Kamis, 19 Februari 2026
- Advertisement -

Diduga Ditembak, Satu Mahasiswa Tewas

KENDARI (RIAUPOS.CO) — Perjuangan mahasiswa untuk membatalkan revisi UU KPK, KUHP, dan RUU kontroversial lain diwarnai duka mendalam. Kemarin (26/9), seorang mahasiswa peserta unjuk rasa di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara meninggal dunia. Dada kanannya berlubang diduga karena diterjang peluru. Korban bernama Randi (21), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Haluoleo UHO). Selain Randi, satu orang lagi dalam kondisi kritis, diduga akibat pukulan benda tumpul di kepala. Dia adalah Laode Yusuf Kardawi (19), mahasiswa teknik sipil UHO. Hingga kemarin, belum jelas siapa pelaku biadab tersebut.

Menurut Kendari Pos (JPG), kemarin puluhan ribu mahasiswa berunjuk rasa ke kantor DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra). Orasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi terdengar bergantian secara teratur. Sekitar pukul 13.00 Wita, terlihat gas air mata menyebar, dibalas dengan bebatuan yang menghujani kantor DPRD. Di tengah serbuan gas air mata, para mahasiswa tetap berusaha masuk ke gedung dewan. Kerusuhan berlanjut hingga sore.

Baca Juga:  Jemaah Haji Kloter 3 Riau Tiba di Madinah, Mulai Ibadah Arbain

Sekitar pukul 16.30 Wita, pasukan TNI berhasil menenangkan massa. Namun, itu tak berlangsung lama. Sebab, mendadak ada lemparan batu. Mahasiswa lain pun terpancing. Para personel kepolisian yang beristirahat langsung mengenakan helm serta perisai untuk melindungi diri. Tembakan gas air mata kembali dilesakkan hingga massa aksi kembali berhamburan.

Kapolres Kendari AKBP Jemi Junaedi yang menggunakan pengeras suara meminta mahasiswa tidak melakukan pelemparan dan segera membubarkan diri.

"Mahasiswa adalah kaum intelektual, maka hati-hati disusupi provokasi. Kami sangat berharap masing- masing korlap untuk kendalikan massa," katanya.Di tengah kerusuhan itulah, beredar kabar tentang meninggalnya Randi. Kendari Pos melaporkan, Randi sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) dr Ismoyo Kendari. Namun, dia meninggal sebelum mendapat perawatan medis.

Komandan Korem (Danrem) 143/HO Kendari Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto mengatakan, ada empat orang yang sempat dibawa ke RS. Namun, satu orang datang dalam kondisi meninggal dunia. Danrem menuturkan, korban tewas karena pendarahan di bagian dada kanan. Ada luka bocor sedalam sekitar 2 cm. Nono belum mau berkomentar banyak apakah korban meninggal karena peluru karet atau peluru tajam. "Yang jelas, kita mau visum dulu di rumah sakit Bhayangkara," katanya.

Baca Juga:  Kasus Baru Hari Ini Meningkat 132 orang

Danrem meminta semua pihak untuk tenang. Sebab, akan dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya Randi. "Kalau soal proyektil peluru, kami belum tahu. Akan diketahui setelah autopsi," ujarnya.

Sementara itu, Kabidhumas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhardt menuturkan, polisi yang mengamankan aksi demo hanya dibekali tameng, tongkat, gas air mata, dan water cannon. "Kami memastikan tidak ada peluru tajam atau peluru karet. Itu sudah diperiksa saat apel persiapan. Kita lihat bersama selama aksi, kepolisian hanya bertahan di gedung DPRD, tidak melakukan aksi represif," jelasnya. Soal penyebab kematian Randi, menurut Harry, hasil otopsi di Rumah Sakit (RS) Abunawas Kota Kendari masih ditunggu. Dia mengatakan, pihaknya membawa korban ke RS Abunawas untuk menjaga independensi dan kepercayaan masyarakat. (ade/hel/wan/jpg/ted)

KENDARI (RIAUPOS.CO) — Perjuangan mahasiswa untuk membatalkan revisi UU KPK, KUHP, dan RUU kontroversial lain diwarnai duka mendalam. Kemarin (26/9), seorang mahasiswa peserta unjuk rasa di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara meninggal dunia. Dada kanannya berlubang diduga karena diterjang peluru. Korban bernama Randi (21), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Haluoleo UHO). Selain Randi, satu orang lagi dalam kondisi kritis, diduga akibat pukulan benda tumpul di kepala. Dia adalah Laode Yusuf Kardawi (19), mahasiswa teknik sipil UHO. Hingga kemarin, belum jelas siapa pelaku biadab tersebut.

Menurut Kendari Pos (JPG), kemarin puluhan ribu mahasiswa berunjuk rasa ke kantor DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra). Orasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi terdengar bergantian secara teratur. Sekitar pukul 13.00 Wita, terlihat gas air mata menyebar, dibalas dengan bebatuan yang menghujani kantor DPRD. Di tengah serbuan gas air mata, para mahasiswa tetap berusaha masuk ke gedung dewan. Kerusuhan berlanjut hingga sore.

Baca Juga:  Rektor UIN Klarifikasi Langsung ke Menag, Ini Pesan Fachrul Razi

Sekitar pukul 16.30 Wita, pasukan TNI berhasil menenangkan massa. Namun, itu tak berlangsung lama. Sebab, mendadak ada lemparan batu. Mahasiswa lain pun terpancing. Para personel kepolisian yang beristirahat langsung mengenakan helm serta perisai untuk melindungi diri. Tembakan gas air mata kembali dilesakkan hingga massa aksi kembali berhamburan.

Kapolres Kendari AKBP Jemi Junaedi yang menggunakan pengeras suara meminta mahasiswa tidak melakukan pelemparan dan segera membubarkan diri.

"Mahasiswa adalah kaum intelektual, maka hati-hati disusupi provokasi. Kami sangat berharap masing- masing korlap untuk kendalikan massa," katanya.Di tengah kerusuhan itulah, beredar kabar tentang meninggalnya Randi. Kendari Pos melaporkan, Randi sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) dr Ismoyo Kendari. Namun, dia meninggal sebelum mendapat perawatan medis.

- Advertisement -

Komandan Korem (Danrem) 143/HO Kendari Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto mengatakan, ada empat orang yang sempat dibawa ke RS. Namun, satu orang datang dalam kondisi meninggal dunia. Danrem menuturkan, korban tewas karena pendarahan di bagian dada kanan. Ada luka bocor sedalam sekitar 2 cm. Nono belum mau berkomentar banyak apakah korban meninggal karena peluru karet atau peluru tajam. "Yang jelas, kita mau visum dulu di rumah sakit Bhayangkara," katanya.

Baca Juga:  Jemaah Haji Kloter 3 Riau Tiba di Madinah, Mulai Ibadah Arbain

Danrem meminta semua pihak untuk tenang. Sebab, akan dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya Randi. "Kalau soal proyektil peluru, kami belum tahu. Akan diketahui setelah autopsi," ujarnya.

- Advertisement -

Sementara itu, Kabidhumas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhardt menuturkan, polisi yang mengamankan aksi demo hanya dibekali tameng, tongkat, gas air mata, dan water cannon. "Kami memastikan tidak ada peluru tajam atau peluru karet. Itu sudah diperiksa saat apel persiapan. Kita lihat bersama selama aksi, kepolisian hanya bertahan di gedung DPRD, tidak melakukan aksi represif," jelasnya. Soal penyebab kematian Randi, menurut Harry, hasil otopsi di Rumah Sakit (RS) Abunawas Kota Kendari masih ditunggu. Dia mengatakan, pihaknya membawa korban ke RS Abunawas untuk menjaga independensi dan kepercayaan masyarakat. (ade/hel/wan/jpg/ted)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

KENDARI (RIAUPOS.CO) — Perjuangan mahasiswa untuk membatalkan revisi UU KPK, KUHP, dan RUU kontroversial lain diwarnai duka mendalam. Kemarin (26/9), seorang mahasiswa peserta unjuk rasa di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara meninggal dunia. Dada kanannya berlubang diduga karena diterjang peluru. Korban bernama Randi (21), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Haluoleo UHO). Selain Randi, satu orang lagi dalam kondisi kritis, diduga akibat pukulan benda tumpul di kepala. Dia adalah Laode Yusuf Kardawi (19), mahasiswa teknik sipil UHO. Hingga kemarin, belum jelas siapa pelaku biadab tersebut.

Menurut Kendari Pos (JPG), kemarin puluhan ribu mahasiswa berunjuk rasa ke kantor DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra). Orasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi terdengar bergantian secara teratur. Sekitar pukul 13.00 Wita, terlihat gas air mata menyebar, dibalas dengan bebatuan yang menghujani kantor DPRD. Di tengah serbuan gas air mata, para mahasiswa tetap berusaha masuk ke gedung dewan. Kerusuhan berlanjut hingga sore.

Baca Juga:  Mau Sekolah Seperti Biasa, Bosan di Rumah Terus

Sekitar pukul 16.30 Wita, pasukan TNI berhasil menenangkan massa. Namun, itu tak berlangsung lama. Sebab, mendadak ada lemparan batu. Mahasiswa lain pun terpancing. Para personel kepolisian yang beristirahat langsung mengenakan helm serta perisai untuk melindungi diri. Tembakan gas air mata kembali dilesakkan hingga massa aksi kembali berhamburan.

Kapolres Kendari AKBP Jemi Junaedi yang menggunakan pengeras suara meminta mahasiswa tidak melakukan pelemparan dan segera membubarkan diri.

"Mahasiswa adalah kaum intelektual, maka hati-hati disusupi provokasi. Kami sangat berharap masing- masing korlap untuk kendalikan massa," katanya.Di tengah kerusuhan itulah, beredar kabar tentang meninggalnya Randi. Kendari Pos melaporkan, Randi sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) dr Ismoyo Kendari. Namun, dia meninggal sebelum mendapat perawatan medis.

Komandan Korem (Danrem) 143/HO Kendari Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto mengatakan, ada empat orang yang sempat dibawa ke RS. Namun, satu orang datang dalam kondisi meninggal dunia. Danrem menuturkan, korban tewas karena pendarahan di bagian dada kanan. Ada luka bocor sedalam sekitar 2 cm. Nono belum mau berkomentar banyak apakah korban meninggal karena peluru karet atau peluru tajam. "Yang jelas, kita mau visum dulu di rumah sakit Bhayangkara," katanya.

Baca Juga:  Asparaini Rasyad Wafat, Keluarga Besar Riau Pos Group Berduka

Danrem meminta semua pihak untuk tenang. Sebab, akan dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya Randi. "Kalau soal proyektil peluru, kami belum tahu. Akan diketahui setelah autopsi," ujarnya.

Sementara itu, Kabidhumas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhardt menuturkan, polisi yang mengamankan aksi demo hanya dibekali tameng, tongkat, gas air mata, dan water cannon. "Kami memastikan tidak ada peluru tajam atau peluru karet. Itu sudah diperiksa saat apel persiapan. Kita lihat bersama selama aksi, kepolisian hanya bertahan di gedung DPRD, tidak melakukan aksi represif," jelasnya. Soal penyebab kematian Randi, menurut Harry, hasil otopsi di Rumah Sakit (RS) Abunawas Kota Kendari masih ditunggu. Dia mengatakan, pihaknya membawa korban ke RS Abunawas untuk menjaga independensi dan kepercayaan masyarakat. (ade/hel/wan/jpg/ted)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari