Senin, 19 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Tahun Baru Problem Baru

Tahun baru, mungkin banyak orang menganggap sebagai harapan baru, resolusi baru, semangat baru dan lainnya. Boleh saja punya optimisme seperti itu. Apalagi, 2020 menjadi angka yang cukup spesial, terdapat dua kali angka dua puluh. Tapi, persoalan-persoalan baru pun muncul seiring hadirnya tahun baru.
Kenaikan BPJS kesehatan menjadi salah satu momok bagi kebanyakan rakyat, terutama rakyat kecil. Kenaikan yang mencapai 100 persen ini seperti menohok jantung mereka. Rencana kenaikan listrik yang kemudian ditunda tidak begitu banyak berpengaruh pada kehidupan. Sebab, pedagang sudah lebih dahulu menaikkan harga barang per tahun baru.
Tahun baru, optimisme baru. Begitu yang selalu muncul. Tapi begitu pesta kembang api usai, hujan pun mengguyur Indonesia. Hujan yang sangat deras. Hujan yang seharusnya menjadi penanda berkah malah menjadi bencana karena ketidakmampuan pengelolaan air, pekerjaan rumah yang tidak juga tuntas. 
Lalu banjir pun menyapa. Yang paling parah terjadi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Banjir besar melanda ibu kota dan daerah-daerah penyangganya. Dilaporkan banjir di berbagai tempat ini ada yang mencapai tiga meter, bahkan lima meter. Mereka yang memiliki rumah berlantai dua pun ada yang airnya melebihi lantai satu dan masuk ke lantai dua. Air yang mencapai bubung atap menjadi pemandangan biasa. Di Bekasi, air bah melanda dengan dahsyat. Kedahsyatan air bah ini bak tsunami yang membalikkan kendaraan roda empat. Kendaraan sampai bertumpuk usai dilanda air.
Sejak banjir melanda ibu kota dan sekitarnya, liputan media elektronik tidak berhenti. Breaking news beberapa televisi berita tak henti selama 24 jam tentang banjir. Memang, ibu kota seperti segalanya. Apa yang terjadi di ibu kota menjadi sangat penting. Padahal, banjir menjadi hal biasa di banyak wilayah di Indonesia. Seperti halnya mati listrik yang jika terjadi di tempat lain menjadi hal biasa, tapi jika di Jakarta menjadi luar biasa.
Media sosial juga banjir dengan komentar sana-sini, balas berbalas pantun, kritik dan kecaman. Banjir di dunia nyata berbanding lurus dengan di media sosial. Foto dan video berseliweran membanjiri jagat maya. Dari postingan bernada satir, menyindir, nyinyir, marah, hingga parodi dan komedi ada di media sosial. Belum lagi perdebatan soal konsep penanganan banjir, normalisasi atau naturalisasi sungai. Semuanya turut membanjiri wacana.
 Yang jelas, tahun baru kali ini memang beda. Banjir yang menjadi pembeda utamanya. Bukan banjir ide atau resolusi, tapi banjir kegaduhan dan keriuhan.***
Tahun baru, mungkin banyak orang menganggap sebagai harapan baru, resolusi baru, semangat baru dan lainnya. Boleh saja punya optimisme seperti itu. Apalagi, 2020 menjadi angka yang cukup spesial, terdapat dua kali angka dua puluh. Tapi, persoalan-persoalan baru pun muncul seiring hadirnya tahun baru.
Kenaikan BPJS kesehatan menjadi salah satu momok bagi kebanyakan rakyat, terutama rakyat kecil. Kenaikan yang mencapai 100 persen ini seperti menohok jantung mereka. Rencana kenaikan listrik yang kemudian ditunda tidak begitu banyak berpengaruh pada kehidupan. Sebab, pedagang sudah lebih dahulu menaikkan harga barang per tahun baru.
Tahun baru, optimisme baru. Begitu yang selalu muncul. Tapi begitu pesta kembang api usai, hujan pun mengguyur Indonesia. Hujan yang sangat deras. Hujan yang seharusnya menjadi penanda berkah malah menjadi bencana karena ketidakmampuan pengelolaan air, pekerjaan rumah yang tidak juga tuntas. 
Lalu banjir pun menyapa. Yang paling parah terjadi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Banjir besar melanda ibu kota dan daerah-daerah penyangganya. Dilaporkan banjir di berbagai tempat ini ada yang mencapai tiga meter, bahkan lima meter. Mereka yang memiliki rumah berlantai dua pun ada yang airnya melebihi lantai satu dan masuk ke lantai dua. Air yang mencapai bubung atap menjadi pemandangan biasa. Di Bekasi, air bah melanda dengan dahsyat. Kedahsyatan air bah ini bak tsunami yang membalikkan kendaraan roda empat. Kendaraan sampai bertumpuk usai dilanda air.
Sejak banjir melanda ibu kota dan sekitarnya, liputan media elektronik tidak berhenti. Breaking news beberapa televisi berita tak henti selama 24 jam tentang banjir. Memang, ibu kota seperti segalanya. Apa yang terjadi di ibu kota menjadi sangat penting. Padahal, banjir menjadi hal biasa di banyak wilayah di Indonesia. Seperti halnya mati listrik yang jika terjadi di tempat lain menjadi hal biasa, tapi jika di Jakarta menjadi luar biasa.
Media sosial juga banjir dengan komentar sana-sini, balas berbalas pantun, kritik dan kecaman. Banjir di dunia nyata berbanding lurus dengan di media sosial. Foto dan video berseliweran membanjiri jagat maya. Dari postingan bernada satir, menyindir, nyinyir, marah, hingga parodi dan komedi ada di media sosial. Belum lagi perdebatan soal konsep penanganan banjir, normalisasi atau naturalisasi sungai. Semuanya turut membanjiri wacana.
 Yang jelas, tahun baru kali ini memang beda. Banjir yang menjadi pembeda utamanya. Bukan banjir ide atau resolusi, tapi banjir kegaduhan dan keriuhan.***
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Tahun baru, mungkin banyak orang menganggap sebagai harapan baru, resolusi baru, semangat baru dan lainnya. Boleh saja punya optimisme seperti itu. Apalagi, 2020 menjadi angka yang cukup spesial, terdapat dua kali angka dua puluh. Tapi, persoalan-persoalan baru pun muncul seiring hadirnya tahun baru.
Kenaikan BPJS kesehatan menjadi salah satu momok bagi kebanyakan rakyat, terutama rakyat kecil. Kenaikan yang mencapai 100 persen ini seperti menohok jantung mereka. Rencana kenaikan listrik yang kemudian ditunda tidak begitu banyak berpengaruh pada kehidupan. Sebab, pedagang sudah lebih dahulu menaikkan harga barang per tahun baru.
Tahun baru, optimisme baru. Begitu yang selalu muncul. Tapi begitu pesta kembang api usai, hujan pun mengguyur Indonesia. Hujan yang sangat deras. Hujan yang seharusnya menjadi penanda berkah malah menjadi bencana karena ketidakmampuan pengelolaan air, pekerjaan rumah yang tidak juga tuntas. 
Lalu banjir pun menyapa. Yang paling parah terjadi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Banjir besar melanda ibu kota dan daerah-daerah penyangganya. Dilaporkan banjir di berbagai tempat ini ada yang mencapai tiga meter, bahkan lima meter. Mereka yang memiliki rumah berlantai dua pun ada yang airnya melebihi lantai satu dan masuk ke lantai dua. Air yang mencapai bubung atap menjadi pemandangan biasa. Di Bekasi, air bah melanda dengan dahsyat. Kedahsyatan air bah ini bak tsunami yang membalikkan kendaraan roda empat. Kendaraan sampai bertumpuk usai dilanda air.
Sejak banjir melanda ibu kota dan sekitarnya, liputan media elektronik tidak berhenti. Breaking news beberapa televisi berita tak henti selama 24 jam tentang banjir. Memang, ibu kota seperti segalanya. Apa yang terjadi di ibu kota menjadi sangat penting. Padahal, banjir menjadi hal biasa di banyak wilayah di Indonesia. Seperti halnya mati listrik yang jika terjadi di tempat lain menjadi hal biasa, tapi jika di Jakarta menjadi luar biasa.
Media sosial juga banjir dengan komentar sana-sini, balas berbalas pantun, kritik dan kecaman. Banjir di dunia nyata berbanding lurus dengan di media sosial. Foto dan video berseliweran membanjiri jagat maya. Dari postingan bernada satir, menyindir, nyinyir, marah, hingga parodi dan komedi ada di media sosial. Belum lagi perdebatan soal konsep penanganan banjir, normalisasi atau naturalisasi sungai. Semuanya turut membanjiri wacana.
 Yang jelas, tahun baru kali ini memang beda. Banjir yang menjadi pembeda utamanya. Bukan banjir ide atau resolusi, tapi banjir kegaduhan dan keriuhan.***

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari