​PERANG mungkin terjadi jauh dari kita, nun di kawasan Teluk, namun dampakÂnya selalu menemukan jalan pulang. Ketika peluru kendali (rudal) diluncurkan di Timur Tengah, yang bergetar bukan hanya kawasan konflik, melainkan juga harga minyak dunia, jalur distribusi energi, dan pada akhirnya dapur rumah tangga di negeri-negeri yang bahkan tidak ikut berperang. Dalam situasi itu, Pemerintah Singapura—melalui pernyataan resmi tentang keamanan energi—secara terbuka mengakui adanya risiko gangguan pasokan dan lonjakan harga akibat eskalasi konflik. Perdana Menteri Lawrence Wong tidak sedang berbicara dalam ruang akademik atau forum retoris. Ini adalah sinyal kebijakan bahwa rantai pasok energi global sedang memasuki fase rawan.
​Bagi sebagian negara, hal ini mungkin sekadar kewaspadaan. Namun bagi Indonesia, situasi ini seharusnya dibaca sebagai peringatan langsung karena kita tidak berdiri di luar sistem tersebut. Kita berada di dalamnya dan, ironisnya, dalam posisi yang rentan. Di atas kertas, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita berdiri dengan asumsi yang tampak rasional, yakni ICP sebesar 70 dolar AS per barel. Namun dalam dunia yang digerakkan oleh konflik dan kepentingan, angka itu mulai terlihat bukan sebagai peÂrencanaan, melainkan harapan yang terlalu optimistis.
​Realitas Fiskal dan Ketergantungan Energi di Kawasan
​Dalam logika fiskal klasik, kenaikan harga minyak seharusnya menjadi berkah karena penerimaan meningkat dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) naik sehingga ada ruang tambahan bagi negara. Namun, itu hanya berlaku bagi negara yang masih kuat sebagai eksportir, sedangkan Indonesia tidak lagi berada di posisi itu. Kita adalah konsumen besar dengan produksi yang tertinggal, sehingga setiap lonjakan harga minyak justru berarti biaya impor meningkat, subsidi energi membengkak, dan kompensasi kepada BUMN energi melebar. DeÂngan kata lain, setiap kenaikan harga minyak hari ini merupakan tekanan fiskal, bukan keuntungan. Ketika realisasi harga bergerak jauh di atas asumsi, APBN dipaksa beradaptasi dalam tekanan karena tidak lagi bekerja dalam kerangka desain awalnya.
​Kawasan Asia Tenggara kini menjadi cermin yang tidak nyaman. Di FiÂlipina, tekanan distribusi mulai terasa, sementara di Thailand, intervensi fiskal diperbesar untuk menahan gejolak. Singapura, yang selama ini menjadi simpul efisiensi energi kawasan, sudah mengirim sinyal resmi tentang risiko gangguan. Ini adalah sebuah pola di mana kawasan yang bergantung pada impor eÂnergi sedang memasuki fase rentan. Ada satu fakta yang sering luput dalam diskursus publik: Indonesia tidak hanya mengimpor minyak, tetapi juga bergantung pada ekosistem energi regional yang berpusat di Singapura. Sebagai pusat penyulingan (refinery) dan perdagangan (trading hub), gangguan di Singapura akan merambat ke Indonesia. Oleh karena itu, ketika Singapura mulai berbicara tentang risiko pasokan, hal itu bukan sekadar isu domestik mereka, melainkan sinyal regional yang akan berdampak langsung pada kita.
​Dilema Geopolitik dan Ancaman  Kelangkaan Pasokan
​Dalam konteks geopolitik, posisi Indonesia dalam konflik Iran–Israel–Amerika memberikan kecangguÂngan pada diplomasi energi nasional. Kita mengambil posisi moral yang cenderung dibaca condong ke poros Amerika, namun kita tidak memiliki kedekatan kuat dengan negara produsen utama atau aliansi energi yang memberikan akses prioritas. Akibatnya, saat pasar terguncang, kita harus membeli dengan harga pasar, bersaing dengan negara lain, dan tidak memiliki jalur khusus. Netralitas dalam hal ini tidak memberi perlindungan, melainkan menempatkan kita pada posisi mengikuti arus pasar global tanpa kendali. Kesalahan terbesar adalah menganggap masalah hanya soal harga, padahal risiko yang lebih serius adalah kelangkaan. Jika jalur distribusi terganggu, persoalan tidak lagi tentang mahal atau murah, tetapi tersedia atau tidaknya energi tersebut.
​Di sinilah dilema fiskal menjadi nyata bagi pemeÂrintah. Jika harga BBM diÂnaikkan, inflasi meningkat dan daya beli tertekan seÂhingga risiko sosial membesar. Sebaliknya, jika ditahan, subsidi membengkak dan defiÂsit melebar sehingga ruang fiskal menyempit. Pilihan yang tersedia bukan antara benar dan salah, melainkan antara dua tekanan yang sama-sama berat. Kita terlalu lama mengandalkan subsidi sebagai penyangga utama, padahal subsidi tanpa reformasi hanyalah mekanisme menunda krisis yang biayanya kini semakin mahal. PerÂnyataan Lawrence Wong adalah pengakuan bahwa sistem energi global sedang tertekan. Bagi Indonesia, mengabaikan sinyal ini sama saja dengan mengabaikan arah angin sebelum badai datang. Kita bisa terus bertahan dengan asumsi yang menenangkan, namun dunia tidak bergerak berdasarkan harapan. PertaÂnyaannya sederhana: Apakah kita akan terus menyusun APBN berdasarkan asumsi yang nyaman, atau mulai membangunnya di atas reaÂlitas yang keras?***
Nazaruddin Nasir, Pengamat Energi, Bermastautin di Pekanbaru


