Minggu, 6 April 2025
spot_img

LSI: Ada Banyak Indikator yang Bakal Ganjal Prabowo di 2024

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan ada sejumlah hal yang akan mengganjal Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto jika kembali menjadi calon presiden di Pilpres 2024 mendatang.

Salah satu isu yang akan menyerang Prabowo yakni tentang dugaan pelanggaran HAM penculikan aktivis 1998 silam. Hal lain yang jadi ganjalan yakni barisan sakit hati usai Pilpres 2019 lantaran Prabowo bergabung dengan kabinet Presiden Joko Widodo.

Menurut Peneliti LSI Adjie Alfaraby, kasus pelanggaran HAM 1998 akan terus mengganjal Prabowo sejak Pilpres 2009 hingga 2024. Adjie mengatakan hal itu seolah tak lepas dari Prabowo jika ikut kontestasi politik.

"Kita tidak tahu siapa yang memunculkan isu ini, tapi selalu muncul dan selalu dikaitkan dengan Pak Prabowo dalam setiap momentum politik. Ini satu kaitan sejarah yang tidak pernah lepas dari Pak Prabowo," kata Adjie dalam konferensi pers virtual, Kamis (17/6/2021).

Baca Juga:  Tinggalkan Gerindra, Taufik Arrakhman Pimpin PKB Pekanbaru

Hal lain yang menjadi ganjalan yakni pemilih yang awalnya mendukung pada 2019. Menurut Adjie, para pemilih yang masuk dalam kelompok "Anti-Jokowi" ini dapat berbalik melawan Prabowo.

Mereka bisa melakukan itu lantaran merasa dikhianati oleh langkah Prabowo yang bergabung dengan koalisi pemerintah usai Pilpres 2019. Menurut Adhie, langkah Prabowo menjadi Menteri Pertahanan sangat membekas di benak para mantan pemilihnya di Pilpres 2019.

"Ada kemungkinan resistensi Prabowo di segmen pemilih yang awalnya dukung Prabowo di 2019, mereka yang bisa kita bilang sebagai kelompok pemilih anti-Jokowi di 2019 akhirnya bisa berbalik melawan Prabowo," ujar Adjie.

Problem lain yang kemungkinan dihadapi Prabowo yakni soal kasus korupsi benih lobster atau benur yang dilakukan Edhy Prabowo. Menurut Adjie, itu akan menjadi ganjalan mengingat Edhy merupakan orang dekat Prabowo.

Baca Juga:  DPR Minta Presiden Terbitkan Perppu

Ganjalan Prabowo yang lainnya yakni publik bosan dengan sosok Ketum Gerindra itu, lantaran telah berulang kali menjadi peserta pilpres.

"Kita sering dengar 'lo lagi lo lagi', 'Prabowo lagi Prabowo lagi'. Memang memunculkan satu pesimisme, satu hal secara psikologis yang sulit dibantah oleh Prabowo karena aura kekalahan yang dilihat oleh publik," jelas Adjie mengakhiri.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun
 

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan ada sejumlah hal yang akan mengganjal Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto jika kembali menjadi calon presiden di Pilpres 2024 mendatang.

Salah satu isu yang akan menyerang Prabowo yakni tentang dugaan pelanggaran HAM penculikan aktivis 1998 silam. Hal lain yang jadi ganjalan yakni barisan sakit hati usai Pilpres 2019 lantaran Prabowo bergabung dengan kabinet Presiden Joko Widodo.

Menurut Peneliti LSI Adjie Alfaraby, kasus pelanggaran HAM 1998 akan terus mengganjal Prabowo sejak Pilpres 2009 hingga 2024. Adjie mengatakan hal itu seolah tak lepas dari Prabowo jika ikut kontestasi politik.

"Kita tidak tahu siapa yang memunculkan isu ini, tapi selalu muncul dan selalu dikaitkan dengan Pak Prabowo dalam setiap momentum politik. Ini satu kaitan sejarah yang tidak pernah lepas dari Pak Prabowo," kata Adjie dalam konferensi pers virtual, Kamis (17/6/2021).

Baca Juga:  KPU Rohul Perlu Tambahan Rp12,7 Miliar

Hal lain yang menjadi ganjalan yakni pemilih yang awalnya mendukung pada 2019. Menurut Adjie, para pemilih yang masuk dalam kelompok "Anti-Jokowi" ini dapat berbalik melawan Prabowo.

Mereka bisa melakukan itu lantaran merasa dikhianati oleh langkah Prabowo yang bergabung dengan koalisi pemerintah usai Pilpres 2019. Menurut Adhie, langkah Prabowo menjadi Menteri Pertahanan sangat membekas di benak para mantan pemilihnya di Pilpres 2019.

"Ada kemungkinan resistensi Prabowo di segmen pemilih yang awalnya dukung Prabowo di 2019, mereka yang bisa kita bilang sebagai kelompok pemilih anti-Jokowi di 2019 akhirnya bisa berbalik melawan Prabowo," ujar Adjie.

Problem lain yang kemungkinan dihadapi Prabowo yakni soal kasus korupsi benih lobster atau benur yang dilakukan Edhy Prabowo. Menurut Adjie, itu akan menjadi ganjalan mengingat Edhy merupakan orang dekat Prabowo.

Baca Juga:  Agung Laksono Peringatkan Elite Partai Lain: Jangan Ikut Campur Urusan Golkar!

Ganjalan Prabowo yang lainnya yakni publik bosan dengan sosok Ketum Gerindra itu, lantaran telah berulang kali menjadi peserta pilpres.

"Kita sering dengar 'lo lagi lo lagi', 'Prabowo lagi Prabowo lagi'. Memang memunculkan satu pesimisme, satu hal secara psikologis yang sulit dibantah oleh Prabowo karena aura kekalahan yang dilihat oleh publik," jelas Adjie mengakhiri.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun
 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

LSI: Ada Banyak Indikator yang Bakal Ganjal Prabowo di 2024

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan ada sejumlah hal yang akan mengganjal Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto jika kembali menjadi calon presiden di Pilpres 2024 mendatang.

Salah satu isu yang akan menyerang Prabowo yakni tentang dugaan pelanggaran HAM penculikan aktivis 1998 silam. Hal lain yang jadi ganjalan yakni barisan sakit hati usai Pilpres 2019 lantaran Prabowo bergabung dengan kabinet Presiden Joko Widodo.

Menurut Peneliti LSI Adjie Alfaraby, kasus pelanggaran HAM 1998 akan terus mengganjal Prabowo sejak Pilpres 2009 hingga 2024. Adjie mengatakan hal itu seolah tak lepas dari Prabowo jika ikut kontestasi politik.

"Kita tidak tahu siapa yang memunculkan isu ini, tapi selalu muncul dan selalu dikaitkan dengan Pak Prabowo dalam setiap momentum politik. Ini satu kaitan sejarah yang tidak pernah lepas dari Pak Prabowo," kata Adjie dalam konferensi pers virtual, Kamis (17/6/2021).

Baca Juga:  Agung Laksono Peringatkan Elite Partai Lain: Jangan Ikut Campur Urusan Golkar!

Hal lain yang menjadi ganjalan yakni pemilih yang awalnya mendukung pada 2019. Menurut Adjie, para pemilih yang masuk dalam kelompok "Anti-Jokowi" ini dapat berbalik melawan Prabowo.

Mereka bisa melakukan itu lantaran merasa dikhianati oleh langkah Prabowo yang bergabung dengan koalisi pemerintah usai Pilpres 2019. Menurut Adhie, langkah Prabowo menjadi Menteri Pertahanan sangat membekas di benak para mantan pemilihnya di Pilpres 2019.

"Ada kemungkinan resistensi Prabowo di segmen pemilih yang awalnya dukung Prabowo di 2019, mereka yang bisa kita bilang sebagai kelompok pemilih anti-Jokowi di 2019 akhirnya bisa berbalik melawan Prabowo," ujar Adjie.

Problem lain yang kemungkinan dihadapi Prabowo yakni soal kasus korupsi benih lobster atau benur yang dilakukan Edhy Prabowo. Menurut Adjie, itu akan menjadi ganjalan mengingat Edhy merupakan orang dekat Prabowo.

Baca Juga:  Muzani Sebut Prabowo Akan Maju Pilpres

Ganjalan Prabowo yang lainnya yakni publik bosan dengan sosok Ketum Gerindra itu, lantaran telah berulang kali menjadi peserta pilpres.

"Kita sering dengar 'lo lagi lo lagi', 'Prabowo lagi Prabowo lagi'. Memang memunculkan satu pesimisme, satu hal secara psikologis yang sulit dibantah oleh Prabowo karena aura kekalahan yang dilihat oleh publik," jelas Adjie mengakhiri.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun
 

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan ada sejumlah hal yang akan mengganjal Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto jika kembali menjadi calon presiden di Pilpres 2024 mendatang.

Salah satu isu yang akan menyerang Prabowo yakni tentang dugaan pelanggaran HAM penculikan aktivis 1998 silam. Hal lain yang jadi ganjalan yakni barisan sakit hati usai Pilpres 2019 lantaran Prabowo bergabung dengan kabinet Presiden Joko Widodo.

Menurut Peneliti LSI Adjie Alfaraby, kasus pelanggaran HAM 1998 akan terus mengganjal Prabowo sejak Pilpres 2009 hingga 2024. Adjie mengatakan hal itu seolah tak lepas dari Prabowo jika ikut kontestasi politik.

"Kita tidak tahu siapa yang memunculkan isu ini, tapi selalu muncul dan selalu dikaitkan dengan Pak Prabowo dalam setiap momentum politik. Ini satu kaitan sejarah yang tidak pernah lepas dari Pak Prabowo," kata Adjie dalam konferensi pers virtual, Kamis (17/6/2021).

Baca Juga:  PSU Berjalan Lancar, Aman, dan Kondusif

Hal lain yang menjadi ganjalan yakni pemilih yang awalnya mendukung pada 2019. Menurut Adjie, para pemilih yang masuk dalam kelompok "Anti-Jokowi" ini dapat berbalik melawan Prabowo.

Mereka bisa melakukan itu lantaran merasa dikhianati oleh langkah Prabowo yang bergabung dengan koalisi pemerintah usai Pilpres 2019. Menurut Adhie, langkah Prabowo menjadi Menteri Pertahanan sangat membekas di benak para mantan pemilihnya di Pilpres 2019.

"Ada kemungkinan resistensi Prabowo di segmen pemilih yang awalnya dukung Prabowo di 2019, mereka yang bisa kita bilang sebagai kelompok pemilih anti-Jokowi di 2019 akhirnya bisa berbalik melawan Prabowo," ujar Adjie.

Problem lain yang kemungkinan dihadapi Prabowo yakni soal kasus korupsi benih lobster atau benur yang dilakukan Edhy Prabowo. Menurut Adjie, itu akan menjadi ganjalan mengingat Edhy merupakan orang dekat Prabowo.

Baca Juga:  Maju di Rohul, Erizal Kantongi SK dari DPP PAN

Ganjalan Prabowo yang lainnya yakni publik bosan dengan sosok Ketum Gerindra itu, lantaran telah berulang kali menjadi peserta pilpres.

"Kita sering dengar 'lo lagi lo lagi', 'Prabowo lagi Prabowo lagi'. Memang memunculkan satu pesimisme, satu hal secara psikologis yang sulit dibantah oleh Prabowo karena aura kekalahan yang dilihat oleh publik," jelas Adjie mengakhiri.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun
 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari