Minggu, 23 Juni 2024

Panas di Makkah Capai 41 Derajat Celsius

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Jemaah calon haji (JCH) Riau perlu mempersiapkan diri secara ekstra menghadapi cuaca panas di Makkah. Ahad (9/6), dilaporkan cuaca di Tanah Suci sangat panas yang mencapai 41 derajat celsius. JCH yang tidak kuat telah disarankan untuk salat di masjid dekat hotel.

“Jemaah yang kuat dipersilakan beribadah ke Masjidilharam dengan tetap menjaga kesehatan karena cuaca di Kota Makkah 41 derajat, cukup panas. Jemaah yang tidak kuat dipersilakan untuk beribadah di masjid atau mushala sekitaran hotel,” ujar Ketua Kloter 12 BTH Amri Fitri, Ahad (9/6).

- Advertisement -

JCH, khususnya yang lanjut usia (lansia), juga diimbau untuk menjaga kesehatan agar bisa menjalankan semua tahapan dan rangkaian haji dengan lancar saat puncak haji. ‘’Kami juga mengedukasi jemaah untuk tetap menjaga kesehatan menjelang nanti puncak pelaksanaan ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina),’’ ujarnya.

Otoritas Arab Saudi memprediksi suhu rata-rata selama puncak Ibadah Haji 2024 di Makkah bisa menembus angka 48 derajat celsius. “Suhu yang diprediksi untuk ibadah haji tahun ini meningkat satu setengah hingga dua derajat di atas suhu normal di Makkah dan Madinah,” kata Kepala Pusat Meteorologi Nasional Saudi, Ayman Ghulam, dikutip The National News.

Ghulam mengatakan suhu udara di siang hari bisa mencapai puncaknya, yakni 48 derajat Celsius. “Kami memperkirakan kelembapan relatif pada 25 persen. Meskipun prakiraan hujan relatif rendah hampir sepanjang hari, namun ada prakiraan hujan lebat di dataran tinggi Taif,” ujarnya.

- Advertisement -

Badan meteorologi juga menyebutkan kemungkinan curah hujan selama musim haji sebesar 60 persen. Otoritas pelaksana haji di Saudi telah mengambil langkah-langkah preventif untuk mengurangi dampak panas, seperti menyediakan tenda dengan pendingin udara. “Kami juga menyediakan keperluan air dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi konsumsi sehari-hari, seiring meningkatnya suhu,” ungkap Ghulam.

Dia juga mengimbau jemaah haji untuk menyimpan makanan di dalam lemari es agar tidak rusak. Pekan ini, otoritas setempat juga mengimbau agar pelaksanaan Salat Jumat beserta khotbah selama musim haji dipersingkat karena suhu panas ekstrem.

Baca Juga:  Balik dari Rantau, Garap Album Minang

Ketua Urusan Keagamaan di Masjidilharam dan Masjid Nabawi, Abdurrahman as-Sudais telah memberikan arahan ini kepada para imam dan khatib di Masjidilharam dan Masjid Nabawi.

“Kepada yang terhormat para imam dan khatib di Masjidilharam dan Masjid Nabawi agar mempersingkat khotbah dan Salat Jumat pada hari-hari Jumat di musim haji ini. Demikian itu, karena melihat jumlah tamu Allah yang hadir di Dua Masjid Suci ini yang mencapai jutaan jiwa,” demikian keterangan resmi otoritas Saudi, Jumat (7/6) lalu.

Pengumuman ini juga dikeluarkan lantaran mempertimbangkan jemaah yang salat di pelataran tawaf, lantai atap, dan halaman. “Ini merupakan bagian dari kemudahan, keringanan dan membendung kesulitan terhadap jamaah haji yang hadir di Baitullah dan shalat Jumat di Dua Masjid Suci ini,” demikian keterangan Saudi.

JCH Pelalawan Dikembalikan ke Kloter Asal
JCH Riau asal Pelalawan Nuriah Sitan dan Jani Karim dikembalikan ke kelompok terbang (kloter) awal yakni Kloter 12 BTH. Ketua Kloter 12 BTH Amri Fitri  mengatakan, kedua JCH ini sempat tertunda keberangkatan karena sakit dan harus dirujuk ke RSBP Batam.

Saat dikembalikan ke kloter awal tersebut, kondisi kedua JCH sudah dalam kondisi sehat. “Dua orang jemaah Kloter 12 BTH ini tertunda keberangkatannya karena waktu di Tanah Air, suami Ibu Nuriah harus dirujuk ke RSBP Batam karena sakit,” ujarnya, Ahad (9/6).

“Jemaah ini kemudian diberangkatkan bersama Kloter 13 BTH. Setelah kami usulkan pengembaliannya ke kloter awal, hari ini (kemarin, red) Ibu Nuriah Sitan dan  Pak Jani Karim sudah bergabung dengan kloter asalnya,” sambungnya.

Jelang pelaksanaan puncak haji, Kemenag menyusun jadwal pemberangkatan JCH dari Arafah menuju Muzdalifah hingga Mina. Penyusunan jadwal ini tidak lepas kejadian musim haji tahun lalu. Waktu itu, JCH Indonesia mengalami keterlambatan saat berangkat dari Muzdalifah ke Mina.

”Terkait (skema pergerakan jemaah) ini, kami sudah berdiskusi dengan semua pihak di Arab Saudi. Melakukan simulasi yang tepat untuk mengantisipasi kepadatan jemaah (saat pergerakan dari Arafah hingga Mina),” kata Direktur Layanan Haji Luar Negeri Kemenag RI Subchan Chalid, Ahad (9/6).

Baca Juga:  BPKH Mulai Investasi Langsung di Arab Saudi

Setelah melalui sejumlah simulasi, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memutuskan, pergerakan JCH Indonesia dari Arafah ke Muzdalifah dilakukan secara bersama-sama. Setelah wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah (15 Juni, red) yang berakhir jelang petang, semua jemaah bergerak menuju Muzdalifah pada pukul 19.00.

Para jemaah yang ikut murur (mabit/bermalam) hanya melintas sejenak di Muzdalifah, lalu melanjutkan perjalanannya dengan bus ke Mina untuk persiapan lempar jumrah. Sedangkan jemaah yang mengikuti skema regular akan bermalam sejenak di Muzdalifah. Semua jemaah sudah harus tiba di Mina pada 10 Zulhijjah pukul 08.30 waktu setempat.

”Skema ini berbeda dengan rencana awal. Sebelumnya, rencananya jemaah murur diberangkatkan terlebih dulu,” jelas Subhan. Selain itu, untuk menghindari potensi terjadinya antrean pergerakan dari Arafah menuju Muzdalifah-Mina, Kemenag dan penyedia transportasi Arab Saudi sepakat untuk menambah armada bus. Dari awalnya tujuh unit per maktab menjadi 10 unit bus.

Seperti diketahui, tahun ini, pemerintah menerapkan skema murur untuk pergerakan jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah-Mina. Di mana, sebagian JCH Indonesia tidak bermalam di Muzdalifah. Melainkan hanya melintas saja, lalu berangkat langsung ke Mina. Skema ini rencananya diikuti 55 ribu dari 241 ribu JCH Indonesia. Prioritasnya untuk para jemaah lansia dan risti.

Hingga Ahad (9/6), tercatat sebanyak 32 ribu JCH Indonesia yang mendaftar untuk skema murur. Diperkirakan, jumlah ini masih akan terus bertambah. Selain murur, Kemenag RI juga menerapkan skema tanazul bagi jemaah yang sudah berada di Mina untuk pelaksanaan ibadah lempar jumrah di Kawasan Jamarat.

Lewat skema tanazul ini, sebagian jemaah tidak perlu menginap di tenda-tenda yang ada di Mina. Mereka diarahkan untuk menginap di hotel, lalu diantar lagi ke jamarat untuk lempar jumrah sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Untuk fasilitasi pelaksanaan tanazul, Kemenag sudah berkoordinasi dengan penyedia layanan haji Arab Saudi terkait persiapan konsumsi, akomodasi, hingga transportasi bagi jemaah.(ilo/ris/oni/jog/das)

Laporan JPG, Pekanbaru






Reporter: Redaksi Riau Pos Riau Pos

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Jemaah calon haji (JCH) Riau perlu mempersiapkan diri secara ekstra menghadapi cuaca panas di Makkah. Ahad (9/6), dilaporkan cuaca di Tanah Suci sangat panas yang mencapai 41 derajat celsius. JCH yang tidak kuat telah disarankan untuk salat di masjid dekat hotel.

“Jemaah yang kuat dipersilakan beribadah ke Masjidilharam dengan tetap menjaga kesehatan karena cuaca di Kota Makkah 41 derajat, cukup panas. Jemaah yang tidak kuat dipersilakan untuk beribadah di masjid atau mushala sekitaran hotel,” ujar Ketua Kloter 12 BTH Amri Fitri, Ahad (9/6).

JCH, khususnya yang lanjut usia (lansia), juga diimbau untuk menjaga kesehatan agar bisa menjalankan semua tahapan dan rangkaian haji dengan lancar saat puncak haji. ‘’Kami juga mengedukasi jemaah untuk tetap menjaga kesehatan menjelang nanti puncak pelaksanaan ibadah haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina),’’ ujarnya.

Otoritas Arab Saudi memprediksi suhu rata-rata selama puncak Ibadah Haji 2024 di Makkah bisa menembus angka 48 derajat celsius. “Suhu yang diprediksi untuk ibadah haji tahun ini meningkat satu setengah hingga dua derajat di atas suhu normal di Makkah dan Madinah,” kata Kepala Pusat Meteorologi Nasional Saudi, Ayman Ghulam, dikutip The National News.

Ghulam mengatakan suhu udara di siang hari bisa mencapai puncaknya, yakni 48 derajat Celsius. “Kami memperkirakan kelembapan relatif pada 25 persen. Meskipun prakiraan hujan relatif rendah hampir sepanjang hari, namun ada prakiraan hujan lebat di dataran tinggi Taif,” ujarnya.

Badan meteorologi juga menyebutkan kemungkinan curah hujan selama musim haji sebesar 60 persen. Otoritas pelaksana haji di Saudi telah mengambil langkah-langkah preventif untuk mengurangi dampak panas, seperti menyediakan tenda dengan pendingin udara. “Kami juga menyediakan keperluan air dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi konsumsi sehari-hari, seiring meningkatnya suhu,” ungkap Ghulam.

Dia juga mengimbau jemaah haji untuk menyimpan makanan di dalam lemari es agar tidak rusak. Pekan ini, otoritas setempat juga mengimbau agar pelaksanaan Salat Jumat beserta khotbah selama musim haji dipersingkat karena suhu panas ekstrem.

Baca Juga:  Menag  Baru: Agama Sebisa Mungkin Tak Jadi Alat Politik 

Ketua Urusan Keagamaan di Masjidilharam dan Masjid Nabawi, Abdurrahman as-Sudais telah memberikan arahan ini kepada para imam dan khatib di Masjidilharam dan Masjid Nabawi.

“Kepada yang terhormat para imam dan khatib di Masjidilharam dan Masjid Nabawi agar mempersingkat khotbah dan Salat Jumat pada hari-hari Jumat di musim haji ini. Demikian itu, karena melihat jumlah tamu Allah yang hadir di Dua Masjid Suci ini yang mencapai jutaan jiwa,” demikian keterangan resmi otoritas Saudi, Jumat (7/6) lalu.

Pengumuman ini juga dikeluarkan lantaran mempertimbangkan jemaah yang salat di pelataran tawaf, lantai atap, dan halaman. “Ini merupakan bagian dari kemudahan, keringanan dan membendung kesulitan terhadap jamaah haji yang hadir di Baitullah dan shalat Jumat di Dua Masjid Suci ini,” demikian keterangan Saudi.

JCH Pelalawan Dikembalikan ke Kloter Asal
JCH Riau asal Pelalawan Nuriah Sitan dan Jani Karim dikembalikan ke kelompok terbang (kloter) awal yakni Kloter 12 BTH. Ketua Kloter 12 BTH Amri Fitri  mengatakan, kedua JCH ini sempat tertunda keberangkatan karena sakit dan harus dirujuk ke RSBP Batam.

Saat dikembalikan ke kloter awal tersebut, kondisi kedua JCH sudah dalam kondisi sehat. “Dua orang jemaah Kloter 12 BTH ini tertunda keberangkatannya karena waktu di Tanah Air, suami Ibu Nuriah harus dirujuk ke RSBP Batam karena sakit,” ujarnya, Ahad (9/6).

“Jemaah ini kemudian diberangkatkan bersama Kloter 13 BTH. Setelah kami usulkan pengembaliannya ke kloter awal, hari ini (kemarin, red) Ibu Nuriah Sitan dan  Pak Jani Karim sudah bergabung dengan kloter asalnya,” sambungnya.

Jelang pelaksanaan puncak haji, Kemenag menyusun jadwal pemberangkatan JCH dari Arafah menuju Muzdalifah hingga Mina. Penyusunan jadwal ini tidak lepas kejadian musim haji tahun lalu. Waktu itu, JCH Indonesia mengalami keterlambatan saat berangkat dari Muzdalifah ke Mina.

”Terkait (skema pergerakan jemaah) ini, kami sudah berdiskusi dengan semua pihak di Arab Saudi. Melakukan simulasi yang tepat untuk mengantisipasi kepadatan jemaah (saat pergerakan dari Arafah hingga Mina),” kata Direktur Layanan Haji Luar Negeri Kemenag RI Subchan Chalid, Ahad (9/6).

Baca Juga:  BPKH Mulai Investasi Langsung di Arab Saudi

Setelah melalui sejumlah simulasi, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memutuskan, pergerakan JCH Indonesia dari Arafah ke Muzdalifah dilakukan secara bersama-sama. Setelah wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah (15 Juni, red) yang berakhir jelang petang, semua jemaah bergerak menuju Muzdalifah pada pukul 19.00.

Para jemaah yang ikut murur (mabit/bermalam) hanya melintas sejenak di Muzdalifah, lalu melanjutkan perjalanannya dengan bus ke Mina untuk persiapan lempar jumrah. Sedangkan jemaah yang mengikuti skema regular akan bermalam sejenak di Muzdalifah. Semua jemaah sudah harus tiba di Mina pada 10 Zulhijjah pukul 08.30 waktu setempat.

”Skema ini berbeda dengan rencana awal. Sebelumnya, rencananya jemaah murur diberangkatkan terlebih dulu,” jelas Subhan. Selain itu, untuk menghindari potensi terjadinya antrean pergerakan dari Arafah menuju Muzdalifah-Mina, Kemenag dan penyedia transportasi Arab Saudi sepakat untuk menambah armada bus. Dari awalnya tujuh unit per maktab menjadi 10 unit bus.

Seperti diketahui, tahun ini, pemerintah menerapkan skema murur untuk pergerakan jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah-Mina. Di mana, sebagian JCH Indonesia tidak bermalam di Muzdalifah. Melainkan hanya melintas saja, lalu berangkat langsung ke Mina. Skema ini rencananya diikuti 55 ribu dari 241 ribu JCH Indonesia. Prioritasnya untuk para jemaah lansia dan risti.

Hingga Ahad (9/6), tercatat sebanyak 32 ribu JCH Indonesia yang mendaftar untuk skema murur. Diperkirakan, jumlah ini masih akan terus bertambah. Selain murur, Kemenag RI juga menerapkan skema tanazul bagi jemaah yang sudah berada di Mina untuk pelaksanaan ibadah lempar jumrah di Kawasan Jamarat.

Lewat skema tanazul ini, sebagian jemaah tidak perlu menginap di tenda-tenda yang ada di Mina. Mereka diarahkan untuk menginap di hotel, lalu diantar lagi ke jamarat untuk lempar jumrah sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Untuk fasilitasi pelaksanaan tanazul, Kemenag sudah berkoordinasi dengan penyedia layanan haji Arab Saudi terkait persiapan konsumsi, akomodasi, hingga transportasi bagi jemaah.(ilo/ris/oni/jog/das)

Laporan JPG, Pekanbaru






Reporter: Redaksi Riau Pos Riau Pos
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari