Minggu, 5 April 2026
- Advertisement -

Kasus Penembakan Gajah di Pelalawan Jadi Atensi Khusus Kapolda Riau

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Polda Riau memburu pelaku penembakan gajah Sumatera yang ditemukan mati di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Kasus ini mendapat perhatian khusus Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang turun langsung ke lokasi dan memimpin rapat penanganan.

Dalam rapat tersebut, Kapolda menegaskan penyelidikan dilakukan menggunakan metode scientific crime investigation, yakni pendekatan ilmiah yang didukung teknologi forensik.

Rapat dihadiri Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Pol Ade Kuncoro, Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes Pol Hasyim Risahondua, Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara, serta perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Irjen Herry menyampaikan duka mendalam sekaligus mengecam keras pembunuhan satwa dilindungi tersebut. Ia menegaskan komitmen jajarannya untuk mengungkap kasus secara profesional dan menyeluruh.

Menurutnya, pengungkapan kasus pembunuhan gajah memiliki tantangan berbeda dibandingkan kasus pembunuhan manusia.

“Kalau manusia, bisa dicek DNA, orang terakhir yang bertemu korban hingga jejak digital. Dalam kasus gajah, pendekatan ilmiah dan teknologi menjadi sangat penting,” jelasnya.

Baca Juga:  Pendaftaran Asesmen Sekdaprov Dibuka

Kapolda juga mengarahkan optimalisasi technology intelligence. Sebelumnya, Polda Riau bersama Polres Pelalawan, BKSDA Riau dan PT RAPP telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di areal konsesi Distrik Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga.

Dari hasil olah TKP, polisi menemukan proyektil peluru yang mengindikasikan gajah dibunuh menggunakan senjata api. Jenis senjata yang digunakan masih dalam pemeriksaan laboratorium forensik.

Kasus ini juga ditangani secara intensif Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau. Hingga saat ini, lima orang saksi telah diperiksa.

“Kami sudah memeriksa lima saksi. Tim khusus dari Subdit IV Tipidter juga diturunkan untuk mempersempit pergerakan pelaku,” kata Kombes Pol Ade Kuncoro.

Tim Laboratorium Forensik Polda Riau juga menemukan sejumlah barang bukti penting. Kabid Labfor Forensik Polda Riau AKBP Ungkap Siahaan menyebut olah TKP dilakukan bersama Polres Pelalawan dan BKSDA Riau pada Selasa (3/2) lalu.

“Ditemukan dua potongan logam yang diduga proyektil atau anak peluru,” ujarnya.

Baca Juga:  Remaja 14 Tahun Ditemukan Tewas di Semak, Diduga Korban Tabrak Lari di Pelalawan

Potongan pertama memiliki diameter 12,30 milimeter dengan panjang 16,30 milimeter, sedangkan serpihan lainnya sepanjang 6,94 milimeter. Uji awal menunjukkan kandungan timbal, tembaga atau kuningan, serta residu nitrat mesiu. Jenis senjata api masih didalami melalui pemeriksaan lanjutan.

BBKSDA Riau memastikan kematian gajah disebabkan luka tembak. Dokter hewan BBKSDA, drh Rini Deswita, menyebut proyektil masih berada di tengkorak.

“Tembakan diarahkan ke dahi, itu titik fatal,” jelasnya.

Selain luka tembak, ditemukan bekas potongan senjata tajam di bagian depan kepala. Mata, hidung, dan gading dipotong yang diduga untuk diambil gadingnya.

“Bukan kepala yang hilang, tetapi dipotong setengah bagian,” ujarnya.

Gajah tersebut memiliki panjang sekitar 286 sentimeter dan diperkirakan berusia lebih dari 40 tahun. Bangkai kemudian dikuburkan di lokasi. Satwa tersebut diduga berasal dari kantong gajah Tesso Tenggara dan diperkirakan telah mati lebih dari 10 hari sebelum ditemukan. (nda)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Polda Riau memburu pelaku penembakan gajah Sumatera yang ditemukan mati di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Kasus ini mendapat perhatian khusus Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang turun langsung ke lokasi dan memimpin rapat penanganan.

Dalam rapat tersebut, Kapolda menegaskan penyelidikan dilakukan menggunakan metode scientific crime investigation, yakni pendekatan ilmiah yang didukung teknologi forensik.

Rapat dihadiri Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Pol Ade Kuncoro, Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes Pol Hasyim Risahondua, Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara, serta perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Irjen Herry menyampaikan duka mendalam sekaligus mengecam keras pembunuhan satwa dilindungi tersebut. Ia menegaskan komitmen jajarannya untuk mengungkap kasus secara profesional dan menyeluruh.

Menurutnya, pengungkapan kasus pembunuhan gajah memiliki tantangan berbeda dibandingkan kasus pembunuhan manusia.

- Advertisement -

“Kalau manusia, bisa dicek DNA, orang terakhir yang bertemu korban hingga jejak digital. Dalam kasus gajah, pendekatan ilmiah dan teknologi menjadi sangat penting,” jelasnya.

Baca Juga:  Jalan Berlubang di Pangkalankerinci Dikeluhkan, Pemkab Pelalawan Diminta Bertindak

Kapolda juga mengarahkan optimalisasi technology intelligence. Sebelumnya, Polda Riau bersama Polres Pelalawan, BKSDA Riau dan PT RAPP telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di areal konsesi Distrik Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga.

- Advertisement -

Dari hasil olah TKP, polisi menemukan proyektil peluru yang mengindikasikan gajah dibunuh menggunakan senjata api. Jenis senjata yang digunakan masih dalam pemeriksaan laboratorium forensik.

Kasus ini juga ditangani secara intensif Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau. Hingga saat ini, lima orang saksi telah diperiksa.

“Kami sudah memeriksa lima saksi. Tim khusus dari Subdit IV Tipidter juga diturunkan untuk mempersempit pergerakan pelaku,” kata Kombes Pol Ade Kuncoro.

Tim Laboratorium Forensik Polda Riau juga menemukan sejumlah barang bukti penting. Kabid Labfor Forensik Polda Riau AKBP Ungkap Siahaan menyebut olah TKP dilakukan bersama Polres Pelalawan dan BKSDA Riau pada Selasa (3/2) lalu.

“Ditemukan dua potongan logam yang diduga proyektil atau anak peluru,” ujarnya.

Baca Juga:  Terungkap! Sindikat Sabu Internasional Dikontrol dari Dalam Lapas Pekanbaru

Potongan pertama memiliki diameter 12,30 milimeter dengan panjang 16,30 milimeter, sedangkan serpihan lainnya sepanjang 6,94 milimeter. Uji awal menunjukkan kandungan timbal, tembaga atau kuningan, serta residu nitrat mesiu. Jenis senjata api masih didalami melalui pemeriksaan lanjutan.

BBKSDA Riau memastikan kematian gajah disebabkan luka tembak. Dokter hewan BBKSDA, drh Rini Deswita, menyebut proyektil masih berada di tengkorak.

“Tembakan diarahkan ke dahi, itu titik fatal,” jelasnya.

Selain luka tembak, ditemukan bekas potongan senjata tajam di bagian depan kepala. Mata, hidung, dan gading dipotong yang diduga untuk diambil gadingnya.

“Bukan kepala yang hilang, tetapi dipotong setengah bagian,” ujarnya.

Gajah tersebut memiliki panjang sekitar 286 sentimeter dan diperkirakan berusia lebih dari 40 tahun. Bangkai kemudian dikuburkan di lokasi. Satwa tersebut diduga berasal dari kantong gajah Tesso Tenggara dan diperkirakan telah mati lebih dari 10 hari sebelum ditemukan. (nda)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Polda Riau memburu pelaku penembakan gajah Sumatera yang ditemukan mati di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Kasus ini mendapat perhatian khusus Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang turun langsung ke lokasi dan memimpin rapat penanganan.

Dalam rapat tersebut, Kapolda menegaskan penyelidikan dilakukan menggunakan metode scientific crime investigation, yakni pendekatan ilmiah yang didukung teknologi forensik.

Rapat dihadiri Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Pol Ade Kuncoro, Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes Pol Hasyim Risahondua, Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara, serta perwakilan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Irjen Herry menyampaikan duka mendalam sekaligus mengecam keras pembunuhan satwa dilindungi tersebut. Ia menegaskan komitmen jajarannya untuk mengungkap kasus secara profesional dan menyeluruh.

Menurutnya, pengungkapan kasus pembunuhan gajah memiliki tantangan berbeda dibandingkan kasus pembunuhan manusia.

“Kalau manusia, bisa dicek DNA, orang terakhir yang bertemu korban hingga jejak digital. Dalam kasus gajah, pendekatan ilmiah dan teknologi menjadi sangat penting,” jelasnya.

Baca Juga:  Tingkatkan Kreativitas Anak, Polda Riau Gelar Lomba Mewarnai Tingkat TK

Kapolda juga mengarahkan optimalisasi technology intelligence. Sebelumnya, Polda Riau bersama Polres Pelalawan, BKSDA Riau dan PT RAPP telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di areal konsesi Distrik Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga.

Dari hasil olah TKP, polisi menemukan proyektil peluru yang mengindikasikan gajah dibunuh menggunakan senjata api. Jenis senjata yang digunakan masih dalam pemeriksaan laboratorium forensik.

Kasus ini juga ditangani secara intensif Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau. Hingga saat ini, lima orang saksi telah diperiksa.

“Kami sudah memeriksa lima saksi. Tim khusus dari Subdit IV Tipidter juga diturunkan untuk mempersempit pergerakan pelaku,” kata Kombes Pol Ade Kuncoro.

Tim Laboratorium Forensik Polda Riau juga menemukan sejumlah barang bukti penting. Kabid Labfor Forensik Polda Riau AKBP Ungkap Siahaan menyebut olah TKP dilakukan bersama Polres Pelalawan dan BKSDA Riau pada Selasa (3/2) lalu.

“Ditemukan dua potongan logam yang diduga proyektil atau anak peluru,” ujarnya.

Baca Juga:  Pasien Positif Covid-19 di Riau Bertambah 4 Orang

Potongan pertama memiliki diameter 12,30 milimeter dengan panjang 16,30 milimeter, sedangkan serpihan lainnya sepanjang 6,94 milimeter. Uji awal menunjukkan kandungan timbal, tembaga atau kuningan, serta residu nitrat mesiu. Jenis senjata api masih didalami melalui pemeriksaan lanjutan.

BBKSDA Riau memastikan kematian gajah disebabkan luka tembak. Dokter hewan BBKSDA, drh Rini Deswita, menyebut proyektil masih berada di tengkorak.

“Tembakan diarahkan ke dahi, itu titik fatal,” jelasnya.

Selain luka tembak, ditemukan bekas potongan senjata tajam di bagian depan kepala. Mata, hidung, dan gading dipotong yang diduga untuk diambil gadingnya.

“Bukan kepala yang hilang, tetapi dipotong setengah bagian,” ujarnya.

Gajah tersebut memiliki panjang sekitar 286 sentimeter dan diperkirakan berusia lebih dari 40 tahun. Bangkai kemudian dikuburkan di lokasi. Satwa tersebut diduga berasal dari kantong gajah Tesso Tenggara dan diperkirakan telah mati lebih dari 10 hari sebelum ditemukan. (nda)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari