Minggu, 6 April 2025
spot_img

Tujuh Tahun Belajar Gaya seperti Bastianini, Jack Miller Tetap Gagal

AUSTIN (RIAUPOS.CO) – Salah satu kunci kehebatan Enea Bastianini yang mengantarnya memenangi dua deri empat balapan yang sudah berlangsung musim ini adalah kemampuan memanajemen ban.  Terutama ban belakang.

Bastianini tidak membutuhkan peran (pengereman dengan) ban belakang terlalu masif untuk membelokkan motornya di tikungan.

Gaya balap ini yang membuatnya bisa menghemat ban belakang yang kemudian dipakainya untuk bertarung di fase akhir lomba.

Sebenarnya, data tersebut bisa diketahui bersama oleh sesama rider Ducati. Namun, untuk menirunya ternyata sulit. Meski dengan motor yang identik. Bastianini menunggang Desmosedici GP 21, sedangkan  rider pabrikan GP22.

Hal itu dibenarkan Jac Miller.

”Jujur saja kalau aku tahu caranya aku akan melakukannya,” seloroh Miller.

”Tapi dia (Bastianini) benar-benar membalap dengan baik. Saat melewatiku, dia terlihat membalap dengan begitu mudah. Effortless. Dia memiliki gaya yang khas. Dia duduk tepat di bagian tengah motor dan kepalanya mengarah ke angle tertentu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Pemilik Senica: Punya Kualitas, Egy Bukan Hanya Magnet Komersil

”Tubuhnya seperti solid tidak bergerah, namun motor di bawahnya bergerak sesuai keinginanya. Dan itu berhasil. Tentu saja, dia juga bertubuh ramping. Jadi bisa sangat cepat di lurusan. Dia juga bisa mengerem lebih baik. Karena jika tubuhnya lebih ringan 10 kilogram akan sangat membantu,” ujar Miller.

Selain top speed di trek lurus menjadi keunggulan setiap rider Ducati, Bastianini memiliki keunggulan mampu menjaga ban belakang.

”Ya, itulah dia. Caranya menutup gas begitu luar biasa. Dalam beberapa alasan, dia tidak pernah benar-benar menggunakan ban (rem) belakang untuk menikung. Padahal di situlah kelemahanku,” aku Miller.

”Aku selalu menggunakan ban belakang untuk menikung, tapi dia bisa melajukan motornya dengan sangat lembut dan cepat. Untuk manajemen ban, dialah yang terbaik. Dan itu memang kelebihannya. Aku sudah mempelajarinya selama tujuh tahun dan sampai saat ini belum bisa menguasainya,” jelasnya.

Baca Juga:  Diburu Banyak Klub, Roma Tetapkan Harga Jual Zaniolo

Bastianini mengakui gaya balap Miller adalah yang paling mirip dengannya dibandingkan rider Ducati lainnya.

”Aku selalu membandingkan dataku dengannya setiap waktu. Motor ini masih sangat sama (GP 21 dan GP22) dan aku rasa belum ada perbedaan besar di antara keduanya. Untuk saat ini, motorku tidak lebih baik. Perasaanku aku sangat cepat saat masuk tikungan. Terutama di titik dimana ada pengiriman mendalam. Namun aku sedikit lambat di tengah tikungan,” ujar Miller.

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

AUSTIN (RIAUPOS.CO) – Salah satu kunci kehebatan Enea Bastianini yang mengantarnya memenangi dua deri empat balapan yang sudah berlangsung musim ini adalah kemampuan memanajemen ban.  Terutama ban belakang.

Bastianini tidak membutuhkan peran (pengereman dengan) ban belakang terlalu masif untuk membelokkan motornya di tikungan.

Gaya balap ini yang membuatnya bisa menghemat ban belakang yang kemudian dipakainya untuk bertarung di fase akhir lomba.

Sebenarnya, data tersebut bisa diketahui bersama oleh sesama rider Ducati. Namun, untuk menirunya ternyata sulit. Meski dengan motor yang identik. Bastianini menunggang Desmosedici GP 21, sedangkan  rider pabrikan GP22.

Hal itu dibenarkan Jac Miller.

”Jujur saja kalau aku tahu caranya aku akan melakukannya,” seloroh Miller.

”Tapi dia (Bastianini) benar-benar membalap dengan baik. Saat melewatiku, dia terlihat membalap dengan begitu mudah. Effortless. Dia memiliki gaya yang khas. Dia duduk tepat di bagian tengah motor dan kepalanya mengarah ke angle tertentu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Bina Bakat FC Bidik Kemenangan Ikut Kompetisi Sepakbola di Sumbar

”Tubuhnya seperti solid tidak bergerah, namun motor di bawahnya bergerak sesuai keinginanya. Dan itu berhasil. Tentu saja, dia juga bertubuh ramping. Jadi bisa sangat cepat di lurusan. Dia juga bisa mengerem lebih baik. Karena jika tubuhnya lebih ringan 10 kilogram akan sangat membantu,” ujar Miller.

Selain top speed di trek lurus menjadi keunggulan setiap rider Ducati, Bastianini memiliki keunggulan mampu menjaga ban belakang.

”Ya, itulah dia. Caranya menutup gas begitu luar biasa. Dalam beberapa alasan, dia tidak pernah benar-benar menggunakan ban (rem) belakang untuk menikung. Padahal di situlah kelemahanku,” aku Miller.

”Aku selalu menggunakan ban belakang untuk menikung, tapi dia bisa melajukan motornya dengan sangat lembut dan cepat. Untuk manajemen ban, dialah yang terbaik. Dan itu memang kelebihannya. Aku sudah mempelajarinya selama tujuh tahun dan sampai saat ini belum bisa menguasainya,” jelasnya.

Baca Juga:  Tsitsipas Juara Termuda

Bastianini mengakui gaya balap Miller adalah yang paling mirip dengannya dibandingkan rider Ducati lainnya.

”Aku selalu membandingkan dataku dengannya setiap waktu. Motor ini masih sangat sama (GP 21 dan GP22) dan aku rasa belum ada perbedaan besar di antara keduanya. Untuk saat ini, motorku tidak lebih baik. Perasaanku aku sangat cepat saat masuk tikungan. Terutama di titik dimana ada pengiriman mendalam. Namun aku sedikit lambat di tengah tikungan,” ujar Miller.

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Tujuh Tahun Belajar Gaya seperti Bastianini, Jack Miller Tetap Gagal

AUSTIN (RIAUPOS.CO) – Salah satu kunci kehebatan Enea Bastianini yang mengantarnya memenangi dua deri empat balapan yang sudah berlangsung musim ini adalah kemampuan memanajemen ban.  Terutama ban belakang.

Bastianini tidak membutuhkan peran (pengereman dengan) ban belakang terlalu masif untuk membelokkan motornya di tikungan.

Gaya balap ini yang membuatnya bisa menghemat ban belakang yang kemudian dipakainya untuk bertarung di fase akhir lomba.

Sebenarnya, data tersebut bisa diketahui bersama oleh sesama rider Ducati. Namun, untuk menirunya ternyata sulit. Meski dengan motor yang identik. Bastianini menunggang Desmosedici GP 21, sedangkan  rider pabrikan GP22.

Hal itu dibenarkan Jac Miller.

”Jujur saja kalau aku tahu caranya aku akan melakukannya,” seloroh Miller.

”Tapi dia (Bastianini) benar-benar membalap dengan baik. Saat melewatiku, dia terlihat membalap dengan begitu mudah. Effortless. Dia memiliki gaya yang khas. Dia duduk tepat di bagian tengah motor dan kepalanya mengarah ke angle tertentu,” ungkapnya.

Baca Juga:  ISSI Riau Minta Pelaku Penabrak Pesepeda Menyerahkan Diri

”Tubuhnya seperti solid tidak bergerah, namun motor di bawahnya bergerak sesuai keinginanya. Dan itu berhasil. Tentu saja, dia juga bertubuh ramping. Jadi bisa sangat cepat di lurusan. Dia juga bisa mengerem lebih baik. Karena jika tubuhnya lebih ringan 10 kilogram akan sangat membantu,” ujar Miller.

Selain top speed di trek lurus menjadi keunggulan setiap rider Ducati, Bastianini memiliki keunggulan mampu menjaga ban belakang.

”Ya, itulah dia. Caranya menutup gas begitu luar biasa. Dalam beberapa alasan, dia tidak pernah benar-benar menggunakan ban (rem) belakang untuk menikung. Padahal di situlah kelemahanku,” aku Miller.

”Aku selalu menggunakan ban belakang untuk menikung, tapi dia bisa melajukan motornya dengan sangat lembut dan cepat. Untuk manajemen ban, dialah yang terbaik. Dan itu memang kelebihannya. Aku sudah mempelajarinya selama tujuh tahun dan sampai saat ini belum bisa menguasainya,” jelasnya.

Baca Juga:  HARUS TENANG

Bastianini mengakui gaya balap Miller adalah yang paling mirip dengannya dibandingkan rider Ducati lainnya.

”Aku selalu membandingkan dataku dengannya setiap waktu. Motor ini masih sangat sama (GP 21 dan GP22) dan aku rasa belum ada perbedaan besar di antara keduanya. Untuk saat ini, motorku tidak lebih baik. Perasaanku aku sangat cepat saat masuk tikungan. Terutama di titik dimana ada pengiriman mendalam. Namun aku sedikit lambat di tengah tikungan,” ujar Miller.

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

AUSTIN (RIAUPOS.CO) – Salah satu kunci kehebatan Enea Bastianini yang mengantarnya memenangi dua deri empat balapan yang sudah berlangsung musim ini adalah kemampuan memanajemen ban.  Terutama ban belakang.

Bastianini tidak membutuhkan peran (pengereman dengan) ban belakang terlalu masif untuk membelokkan motornya di tikungan.

Gaya balap ini yang membuatnya bisa menghemat ban belakang yang kemudian dipakainya untuk bertarung di fase akhir lomba.

Sebenarnya, data tersebut bisa diketahui bersama oleh sesama rider Ducati. Namun, untuk menirunya ternyata sulit. Meski dengan motor yang identik. Bastianini menunggang Desmosedici GP 21, sedangkan  rider pabrikan GP22.

Hal itu dibenarkan Jac Miller.

”Jujur saja kalau aku tahu caranya aku akan melakukannya,” seloroh Miller.

”Tapi dia (Bastianini) benar-benar membalap dengan baik. Saat melewatiku, dia terlihat membalap dengan begitu mudah. Effortless. Dia memiliki gaya yang khas. Dia duduk tepat di bagian tengah motor dan kepalanya mengarah ke angle tertentu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Pemilik Senica: Punya Kualitas, Egy Bukan Hanya Magnet Komersil

”Tubuhnya seperti solid tidak bergerah, namun motor di bawahnya bergerak sesuai keinginanya. Dan itu berhasil. Tentu saja, dia juga bertubuh ramping. Jadi bisa sangat cepat di lurusan. Dia juga bisa mengerem lebih baik. Karena jika tubuhnya lebih ringan 10 kilogram akan sangat membantu,” ujar Miller.

Selain top speed di trek lurus menjadi keunggulan setiap rider Ducati, Bastianini memiliki keunggulan mampu menjaga ban belakang.

”Ya, itulah dia. Caranya menutup gas begitu luar biasa. Dalam beberapa alasan, dia tidak pernah benar-benar menggunakan ban (rem) belakang untuk menikung. Padahal di situlah kelemahanku,” aku Miller.

”Aku selalu menggunakan ban belakang untuk menikung, tapi dia bisa melajukan motornya dengan sangat lembut dan cepat. Untuk manajemen ban, dialah yang terbaik. Dan itu memang kelebihannya. Aku sudah mempelajarinya selama tujuh tahun dan sampai saat ini belum bisa menguasainya,” jelasnya.

Baca Juga:  Tsitsipas Juara Termuda

Bastianini mengakui gaya balap Miller adalah yang paling mirip dengannya dibandingkan rider Ducati lainnya.

”Aku selalu membandingkan dataku dengannya setiap waktu. Motor ini masih sangat sama (GP 21 dan GP22) dan aku rasa belum ada perbedaan besar di antara keduanya. Untuk saat ini, motorku tidak lebih baik. Perasaanku aku sangat cepat saat masuk tikungan. Terutama di titik dimana ada pengiriman mendalam. Namun aku sedikit lambat di tengah tikungan,” ujar Miller.

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari