangan teknologi Aero Hydro Culture.

Pengembangan teknologi Aero Hydro Culture ini hasil dari penemuan Prof Ozaki dari Jepang yang bertujuan untuk meningkatkan hasil dari perkebunan kelapa sawit di lahan gambut, juga menjaga ekosistem gambut.

Asisten II Setda Kabupaten Siak Hendrisan juga menyampaikan, Pemerintah Kabupaten menyambut baik dan sangat mendukung dengan adanya kegiatan pengembangan teknologi terbaru ini di Kabupaten Siak.

“Jika ada kendala dalam pengembangan teknologi ini, kami Pemerintah Kabupaten Siak akan memfasilitasi dan siap membantu,” ujar Hendrisan saat membuka kegiatan pelatihan pembuatan kompos di lokasi riset Aerohydro Culture Kampung Koto Ringin, Kecamatan Mempura, Kamis  (13/6).

Baca Juga:  Icon Nama Roesmin Nurjadin AFB Diresmikan

Dalam hal ini, BRG juga bekerjasama dengan Word Research International (WRI) Indonesia, LIPI, Unri, Balitbang, Pertanian Pusat, Badan Penelitian Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (LHK), serta melibatkan NGO (LSM) yang tergabung dalam Sedagho Siak, seperti Winrock, WRI, dan Elang.

Hendrisan juga berpesan kepada kelompok tani, agar mengikuti pelatihan tersebut  dengan sebaik mungkin, sehingga teknologi ini benar-benar bisa diterapkan di lahan gambut di daerah Siak.

Dirinya berharap dengan teknologi terbaru ini nantinya hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat akan meningkat, tentunya akan meningkatkan penghasilan mereka.

Sementara Prof Anton dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, menjelaskan bahwa teknologi Aero Hydro Culture merupakan teknologi yang berfungsi untuk memancing akar tanaman naik ke atas, sehingga lebih mendapat makanan dari pupuk organik yang telah disediakan.

Baca Juga:  Harga Migor Kemasan 2 Liter Tembus Rp40 Ribu

“Teknologi Aero Hydro Culture, terbuat dari pupuk organik yang dibuat dari rumput, tandan sawit yang kosong (tangkos), dan campuran kotoran hewan,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Siak Budiman Safari menambahkan, teknologi ini  akan coba dikembangkan terlebih dahulu di lahan Koperasi Beringin Jaya, Kampung Koto Ringin dengan luas kurang lebih 400 hektare.

“Setelah teknologi ini berhasil dikembangkan, saya berharap koperasi Beringin Jaya menjadi pengembang usaha primadona bagi pelaku usaha sawit di daerah lain,” ungkapnya.(adv/a)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari