Senin, 9 Februari 2026
- Advertisement -

Populasi Sapi Indonesia Terancam, Ini Penyebabnya

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Indonesia terancam mengalami penurunan populasi sapi karena berkurangnya impor dari Australia. Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menilai hal tersebut lantaran produksi dalam negeri belum bisa mengimbangi peningkatan konsumsi.

Dengan permintaan yang tinggi, pemotongan sapi produktif atau sapi betina di dalam negeri juga akan meningkat. Ujung-ujungnya, peternakan di Indonesia akan sulit mendapatkan bibit sapi baru untuk dibesarkan.

"Dalam jangka pendek saya kira memang harus ada upaya mengisi kekurangan sapi dari Australia segera, apa pun konsekuensinya. Termasuk harganya barangkali akan sangat mahal," ujarnya dalam webinar yang digelar Cattle Buffalo Club, Jakarta, Rabu (9/6/2021).

Menurut Khudori, selain mencari alternatif impor lain selain Australia, dalam jangka pendek pemerintah juga diharapkan tak membuat kebijakan yang melawan mekanisme pasar dan membuat pelaku usaha merugi.

Baca Juga:  Tampil Memukau dan Terbaru, SUV New MG ZS, Ini Perubahannya

Sementara dalam jangka menengah panjang, pemerintah harus mentransformasi struktur usaha di Indonesia yang masih bergantung pada peternak kecil menjadi peternak berorientasi bisnis.

Strategi lainnya adalah mengembangkan peternakan peternakan sapi potong terutama dari rumah breeding lokal.

Ini bisa dilakukan dengan pemanfaatan eks lahan tambang dan integrasi sawit-sapi. Ia menyebutkan jumlah lahan kebun sawit Indonesia yang mencapai 16 juta hektar memiliki potensi breeding farm yang besar.

"Potensinya bisa mencapai 16 juta induk sapi betina dengan potensi 16 juta pedet atau anakan sapi," jelasnya.

Hal serupa diungkapkan Ketua Umum Komunitas Sapi Indonesia (KSI) Budi Yono. Menurutnya, saat ini Indonesia tak memiliki rumah breeding atau pembibitan sapi yang mampu menghasilkan sapi bakalan.

Baca Juga:  Handphone Sultan, Samsung Galaxy S20 Ultra Tembus Rp570 Jutaan

"Pengembangan rumah breeding di Kalimantan, di Sumatera sudah dimulai, tapi belum bisa memenuhi bakalan di Jawa. Malah mereka mengambil bakalan dari Jawa," jelasnya.

Jika hal ini terus dibiarkan tanpa solusi, kata Budi Yono, Indonesia tak akan bisa mencapai swasembada daging melainkan mengalami defisit berkepanjangan.

"Kita ini tidak ada industri breeding yang bisa mencakup atau membuat populasi sapi bertambah baik. Kita tidak mungkin swasembada kalau enggak ada industri breeding dari mana sumber sapinya," jelas Budi.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Indonesia terancam mengalami penurunan populasi sapi karena berkurangnya impor dari Australia. Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menilai hal tersebut lantaran produksi dalam negeri belum bisa mengimbangi peningkatan konsumsi.

Dengan permintaan yang tinggi, pemotongan sapi produktif atau sapi betina di dalam negeri juga akan meningkat. Ujung-ujungnya, peternakan di Indonesia akan sulit mendapatkan bibit sapi baru untuk dibesarkan.

"Dalam jangka pendek saya kira memang harus ada upaya mengisi kekurangan sapi dari Australia segera, apa pun konsekuensinya. Termasuk harganya barangkali akan sangat mahal," ujarnya dalam webinar yang digelar Cattle Buffalo Club, Jakarta, Rabu (9/6/2021).

Menurut Khudori, selain mencari alternatif impor lain selain Australia, dalam jangka pendek pemerintah juga diharapkan tak membuat kebijakan yang melawan mekanisme pasar dan membuat pelaku usaha merugi.

Baca Juga:  Empat Rumah Terbakar, Satu Tewas

Sementara dalam jangka menengah panjang, pemerintah harus mentransformasi struktur usaha di Indonesia yang masih bergantung pada peternak kecil menjadi peternak berorientasi bisnis.

- Advertisement -

Strategi lainnya adalah mengembangkan peternakan peternakan sapi potong terutama dari rumah breeding lokal.

Ini bisa dilakukan dengan pemanfaatan eks lahan tambang dan integrasi sawit-sapi. Ia menyebutkan jumlah lahan kebun sawit Indonesia yang mencapai 16 juta hektar memiliki potensi breeding farm yang besar.

- Advertisement -

"Potensinya bisa mencapai 16 juta induk sapi betina dengan potensi 16 juta pedet atau anakan sapi," jelasnya.

Hal serupa diungkapkan Ketua Umum Komunitas Sapi Indonesia (KSI) Budi Yono. Menurutnya, saat ini Indonesia tak memiliki rumah breeding atau pembibitan sapi yang mampu menghasilkan sapi bakalan.

Baca Juga:  Inhu Siapkan Rp90,2 M untuk Skenario Terburuk Dampak Corona

"Pengembangan rumah breeding di Kalimantan, di Sumatera sudah dimulai, tapi belum bisa memenuhi bakalan di Jawa. Malah mereka mengambil bakalan dari Jawa," jelasnya.

Jika hal ini terus dibiarkan tanpa solusi, kata Budi Yono, Indonesia tak akan bisa mencapai swasembada daging melainkan mengalami defisit berkepanjangan.

"Kita ini tidak ada industri breeding yang bisa mencakup atau membuat populasi sapi bertambah baik. Kita tidak mungkin swasembada kalau enggak ada industri breeding dari mana sumber sapinya," jelas Budi.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Indonesia terancam mengalami penurunan populasi sapi karena berkurangnya impor dari Australia. Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menilai hal tersebut lantaran produksi dalam negeri belum bisa mengimbangi peningkatan konsumsi.

Dengan permintaan yang tinggi, pemotongan sapi produktif atau sapi betina di dalam negeri juga akan meningkat. Ujung-ujungnya, peternakan di Indonesia akan sulit mendapatkan bibit sapi baru untuk dibesarkan.

"Dalam jangka pendek saya kira memang harus ada upaya mengisi kekurangan sapi dari Australia segera, apa pun konsekuensinya. Termasuk harganya barangkali akan sangat mahal," ujarnya dalam webinar yang digelar Cattle Buffalo Club, Jakarta, Rabu (9/6/2021).

Menurut Khudori, selain mencari alternatif impor lain selain Australia, dalam jangka pendek pemerintah juga diharapkan tak membuat kebijakan yang melawan mekanisme pasar dan membuat pelaku usaha merugi.

Baca Juga:  Inhu Siapkan Rp90,2 M untuk Skenario Terburuk Dampak Corona

Sementara dalam jangka menengah panjang, pemerintah harus mentransformasi struktur usaha di Indonesia yang masih bergantung pada peternak kecil menjadi peternak berorientasi bisnis.

Strategi lainnya adalah mengembangkan peternakan peternakan sapi potong terutama dari rumah breeding lokal.

Ini bisa dilakukan dengan pemanfaatan eks lahan tambang dan integrasi sawit-sapi. Ia menyebutkan jumlah lahan kebun sawit Indonesia yang mencapai 16 juta hektar memiliki potensi breeding farm yang besar.

"Potensinya bisa mencapai 16 juta induk sapi betina dengan potensi 16 juta pedet atau anakan sapi," jelasnya.

Hal serupa diungkapkan Ketua Umum Komunitas Sapi Indonesia (KSI) Budi Yono. Menurutnya, saat ini Indonesia tak memiliki rumah breeding atau pembibitan sapi yang mampu menghasilkan sapi bakalan.

Baca Juga:  Di Tengah Terik Matahari dan Hujan, Tak Surutkan Antusias Warga Divaksin

"Pengembangan rumah breeding di Kalimantan, di Sumatera sudah dimulai, tapi belum bisa memenuhi bakalan di Jawa. Malah mereka mengambil bakalan dari Jawa," jelasnya.

Jika hal ini terus dibiarkan tanpa solusi, kata Budi Yono, Indonesia tak akan bisa mencapai swasembada daging melainkan mengalami defisit berkepanjangan.

"Kita ini tidak ada industri breeding yang bisa mencakup atau membuat populasi sapi bertambah baik. Kita tidak mungkin swasembada kalau enggak ada industri breeding dari mana sumber sapinya," jelas Budi.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari