PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Selasa (24/2), langit di atas Kota Pekanbaru masih tampak terang ketika deretan sepeda motor mulai memadati Jalan Cut Nyak Dhien pada sore hari.
Jarum jam baru menunjuk pukul 16.30 WIB. Namun suasana sudah berubah riuh. Aroma gorengan yang baru terangkat dari wajan bercampur dengan manisnya kolak serta wangi kue basah yang tersaji di atas meja-meja sederhana.
Di sepanjang sisi kiri jalan, puluhan stan berdiri berjejer. Tenda-tenda dengan meja tersebut seakan menjadi panggung utama Ramadan setiap sore.
Para pedagang sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Tangan mereka cekatan membungkus pesanan, menghitung uang, lalu kembali menyapa pelanggan berikutnya dengan senyum. “Biasanya ramai mulai setengah lima,” ujar Andi, seorang pedagang gorengan.
Ramadan menjadi momen yang selalu dinantikan. Dalam hitungan jam, dagangannya bisa habis terjual.
Pembeli datang dari berbagai penjuru Kota Pekanbaru. Ada yang singgah sepulang kerja masih mengenakan pakaian kantor. Ada pula ibu-ibu yang datang bersama anaknya, menunjuk aneka kue berwarna-warni di atas meja.
Sebagian memilih dengan cepat, sementara yang lain rela mengantre di stan yang paling ramai. Kendaraan roda dua mendominasi kawasan tersebut.
Sepeda motor terparkir memanjang di tepi jalan, menyisakan ruang sempit bagi kendaraan yang melintas. Para juru parkir terlihat sigap mengatur posisi motor agar tetap rapi. Sesekali mereka memberi isyarat kepada pengendara mobil untuk berjalan perlahan.
Bagi warga, berburu takjil di Jalan Cut Nyak Dhien bukan sekadar membeli makanan. Tradisi ini telah menjadi ritual sosial yang berulang setiap Ramadan.
Di sana, orang-orang bertemu, berbincang singkat, dan berbagi cerita sambil menunggu waktu berbuka. Di balik kepadatan dan kemacetan yang tak terhindarkan, denyut ekonomi kecil terus menggeliat. Para pedagang musiman pun meraup rezeki.(dof)

