Senin, 20 Mei 2024

Harga Beras Terus Naik, Cabai Rp100 Ribu per Kg

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Harga sejumlah bahan pokok terutama beras dan cabai terus mengalami lonjakan. Dari pantauan Riau Pos di sejumlah pasar tradisional, Jumat (23/2) didapati harga cabai saat ini mencapai Rp100 ribu per kilogram (kg).

Di Pasar Dupa Kencana Pekanbaru, harga cabai merah bukittinggi masih dijual Rp100.000 per kg dan cabai rawit merah Rp100.000 per kg. Sedangkan untuk harga beras di salah satu toko grosir beras di Jalan Tengku Bey juga mengalami kenaikan.

Yamaha

Ini terjadi pada harga beras luar Sumatera Barat yaitu belida yang kini dijual Rp301.000 per kemasan 20 kg dari sebelumnya hanya Rp295.000. Sedangkan beras anak daro super juga mengalami kenaikan harga menjadi Rp180.000 per kemasan 10 kg dari sebelumnya Rp175.000.

Salah seorang pedagang beras di Jalan Tengku Bey Kecamatan Bukit Raya Muhammad Ridho Ilahi mengaku, beras medium hingga premium masih terus mengalami kenaikan harga dari hari sebelumnya. Hal ini lantaran harga beras dari Sumatera Barat mengalami kenaikan, baik dari tingkat distributor maupun petani.

“Kenaikan harga ini sudah terjadi selama dua tahun terakhir. Walaupun tidak terlalu signifikan karena kenaikan terjadi antara Rp500 per kilogram sampai Rp1.000 per kilogram, namun jika berlangsung sampai tahunan tentu sangat dirasakan oleh masyarakat dan juga pedagang,” tuturnya.

- Advertisement -

Rahmat menjelaskan di tokonya, beras belida kemasan 20 kg dijual menjadi Rp301.000 dari sebelumnya yang masih dibanderol Rp291.000. Sedangkan untuk topi koki kemasan 10 kg dijual menjadi Rp152.000 dari sebelumnya seharga Rp147.000. Untuk beras anak daro super dijual Rp178.000 per kemasan 10 kg, sebelumnya dijual Rp172.000. Sedangkan beras anak daro biasa dijual Rp160.000 per kemasan 10 kg yang sebelumnya masih Rp155.000. Untuk beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dijual Rp57.500 per kemasan 5 kg.

“Sebenarnya untuk harga jualnya dan kualitasnya ini setiap toko beda-beda, makanya harganya juga beda karena ada beras yang rasanya pulen dan ada juga yang berderai. Semua ini tergantung dengan permintaan dan kesukaan pembeli,” terangnya.

- Advertisement -

Apakah harga beras yang mahal ini menyebabkan omzet penjualannya mengalami penurunan? “Kalau omzet itu relatif sih. Kami memang merasakan dampak keuntungan yang seharusnya dapat Rp10.000 per karung, kini hanya bisa dapat Rp7.000 per karung,” tuturnya.

Baca Juga:  18.744 Jiwa Terdampak Banjir

Rahmat mengatakan, saat ini banyak pelanggannya yang biasanya membeli beras premium kualitas paling baik, kini terpaksa harus beralih ke beras yang  standar lantaran harga yang mengalami kenaikan cukup tinggi.

Sementara itu, salah seorang pedagang cabai di Pasar Dupa Kencana Rika Simamora mengaku sudah selama lima bulan terakhir sejak akhir tahun 2023 lalu harga bahan pokok di Kota Pekanbaru terus mengalami kenaikan.

Dipaparkan Rika, cabai merah bukittinggi kini sudah melonjak harganya menjadi Rp100.000 per kg. Padahal, harga sebelumnya hanya Rp90.000 per kg. Begitu juga dengan harga cabai medan naik menjadi Rp75.000 per kg dari sebelumnya Rp65.000 per kg. Harga tomat menjadi Rp22.000 per kg, sebelumnya hanya Rp10.000 per kg. Untuk cabai rawit merah hampir menembus Rp100.000 per kg, padahal sebelumnya hanya Rp95.000 per kg.

Ia mengaku kenaikan harga cabai dan sayuran saat ini terjadi karena banyak petani di Sumatera Barat yang mengalami gagal panen akibat serangan hama dan abu Gunung Marapi serta akses jalan yang rusak.

“Semuanya sekarang pada naik. Kalaupun ada harga cabai merah yang murah itu karena kualitasnya tidak terlalu bagus. Cabai dan tomat itu rentan dengan hujan sehingga kerap busuk. Jadi biar tidak terlalu merugi kamipun jualnya agak murah tapi dengan sistem angkat bukan dipilih,” tuturnya.

Masyarakat, terutama ibu rumah tangga pun harus memutar otak untuk mengatasi masalah kenaikan harga ini agar keperluan sehari-hari agar tetap terpenuhi. Salah satunya yakni beralih membeli beras yang lebih murah harganya yakni beras bulog.

Salah seorang warga Jalan Paus, Kecamatan Marpoyan bernama Lili Anggriani mengaku mengaku harus mengganti beras premium yang biasa dikonsumsi dengan beras yang medium lantaran harganya yang terlalu tinggi, begitu pula dengan cabai dan tomat serta bahan pokok lainnya. Dirinya harus mengurangi jumlah pembelian agar tetap bisa memenuhi keperluansehari-hari.

“Terpaksalah semuanya harus disesuaikan dengan harga keperluan pokok yang ada sekarang ini. Semuanya serbamahal, tapi kita nggak mungkin tidak beli karena memang itu yang diperlukan untuk konsumsi sehari-hari. Makanya biasanya kami beli yang premium, sekarang jadi yang dibeli beras bulog saja. Walaupun rasanya beda tapi asal bisa makan nggak masalah,” ujarnya.

Baca Juga:  Kawasaki Cari Waktu Luncurkan Ninja ZX-25R

Lili pun berharap harga bahan pokok di Kota Pekanbaru dapat kembali stabil agar masyarakat bisa tetap mendapatkan dengan harga yang terjangkau.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru Zulhelmi Arifin mengakui harga bahan pokok mulai bergerak naik sejak beberapa hari terakhir ini. Tiga komoditas mengalami kenaikan yang cukup signifikan, terutama cabai merah  tembus Rp90.000 per kg di dua pasar tradisional.

Menyikapi hal tersebut saat ini Pemerintah Kota Pekanbaru kembali melakukan rapat membahas kenaikan harga bahan pokok yang dipimpin Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota (Setdako) Pekanbaru Ingot Ahmad Hutasuhut.

Rapat ini membahas kenaikan harga cabai merah, bawang merah, dan ayam potong. Harga cabai merah dan bawang merah memang mengalami kenaikan di daerah penghasilnya yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Berdasarkan data, harga cabai merah sekitar Rp60.000 per kg di Sumatera Barat, dan saat dibawa ke Pekanbaru harga jual cabai merah sekitar Rp80.000 per kg. Cabai merah dari Aceh, harganya sekitar Rp70.000 per kg di Pekanbaru. Sedangkan di daerah asalnya, Aceh, harga cabai merah Rp64.000 per kg.

Tak hanya itu, lanjut Zulhelmi saat ini  Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang didalamnya ada Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Pekanbaru juga melaporkan, cabai merah dari Aceh banyak disalurkan ke arah Pulau Jawa karena harga jualnya bisa lebih tinggi.

Itu sebabnya Pemerintah Kota Pekanbaru akan terus melakukan pasar murah yang belum lama ini digelar di Kecamatan Kulim. Disperindag membawa komoditas beras, minyak goreng, gula, dan tepung. Sedangkan Disketapang akan membawa cabai merah dan bawang merah.  “Harga komoditas pangan ini akan dijual sangat murah. Kalau harga cabai merah Rp80.000 per kg saat ini, kami sesuaikan dengan harga jual petani di pasar murah nanti,” tegasnya.(das)






Reporter: Redaksi Riau Pos Riau Pos

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Harga sejumlah bahan pokok terutama beras dan cabai terus mengalami lonjakan. Dari pantauan Riau Pos di sejumlah pasar tradisional, Jumat (23/2) didapati harga cabai saat ini mencapai Rp100 ribu per kilogram (kg).

Di Pasar Dupa Kencana Pekanbaru, harga cabai merah bukittinggi masih dijual Rp100.000 per kg dan cabai rawit merah Rp100.000 per kg. Sedangkan untuk harga beras di salah satu toko grosir beras di Jalan Tengku Bey juga mengalami kenaikan.

Ini terjadi pada harga beras luar Sumatera Barat yaitu belida yang kini dijual Rp301.000 per kemasan 20 kg dari sebelumnya hanya Rp295.000. Sedangkan beras anak daro super juga mengalami kenaikan harga menjadi Rp180.000 per kemasan 10 kg dari sebelumnya Rp175.000.

Salah seorang pedagang beras di Jalan Tengku Bey Kecamatan Bukit Raya Muhammad Ridho Ilahi mengaku, beras medium hingga premium masih terus mengalami kenaikan harga dari hari sebelumnya. Hal ini lantaran harga beras dari Sumatera Barat mengalami kenaikan, baik dari tingkat distributor maupun petani.

“Kenaikan harga ini sudah terjadi selama dua tahun terakhir. Walaupun tidak terlalu signifikan karena kenaikan terjadi antara Rp500 per kilogram sampai Rp1.000 per kilogram, namun jika berlangsung sampai tahunan tentu sangat dirasakan oleh masyarakat dan juga pedagang,” tuturnya.

Rahmat menjelaskan di tokonya, beras belida kemasan 20 kg dijual menjadi Rp301.000 dari sebelumnya yang masih dibanderol Rp291.000. Sedangkan untuk topi koki kemasan 10 kg dijual menjadi Rp152.000 dari sebelumnya seharga Rp147.000. Untuk beras anak daro super dijual Rp178.000 per kemasan 10 kg, sebelumnya dijual Rp172.000. Sedangkan beras anak daro biasa dijual Rp160.000 per kemasan 10 kg yang sebelumnya masih Rp155.000. Untuk beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dijual Rp57.500 per kemasan 5 kg.

“Sebenarnya untuk harga jualnya dan kualitasnya ini setiap toko beda-beda, makanya harganya juga beda karena ada beras yang rasanya pulen dan ada juga yang berderai. Semua ini tergantung dengan permintaan dan kesukaan pembeli,” terangnya.

Apakah harga beras yang mahal ini menyebabkan omzet penjualannya mengalami penurunan? “Kalau omzet itu relatif sih. Kami memang merasakan dampak keuntungan yang seharusnya dapat Rp10.000 per karung, kini hanya bisa dapat Rp7.000 per karung,” tuturnya.

Baca Juga:  Agung Nugroho Yakin Pj Gubri Bisa Normalisasi Suhu Politik Riau

Rahmat mengatakan, saat ini banyak pelanggannya yang biasanya membeli beras premium kualitas paling baik, kini terpaksa harus beralih ke beras yang  standar lantaran harga yang mengalami kenaikan cukup tinggi.

Sementara itu, salah seorang pedagang cabai di Pasar Dupa Kencana Rika Simamora mengaku sudah selama lima bulan terakhir sejak akhir tahun 2023 lalu harga bahan pokok di Kota Pekanbaru terus mengalami kenaikan.

Dipaparkan Rika, cabai merah bukittinggi kini sudah melonjak harganya menjadi Rp100.000 per kg. Padahal, harga sebelumnya hanya Rp90.000 per kg. Begitu juga dengan harga cabai medan naik menjadi Rp75.000 per kg dari sebelumnya Rp65.000 per kg. Harga tomat menjadi Rp22.000 per kg, sebelumnya hanya Rp10.000 per kg. Untuk cabai rawit merah hampir menembus Rp100.000 per kg, padahal sebelumnya hanya Rp95.000 per kg.

Ia mengaku kenaikan harga cabai dan sayuran saat ini terjadi karena banyak petani di Sumatera Barat yang mengalami gagal panen akibat serangan hama dan abu Gunung Marapi serta akses jalan yang rusak.

“Semuanya sekarang pada naik. Kalaupun ada harga cabai merah yang murah itu karena kualitasnya tidak terlalu bagus. Cabai dan tomat itu rentan dengan hujan sehingga kerap busuk. Jadi biar tidak terlalu merugi kamipun jualnya agak murah tapi dengan sistem angkat bukan dipilih,” tuturnya.

Masyarakat, terutama ibu rumah tangga pun harus memutar otak untuk mengatasi masalah kenaikan harga ini agar keperluan sehari-hari agar tetap terpenuhi. Salah satunya yakni beralih membeli beras yang lebih murah harganya yakni beras bulog.

Salah seorang warga Jalan Paus, Kecamatan Marpoyan bernama Lili Anggriani mengaku mengaku harus mengganti beras premium yang biasa dikonsumsi dengan beras yang medium lantaran harganya yang terlalu tinggi, begitu pula dengan cabai dan tomat serta bahan pokok lainnya. Dirinya harus mengurangi jumlah pembelian agar tetap bisa memenuhi keperluansehari-hari.

“Terpaksalah semuanya harus disesuaikan dengan harga keperluan pokok yang ada sekarang ini. Semuanya serbamahal, tapi kita nggak mungkin tidak beli karena memang itu yang diperlukan untuk konsumsi sehari-hari. Makanya biasanya kami beli yang premium, sekarang jadi yang dibeli beras bulog saja. Walaupun rasanya beda tapi asal bisa makan nggak masalah,” ujarnya.

Baca Juga:  Buka Tutup Dilakukan 1 Jam Sekali

Lili pun berharap harga bahan pokok di Kota Pekanbaru dapat kembali stabil agar masyarakat bisa tetap mendapatkan dengan harga yang terjangkau.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru Zulhelmi Arifin mengakui harga bahan pokok mulai bergerak naik sejak beberapa hari terakhir ini. Tiga komoditas mengalami kenaikan yang cukup signifikan, terutama cabai merah  tembus Rp90.000 per kg di dua pasar tradisional.

Menyikapi hal tersebut saat ini Pemerintah Kota Pekanbaru kembali melakukan rapat membahas kenaikan harga bahan pokok yang dipimpin Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota (Setdako) Pekanbaru Ingot Ahmad Hutasuhut.

Rapat ini membahas kenaikan harga cabai merah, bawang merah, dan ayam potong. Harga cabai merah dan bawang merah memang mengalami kenaikan di daerah penghasilnya yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Berdasarkan data, harga cabai merah sekitar Rp60.000 per kg di Sumatera Barat, dan saat dibawa ke Pekanbaru harga jual cabai merah sekitar Rp80.000 per kg. Cabai merah dari Aceh, harganya sekitar Rp70.000 per kg di Pekanbaru. Sedangkan di daerah asalnya, Aceh, harga cabai merah Rp64.000 per kg.

Tak hanya itu, lanjut Zulhelmi saat ini  Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang didalamnya ada Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Pekanbaru juga melaporkan, cabai merah dari Aceh banyak disalurkan ke arah Pulau Jawa karena harga jualnya bisa lebih tinggi.

Itu sebabnya Pemerintah Kota Pekanbaru akan terus melakukan pasar murah yang belum lama ini digelar di Kecamatan Kulim. Disperindag membawa komoditas beras, minyak goreng, gula, dan tepung. Sedangkan Disketapang akan membawa cabai merah dan bawang merah.  “Harga komoditas pangan ini akan dijual sangat murah. Kalau harga cabai merah Rp80.000 per kg saat ini, kami sesuaikan dengan harga jual petani di pasar murah nanti,” tegasnya.(das)






Reporter: Redaksi Riau Pos Riau Pos
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari