Minggu, 11 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Mesin Pendingin di Stadion Piala Dunia Ramah Penonton Alergi

DOHA (RIAUPOS.CO) – Salah satu hal baru dalam Piala Dunia Qatar adalah penggunaan mesin pendingin bertenaga surya di dalam stadion. Meski waktu perhelatan sudah digeser dari Juni–Juli ke November–Desember, kekhawatiran suhu panas di Qatar tetap muncul. Mesin pendingin dianggap sebagai solusinya.

Mesin pendingin yang diletakkan di tribun penonton dekat lapangan itu bekerja dengan cara menyerap udara panas dari luar, kemudian disaring jadi udara dingin untuk masuk ke stadion. Sistem tersebut bisa optimal lantaran atap stadion yang buka-tutup. Hal itu dilakukan agar kesejukan udara terjaga.

Suhu yang akan dihasilkan dari rangkaian sistem tersebut nanti berkisar 20 derajat Celsius. Angka yang nyaris serupa dengan suhu di Eropa ketika musim panas. Contohnya, final Euro 2020 yang dihelat tahun lalu di London. Suhu paling panas adalah 18 derajat Celsius.

Baca Juga:  Koper Tertinggal di Kuala Lumpur

”Kami bukan sekadar menyejukkan udara. Kami sekaligus membersihkannya. Jika ada penonton atau personel tim yang memiliki alergi, dia tidak akan mengalami masalah di dalam stadion kami karena kami memiliki udara paling murni di sana,’’ papar Dr Saud Abdulaziz Abdul Ghani, pelopor proyek mesin pendingin dalam stadion di Piala Dunia 2022 sekaligus profesor teknik mesin Universitas Qatar kepada Sporting News.

Penggunaan mesin pendingin di dalam stadion sekaligus pijakan Qatar untuk mencapai hal baru lainnya. Yaitu, sebagai tuan rumah Piala Dunia pertama yang bebas karbon. Minimnya emisi kendaraan akan terjadi selama perhelatan turnamen empat tahunan tersebut.

Transportasi antara satu stadion dan stadion lainnya yang tidak lebih dari satu jam mendukung hal itu. Artinya, suporter berpotensi menghadiri dua pertandingan atau lebih dalam satu hari yang membuat konsumsi bahan bakar kendaraan atau moda transportasi yang dinaikinya otomatis ikut berkurang. (io/c6/dns/jpg)

Baca Juga:  Nigeria Ketiga, Ighalo Top Skor

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

 

DOHA (RIAUPOS.CO) – Salah satu hal baru dalam Piala Dunia Qatar adalah penggunaan mesin pendingin bertenaga surya di dalam stadion. Meski waktu perhelatan sudah digeser dari Juni–Juli ke November–Desember, kekhawatiran suhu panas di Qatar tetap muncul. Mesin pendingin dianggap sebagai solusinya.

Mesin pendingin yang diletakkan di tribun penonton dekat lapangan itu bekerja dengan cara menyerap udara panas dari luar, kemudian disaring jadi udara dingin untuk masuk ke stadion. Sistem tersebut bisa optimal lantaran atap stadion yang buka-tutup. Hal itu dilakukan agar kesejukan udara terjaga.

Suhu yang akan dihasilkan dari rangkaian sistem tersebut nanti berkisar 20 derajat Celsius. Angka yang nyaris serupa dengan suhu di Eropa ketika musim panas. Contohnya, final Euro 2020 yang dihelat tahun lalu di London. Suhu paling panas adalah 18 derajat Celsius.

Baca Juga:  Ancelotti Merendah, Katanya Everton Belum Selevel Liverpool

”Kami bukan sekadar menyejukkan udara. Kami sekaligus membersihkannya. Jika ada penonton atau personel tim yang memiliki alergi, dia tidak akan mengalami masalah di dalam stadion kami karena kami memiliki udara paling murni di sana,’’ papar Dr Saud Abdulaziz Abdul Ghani, pelopor proyek mesin pendingin dalam stadion di Piala Dunia 2022 sekaligus profesor teknik mesin Universitas Qatar kepada Sporting News.

Penggunaan mesin pendingin di dalam stadion sekaligus pijakan Qatar untuk mencapai hal baru lainnya. Yaitu, sebagai tuan rumah Piala Dunia pertama yang bebas karbon. Minimnya emisi kendaraan akan terjadi selama perhelatan turnamen empat tahunan tersebut.

- Advertisement -

Transportasi antara satu stadion dan stadion lainnya yang tidak lebih dari satu jam mendukung hal itu. Artinya, suporter berpotensi menghadiri dua pertandingan atau lebih dalam satu hari yang membuat konsumsi bahan bakar kendaraan atau moda transportasi yang dinaikinya otomatis ikut berkurang. (io/c6/dns/jpg)

Baca Juga:  Nigeria Ketiga, Ighalo Top Skor

 

- Advertisement -

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

DOHA (RIAUPOS.CO) – Salah satu hal baru dalam Piala Dunia Qatar adalah penggunaan mesin pendingin bertenaga surya di dalam stadion. Meski waktu perhelatan sudah digeser dari Juni–Juli ke November–Desember, kekhawatiran suhu panas di Qatar tetap muncul. Mesin pendingin dianggap sebagai solusinya.

Mesin pendingin yang diletakkan di tribun penonton dekat lapangan itu bekerja dengan cara menyerap udara panas dari luar, kemudian disaring jadi udara dingin untuk masuk ke stadion. Sistem tersebut bisa optimal lantaran atap stadion yang buka-tutup. Hal itu dilakukan agar kesejukan udara terjaga.

Suhu yang akan dihasilkan dari rangkaian sistem tersebut nanti berkisar 20 derajat Celsius. Angka yang nyaris serupa dengan suhu di Eropa ketika musim panas. Contohnya, final Euro 2020 yang dihelat tahun lalu di London. Suhu paling panas adalah 18 derajat Celsius.

Baca Juga:  Quartararo Sebut Yamaha Belum Bisa Bersaing

”Kami bukan sekadar menyejukkan udara. Kami sekaligus membersihkannya. Jika ada penonton atau personel tim yang memiliki alergi, dia tidak akan mengalami masalah di dalam stadion kami karena kami memiliki udara paling murni di sana,’’ papar Dr Saud Abdulaziz Abdul Ghani, pelopor proyek mesin pendingin dalam stadion di Piala Dunia 2022 sekaligus profesor teknik mesin Universitas Qatar kepada Sporting News.

Penggunaan mesin pendingin di dalam stadion sekaligus pijakan Qatar untuk mencapai hal baru lainnya. Yaitu, sebagai tuan rumah Piala Dunia pertama yang bebas karbon. Minimnya emisi kendaraan akan terjadi selama perhelatan turnamen empat tahunan tersebut.

Transportasi antara satu stadion dan stadion lainnya yang tidak lebih dari satu jam mendukung hal itu. Artinya, suporter berpotensi menghadiri dua pertandingan atau lebih dalam satu hari yang membuat konsumsi bahan bakar kendaraan atau moda transportasi yang dinaikinya otomatis ikut berkurang. (io/c6/dns/jpg)

Baca Juga:  Ancelotti Merendah, Katanya Everton Belum Selevel Liverpool

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari