SAAT ini, angka kasus harian penderita Covid-19 di Pulau Jawa kian membeludak. Varian baru asal India yang sangat mudah menyebar disebut-sebut sebagai penyebab angka positif harian kian tinggi. Angka keterisian tempat tidur di rumah sakit pun menjadi naik. Sehingga di beberapa daerah, rumah sakit mulai penuh dengan pasien. Bahkan di DKI Jakarta, segera dibuka sebuah tower lagi di Wisma Atlet dari beberapa tower yang selama ini berubah jadi tempat isolasi dan penyembuhan pasien Covid-19.
Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito pun membenarkan terkait varian baru jenis delta atau b1617.2 yang sudah diketahui ada di DKI Jakarta, Kudus, dan Bangkalan. Wiku menegaskan bahwa pemerintah sudah memberikan atensi. Yakni dengan melakukan whole genom squancing. Dia mengakui bahwa hal itu belum dilakukan secara menyeluruh di Indonesia.
Wiku menuturkan bahwa dengan keterbatasan ini pemerintah belum mengetahui asal dari vi-rus dan menyebar ke mana. Jika sampel yang dikumpulkan lebih banyak maka akan diketahui asal dan penyebaran varian baru tersebut dengan pasti. Menurutnya virus pasti akan mutasi jika penularannya terus terjadi.
Membludaknya kasus di DKI Jakarta, membuat kekhawatiran banyak pihak. Jakarta sebagai ibu kota menjadi acuan bagi daerah dalam membaca pergerakan kasus Covid-19 saat ini. Forkopimda DKI Jakarta pun dipanggil ke Istana Negara. Gubernur DKI, DPRD, Kapolda, Pangdam Jaya, dan Walikota di Jakarta datang memenuhi panggilan tersebut. Mereka pun mendapat arahan dari Presiden terkait meningkatnya kasus Covid-19 di DKI Jakarta. Pemda diminta untuk memberikan perhatian karena masuknya virus dari India.

Guna mengatasi angka kasus yang kini meningkat, terbit Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) nomor 13/2021 yang mengatur Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 28 Juni. Dalam beleid terbaru tersebut, pemerintah resmi memperketat ketentuan di wilayah zona merah. Empat sektor yang diperketat yaitu perkantoran, kegiatan work from office (WFO) hanya 25 persen, pembelajaran tatap muka (PTM) ditiadakan, kegiatan di taman/tempat wisata ditutup dan kegiatan ibadah keagamaan dibatasi secara ketat.
Hingga saat ini, kenyataan di lapangan, virus corona masih saja ada. Makhluk yang tak terlihat wujudnya itu, mulai bermutasi dan menyerang siapa saja. Walaupun sudah satu tahun lebih dan masyarakat sudah lelah, namun kewaspadaan janganlah sampai kendor. Penerapan protokol kesehatan adalah hal mutlak. Vaksinasi bukanlah menjadi sebab kita lalai prokes karena merasa kebal.***