29.2 C
Pekanbaru
Rabu, 2 April 2025
spot_img

Refleksi Hari Santri 

Hari ini, tanggal 22 Oktober 2021, tepat 7 tahun sudah ditetapkannya Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 tahun 2015. Penetapan istilah hari santri sendiri adalah merupakan bagian dari wujud penghormatan negara terhadap kontribusi nyata perjuangan santri dalam membela NKRI. 

Dalam catatan sejarah perjalanan Bangsa Indonesia, ada beberapa rangkaian peristiwa yang kemudian menjadi asbab dari khittah perjuangan santri, terutama pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Indonesia memang telah resmi menyatakan kemerdekaannya, namun dalam realitanya, perlawanan terhadap penjajah belumlah usai, hal itu terjadi lantaran hadirnya Brigade 49 Divisi India tentara Inggris di bawah pimpinan Brigadir Jenderal AWS Mallaby, yang merupakan buah dari rencana agresi militer II Belanda. 

Jauh-jauh hari, sebelum pertempuran 10 November, Belanda bersama pasukan sekutu telah memasuki beberapa kota di Indonesia di antaranya adalah Jakarta dan Surabaya. Tujuannya untuk melucuti persenjataan tentara Jepang, membebaskan tawanan perang Jepang, serta keinginan untuk mengembalikan Indonesia agar tetap berada di bawah kekuasaan Belanda. Namun, tujuan agar Indonesia kembali di bawah kekuasaan Belanda tidaklah berjalan dengan semestinya, rencana Belanda dan pasukan sekutu mendapat respons perlawanan dari masyarakat sipil Surabaya. Perlawanan itu turut diikuti oleh seluruh elemen bangsa, seperti pemuda, kiai, santri termasuk juga warga NU. 
Fatwa Jihad KH Hasyim Asy’ari
Fatwa jihad memang memiliki kesan yang begitu dahsyat, sehingga tidak salah lagi apabila kaum santri menjadikannya sebagai landasan dalam menumbuhkan spirit membela NKRI. Dalam jurnal, "Nasionalisme Kaum Santri Menuju Indonesia Merdeka" karya Inggar Saputra, Presiden Soekarno sempat mengirimkan utusan untuk bertemu dan meminta pandangan KH Hasyim Asyari mengenai hukum membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kepada utusan tersebut dijelaskan pula bahwa umat Islam Indonesia wajib membela tanah airnya dari bahaya dan ancaman kekuataan asing. 

Baca Juga:  Software SNMPTN GO (Memperbesar Peluang Tembus PTN)

Setelah kedatangan utusan Soekarno, KH Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syamsuri, dan para kiai lainnya untuk mengumpulkan kiai se-Jawa dan Madura untuk bermusyawarah. Para kiai pun berkumpul dalam sidang Pleno Pengurus Besar pada 21-22 Oktober 1945 di kantor PBNU, Bubutan, Surabaya. 

Pertemuan itu dihadiri panglima Hizbullah, Zainul Arifin, setelah berdiskusi panjang lebar, para ulama ini menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad atau perang suci. Sehingga dirumuskanlah fatwa jihad yang dipelopori Hadharatussyekh KH Hasyim Asy’ari yang sampai saat ini lebih dikenal dengan "Resolusi Jihad" 22 Oktober 1945, sebelum pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. 

Di sinilah puncak perjuangan berawal, gelora  resolusi jihad segera menyebar begitu cepat dan menggetarkan hati rakyat Surabaya untuk melawan kolonialisme Inggris. Terutama bagi kaum santri yang ikut menyerahkan segenap jiwa dan raga untuk memberikan kontribusi nyata dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Peristiwa pertempuran 10 November pun tidak terlepas dari kobaran semangat resolusi jihad yang dikumandangkan di markas NU. 

Baca Juga:  2 Dekake Demokrat Koalisi Rakyat, AHY: Indonesia Perlu Supertim Bukan Superman

Sebagai tanda teringat, saya ingin mengutip ringkasan fatwa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, fatwa ini memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mengobarkan semangat juang seluruh elemen bangsa untuk ikut berperang melawan penjajah. 

Spirit ini perlu dipertahankan, meskipun konteksnya tidak lagi dalam narasi melawan penjajah. Tapi paling tidak, cinta tanah air mesti tumbuh di sanubari setiap masyarakat Indonesia, lebih lebih lagi bagi elemen pemuda sebagai generasi penerus bangsa.

- Advertisement -

Oleh karenanya, sebagai generasi muda yang secara garis usia tergolong cukup jauh dari kekelaman peristiwa masa lalu tersebut, kita musti ingat, musti menyadari, bahwa memahami sejarah perjalanan berdirinya bangsa ini adalah bagian dari upaya meneguhkan kembali semangat nasionalisme. Terima kasih para pejuang. Terima kasih santri. Selamat Hari Santri Nasional.***
 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

BERITA LAINNYA

Genangan Tak Surut, Warga Keluhkan Kerusakan Jalan Lintas Siak-Tanjung Buton

Selama dua bulan terakhir, Jalan Lintas Siak-Tanjung Buton di perbatasan Kampung Dosan, Kecamatan Pusako, dengan Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, masih tergenang air.

Hujan Ringan hingga Sedang Diprediksi Guyur Riau Saat Malam Takbiran

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru memprediksi hujan ringan hingga sedang akan mengguyur sejumlah wilayah di Riau pada malam Takbiran Idulfitri 1446 H, yang jatuh pada Ahad (30/3/2025).

Bandara SSK II Pekanbaru Buka Rute Baru ke Padang dan Rengat, Mudahkan Akses Mudik

Penerbangan perdana rute Pekanbaru-Padang dilaksanakan pada Rabu, 26 Maret 2025, pukul 07:00 WIB dan dihadiri oleh sejumlah pejabat, termasuk Radityo Ari Purwoko, General Manager Bandara SSK II, Roni Rakhmat SSTP MSi

Gubernur Riau Abdul Wahid Gelar Open House Idulfitri, Ajak Masyarakat Jalin Silaturahmi

Gubernur Riau, Abdul Wahid, menjelaskan bahwa open house ini terbuka bagi semua kalangan tanpa ada pembatasan. Masyarakat umum dipersilakan untuk hadir dan berinteraksi langsung dengan dirinya, Wakil Gubernur, kepala OPD, serta warga lainnya.