Jumat, 4 April 2025
spot_img

Tidak Hanya Ritual Keagamaan, Ini 4 Dimensi Ibadah Haji

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi menghadiri Nadwah Al-Haj Al-Akbar atau Simposium Haji Akbar 1443 Hijriah di Makkah, Arab Saudi. Simposium ini digelar oleh Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi. Hadir dalam kegiatan ini Gubernur Makkah, Amir Khalid bin Faisal al-Saud.

Zainut mengatakan, haji tidak semata ritual keagamaan. Lebih dari itu, ibadah haji mengandung makna dan fungsi yang bisa dikontribusikan kepada dunia.

Setidaknya ada empat dimensi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pertama, dimensi spiritual ibadah haji yang menekankan pentingnya sikap kesalihan pribadi seorang Muslim untuk menjadi sosok yang bertakwa dan selalu mengingat Allah SWT, serta mentaati perintah dan larangan-Nya.

Baca Juga:  Diduga Makan Suap, Mantan Pejabat Ditjen Pajak Ajukan Praperadilan

Kedua, dimensi persaudaraan (ukhuwwah) ibadah haji yang menekankan kebersamaan dan kerjasama untuk saling membantu dan saling menolong (ta’awun) dalam kebaikan.

“Kerja sama ini, tentu tidak hanya terbatas kepada kerja sama antar individu melainkan juga antarkomunitas, organisasi dan antarnegara-negara penyelenggara perjalanan ibadah haji,” kata Zainut, Rabu (6/7/2022).

Ketiga, dimensi ekonomi, ibadah haji yang menekankan pentingnya memberikan kemasalahatan lebih kepada umat manusia dengan berbagai aktivitas ekonomi. Wamenag berharap aktivitas ekonomi dalam bentuk perdagangan (tijarah), jual beli, dan export-import komoditas kebutuhan jemaah haji antarnegara-negara Muslim semakin meningkat di masa akan datang.

“Seharusnya haji dapat menjadi wasilah untuk meningkatkan kerja sama ekonomi bagi negara-negara muslim,” jelasnya.

Baca Juga:  Protokol Kesehatan Diterapkan

Keempat, dimensi sosial-kemanusiaan ibadah haji. Hal ini kata Wamenag, direfleksikan dengan pemotongan hewan kurban ataupun hadyu (sembelihan) yang harus memiliki tata kelola yang baik (governance).

“Kemudian, daging-dagingnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan gizi keluarga tidak mampu di berbagai belahan dunia,” pungkasnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi menghadiri Nadwah Al-Haj Al-Akbar atau Simposium Haji Akbar 1443 Hijriah di Makkah, Arab Saudi. Simposium ini digelar oleh Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi. Hadir dalam kegiatan ini Gubernur Makkah, Amir Khalid bin Faisal al-Saud.

Zainut mengatakan, haji tidak semata ritual keagamaan. Lebih dari itu, ibadah haji mengandung makna dan fungsi yang bisa dikontribusikan kepada dunia.

Setidaknya ada empat dimensi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pertama, dimensi spiritual ibadah haji yang menekankan pentingnya sikap kesalihan pribadi seorang Muslim untuk menjadi sosok yang bertakwa dan selalu mengingat Allah SWT, serta mentaati perintah dan larangan-Nya.

Baca Juga:  Presiden Iran Keluarkan Peringatan untuk Pasukan Asing

Kedua, dimensi persaudaraan (ukhuwwah) ibadah haji yang menekankan kebersamaan dan kerjasama untuk saling membantu dan saling menolong (ta’awun) dalam kebaikan.

“Kerja sama ini, tentu tidak hanya terbatas kepada kerja sama antar individu melainkan juga antarkomunitas, organisasi dan antarnegara-negara penyelenggara perjalanan ibadah haji,” kata Zainut, Rabu (6/7/2022).

Ketiga, dimensi ekonomi, ibadah haji yang menekankan pentingnya memberikan kemasalahatan lebih kepada umat manusia dengan berbagai aktivitas ekonomi. Wamenag berharap aktivitas ekonomi dalam bentuk perdagangan (tijarah), jual beli, dan export-import komoditas kebutuhan jemaah haji antarnegara-negara Muslim semakin meningkat di masa akan datang.

“Seharusnya haji dapat menjadi wasilah untuk meningkatkan kerja sama ekonomi bagi negara-negara muslim,” jelasnya.

Baca Juga:  Bakal Mengeliat Perekonomian Indonesia Timur, Imbas Ibukota Pindah

Keempat, dimensi sosial-kemanusiaan ibadah haji. Hal ini kata Wamenag, direfleksikan dengan pemotongan hewan kurban ataupun hadyu (sembelihan) yang harus memiliki tata kelola yang baik (governance).

“Kemudian, daging-dagingnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan gizi keluarga tidak mampu di berbagai belahan dunia,” pungkasnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Tidak Hanya Ritual Keagamaan, Ini 4 Dimensi Ibadah Haji

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi menghadiri Nadwah Al-Haj Al-Akbar atau Simposium Haji Akbar 1443 Hijriah di Makkah, Arab Saudi. Simposium ini digelar oleh Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi. Hadir dalam kegiatan ini Gubernur Makkah, Amir Khalid bin Faisal al-Saud.

Zainut mengatakan, haji tidak semata ritual keagamaan. Lebih dari itu, ibadah haji mengandung makna dan fungsi yang bisa dikontribusikan kepada dunia.

Setidaknya ada empat dimensi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pertama, dimensi spiritual ibadah haji yang menekankan pentingnya sikap kesalihan pribadi seorang Muslim untuk menjadi sosok yang bertakwa dan selalu mengingat Allah SWT, serta mentaati perintah dan larangan-Nya.

Baca Juga:  Habib Rizieq Shihab Nikahkan Putrinya di Makkah

Kedua, dimensi persaudaraan (ukhuwwah) ibadah haji yang menekankan kebersamaan dan kerjasama untuk saling membantu dan saling menolong (ta’awun) dalam kebaikan.

“Kerja sama ini, tentu tidak hanya terbatas kepada kerja sama antar individu melainkan juga antarkomunitas, organisasi dan antarnegara-negara penyelenggara perjalanan ibadah haji,” kata Zainut, Rabu (6/7/2022).

Ketiga, dimensi ekonomi, ibadah haji yang menekankan pentingnya memberikan kemasalahatan lebih kepada umat manusia dengan berbagai aktivitas ekonomi. Wamenag berharap aktivitas ekonomi dalam bentuk perdagangan (tijarah), jual beli, dan export-import komoditas kebutuhan jemaah haji antarnegara-negara Muslim semakin meningkat di masa akan datang.

“Seharusnya haji dapat menjadi wasilah untuk meningkatkan kerja sama ekonomi bagi negara-negara muslim,” jelasnya.

Baca Juga:  Bakal Mengeliat Perekonomian Indonesia Timur, Imbas Ibukota Pindah

Keempat, dimensi sosial-kemanusiaan ibadah haji. Hal ini kata Wamenag, direfleksikan dengan pemotongan hewan kurban ataupun hadyu (sembelihan) yang harus memiliki tata kelola yang baik (governance).

“Kemudian, daging-dagingnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan gizi keluarga tidak mampu di berbagai belahan dunia,” pungkasnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi menghadiri Nadwah Al-Haj Al-Akbar atau Simposium Haji Akbar 1443 Hijriah di Makkah, Arab Saudi. Simposium ini digelar oleh Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi. Hadir dalam kegiatan ini Gubernur Makkah, Amir Khalid bin Faisal al-Saud.

Zainut mengatakan, haji tidak semata ritual keagamaan. Lebih dari itu, ibadah haji mengandung makna dan fungsi yang bisa dikontribusikan kepada dunia.

Setidaknya ada empat dimensi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pertama, dimensi spiritual ibadah haji yang menekankan pentingnya sikap kesalihan pribadi seorang Muslim untuk menjadi sosok yang bertakwa dan selalu mengingat Allah SWT, serta mentaati perintah dan larangan-Nya.

Baca Juga:  Koran Bekas "Disulap" Menjadi Kotak Tisu

Kedua, dimensi persaudaraan (ukhuwwah) ibadah haji yang menekankan kebersamaan dan kerjasama untuk saling membantu dan saling menolong (ta’awun) dalam kebaikan.

“Kerja sama ini, tentu tidak hanya terbatas kepada kerja sama antar individu melainkan juga antarkomunitas, organisasi dan antarnegara-negara penyelenggara perjalanan ibadah haji,” kata Zainut, Rabu (6/7/2022).

Ketiga, dimensi ekonomi, ibadah haji yang menekankan pentingnya memberikan kemasalahatan lebih kepada umat manusia dengan berbagai aktivitas ekonomi. Wamenag berharap aktivitas ekonomi dalam bentuk perdagangan (tijarah), jual beli, dan export-import komoditas kebutuhan jemaah haji antarnegara-negara Muslim semakin meningkat di masa akan datang.

“Seharusnya haji dapat menjadi wasilah untuk meningkatkan kerja sama ekonomi bagi negara-negara muslim,” jelasnya.

Baca Juga:  Sudah Bisa Umrah Tanpa Transit Per 1 Desember 2021

Keempat, dimensi sosial-kemanusiaan ibadah haji. Hal ini kata Wamenag, direfleksikan dengan pemotongan hewan kurban ataupun hadyu (sembelihan) yang harus memiliki tata kelola yang baik (governance).

“Kemudian, daging-dagingnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan gizi keluarga tidak mampu di berbagai belahan dunia,” pungkasnya.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari