Minggu, 23 Juni 2024

Ratusan Umat Hindu Arak Ogoh-Ogoh

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Ratusan umat Hindu di Kota Pekanbaru bersuka cita melangsungkan parade ogoh-ogoh, Ahad (10/3). Nantinya ogoh-ogoh dilakukan pembakaran di Pura Agung Jagatnatha, Jalan Rawa Mulya, Kecamatan Marpoyan Damai. Ini sebagai simbolisasi dari pemurnian dan pelepasan roh-roh jahat, membawa ketenangan dan kedamaian menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1946.

Pantauan Riau Pos di Pure Agung Jagatnatha, Ahad (10/3), sebelum melakukan arak-arakan terhadap dua ogoh-ogoh, ratusan umat Hindu, baik dewasa, remaja dan anak-anak melakukan ritual Buta Yadnya (Bhuta Yajna) yang merupakan rangkaian upacara untuk menghalau kehadiran buta kala yang merupakan manifestasi unsur-unsur negatif dalam kehidupan manusia di depan Pura Agung Jagatnatha Pekanbaru.

- Advertisement -

Tepat matahari mulai terbenam, kedua ogoh-ogoh tersebut langsung diarak di jalan protokol di Kota Pekanbaru yaitu dari Jalan Rawa Mulya menuju Jalan Jenderal Sudirman hingga ke Jalan Arifin Achmad.

Tepat di Simpang Tiga Bandara SSK II Pekanbaru, kedua ogoh-ogoh yang diarak melakukan prosesi memutar sebanyak tiga kali serta diiringi dengan suara musik gamelan dan teriakan dari para umat Hindu yang diangkat kurang lebih 20 orang pemuda Hindu yang mengenakan pakaian serba hitam khas Bali serta ditemani puluhan anak-anak yang membawa obor di bagian depan kedua ogoh-ogoh.

Setelah sampai di Jalan Rawa Mulya, patung ogoh-ogoh tersebut langsung dibakar dan disaksikan langsung oleh ribuan umat Hindu yang akan melakukan Nyepi pada, Senin (11/3) hari ini.

- Advertisement -

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinnsi Riau periode 2023 – 2028 Putu Senawa SAg kepada Riau Pos menjelaskan, dalam perayaan Nyepi ada banyak ritual yang harus dilakukan umat Hindu sebagai proses pemurnian diri dari berbagai sifat negatif.

Baca Juga:  DPRD Kebut Delapan Ranperda

Di mana beberapa hari yang lalu ratusan umat Hindu di Kota Pekanbaru telah melakukan Melasti atau kesucian diri di Danau Wisata Bandar Khayangan Lembah Sari, Rumbai.

Prosesi ini juga diikuti dengan pembersihan seluruh peralatan upacara sembahyang agar dalam melakukan Nyepi diberikan kesucian lahir dan batin.

”Prosesinya setiap tahun sama. Karena semua unsur yang ada harus dibersihkan agar saat kita mengikuti rangkaian upacara sembahyang tapaberata Nyepi diri kita sudah siap lahir
batin,” kata Putu Senawa SAg.

Bahkan, sehari jelang perayaan Nyepi umat Hindu di Pekanbaru juga melakukan tradisi Taur Kesanga yang merupakan satu rangkaian dari Hari Raya Nyepi yaitu Taur Agung Kesanga yang juga merupakan tanda ungkapan rasa syukur kepada tuhan dalam satu tahun ini beraktivitas di dunia sehingga saling menjaga keselarasan kehidupan.

Dalam ajaran Hindu dikenal istilah Tri Hita. Yakni bagaimana manusia menyelaraskan hubungan dengan Tuhan, hubungan sesama manusia dan hubungan dengan alam semesta. Kemudian pada malam harinya dilaksanakan upacara pengerupukan yang mana merupakan tradisi yang masih bertahan di Kota Pekanbaru.

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Ogoh-ogoh melambangkan elemen buruk yang harus dihancurkan dan membawa kembali unsur yang baik untuk lingkungan. Bentuk dan sosok ogoh-ogoh biasanya berukuran besar dan berbentuk menakutkan untuk menggambarkan sifat buruk yang ada di dunia.

Baca Juga:  Ops Ketupat Lancang Kuning Sukses, Irjen Iqbal Beri Penghargaan Personel

Ogoh-ogoh diarak keliling desa dengan membawa obor dan diiringi gamelan bleganjur. Belakangan ini ogoh-ogoh mengalami transformasi menyesuaikan jaman yaitu mulai memakai mesin sehingga badan ogoh-ogoh bisa digerakkan.

”Di tahun ini para remaja kita berhasil menyelesaikan dua ogoh-ogoh yang diarak-arak sebagai simbol agar roh-roh jahat tidak mengganggu para masyarakat Hindu yang juga memiliki makna untuk membersihkan alam, bersih dari umat Hindu,” ungkapnya.

Sementara itu, di keesok harinya Tahun Baru Saka umat Hindu di Pekanbaru akan dimulai dengan menyepi. Di mana semua aktivitas dan kegiatan ditiadakan. Pada hari Raya Nyepi umat Hindu melaksanakan Catur Brata atau penyepian yang terdiri dari amati geni yaitu tiada berapi-api atau tidak menggunakan dan atau menghidupkan api serta memasak. Proses Nyepi dimulai pukul 6 pagi hingga 24 jam kemudian karena Nyepi juga memberikan dampak positif pada lingkungan.

”Tahun ini kami sengaja melaksanakan prosesi arak-arakan lebih awal karena melihat cuaca di Kota Pekanbaru yang beberapa hari terakhir mengalami hujan. Saat arak-arakan kemarin dilakukan, hujan gerimis sempat terjadi namun berhenti setelah proses pembakaran ogoh-ogoh dilakukan,” jelasnya.

Sementara itu, Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Riau Mustakim SKg MSi menjelaskan tema perayaan tahun ini adalah ‘Sat Cit Ananda Indonesia Jaya’. “Mari kita jadikan perayaan Nyepi ini untuk kita mensucikan diri sehingga menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya. Dan semua sisi negatif yang ada di dalam diri kita bisa hilang bersamaan dengan dihanguskannya ogoh-ogoh yang menjadi simbol keburukan di dalam diri,” harapnya.(ayi)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Ratusan umat Hindu di Kota Pekanbaru bersuka cita melangsungkan parade ogoh-ogoh, Ahad (10/3). Nantinya ogoh-ogoh dilakukan pembakaran di Pura Agung Jagatnatha, Jalan Rawa Mulya, Kecamatan Marpoyan Damai. Ini sebagai simbolisasi dari pemurnian dan pelepasan roh-roh jahat, membawa ketenangan dan kedamaian menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1946.

Pantauan Riau Pos di Pure Agung Jagatnatha, Ahad (10/3), sebelum melakukan arak-arakan terhadap dua ogoh-ogoh, ratusan umat Hindu, baik dewasa, remaja dan anak-anak melakukan ritual Buta Yadnya (Bhuta Yajna) yang merupakan rangkaian upacara untuk menghalau kehadiran buta kala yang merupakan manifestasi unsur-unsur negatif dalam kehidupan manusia di depan Pura Agung Jagatnatha Pekanbaru.

Tepat matahari mulai terbenam, kedua ogoh-ogoh tersebut langsung diarak di jalan protokol di Kota Pekanbaru yaitu dari Jalan Rawa Mulya menuju Jalan Jenderal Sudirman hingga ke Jalan Arifin Achmad.

Tepat di Simpang Tiga Bandara SSK II Pekanbaru, kedua ogoh-ogoh yang diarak melakukan prosesi memutar sebanyak tiga kali serta diiringi dengan suara musik gamelan dan teriakan dari para umat Hindu yang diangkat kurang lebih 20 orang pemuda Hindu yang mengenakan pakaian serba hitam khas Bali serta ditemani puluhan anak-anak yang membawa obor di bagian depan kedua ogoh-ogoh.

Setelah sampai di Jalan Rawa Mulya, patung ogoh-ogoh tersebut langsung dibakar dan disaksikan langsung oleh ribuan umat Hindu yang akan melakukan Nyepi pada, Senin (11/3) hari ini.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinnsi Riau periode 2023 – 2028 Putu Senawa SAg kepada Riau Pos menjelaskan, dalam perayaan Nyepi ada banyak ritual yang harus dilakukan umat Hindu sebagai proses pemurnian diri dari berbagai sifat negatif.

Baca Juga:  Pejalan Kaki Keluhkan Pelican Crossing Tak Berfungsi

Di mana beberapa hari yang lalu ratusan umat Hindu di Kota Pekanbaru telah melakukan Melasti atau kesucian diri di Danau Wisata Bandar Khayangan Lembah Sari, Rumbai.

Prosesi ini juga diikuti dengan pembersihan seluruh peralatan upacara sembahyang agar dalam melakukan Nyepi diberikan kesucian lahir dan batin.

”Prosesinya setiap tahun sama. Karena semua unsur yang ada harus dibersihkan agar saat kita mengikuti rangkaian upacara sembahyang tapaberata Nyepi diri kita sudah siap lahir
batin,” kata Putu Senawa SAg.

Bahkan, sehari jelang perayaan Nyepi umat Hindu di Pekanbaru juga melakukan tradisi Taur Kesanga yang merupakan satu rangkaian dari Hari Raya Nyepi yaitu Taur Agung Kesanga yang juga merupakan tanda ungkapan rasa syukur kepada tuhan dalam satu tahun ini beraktivitas di dunia sehingga saling menjaga keselarasan kehidupan.

Dalam ajaran Hindu dikenal istilah Tri Hita. Yakni bagaimana manusia menyelaraskan hubungan dengan Tuhan, hubungan sesama manusia dan hubungan dengan alam semesta. Kemudian pada malam harinya dilaksanakan upacara pengerupukan yang mana merupakan tradisi yang masih bertahan di Kota Pekanbaru.

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Ogoh-ogoh melambangkan elemen buruk yang harus dihancurkan dan membawa kembali unsur yang baik untuk lingkungan. Bentuk dan sosok ogoh-ogoh biasanya berukuran besar dan berbentuk menakutkan untuk menggambarkan sifat buruk yang ada di dunia.

Baca Juga:  Tiga Kepala OPD Plt, Wako Ajukan Asesmen

Ogoh-ogoh diarak keliling desa dengan membawa obor dan diiringi gamelan bleganjur. Belakangan ini ogoh-ogoh mengalami transformasi menyesuaikan jaman yaitu mulai memakai mesin sehingga badan ogoh-ogoh bisa digerakkan.

”Di tahun ini para remaja kita berhasil menyelesaikan dua ogoh-ogoh yang diarak-arak sebagai simbol agar roh-roh jahat tidak mengganggu para masyarakat Hindu yang juga memiliki makna untuk membersihkan alam, bersih dari umat Hindu,” ungkapnya.

Sementara itu, di keesok harinya Tahun Baru Saka umat Hindu di Pekanbaru akan dimulai dengan menyepi. Di mana semua aktivitas dan kegiatan ditiadakan. Pada hari Raya Nyepi umat Hindu melaksanakan Catur Brata atau penyepian yang terdiri dari amati geni yaitu tiada berapi-api atau tidak menggunakan dan atau menghidupkan api serta memasak. Proses Nyepi dimulai pukul 6 pagi hingga 24 jam kemudian karena Nyepi juga memberikan dampak positif pada lingkungan.

”Tahun ini kami sengaja melaksanakan prosesi arak-arakan lebih awal karena melihat cuaca di Kota Pekanbaru yang beberapa hari terakhir mengalami hujan. Saat arak-arakan kemarin dilakukan, hujan gerimis sempat terjadi namun berhenti setelah proses pembakaran ogoh-ogoh dilakukan,” jelasnya.

Sementara itu, Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Riau Mustakim SKg MSi menjelaskan tema perayaan tahun ini adalah ‘Sat Cit Ananda Indonesia Jaya’. “Mari kita jadikan perayaan Nyepi ini untuk kita mensucikan diri sehingga menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya. Dan semua sisi negatif yang ada di dalam diri kita bisa hilang bersamaan dengan dihanguskannya ogoh-ogoh yang menjadi simbol keburukan di dalam diri,” harapnya.(ayi)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari