Rabu, 2 April 2025
spot_img

Hingga Juni, Realisasi Target Lifting Migas 89 Persen

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan, hingga Juni 2019 realisasi lifting minyak dan gas bumi (migas) mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari (boepd). Lifting migas tercapai 89 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar 2 juta bopd.

Realisasi sebesar 1,8 juta boepd tersebut terdiri dari lifting minyak sebesar 752 ribu barel per hari (bopd) dan lifting gas sebesar 1,06 juta boepd. SKK Migas optimistis dapat mencapai target lifting 100 persen pada semester kedua 2019, mengingat 8 dari 11 proyek akan mulai produksi (onstream).

Dalam pembukaan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2019, Selasa (9/7/2019), Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menuturkan, penggunaan teknologi dalam usaha hulu merupakan keharusan guna mengatasi kerumitan area operasi dan eksplorasi. Selain penggunaan teknologi, industri hulu migas juga dinilai perlu melakukan transformasi dan diversifikasi usaha.

Baca Juga:  Donasi Pegawai PLN Nyalakan 7.357 Listrik

’’Bukan hanya sekedar mencari dan memproduksikan migas saja, namun harus memperhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan dari pasar energi, tuntutan terhadap penggunaan energi yang lebih bersih, dan lain sebagainya,’’ imbuh Dwi melalui keterangan tertulisnya.

Salah satu transformasi dalam kegiatan operasi hulu migas yang akan diaplikasikan pada tahun ini adalah Integrated Operation Center (IOC). IOC merupakan sebuah sistem integrasi data yang mencakup beberapa aplikasi/layanan pengelolaan kinerja operasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama.

Layanan dan aplikasi yang tergabung di dalam IOC antara lain Integrated Operation System (SOT) for Production Dashboard, Oil and Gas Lifting Dashboard, Stock Management Dashboard, Plant Information Management System (PIMS), Facility Maintenance Monitoring and Project Monitoring, Vessel Tracking Information System (VTIS), Real Time Drilling Operation, dan Emergency Response Center (ERC).

Baca Juga:  Mendag Sebut Stok Melimpah dan Kebutuhan Terpenuhi

Salah satu manfaat IOC adalah optimalisasi perencanaan pemeliharaan fasilitas karena terbukanya data secara terintegrasi. Hal ini berpotensi mengefisiensi anggaran pemeliharaan fasilitas sebesar 84 juta dolar AS hingga akhir 2019.(igmanibrahim)

Sumber: Jawapos.com
Editor: Fopin A Sinaga

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan, hingga Juni 2019 realisasi lifting minyak dan gas bumi (migas) mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari (boepd). Lifting migas tercapai 89 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar 2 juta bopd.

Realisasi sebesar 1,8 juta boepd tersebut terdiri dari lifting minyak sebesar 752 ribu barel per hari (bopd) dan lifting gas sebesar 1,06 juta boepd. SKK Migas optimistis dapat mencapai target lifting 100 persen pada semester kedua 2019, mengingat 8 dari 11 proyek akan mulai produksi (onstream).

Dalam pembukaan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2019, Selasa (9/7/2019), Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menuturkan, penggunaan teknologi dalam usaha hulu merupakan keharusan guna mengatasi kerumitan area operasi dan eksplorasi. Selain penggunaan teknologi, industri hulu migas juga dinilai perlu melakukan transformasi dan diversifikasi usaha.

Baca Juga:  Mendag Sebut Stok Melimpah dan Kebutuhan Terpenuhi

’’Bukan hanya sekedar mencari dan memproduksikan migas saja, namun harus memperhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan dari pasar energi, tuntutan terhadap penggunaan energi yang lebih bersih, dan lain sebagainya,’’ imbuh Dwi melalui keterangan tertulisnya.

Salah satu transformasi dalam kegiatan operasi hulu migas yang akan diaplikasikan pada tahun ini adalah Integrated Operation Center (IOC). IOC merupakan sebuah sistem integrasi data yang mencakup beberapa aplikasi/layanan pengelolaan kinerja operasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama.

Layanan dan aplikasi yang tergabung di dalam IOC antara lain Integrated Operation System (SOT) for Production Dashboard, Oil and Gas Lifting Dashboard, Stock Management Dashboard, Plant Information Management System (PIMS), Facility Maintenance Monitoring and Project Monitoring, Vessel Tracking Information System (VTIS), Real Time Drilling Operation, dan Emergency Response Center (ERC).

Baca Juga:  Datangi Sekolah, Pertamina Edukasi Bencana Sejak Dini

Salah satu manfaat IOC adalah optimalisasi perencanaan pemeliharaan fasilitas karena terbukanya data secara terintegrasi. Hal ini berpotensi mengefisiensi anggaran pemeliharaan fasilitas sebesar 84 juta dolar AS hingga akhir 2019.(igmanibrahim)

Sumber: Jawapos.com
Editor: Fopin A Sinaga
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Hingga Juni, Realisasi Target Lifting Migas 89 Persen

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan, hingga Juni 2019 realisasi lifting minyak dan gas bumi (migas) mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari (boepd). Lifting migas tercapai 89 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar 2 juta bopd.

Realisasi sebesar 1,8 juta boepd tersebut terdiri dari lifting minyak sebesar 752 ribu barel per hari (bopd) dan lifting gas sebesar 1,06 juta boepd. SKK Migas optimistis dapat mencapai target lifting 100 persen pada semester kedua 2019, mengingat 8 dari 11 proyek akan mulai produksi (onstream).

Dalam pembukaan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2019, Selasa (9/7/2019), Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menuturkan, penggunaan teknologi dalam usaha hulu merupakan keharusan guna mengatasi kerumitan area operasi dan eksplorasi. Selain penggunaan teknologi, industri hulu migas juga dinilai perlu melakukan transformasi dan diversifikasi usaha.

Baca Juga:  Mendag Sebut Stok Melimpah dan Kebutuhan Terpenuhi

’’Bukan hanya sekedar mencari dan memproduksikan migas saja, namun harus memperhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan dari pasar energi, tuntutan terhadap penggunaan energi yang lebih bersih, dan lain sebagainya,’’ imbuh Dwi melalui keterangan tertulisnya.

Salah satu transformasi dalam kegiatan operasi hulu migas yang akan diaplikasikan pada tahun ini adalah Integrated Operation Center (IOC). IOC merupakan sebuah sistem integrasi data yang mencakup beberapa aplikasi/layanan pengelolaan kinerja operasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama.

Layanan dan aplikasi yang tergabung di dalam IOC antara lain Integrated Operation System (SOT) for Production Dashboard, Oil and Gas Lifting Dashboard, Stock Management Dashboard, Plant Information Management System (PIMS), Facility Maintenance Monitoring and Project Monitoring, Vessel Tracking Information System (VTIS), Real Time Drilling Operation, dan Emergency Response Center (ERC).

Baca Juga:  DJI Mini 3 Pro, Drone Pemula, Ini Speknya

Salah satu manfaat IOC adalah optimalisasi perencanaan pemeliharaan fasilitas karena terbukanya data secara terintegrasi. Hal ini berpotensi mengefisiensi anggaran pemeliharaan fasilitas sebesar 84 juta dolar AS hingga akhir 2019.(igmanibrahim)

Sumber: Jawapos.com
Editor: Fopin A Sinaga

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan, hingga Juni 2019 realisasi lifting minyak dan gas bumi (migas) mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari (boepd). Lifting migas tercapai 89 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar 2 juta bopd.

Realisasi sebesar 1,8 juta boepd tersebut terdiri dari lifting minyak sebesar 752 ribu barel per hari (bopd) dan lifting gas sebesar 1,06 juta boepd. SKK Migas optimistis dapat mencapai target lifting 100 persen pada semester kedua 2019, mengingat 8 dari 11 proyek akan mulai produksi (onstream).

Dalam pembukaan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2019, Selasa (9/7/2019), Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menuturkan, penggunaan teknologi dalam usaha hulu merupakan keharusan guna mengatasi kerumitan area operasi dan eksplorasi. Selain penggunaan teknologi, industri hulu migas juga dinilai perlu melakukan transformasi dan diversifikasi usaha.

Baca Juga:  Datangi Sekolah, Pertamina Edukasi Bencana Sejak Dini

’’Bukan hanya sekedar mencari dan memproduksikan migas saja, namun harus memperhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan dari pasar energi, tuntutan terhadap penggunaan energi yang lebih bersih, dan lain sebagainya,’’ imbuh Dwi melalui keterangan tertulisnya.

Salah satu transformasi dalam kegiatan operasi hulu migas yang akan diaplikasikan pada tahun ini adalah Integrated Operation Center (IOC). IOC merupakan sebuah sistem integrasi data yang mencakup beberapa aplikasi/layanan pengelolaan kinerja operasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama.

Layanan dan aplikasi yang tergabung di dalam IOC antara lain Integrated Operation System (SOT) for Production Dashboard, Oil and Gas Lifting Dashboard, Stock Management Dashboard, Plant Information Management System (PIMS), Facility Maintenance Monitoring and Project Monitoring, Vessel Tracking Information System (VTIS), Real Time Drilling Operation, dan Emergency Response Center (ERC).

Baca Juga:  Penjualan Daihatsu Capai 23 Ribu Unit

Salah satu manfaat IOC adalah optimalisasi perencanaan pemeliharaan fasilitas karena terbukanya data secara terintegrasi. Hal ini berpotensi mengefisiensi anggaran pemeliharaan fasilitas sebesar 84 juta dolar AS hingga akhir 2019.(igmanibrahim)

Sumber: Jawapos.com
Editor: Fopin A Sinaga
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari