Sabtu, 17 Oktober 2026
- Advertisement -

Digitalisasi Perbankan Kurangi Kantor Cabang

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Persebaran virus SARS-CoV-2 mempercepat digitalisasi, termasuk, pada sektor perbankan. Tanpa kemauan dan kemampuan bertransformasi, besar kemungkinan bank akan ditinggalkan nasabahnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, bank menutup kantor-kantor cabang karena digitalisasi. Itu menjadi momentum transformasi digital sekaligus efisiensi perbankan. "Tapi, bank jangan hanya cutting loss, juga harus inovasi,"kata Bhima saat dihubungi (JPG), Ahad (2/5).

Digitalisasi juga menjadi ancaman perbankan dalam mencari sumber dana. Cara untuk menyiasati ancaman itu adalah dengan merger dan akusisi. Karena itu, perlu adanya konsolidasi perbankan. Misalnya, merger beberapa bank berskala kecil atau akuisisi bank skala kecil oleh bank skala besar. 

Baca Juga:  BPJS Kesehatan Berikan Santunan Anak Yatim

Itu supaya tercipta persaingan usaha yang lebih sehat pascapandemi nanti. "Kadang-kadang di situ sulit mencapai kesepakatan,"ucap Bhima tentang merger dan akuisisi. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa berperan sebagai penengah atau mediator. 

Sebelumnya, OJK melaporkan bahwa sekitar 5 ribu kantor bank tutup. Saat ini, pihaknya masih mengawasi 27.927 kantor dari 95 bank umum. "Penyebab tutupnya adalah nasabah memilih transaksi online, tidak mau datang langsung ke kantor,"papar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto pada Sabtu (1/5).

Transaksi perbankan secara digital, menurut dia, terkerek naik sejak pandemi. "Meningkat hampir 400 persen tiap bulan,"imbuhnya.

Bagi bank-bank berskala kecil, go digital adalah tantangan besar. Dana untuk membangun infrastrukturnya juga tidak murah. Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno mengakui hal tersebut. Menurut dia, bank pembangunan daerah (BPD) memiliki banyak kendala untuk bertransformasi digital. "Pembangunan lini nonbisnis dan koordinasi menjadi hal yang krusial," ungkapnya. 

Baca Juga:  Ngabalin: Tak Perlu Ada Polemik Mobil Esemka

OJK dan asosiasi fintech bakal membangun fintech data center (FDC). Dengan demikian, mereka bisa mengawasi para debitur dalam mengakses pembiayaan fintech peer-to-peer lending. Termasuk, mengetahui kapasitas membayar debitur.

"Kalau layak tidak masalah. Tapi, yang sering itu tidak sesuai dengan kemampuannya. Besar pasak daripada tiang,"ujar Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Fintech OJK Tris Yulianta.(han/c13/hep/jpg)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Persebaran virus SARS-CoV-2 mempercepat digitalisasi, termasuk, pada sektor perbankan. Tanpa kemauan dan kemampuan bertransformasi, besar kemungkinan bank akan ditinggalkan nasabahnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, bank menutup kantor-kantor cabang karena digitalisasi. Itu menjadi momentum transformasi digital sekaligus efisiensi perbankan. "Tapi, bank jangan hanya cutting loss, juga harus inovasi,"kata Bhima saat dihubungi (JPG), Ahad (2/5).

Digitalisasi juga menjadi ancaman perbankan dalam mencari sumber dana. Cara untuk menyiasati ancaman itu adalah dengan merger dan akusisi. Karena itu, perlu adanya konsolidasi perbankan. Misalnya, merger beberapa bank berskala kecil atau akuisisi bank skala kecil oleh bank skala besar. 

Baca Juga:  Ngabalin: Tak Perlu Ada Polemik Mobil Esemka

Itu supaya tercipta persaingan usaha yang lebih sehat pascapandemi nanti. "Kadang-kadang di situ sulit mencapai kesepakatan,"ucap Bhima tentang merger dan akuisisi. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa berperan sebagai penengah atau mediator. 

Sebelumnya, OJK melaporkan bahwa sekitar 5 ribu kantor bank tutup. Saat ini, pihaknya masih mengawasi 27.927 kantor dari 95 bank umum. "Penyebab tutupnya adalah nasabah memilih transaksi online, tidak mau datang langsung ke kantor,"papar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto pada Sabtu (1/5).

- Advertisement -

Transaksi perbankan secara digital, menurut dia, terkerek naik sejak pandemi. "Meningkat hampir 400 persen tiap bulan,"imbuhnya.

Bagi bank-bank berskala kecil, go digital adalah tantangan besar. Dana untuk membangun infrastrukturnya juga tidak murah. Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno mengakui hal tersebut. Menurut dia, bank pembangunan daerah (BPD) memiliki banyak kendala untuk bertransformasi digital. "Pembangunan lini nonbisnis dan koordinasi menjadi hal yang krusial," ungkapnya. 

- Advertisement -
Baca Juga:  Mitsubishi Hadirkan Authorized Body & Cat Pertama di Riau

OJK dan asosiasi fintech bakal membangun fintech data center (FDC). Dengan demikian, mereka bisa mengawasi para debitur dalam mengakses pembiayaan fintech peer-to-peer lending. Termasuk, mengetahui kapasitas membayar debitur.

"Kalau layak tidak masalah. Tapi, yang sering itu tidak sesuai dengan kemampuannya. Besar pasak daripada tiang,"ujar Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Fintech OJK Tris Yulianta.(han/c13/hep/jpg)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Persebaran virus SARS-CoV-2 mempercepat digitalisasi, termasuk, pada sektor perbankan. Tanpa kemauan dan kemampuan bertransformasi, besar kemungkinan bank akan ditinggalkan nasabahnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, bank menutup kantor-kantor cabang karena digitalisasi. Itu menjadi momentum transformasi digital sekaligus efisiensi perbankan. "Tapi, bank jangan hanya cutting loss, juga harus inovasi,"kata Bhima saat dihubungi (JPG), Ahad (2/5).

Digitalisasi juga menjadi ancaman perbankan dalam mencari sumber dana. Cara untuk menyiasati ancaman itu adalah dengan merger dan akusisi. Karena itu, perlu adanya konsolidasi perbankan. Misalnya, merger beberapa bank berskala kecil atau akuisisi bank skala kecil oleh bank skala besar. 

Baca Juga:  Sharp Tambah Lini Produksi Mesin Cuci Satu Tabung

Itu supaya tercipta persaingan usaha yang lebih sehat pascapandemi nanti. "Kadang-kadang di situ sulit mencapai kesepakatan,"ucap Bhima tentang merger dan akuisisi. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa berperan sebagai penengah atau mediator. 

Sebelumnya, OJK melaporkan bahwa sekitar 5 ribu kantor bank tutup. Saat ini, pihaknya masih mengawasi 27.927 kantor dari 95 bank umum. "Penyebab tutupnya adalah nasabah memilih transaksi online, tidak mau datang langsung ke kantor,"papar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK Anung Herlianto pada Sabtu (1/5).

Transaksi perbankan secara digital, menurut dia, terkerek naik sejak pandemi. "Meningkat hampir 400 persen tiap bulan,"imbuhnya.

Bagi bank-bank berskala kecil, go digital adalah tantangan besar. Dana untuk membangun infrastrukturnya juga tidak murah. Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno mengakui hal tersebut. Menurut dia, bank pembangunan daerah (BPD) memiliki banyak kendala untuk bertransformasi digital. "Pembangunan lini nonbisnis dan koordinasi menjadi hal yang krusial," ungkapnya. 

Baca Juga:  Ternyata, Layar iPhone 12 Series Disokong Samsung dan LG

OJK dan asosiasi fintech bakal membangun fintech data center (FDC). Dengan demikian, mereka bisa mengawasi para debitur dalam mengakses pembiayaan fintech peer-to-peer lending. Termasuk, mengetahui kapasitas membayar debitur.

"Kalau layak tidak masalah. Tapi, yang sering itu tidak sesuai dengan kemampuannya. Besar pasak daripada tiang,"ujar Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Fintech OJK Tris Yulianta.(han/c13/hep/jpg)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari