Minggu, 30 November 2025
spot_img

Indonesia Masuk Tahap Ekspansi e-Commerce

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Industri niaga elektronik atau biasa disebut e-commerce secara global masih dikuasai oleh regional Asia Timur. Tiga negara di wilayah tersebut menyumbang nilai konsumsi e-commerce terbesar, baik di Asia Pasifik maupun seluruh dunia.

Managing Director, Global E-Commerce, AnyMind Group Akinori Kubo mengatakan, peran Asia Timur bagi industri global tak bisa diingkari. Merujuk survei Euromonitor Internasional, negara Cina, Jepang, dan Korea Selatan menyerap 87 persen dari nilai penjualan e-commerce. ”Secara global, nilai e-commerce tiga negara tersebut juga menyerap 40 persen,” ujar Kubo dalam keterangannya, kemarin (7/10).

Dia mengatakan, perkiraan ukuran pasar dari tiga negara tersebut mencapai 4,2 triliun dolar AS. Namun, ketiga negara tersebut punya tren yang berbeda. Di Cina, konsumen terbiasa dengan perbandingan harga. Sehingga, pembelian dari konsumen e-commerce biasanya didorong oleh diskon dari brand.

Di sisi lain, konsumen Jepang justru menghargai benefit dari loyalitas mereka. Karena itu, mereka biasanya bakal terdorong belanja sambil mengumpulkan poin. ”Sebagai contoh, Rakuten Group di Jepang telah membentuk ekosistem Rakuten dengan tingkat loyalitas konsumen yang tinggi,” ungkapnya.

Baca Juga:  Seorang Petani di Inhu Laporkan Anak ke Polisi, Ini Masalahnya

Pasar Korea Selatan juga berbeda. Penjualan e-commerce di negara tersebut didominasi oleh platform e-commerce lokal. Mereka punya pikiran yang sempit sehingga susah berganti, baik soal brand maupun soal platform e-commerce. Di sisi lain, konsumen di Taiwan sangat menyukai gratis ongkos kirim. Mereka bahkan rela untuk membeli barang lebih banyak untuk bisa mencapai batas ongkos kirim.

Platform favorit di negara masing-masing pun berbeda. Secara umum, model usaha omni-channel, mobile-first, dan social commerce menjadi fokus utama. Misalnya, pasar e-commerce di Jepang dan Taiwan yang masih mengandalkan jaringan ritel fisik. Brand pun biasanya merancang situs toko resmi meski sudah masuk ke platform e-commerce.

Hal itu berbeda dengan platform e-commerce di Cina yang menjadi lebih bebas. Di negara tersebut, potensi social commerce justru berkempang pesat. Sehingga membuat konsumen bisa belanja berbagai barang tanpa harus keluar dari halaman media sosial.

Baca Juga:  RS Awal Bros Produksi APD

Anymind sebelumnya sudah meluncurkan studi e-commerce Asia Tenggara. Dia mengatakan, ekonomi digital di Asia tenggara bisa mencapai 330 miliar dolar AS pada 2025. Sementara, nilai e-commerce di Indonesia diproyeksikan mencapai 86,1 miliar dolar AS pada 2028. ”Pada 2022, nilai penjualan e-commerce Indonesia sendiri menyerap 52 persen dari total industri di Asia Tenggara,” imbuhnya.

Indonesia dianggap sudah masuk dalam tahap ekspansi bersama industri di Malaysia dan Thailand. Sedangkan, Filipina dan Vietnam masih dalam tahap industri berkembang. Satu-satunya yang sudah matang adalah Singapura.

Di Indonesia, sudah terjadi integrasi antara belanja online dan offline di banyak platform e-commerce. Karena itu, perilaku konsumen kini mulai mencari kenyamanan dengan fitur kurir sehari sampai atau mencari toko yang dekat dengan lokasi mereka. ”Secara garis besar, konsumen e-commerce di Asia Tenggara memang berfokus pada platform di ponsel yang lebih fokus pada personalisasi tiap konsumen. Namun, memang ada beberapa perbedaan dalam preferensi di setiap negara,” ungkapnya.(rul)

Laporan JPG, Jakarta

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Industri niaga elektronik atau biasa disebut e-commerce secara global masih dikuasai oleh regional Asia Timur. Tiga negara di wilayah tersebut menyumbang nilai konsumsi e-commerce terbesar, baik di Asia Pasifik maupun seluruh dunia.

Managing Director, Global E-Commerce, AnyMind Group Akinori Kubo mengatakan, peran Asia Timur bagi industri global tak bisa diingkari. Merujuk survei Euromonitor Internasional, negara Cina, Jepang, dan Korea Selatan menyerap 87 persen dari nilai penjualan e-commerce. ”Secara global, nilai e-commerce tiga negara tersebut juga menyerap 40 persen,” ujar Kubo dalam keterangannya, kemarin (7/10).

Dia mengatakan, perkiraan ukuran pasar dari tiga negara tersebut mencapai 4,2 triliun dolar AS. Namun, ketiga negara tersebut punya tren yang berbeda. Di Cina, konsumen terbiasa dengan perbandingan harga. Sehingga, pembelian dari konsumen e-commerce biasanya didorong oleh diskon dari brand.

Di sisi lain, konsumen Jepang justru menghargai benefit dari loyalitas mereka. Karena itu, mereka biasanya bakal terdorong belanja sambil mengumpulkan poin. ”Sebagai contoh, Rakuten Group di Jepang telah membentuk ekosistem Rakuten dengan tingkat loyalitas konsumen yang tinggi,” ungkapnya.

Baca Juga:  PBNU: Banyak Kiai Kecewa Jokowi Pilih Fachrul Razi Jadi Menteri Agama

Pasar Korea Selatan juga berbeda. Penjualan e-commerce di negara tersebut didominasi oleh platform e-commerce lokal. Mereka punya pikiran yang sempit sehingga susah berganti, baik soal brand maupun soal platform e-commerce. Di sisi lain, konsumen di Taiwan sangat menyukai gratis ongkos kirim. Mereka bahkan rela untuk membeli barang lebih banyak untuk bisa mencapai batas ongkos kirim.

- Advertisement -

Platform favorit di negara masing-masing pun berbeda. Secara umum, model usaha omni-channel, mobile-first, dan social commerce menjadi fokus utama. Misalnya, pasar e-commerce di Jepang dan Taiwan yang masih mengandalkan jaringan ritel fisik. Brand pun biasanya merancang situs toko resmi meski sudah masuk ke platform e-commerce.

Hal itu berbeda dengan platform e-commerce di Cina yang menjadi lebih bebas. Di negara tersebut, potensi social commerce justru berkempang pesat. Sehingga membuat konsumen bisa belanja berbagai barang tanpa harus keluar dari halaman media sosial.

- Advertisement -
Baca Juga:  RS Awal Bros Produksi APD

Anymind sebelumnya sudah meluncurkan studi e-commerce Asia Tenggara. Dia mengatakan, ekonomi digital di Asia tenggara bisa mencapai 330 miliar dolar AS pada 2025. Sementara, nilai e-commerce di Indonesia diproyeksikan mencapai 86,1 miliar dolar AS pada 2028. ”Pada 2022, nilai penjualan e-commerce Indonesia sendiri menyerap 52 persen dari total industri di Asia Tenggara,” imbuhnya.

Indonesia dianggap sudah masuk dalam tahap ekspansi bersama industri di Malaysia dan Thailand. Sedangkan, Filipina dan Vietnam masih dalam tahap industri berkembang. Satu-satunya yang sudah matang adalah Singapura.

Di Indonesia, sudah terjadi integrasi antara belanja online dan offline di banyak platform e-commerce. Karena itu, perilaku konsumen kini mulai mencari kenyamanan dengan fitur kurir sehari sampai atau mencari toko yang dekat dengan lokasi mereka. ”Secara garis besar, konsumen e-commerce di Asia Tenggara memang berfokus pada platform di ponsel yang lebih fokus pada personalisasi tiap konsumen. Namun, memang ada beberapa perbedaan dalam preferensi di setiap negara,” ungkapnya.(rul)

Laporan JPG, Jakarta

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Industri niaga elektronik atau biasa disebut e-commerce secara global masih dikuasai oleh regional Asia Timur. Tiga negara di wilayah tersebut menyumbang nilai konsumsi e-commerce terbesar, baik di Asia Pasifik maupun seluruh dunia.

Managing Director, Global E-Commerce, AnyMind Group Akinori Kubo mengatakan, peran Asia Timur bagi industri global tak bisa diingkari. Merujuk survei Euromonitor Internasional, negara Cina, Jepang, dan Korea Selatan menyerap 87 persen dari nilai penjualan e-commerce. ”Secara global, nilai e-commerce tiga negara tersebut juga menyerap 40 persen,” ujar Kubo dalam keterangannya, kemarin (7/10).

Dia mengatakan, perkiraan ukuran pasar dari tiga negara tersebut mencapai 4,2 triliun dolar AS. Namun, ketiga negara tersebut punya tren yang berbeda. Di Cina, konsumen terbiasa dengan perbandingan harga. Sehingga, pembelian dari konsumen e-commerce biasanya didorong oleh diskon dari brand.

Di sisi lain, konsumen Jepang justru menghargai benefit dari loyalitas mereka. Karena itu, mereka biasanya bakal terdorong belanja sambil mengumpulkan poin. ”Sebagai contoh, Rakuten Group di Jepang telah membentuk ekosistem Rakuten dengan tingkat loyalitas konsumen yang tinggi,” ungkapnya.

Baca Juga:  Ribuan Orang di Jerman Dikarantina

Pasar Korea Selatan juga berbeda. Penjualan e-commerce di negara tersebut didominasi oleh platform e-commerce lokal. Mereka punya pikiran yang sempit sehingga susah berganti, baik soal brand maupun soal platform e-commerce. Di sisi lain, konsumen di Taiwan sangat menyukai gratis ongkos kirim. Mereka bahkan rela untuk membeli barang lebih banyak untuk bisa mencapai batas ongkos kirim.

Platform favorit di negara masing-masing pun berbeda. Secara umum, model usaha omni-channel, mobile-first, dan social commerce menjadi fokus utama. Misalnya, pasar e-commerce di Jepang dan Taiwan yang masih mengandalkan jaringan ritel fisik. Brand pun biasanya merancang situs toko resmi meski sudah masuk ke platform e-commerce.

Hal itu berbeda dengan platform e-commerce di Cina yang menjadi lebih bebas. Di negara tersebut, potensi social commerce justru berkempang pesat. Sehingga membuat konsumen bisa belanja berbagai barang tanpa harus keluar dari halaman media sosial.

Baca Juga:  Demo Dukung Revisi Rusuh, Massa Aksi Copot Kain Hitam di Logo KPK

Anymind sebelumnya sudah meluncurkan studi e-commerce Asia Tenggara. Dia mengatakan, ekonomi digital di Asia tenggara bisa mencapai 330 miliar dolar AS pada 2025. Sementara, nilai e-commerce di Indonesia diproyeksikan mencapai 86,1 miliar dolar AS pada 2028. ”Pada 2022, nilai penjualan e-commerce Indonesia sendiri menyerap 52 persen dari total industri di Asia Tenggara,” imbuhnya.

Indonesia dianggap sudah masuk dalam tahap ekspansi bersama industri di Malaysia dan Thailand. Sedangkan, Filipina dan Vietnam masih dalam tahap industri berkembang. Satu-satunya yang sudah matang adalah Singapura.

Di Indonesia, sudah terjadi integrasi antara belanja online dan offline di banyak platform e-commerce. Karena itu, perilaku konsumen kini mulai mencari kenyamanan dengan fitur kurir sehari sampai atau mencari toko yang dekat dengan lokasi mereka. ”Secara garis besar, konsumen e-commerce di Asia Tenggara memang berfokus pada platform di ponsel yang lebih fokus pada personalisasi tiap konsumen. Namun, memang ada beberapa perbedaan dalam preferensi di setiap negara,” ungkapnya.(rul)

Laporan JPG, Jakarta

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari