Sabtu, 31 Januari 2026
- Advertisement -

Keren! Tim Mahasiswa PCR Wakili Asia Pasifik di AAKRUTI Global Texas

PEKANBARU (RIAUPOS.CO)Menjelang akhir Januari, ruang desain di Politeknik Caltex Riau (PCR) nyaris tak pernah sepi. Di balik layar komputer berisi visual tiga dimensi, empat mahasiswa yang tergabung dalam Tim Darnakel sibuk merampungkan detail akhir rancangan desain yang akan membawa mereka ke Texas, Amerika Serikat.

Keempat mahasiswa tersebut adalah Muhammad Haekal Aulia, Daniel Simatupang, Ardian Dwi Syahputra, dan Ruth Delila Aritonang. Mereka merupakan mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika. Bagi mereka, perjalanan ke Texas bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbol bahwa karya mahasiswa Indonesia mampu bersaing di panggung internasional.

Pada awal Februari mendatang, Tim Darnakel akan tampil di ajang AAKRUTI Global 2025, kompetisi desain produk internasional yang diselenggarakan Dassault Systèmes dan berlangsung pada 1–4 Februari 2026. Dari lebih 1.800 tim asal 37 negara yang mengikuti seleksi, hanya 12 tim yang berhasil melaju ke babak final. Tim Darnakel menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia sekaligus kawasan Asia Pasifik.

Dosen pembimbing Tim Darnakel, Prof Dr Hendriko ST MEng, menjelaskan bahwa desain yang dibawa ke Texas telah mengalami perkembangan signifikan dibandingkan tahap awal seleksi.

“Perkembangannya sangat jauh. Awalnya desain masih terlihat kaku, sekarang tampil lebih matang dengan konsep yang semakin jelas. Banyak perubahan dilakukan dari sisi visual, material, hingga sistem kerja alat,” ujarnya, Rabu (28/1).

Baca Juga:  Kesempatan Jadi Kepsek, Disdik Riau Buka Seleksi Terbuka 69 SMA/SMK Negeri

Perubahan utama terlihat pada struktur produk. Jika sebelumnya menggunakan aluminium, kini beralih ke baja paduan yang dinilai lebih kuat namun tetap efisien dari segi bobot. Sistem kerja kursi roda juga dirancang ulang, termasuk penggunaan motor listrik dan sistem kontrol yang lebih presisi. Seluruh pembaruan tersebut telah dituangkan dalam desain tiga dimensi final yang dikirim ke panitia.

Namun, kompetisi ini tidak hanya menilai aspek teknis. Tim juga harus mampu mempresentasikan gagasan di hadapan akademisi, peneliti, serta pelaku industri manufaktur dari berbagai negara. Karena itu, mereka menjalani latihan presentasi dan simulasi tanya jawab secara intens.

“Kami berlatih menyampaikan cerita di balik desain, bukan hanya bagaimana alat ini bekerja, tetapi mengapa desain ini penting,” ujar Ketua Tim Darnakel, Daniel Simatupang.

Inovasi yang mereka usung bertajuk Convertible Wheelchair-Bed for Enhanced Patient Mobility, yaitu kursi roda yang dapat bertransformasi menjadi tempat tidur pasien. Ide ini lahir dari persoalan mobilitas pasien yang selama ini masih sangat bergantung pada bantuan orang lain.

Baca Juga:  Chemistry Competition ‘25 UIN Suska Catatkan Rekor Baru

Proses pengembangan desain dilakukan melalui evaluasi berulang dan perbandingan dengan perangkat medis yang telah ada. Setiap masukan dari pembimbing menjadi bahan perbaikan hingga menghasilkan desain konseptual dan teknis yang matang.

“Kebaruan utama ada pada sistem konvertibel elektrik yang mengintegrasikan kursi roda dan tempat tidur dalam satu kesatuan,” jelas Daniel.

Rancangan ini memungkinkan pasien berpindah dengan lebih mandiri, sekaligus meringankan peran pendamping. Desain tersebut juga dilengkapi sistem pelacakan untuk memantau lokasi pengguna secara real-time.

Prof Hendriko mengakui persaingan di tingkat global tidak mudah. Namun, ia menilai rancangan Tim Darnakel memiliki keunggulan tersendiri, terutama dari sisi dampak sosial.

“Desain ini relevan dengan isu kesehatan dan sejalan dengan salah satu tujuan Sustainable Development Goals. Dari sisi kesiapan, mahasiswa sudah sangat siap dan percaya diri,” katanya.

Seluruh persiapan administratif juga telah rampung, mulai dari visa hingga tiket perjalanan. Kini, Tim Darnakel tinggal menjaga fokus menjelang keberangkatan.

Bagi mereka, perjalanan ke Texas bukan sekadar kompetisi, melainkan tanggung jawab membawa nama PCR, Indonesia, dan Asia Pasifik ke panggung internasional. Dari ruang desain di Pekanbaru, langkah mereka kini mengarah ke level global.***

PEKANBARU (RIAUPOS.CO)Menjelang akhir Januari, ruang desain di Politeknik Caltex Riau (PCR) nyaris tak pernah sepi. Di balik layar komputer berisi visual tiga dimensi, empat mahasiswa yang tergabung dalam Tim Darnakel sibuk merampungkan detail akhir rancangan desain yang akan membawa mereka ke Texas, Amerika Serikat.

Keempat mahasiswa tersebut adalah Muhammad Haekal Aulia, Daniel Simatupang, Ardian Dwi Syahputra, dan Ruth Delila Aritonang. Mereka merupakan mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika. Bagi mereka, perjalanan ke Texas bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbol bahwa karya mahasiswa Indonesia mampu bersaing di panggung internasional.

Pada awal Februari mendatang, Tim Darnakel akan tampil di ajang AAKRUTI Global 2025, kompetisi desain produk internasional yang diselenggarakan Dassault Systèmes dan berlangsung pada 1–4 Februari 2026. Dari lebih 1.800 tim asal 37 negara yang mengikuti seleksi, hanya 12 tim yang berhasil melaju ke babak final. Tim Darnakel menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia sekaligus kawasan Asia Pasifik.

Dosen pembimbing Tim Darnakel, Prof Dr Hendriko ST MEng, menjelaskan bahwa desain yang dibawa ke Texas telah mengalami perkembangan signifikan dibandingkan tahap awal seleksi.

“Perkembangannya sangat jauh. Awalnya desain masih terlihat kaku, sekarang tampil lebih matang dengan konsep yang semakin jelas. Banyak perubahan dilakukan dari sisi visual, material, hingga sistem kerja alat,” ujarnya, Rabu (28/1).

- Advertisement -
Baca Juga:  Pelepasan Pelajar Kelas IX SMPN 11 Pekanbaru Meriah

Perubahan utama terlihat pada struktur produk. Jika sebelumnya menggunakan aluminium, kini beralih ke baja paduan yang dinilai lebih kuat namun tetap efisien dari segi bobot. Sistem kerja kursi roda juga dirancang ulang, termasuk penggunaan motor listrik dan sistem kontrol yang lebih presisi. Seluruh pembaruan tersebut telah dituangkan dalam desain tiga dimensi final yang dikirim ke panitia.

Namun, kompetisi ini tidak hanya menilai aspek teknis. Tim juga harus mampu mempresentasikan gagasan di hadapan akademisi, peneliti, serta pelaku industri manufaktur dari berbagai negara. Karena itu, mereka menjalani latihan presentasi dan simulasi tanya jawab secara intens.

- Advertisement -

“Kami berlatih menyampaikan cerita di balik desain, bukan hanya bagaimana alat ini bekerja, tetapi mengapa desain ini penting,” ujar Ketua Tim Darnakel, Daniel Simatupang.

Inovasi yang mereka usung bertajuk Convertible Wheelchair-Bed for Enhanced Patient Mobility, yaitu kursi roda yang dapat bertransformasi menjadi tempat tidur pasien. Ide ini lahir dari persoalan mobilitas pasien yang selama ini masih sangat bergantung pada bantuan orang lain.

Baca Juga:  Dosen Unri Kembangkan Kompor Biomassa Kenaf, Solusi Energi Hijau Masa Depan

Proses pengembangan desain dilakukan melalui evaluasi berulang dan perbandingan dengan perangkat medis yang telah ada. Setiap masukan dari pembimbing menjadi bahan perbaikan hingga menghasilkan desain konseptual dan teknis yang matang.

“Kebaruan utama ada pada sistem konvertibel elektrik yang mengintegrasikan kursi roda dan tempat tidur dalam satu kesatuan,” jelas Daniel.

Rancangan ini memungkinkan pasien berpindah dengan lebih mandiri, sekaligus meringankan peran pendamping. Desain tersebut juga dilengkapi sistem pelacakan untuk memantau lokasi pengguna secara real-time.

Prof Hendriko mengakui persaingan di tingkat global tidak mudah. Namun, ia menilai rancangan Tim Darnakel memiliki keunggulan tersendiri, terutama dari sisi dampak sosial.

“Desain ini relevan dengan isu kesehatan dan sejalan dengan salah satu tujuan Sustainable Development Goals. Dari sisi kesiapan, mahasiswa sudah sangat siap dan percaya diri,” katanya.

Seluruh persiapan administratif juga telah rampung, mulai dari visa hingga tiket perjalanan. Kini, Tim Darnakel tinggal menjaga fokus menjelang keberangkatan.

Bagi mereka, perjalanan ke Texas bukan sekadar kompetisi, melainkan tanggung jawab membawa nama PCR, Indonesia, dan Asia Pasifik ke panggung internasional. Dari ruang desain di Pekanbaru, langkah mereka kini mengarah ke level global.***

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO)Menjelang akhir Januari, ruang desain di Politeknik Caltex Riau (PCR) nyaris tak pernah sepi. Di balik layar komputer berisi visual tiga dimensi, empat mahasiswa yang tergabung dalam Tim Darnakel sibuk merampungkan detail akhir rancangan desain yang akan membawa mereka ke Texas, Amerika Serikat.

Keempat mahasiswa tersebut adalah Muhammad Haekal Aulia, Daniel Simatupang, Ardian Dwi Syahputra, dan Ruth Delila Aritonang. Mereka merupakan mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika. Bagi mereka, perjalanan ke Texas bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbol bahwa karya mahasiswa Indonesia mampu bersaing di panggung internasional.

Pada awal Februari mendatang, Tim Darnakel akan tampil di ajang AAKRUTI Global 2025, kompetisi desain produk internasional yang diselenggarakan Dassault Systèmes dan berlangsung pada 1–4 Februari 2026. Dari lebih 1.800 tim asal 37 negara yang mengikuti seleksi, hanya 12 tim yang berhasil melaju ke babak final. Tim Darnakel menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia sekaligus kawasan Asia Pasifik.

Dosen pembimbing Tim Darnakel, Prof Dr Hendriko ST MEng, menjelaskan bahwa desain yang dibawa ke Texas telah mengalami perkembangan signifikan dibandingkan tahap awal seleksi.

“Perkembangannya sangat jauh. Awalnya desain masih terlihat kaku, sekarang tampil lebih matang dengan konsep yang semakin jelas. Banyak perubahan dilakukan dari sisi visual, material, hingga sistem kerja alat,” ujarnya, Rabu (28/1).

Baca Juga:  Plt Kepala SDN 130 Pekanbaru Apresiasi Wali Murid Hadiri Sosialisasi PIN polio

Perubahan utama terlihat pada struktur produk. Jika sebelumnya menggunakan aluminium, kini beralih ke baja paduan yang dinilai lebih kuat namun tetap efisien dari segi bobot. Sistem kerja kursi roda juga dirancang ulang, termasuk penggunaan motor listrik dan sistem kontrol yang lebih presisi. Seluruh pembaruan tersebut telah dituangkan dalam desain tiga dimensi final yang dikirim ke panitia.

Namun, kompetisi ini tidak hanya menilai aspek teknis. Tim juga harus mampu mempresentasikan gagasan di hadapan akademisi, peneliti, serta pelaku industri manufaktur dari berbagai negara. Karena itu, mereka menjalani latihan presentasi dan simulasi tanya jawab secara intens.

“Kami berlatih menyampaikan cerita di balik desain, bukan hanya bagaimana alat ini bekerja, tetapi mengapa desain ini penting,” ujar Ketua Tim Darnakel, Daniel Simatupang.

Inovasi yang mereka usung bertajuk Convertible Wheelchair-Bed for Enhanced Patient Mobility, yaitu kursi roda yang dapat bertransformasi menjadi tempat tidur pasien. Ide ini lahir dari persoalan mobilitas pasien yang selama ini masih sangat bergantung pada bantuan orang lain.

Baca Juga:  Digital Kuat, Masjid Hebat: Muhammadiyah Gelar Pertemuan Regional di Umri

Proses pengembangan desain dilakukan melalui evaluasi berulang dan perbandingan dengan perangkat medis yang telah ada. Setiap masukan dari pembimbing menjadi bahan perbaikan hingga menghasilkan desain konseptual dan teknis yang matang.

“Kebaruan utama ada pada sistem konvertibel elektrik yang mengintegrasikan kursi roda dan tempat tidur dalam satu kesatuan,” jelas Daniel.

Rancangan ini memungkinkan pasien berpindah dengan lebih mandiri, sekaligus meringankan peran pendamping. Desain tersebut juga dilengkapi sistem pelacakan untuk memantau lokasi pengguna secara real-time.

Prof Hendriko mengakui persaingan di tingkat global tidak mudah. Namun, ia menilai rancangan Tim Darnakel memiliki keunggulan tersendiri, terutama dari sisi dampak sosial.

“Desain ini relevan dengan isu kesehatan dan sejalan dengan salah satu tujuan Sustainable Development Goals. Dari sisi kesiapan, mahasiswa sudah sangat siap dan percaya diri,” katanya.

Seluruh persiapan administratif juga telah rampung, mulai dari visa hingga tiket perjalanan. Kini, Tim Darnakel tinggal menjaga fokus menjelang keberangkatan.

Bagi mereka, perjalanan ke Texas bukan sekadar kompetisi, melainkan tanggung jawab membawa nama PCR, Indonesia, dan Asia Pasifik ke panggung internasional. Dari ruang desain di Pekanbaru, langkah mereka kini mengarah ke level global.***

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari