Senin, 22 April 2024

Beradu Program Pendidikan Murah dan Upah Layak

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Debat kelima yang menampilkan para calon presiden (capres) tuntas di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Ahad (4/2) malam. Dalam debat pemungkas tersebut, tiga calon capres yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo terkesan tampil hati-hati.

Nyaris tidak ada kritikan tajam dan saling serang seperti pada debat-debat sebelumnya. Ketiganya hanya beradu program pendidikan murah dan upah layak.

- Advertisement -

Debat terakhir membahas tema kesejahteraan rakyat (kesra) yang terbagi dalam delapan subtema. Yakni, kesejahteraan sosial, kebudayaan, pendidikan, teknologi informasi, kesehatan, ketenagakerjaan, sumber daya manusia, dan inklusi.

Prabowo Subianto yang lebih awal melakukan pemaparan menyatakan, di bidang kesra, visi besar tertuang dalam strategi transformasi bangsa. Visi tersebut merupakan upaya untuk mempercepat kemakmuran dan memperbaiki kualitas hidup manusia Indonesia. Strategi itu dituangkan dalam sejumlah program.

Pertama, memberi makanan bergizi untuk ibu hamil dan anak-anak usia dini. ”Ini akan mengatasi angka kematian ibu waktu melahirkan. Ini akan mengatasi kurang gizi anak stunting.

- Advertisement -

Ini akan menghilangkan kemiskinan ekstrem,’’ ujarnya. Di sisi lain, program itu juga menyerap semua hasil panen para petani dan nelayan. Dampak lainnya adalah pertumbuhan ekonomi.

Kedua, di bidang kesehatan, Prabowo akan membangun rumah sakit modern di setiap kabupaten/kota. Dia juga berjanji membangun puskesmas modern di setiap desa se-Indonesia. Dari sisi SDM, paslon nomor urut 2 itu akan mengatasi kekurangan 140.000 dokter dengan menambah fakultas kedokteran dari 92 menjadi 300 dan berbagai beasiswa luar negeri.

Di bidang pendidikan, Prabowo akan memperbaiki gaji guru honorer serta meningkatkan kompetensi guru. ”Sehingga mereka bisa memberi pelayanan kepada rakyat dengan sebaik-baiknya,’’ ujarnya.

Sementara itu, calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo mengambil visi bidang kesra dari salah satu trisakti Bung Karno. Yakni, kepribadian dalam kebudayaan. Di bidang kesehatan, Ganjar akan menjamin pelayanan kesehatan di setiap desa melalui program 1 desa, 1 faskes, 1 nakes.

Dengan program tersebut, setiap ibu, anak, lansia, penyandang disabilitas, hingga masyarakat adat akan mendapatkan peran yang sama dalam layanan kesehatan.”Di daerah-daerah terisolir mereka memerlukan akses ini dengan sangat bagus,’’ ujarnya.

Jika kesehatan baik, lanjut dia, pendidikan dan kebudayaan bisa dibangun bersama-sama. Di bidang pendidikan, Ganjar memaparkan gagasan pendidikan lebih inklusi, kurikulum yang mantap, dan fasilitas terbaik. ”Termasuk memperbaiki kesejahteraan guru dan dosen,’’ terangnya.

Baca Juga:  Fahri Hamzah Sebut Pemilu 2024 Daulat Rakyat Melemah, Oligaki Menguat

Dengan pendidikan dan keterampilan, generasi muda punya peluang mendapatkan pekerjaan yang baik dan berimplikasi pada upah yang layak. Tak hanya itu, dalam pembangunan manusia, Ganjar juga menekankan pada budi pekerti sehingga menjadi manusia yang lengkap.

Ganjar juga menyentil elite politik yang mesti menjadi contoh demokratisasi kehidupan yang baik. “Seperti Pak Mahfud contohkan dia mundur, agar ini membangun integritas yang baik,” kata Ganjar.

Sementara itu, Anies Baswedan tetap membawa visi perubahan dalam bidang kesra. Dia menilai, baik di bidang kesehatan, pendidikan, hingga teknologi, saat ini masih terjadi ketimpangan. “Ini semua adalah ketimpangan yang hari ini menjadi fenomena membahayakan bagi republik ini,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia bertekad untuk mengembalikan semangat kesetaraan sesuai cita-cita bangsa. “Apa masalah hari ini? 45 juta orang belum bekerja dengan layak, bicara jaminan sosial, lebih dari 70 juta orang tidak punya jaminan sosial,” ujarnya.

Di sektor pendidikan, fasilitas dan kualitas di desa jauh dari yang ada di kota. Hal sama juga terjadi pada layanan kesehatan. Karena itu, mantan gubernur Jakarta itu bertekad mengakhiri ketimpangan tersebut. Dia ingin memastikan masyarakat mendapat pelayanan untuk mewujudkan kehidupan yang sehat.

Jika ada yang sakit, bisa segera mendapat pertolongan. Dengan program tersebut, anak-anak akan tumbuh menjadi orang-orang yang cerdas. Keluarga juga akan sejahtera karena para pekerja mendapat upah yang layak.

“Bila memerlukan, diberikan bansos plus, bukan memberikan bansos untuk kepentingan yang memberi, tapi untuk kepentingan yang diberi,” terangnya. Anies menekankan, untuk bisa mewujudkan persatuan nasional, maka keadilan di semua lini kehidupan wajib ditunaikan.

Dalam segmen kedua dan ketiga, nyaris tidak terjadi perdebatan. Baik Anies, Prabowo, dan Ganjar, banyak sepakat dan saling melengkapi argumentasi masing-masing. Misalnya dalam isu perlindungan hak bagi para pekerja migran, kesejahteraan dosen dan guru, hingga isu penguatan kebudayaan.

Dalam isu perlindungan pekerja, misalnya. Anies menekankan pentingnya keterlibatan aktivis. Sebab, acap kali aktivis lebih paham persoalan di lapangan dibanding pemerintah yang punya kewenangan.

Jawaban Anies diamini Prabowo. Bahkan, beberapa kali dia harus menyatakan kesamaan pandangannya. Sentilan pada segmen tersebut hanya muncul dari pernyataan Ganjar yang mengkritik kriminalisasi terhadap aktivitas seni Butet Kertaradjasa. Namun, pernyataan Ganjar tidak ditindaklanjuti oleh kedua capres lainnya.

Baca Juga:  Puncak Gema Isra Mikraj Bergeser ke Jalan Gajah Mada

Dalam segmen tanya jawab antarpaslon, perdebatan sedikit meningkat dalam isu program makan gratis. Saat ditanya Prabowo soal sikap terhadap program itu, Ganjar menilai Prabowo tidak memahami persoalan stunting jika memberi anak makanan bergizi. “Karena Bapak terlambat Pak. Stunting itu ditangani sejak bayi masih dalam kandungan. Ibunya yang dikasih gizi,” ujarnya.

Jika makanan bergizi diberikan kepada anak-anak, lanjut dia, tidak berdampak banyak. Kecuali jika yang dimaksud Prabowo adalah menangani gizi buruk, maka bisa dilakukan dengan makanan bergizi. “Kalo gizi buruk bapak mau memperbaiki boleh,” tuturnya.

Namun Prabowo menepis anggapan tidak memahami. Dia menekankan, program memberi makan ibu yang sedang hamil menjadi bagian di dalammnya. Tapi, pemberian setelah lahir juga dinilai perlu. “Tapi memang stunting itu karena kurang gizi, Pak Ganjar. Itu karena ibu dan karena dianya juga kurang gizi, dia stunting,” kata Prabowo.

Perdebatan keduanya berlanjut saat Ganjar mengkritik pernyataan Prabowo yang menganggap internet gratis tidak terlalu penting. Menurut Ganjar, Prabowo pernah mengatakan bahwa orang yang memilih internet gratis adalah mereka yang otaknya lambat.

Namun, Prabowo mengklarifikasi hal itu. Dia menilai Ganjar tidak mendapat informasi yang utuh tentang pernyataannya. “Internet gratis saya setuju. Tapi jangan lebih dipentingkan dari makan gratis,” terangnya.

Perdebatan Anies dan Prabowo juga tidak seperti biasanya. Konfrontasi keduanya relatif minim. Dalam sesi tanya jawab langsung, Anies hanya menanyakan soal kekurangan pemerintahan di bidang perlindungan perempuan.

Prabowo lantas menjelaskan track record dan komitmennya memberikan kesempatan perempuan di lembaga yang berada di kewenangannya. Namun bagi Anies, pernyataan Prabowo belum menjawab pertanyaannya. Sebab, Prabowo belum membeberkan kekurangan pemerintah.

Sementara itu, outfit para capres tidak banyak mengejutkan. Pasangan calon nomor urut 1 Anies Baswesan-Muhaimin Iskandar tampil seperti biasa. Keduanya mengenakan setelan kemeja putih dengan jas dan celana hitam. Tak lupa, keduanya mengenakan kopiah hitam.

Kemudian pasangan calon nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka tampil dengan nuansa khasnya, yakni dominan biru langit. Bedanya, keduanya mengenakan jaket bermotif biru langit bergaris putih.

Pasangan calon nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD mengenakan jaket dengan warna dasar hitam dan bernomor 3 pink. Jaket dipenuhi berbagai tulisan, salah satunya Sat Set pada Ganjar dan Tas Tes pada Mahfud.(far/oni/das)

Laporan JPG, Jakarta

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Debat kelima yang menampilkan para calon presiden (capres) tuntas di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Ahad (4/2) malam. Dalam debat pemungkas tersebut, tiga calon capres yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo terkesan tampil hati-hati.

Nyaris tidak ada kritikan tajam dan saling serang seperti pada debat-debat sebelumnya. Ketiganya hanya beradu program pendidikan murah dan upah layak.

Debat terakhir membahas tema kesejahteraan rakyat (kesra) yang terbagi dalam delapan subtema. Yakni, kesejahteraan sosial, kebudayaan, pendidikan, teknologi informasi, kesehatan, ketenagakerjaan, sumber daya manusia, dan inklusi.

Prabowo Subianto yang lebih awal melakukan pemaparan menyatakan, di bidang kesra, visi besar tertuang dalam strategi transformasi bangsa. Visi tersebut merupakan upaya untuk mempercepat kemakmuran dan memperbaiki kualitas hidup manusia Indonesia. Strategi itu dituangkan dalam sejumlah program.

Pertama, memberi makanan bergizi untuk ibu hamil dan anak-anak usia dini. ”Ini akan mengatasi angka kematian ibu waktu melahirkan. Ini akan mengatasi kurang gizi anak stunting.

Ini akan menghilangkan kemiskinan ekstrem,’’ ujarnya. Di sisi lain, program itu juga menyerap semua hasil panen para petani dan nelayan. Dampak lainnya adalah pertumbuhan ekonomi.

Kedua, di bidang kesehatan, Prabowo akan membangun rumah sakit modern di setiap kabupaten/kota. Dia juga berjanji membangun puskesmas modern di setiap desa se-Indonesia. Dari sisi SDM, paslon nomor urut 2 itu akan mengatasi kekurangan 140.000 dokter dengan menambah fakultas kedokteran dari 92 menjadi 300 dan berbagai beasiswa luar negeri.

Di bidang pendidikan, Prabowo akan memperbaiki gaji guru honorer serta meningkatkan kompetensi guru. ”Sehingga mereka bisa memberi pelayanan kepada rakyat dengan sebaik-baiknya,’’ ujarnya.

Sementara itu, calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo mengambil visi bidang kesra dari salah satu trisakti Bung Karno. Yakni, kepribadian dalam kebudayaan. Di bidang kesehatan, Ganjar akan menjamin pelayanan kesehatan di setiap desa melalui program 1 desa, 1 faskes, 1 nakes.

Dengan program tersebut, setiap ibu, anak, lansia, penyandang disabilitas, hingga masyarakat adat akan mendapatkan peran yang sama dalam layanan kesehatan.”Di daerah-daerah terisolir mereka memerlukan akses ini dengan sangat bagus,’’ ujarnya.

Jika kesehatan baik, lanjut dia, pendidikan dan kebudayaan bisa dibangun bersama-sama. Di bidang pendidikan, Ganjar memaparkan gagasan pendidikan lebih inklusi, kurikulum yang mantap, dan fasilitas terbaik. ”Termasuk memperbaiki kesejahteraan guru dan dosen,’’ terangnya.

Baca Juga:  Masyarakat Sipil Minta Penundaan Pilkada

Dengan pendidikan dan keterampilan, generasi muda punya peluang mendapatkan pekerjaan yang baik dan berimplikasi pada upah yang layak. Tak hanya itu, dalam pembangunan manusia, Ganjar juga menekankan pada budi pekerti sehingga menjadi manusia yang lengkap.

Ganjar juga menyentil elite politik yang mesti menjadi contoh demokratisasi kehidupan yang baik. “Seperti Pak Mahfud contohkan dia mundur, agar ini membangun integritas yang baik,” kata Ganjar.

Sementara itu, Anies Baswedan tetap membawa visi perubahan dalam bidang kesra. Dia menilai, baik di bidang kesehatan, pendidikan, hingga teknologi, saat ini masih terjadi ketimpangan. “Ini semua adalah ketimpangan yang hari ini menjadi fenomena membahayakan bagi republik ini,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia bertekad untuk mengembalikan semangat kesetaraan sesuai cita-cita bangsa. “Apa masalah hari ini? 45 juta orang belum bekerja dengan layak, bicara jaminan sosial, lebih dari 70 juta orang tidak punya jaminan sosial,” ujarnya.

Di sektor pendidikan, fasilitas dan kualitas di desa jauh dari yang ada di kota. Hal sama juga terjadi pada layanan kesehatan. Karena itu, mantan gubernur Jakarta itu bertekad mengakhiri ketimpangan tersebut. Dia ingin memastikan masyarakat mendapat pelayanan untuk mewujudkan kehidupan yang sehat.

Jika ada yang sakit, bisa segera mendapat pertolongan. Dengan program tersebut, anak-anak akan tumbuh menjadi orang-orang yang cerdas. Keluarga juga akan sejahtera karena para pekerja mendapat upah yang layak.

“Bila memerlukan, diberikan bansos plus, bukan memberikan bansos untuk kepentingan yang memberi, tapi untuk kepentingan yang diberi,” terangnya. Anies menekankan, untuk bisa mewujudkan persatuan nasional, maka keadilan di semua lini kehidupan wajib ditunaikan.

Dalam segmen kedua dan ketiga, nyaris tidak terjadi perdebatan. Baik Anies, Prabowo, dan Ganjar, banyak sepakat dan saling melengkapi argumentasi masing-masing. Misalnya dalam isu perlindungan hak bagi para pekerja migran, kesejahteraan dosen dan guru, hingga isu penguatan kebudayaan.

Dalam isu perlindungan pekerja, misalnya. Anies menekankan pentingnya keterlibatan aktivis. Sebab, acap kali aktivis lebih paham persoalan di lapangan dibanding pemerintah yang punya kewenangan.

Jawaban Anies diamini Prabowo. Bahkan, beberapa kali dia harus menyatakan kesamaan pandangannya. Sentilan pada segmen tersebut hanya muncul dari pernyataan Ganjar yang mengkritik kriminalisasi terhadap aktivitas seni Butet Kertaradjasa. Namun, pernyataan Ganjar tidak ditindaklanjuti oleh kedua capres lainnya.

Baca Juga:  Puncak Gema Isra Mikraj Bergeser ke Jalan Gajah Mada

Dalam segmen tanya jawab antarpaslon, perdebatan sedikit meningkat dalam isu program makan gratis. Saat ditanya Prabowo soal sikap terhadap program itu, Ganjar menilai Prabowo tidak memahami persoalan stunting jika memberi anak makanan bergizi. “Karena Bapak terlambat Pak. Stunting itu ditangani sejak bayi masih dalam kandungan. Ibunya yang dikasih gizi,” ujarnya.

Jika makanan bergizi diberikan kepada anak-anak, lanjut dia, tidak berdampak banyak. Kecuali jika yang dimaksud Prabowo adalah menangani gizi buruk, maka bisa dilakukan dengan makanan bergizi. “Kalo gizi buruk bapak mau memperbaiki boleh,” tuturnya.

Namun Prabowo menepis anggapan tidak memahami. Dia menekankan, program memberi makan ibu yang sedang hamil menjadi bagian di dalammnya. Tapi, pemberian setelah lahir juga dinilai perlu. “Tapi memang stunting itu karena kurang gizi, Pak Ganjar. Itu karena ibu dan karena dianya juga kurang gizi, dia stunting,” kata Prabowo.

Perdebatan keduanya berlanjut saat Ganjar mengkritik pernyataan Prabowo yang menganggap internet gratis tidak terlalu penting. Menurut Ganjar, Prabowo pernah mengatakan bahwa orang yang memilih internet gratis adalah mereka yang otaknya lambat.

Namun, Prabowo mengklarifikasi hal itu. Dia menilai Ganjar tidak mendapat informasi yang utuh tentang pernyataannya. “Internet gratis saya setuju. Tapi jangan lebih dipentingkan dari makan gratis,” terangnya.

Perdebatan Anies dan Prabowo juga tidak seperti biasanya. Konfrontasi keduanya relatif minim. Dalam sesi tanya jawab langsung, Anies hanya menanyakan soal kekurangan pemerintahan di bidang perlindungan perempuan.

Prabowo lantas menjelaskan track record dan komitmennya memberikan kesempatan perempuan di lembaga yang berada di kewenangannya. Namun bagi Anies, pernyataan Prabowo belum menjawab pertanyaannya. Sebab, Prabowo belum membeberkan kekurangan pemerintah.

Sementara itu, outfit para capres tidak banyak mengejutkan. Pasangan calon nomor urut 1 Anies Baswesan-Muhaimin Iskandar tampil seperti biasa. Keduanya mengenakan setelan kemeja putih dengan jas dan celana hitam. Tak lupa, keduanya mengenakan kopiah hitam.

Kemudian pasangan calon nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka tampil dengan nuansa khasnya, yakni dominan biru langit. Bedanya, keduanya mengenakan jaket bermotif biru langit bergaris putih.

Pasangan calon nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD mengenakan jaket dengan warna dasar hitam dan bernomor 3 pink. Jaket dipenuhi berbagai tulisan, salah satunya Sat Set pada Ganjar dan Tas Tes pada Mahfud.(far/oni/das)

Laporan JPG, Jakarta

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img
spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari