Kamis, 26 Maret 2026
- Advertisement -

IPNU Deklarasi Tolak Radikalisme 

KOTA (RIAUPOS.CO) — Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Provinsi Riau melaksanakan Diskusi Kebangsaan Pelajar Riau dalam rangka menyambut Pilkada Serentak Tahun 2020 di Ball Room Hotel Evo Pekanbaru Selasa, (26/11), dan deklarasi menolak radikalisme.

Diskusi Kebangsaan Pelajar Riau ini menghadirkan dua narasumber ternama, yakni Dr H Panca Setyo Prihatin seorang pakar politik dan Hasan MSi yang merupakan salah satu komisioner Bawaslu Riau.

Kepada wartawan, Ketua IPNU Riau, Saddam Orbusti Ritonga, menyampaikan pemilu 2019 yang lalu menjadi alasan mengapa kegiatan ini dilaksanakan.  "Kita berkaca, kita belajar dari momen-momen politik beberapa waktu kebalakang. Perpecahan diantara kita sesama putra-putri bangsa yang hanya diakibatkan perbedaan pilihan politik tidak boleh terjadi lagi," harap Saddam.

Baca Juga:  52 Perusahaan Sudah Mendaftar

Dia menjelaskan, perbedaan pilihan dalam demokrasi adalah keniscayaan, namun perpecahan karena perbedaan itu merupakan hal bodoh. Itu tidak boleh terjadi.

Panca yang merupakan akademisi UIR menyampaikan beberapa hal penting, salah satunya adalah tentang esensi pelaksanaan pilkada dan sejarah kebangsaan Indonesia.

"Saya buka pembicaraan saya ini dengan sedikit menggugah sejarah. Bagaimana dulu kita atas dasar perbedaan suku, agama, ras kita bersatu menyatakan komitmen kebangsaan kita melalui Sumpah Pemuda," kata Panca.

Maka, kata Panca, perbedaan jangan malah menjadi sumber perpecahan, tapi harus menjadi kekuatan persatuan.  "Esensinya pilkada ini adalah untuk mendapatkan pemimpin daerah yang bisa memberikan kebaikan," tambahnya.

Sementara, Hasan, yang merupakan Komisioner Bawaslu Riau juga banyak menyinggung permasalahan politik identitas yang kerap terjadi di dalam momentum-momentum politik kita.

Baca Juga:  Kota Pekanbaru Nihil Penambahan Kasus Covid-19

"Rekan-rekan, sahabat-sahabat semua saya tahu kita semua adalah mahasiswa yang independen. Maka jadilah sebagai agen perubahan untuk melawan politik-politik yang dikampanyekan secara negatif," imbaunya.(gus)

KOTA (RIAUPOS.CO) — Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Provinsi Riau melaksanakan Diskusi Kebangsaan Pelajar Riau dalam rangka menyambut Pilkada Serentak Tahun 2020 di Ball Room Hotel Evo Pekanbaru Selasa, (26/11), dan deklarasi menolak radikalisme.

Diskusi Kebangsaan Pelajar Riau ini menghadirkan dua narasumber ternama, yakni Dr H Panca Setyo Prihatin seorang pakar politik dan Hasan MSi yang merupakan salah satu komisioner Bawaslu Riau.

Kepada wartawan, Ketua IPNU Riau, Saddam Orbusti Ritonga, menyampaikan pemilu 2019 yang lalu menjadi alasan mengapa kegiatan ini dilaksanakan.  "Kita berkaca, kita belajar dari momen-momen politik beberapa waktu kebalakang. Perpecahan diantara kita sesama putra-putri bangsa yang hanya diakibatkan perbedaan pilihan politik tidak boleh terjadi lagi," harap Saddam.

Baca Juga:  Data Penerima Bansos Membengkak

Dia menjelaskan, perbedaan pilihan dalam demokrasi adalah keniscayaan, namun perpecahan karena perbedaan itu merupakan hal bodoh. Itu tidak boleh terjadi.

Panca yang merupakan akademisi UIR menyampaikan beberapa hal penting, salah satunya adalah tentang esensi pelaksanaan pilkada dan sejarah kebangsaan Indonesia.

- Advertisement -

"Saya buka pembicaraan saya ini dengan sedikit menggugah sejarah. Bagaimana dulu kita atas dasar perbedaan suku, agama, ras kita bersatu menyatakan komitmen kebangsaan kita melalui Sumpah Pemuda," kata Panca.

Maka, kata Panca, perbedaan jangan malah menjadi sumber perpecahan, tapi harus menjadi kekuatan persatuan.  "Esensinya pilkada ini adalah untuk mendapatkan pemimpin daerah yang bisa memberikan kebaikan," tambahnya.

- Advertisement -

Sementara, Hasan, yang merupakan Komisioner Bawaslu Riau juga banyak menyinggung permasalahan politik identitas yang kerap terjadi di dalam momentum-momentum politik kita.

Baca Juga:  Agus Nonjob, Wako Jangan Buang Badan

"Rekan-rekan, sahabat-sahabat semua saya tahu kita semua adalah mahasiswa yang independen. Maka jadilah sebagai agen perubahan untuk melawan politik-politik yang dikampanyekan secara negatif," imbaunya.(gus)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

KOTA (RIAUPOS.CO) — Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Provinsi Riau melaksanakan Diskusi Kebangsaan Pelajar Riau dalam rangka menyambut Pilkada Serentak Tahun 2020 di Ball Room Hotel Evo Pekanbaru Selasa, (26/11), dan deklarasi menolak radikalisme.

Diskusi Kebangsaan Pelajar Riau ini menghadirkan dua narasumber ternama, yakni Dr H Panca Setyo Prihatin seorang pakar politik dan Hasan MSi yang merupakan salah satu komisioner Bawaslu Riau.

Kepada wartawan, Ketua IPNU Riau, Saddam Orbusti Ritonga, menyampaikan pemilu 2019 yang lalu menjadi alasan mengapa kegiatan ini dilaksanakan.  "Kita berkaca, kita belajar dari momen-momen politik beberapa waktu kebalakang. Perpecahan diantara kita sesama putra-putri bangsa yang hanya diakibatkan perbedaan pilihan politik tidak boleh terjadi lagi," harap Saddam.

Baca Juga:  PTPN V Salurkan 7.000 Paket Sembako Senilai Rp1 Miliar

Dia menjelaskan, perbedaan pilihan dalam demokrasi adalah keniscayaan, namun perpecahan karena perbedaan itu merupakan hal bodoh. Itu tidak boleh terjadi.

Panca yang merupakan akademisi UIR menyampaikan beberapa hal penting, salah satunya adalah tentang esensi pelaksanaan pilkada dan sejarah kebangsaan Indonesia.

"Saya buka pembicaraan saya ini dengan sedikit menggugah sejarah. Bagaimana dulu kita atas dasar perbedaan suku, agama, ras kita bersatu menyatakan komitmen kebangsaan kita melalui Sumpah Pemuda," kata Panca.

Maka, kata Panca, perbedaan jangan malah menjadi sumber perpecahan, tapi harus menjadi kekuatan persatuan.  "Esensinya pilkada ini adalah untuk mendapatkan pemimpin daerah yang bisa memberikan kebaikan," tambahnya.

Sementara, Hasan, yang merupakan Komisioner Bawaslu Riau juga banyak menyinggung permasalahan politik identitas yang kerap terjadi di dalam momentum-momentum politik kita.

Baca Juga:  Demokrat Ingin Pemisahan FSR setelah Pengesahan RAPBD 2022

"Rekan-rekan, sahabat-sahabat semua saya tahu kita semua adalah mahasiswa yang independen. Maka jadilah sebagai agen perubahan untuk melawan politik-politik yang dikampanyekan secara negatif," imbaunya.(gus)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari