Rabu, 2 April 2025
spot_img

Garap Budi Daya Rumput Odot

Agroforestri Ciptakan Harmonisasi Antara Gajah dan Petani (1)

BENGKALIS (RIAUPOSCO) – Dulu, suara ledakan petasan jumbo menjadi simfoni menakutkan bagi kawanan gajah Sumatera yang kerap mengganggu perkebunan warga di Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Namun seiring berjalannya waktu, suara itu perlahan tergantikan oleh nada yang lebih damai.

Laporan, Abu Kasim, Pinggir

Suparto, seorang petani sekaligus Sekretaris Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya, telah menjadi saksi hidup transformasi hubungan manusia dan gajah di kawasan ini. Sebagai pemilik lahan dan perkebunan di area yang bersempadan dengan kantong gajah Balairaja, Suparto awalnya ikut-ikutan menggunakan petasan untuk mengusir kawanan gajah liar. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, ia pun mulai meragukan efektivitas cara yang justru menyakiti hewan mamalia yang terancam punah tersebut.

Baca Juga:  Siapkan Makanan Gratis, Ambulans Air dan Antar Jemput Pasien

“Kami sadar bahwa gajah juga punya hak untuk hidup dan mencari makan. Dulu kami sering konflik dengan gajah, tapi sekarang kami bisa hidup berdampingan,” jelas Suparto.

Ia menceritakan, bahwa dulu, tahun 1995 hingga 2020, warga menggunakan cara kuno dan berbahaya tersebut untuk mengusir kawanan gajah liar. Sebab, warga selalu merasa kesal lantaran hewan berbadan bongsor tersebut sering memakan tanaman sawit dan karet milik warga. “Ya, warga yang kesal, selalu mengusirnya dengan petasan,” ucapnya.

Suparto dan para warga setempat kini telah berdamai. Sejak mengenal rimba satwa foundation (RSF) yang merupakan mitra program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Suparto pun akhirnya mendapatkan edukasi dan sosialisasi.

Baca Juga:  In Memoriam Indra Muchlis Adnan, Bupati Indragiri Hilir Periode 2003-2013

Kelompok masyarakat tersebut kini mendapatkan solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan gajah yang dulu mereka anggap hama, yakni dengan menjalankan program agroforestri.

Mereka pun mulai menanam tanaman yang tidak disukai gajah, namun memiliki nilai ekonomi tinggi di lahan-lahan mereka.

“Kami diberikan edukasi oleh PHR dan RSF, hingga terbentuklah KTH Alam Pusaka Jaya ini,” kenangnya.(bersambung/ade)

BENGKALIS (RIAUPOSCO) – Dulu, suara ledakan petasan jumbo menjadi simfoni menakutkan bagi kawanan gajah Sumatera yang kerap mengganggu perkebunan warga di Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Namun seiring berjalannya waktu, suara itu perlahan tergantikan oleh nada yang lebih damai.

Laporan, Abu Kasim, Pinggir

Suparto, seorang petani sekaligus Sekretaris Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya, telah menjadi saksi hidup transformasi hubungan manusia dan gajah di kawasan ini. Sebagai pemilik lahan dan perkebunan di area yang bersempadan dengan kantong gajah Balairaja, Suparto awalnya ikut-ikutan menggunakan petasan untuk mengusir kawanan gajah liar. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, ia pun mulai meragukan efektivitas cara yang justru menyakiti hewan mamalia yang terancam punah tersebut.

Baca Juga:  Awalnya Takut, Akhirnya Tersenyum Manis

“Kami sadar bahwa gajah juga punya hak untuk hidup dan mencari makan. Dulu kami sering konflik dengan gajah, tapi sekarang kami bisa hidup berdampingan,” jelas Suparto.

Ia menceritakan, bahwa dulu, tahun 1995 hingga 2020, warga menggunakan cara kuno dan berbahaya tersebut untuk mengusir kawanan gajah liar. Sebab, warga selalu merasa kesal lantaran hewan berbadan bongsor tersebut sering memakan tanaman sawit dan karet milik warga. “Ya, warga yang kesal, selalu mengusirnya dengan petasan,” ucapnya.

Suparto dan para warga setempat kini telah berdamai. Sejak mengenal rimba satwa foundation (RSF) yang merupakan mitra program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Suparto pun akhirnya mendapatkan edukasi dan sosialisasi.

Baca Juga:  Siap Bersaing di Dunia Kerja

Kelompok masyarakat tersebut kini mendapatkan solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan gajah yang dulu mereka anggap hama, yakni dengan menjalankan program agroforestri.

Mereka pun mulai menanam tanaman yang tidak disukai gajah, namun memiliki nilai ekonomi tinggi di lahan-lahan mereka.

“Kami diberikan edukasi oleh PHR dan RSF, hingga terbentuklah KTH Alam Pusaka Jaya ini,” kenangnya.(bersambung/ade)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

Petani Keluhkan Harga Pakan Mahal

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Garap Budi Daya Rumput Odot

Agroforestri Ciptakan Harmonisasi Antara Gajah dan Petani (1)

BENGKALIS (RIAUPOSCO) – Dulu, suara ledakan petasan jumbo menjadi simfoni menakutkan bagi kawanan gajah Sumatera yang kerap mengganggu perkebunan warga di Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Namun seiring berjalannya waktu, suara itu perlahan tergantikan oleh nada yang lebih damai.

Laporan, Abu Kasim, Pinggir

Suparto, seorang petani sekaligus Sekretaris Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya, telah menjadi saksi hidup transformasi hubungan manusia dan gajah di kawasan ini. Sebagai pemilik lahan dan perkebunan di area yang bersempadan dengan kantong gajah Balairaja, Suparto awalnya ikut-ikutan menggunakan petasan untuk mengusir kawanan gajah liar. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, ia pun mulai meragukan efektivitas cara yang justru menyakiti hewan mamalia yang terancam punah tersebut.

Baca Juga:  Alih Profesi Sejenak, Aman dari Penertiban

“Kami sadar bahwa gajah juga punya hak untuk hidup dan mencari makan. Dulu kami sering konflik dengan gajah, tapi sekarang kami bisa hidup berdampingan,” jelas Suparto.

Ia menceritakan, bahwa dulu, tahun 1995 hingga 2020, warga menggunakan cara kuno dan berbahaya tersebut untuk mengusir kawanan gajah liar. Sebab, warga selalu merasa kesal lantaran hewan berbadan bongsor tersebut sering memakan tanaman sawit dan karet milik warga. “Ya, warga yang kesal, selalu mengusirnya dengan petasan,” ucapnya.

Suparto dan para warga setempat kini telah berdamai. Sejak mengenal rimba satwa foundation (RSF) yang merupakan mitra program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Suparto pun akhirnya mendapatkan edukasi dan sosialisasi.

Baca Juga:  Siapkan Makanan Gratis, Ambulans Air dan Antar Jemput Pasien

Kelompok masyarakat tersebut kini mendapatkan solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan gajah yang dulu mereka anggap hama, yakni dengan menjalankan program agroforestri.

Mereka pun mulai menanam tanaman yang tidak disukai gajah, namun memiliki nilai ekonomi tinggi di lahan-lahan mereka.

“Kami diberikan edukasi oleh PHR dan RSF, hingga terbentuklah KTH Alam Pusaka Jaya ini,” kenangnya.(bersambung/ade)

BENGKALIS (RIAUPOSCO) – Dulu, suara ledakan petasan jumbo menjadi simfoni menakutkan bagi kawanan gajah Sumatera yang kerap mengganggu perkebunan warga di Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Namun seiring berjalannya waktu, suara itu perlahan tergantikan oleh nada yang lebih damai.

Laporan, Abu Kasim, Pinggir

Suparto, seorang petani sekaligus Sekretaris Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya, telah menjadi saksi hidup transformasi hubungan manusia dan gajah di kawasan ini. Sebagai pemilik lahan dan perkebunan di area yang bersempadan dengan kantong gajah Balairaja, Suparto awalnya ikut-ikutan menggunakan petasan untuk mengusir kawanan gajah liar. Namun, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, ia pun mulai meragukan efektivitas cara yang justru menyakiti hewan mamalia yang terancam punah tersebut.

Baca Juga:  Melihat Festival Bakar Tongkang di Rohil; Aktivitas di Daratan Lebih Hoki

“Kami sadar bahwa gajah juga punya hak untuk hidup dan mencari makan. Dulu kami sering konflik dengan gajah, tapi sekarang kami bisa hidup berdampingan,” jelas Suparto.

Ia menceritakan, bahwa dulu, tahun 1995 hingga 2020, warga menggunakan cara kuno dan berbahaya tersebut untuk mengusir kawanan gajah liar. Sebab, warga selalu merasa kesal lantaran hewan berbadan bongsor tersebut sering memakan tanaman sawit dan karet milik warga. “Ya, warga yang kesal, selalu mengusirnya dengan petasan,” ucapnya.

Suparto dan para warga setempat kini telah berdamai. Sejak mengenal rimba satwa foundation (RSF) yang merupakan mitra program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Suparto pun akhirnya mendapatkan edukasi dan sosialisasi.

Baca Juga:  Mengantuk dan Lelah, Petugas KPPS Hitung Surat Suara hingga Lewat Tengah Malam

Kelompok masyarakat tersebut kini mendapatkan solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan gajah yang dulu mereka anggap hama, yakni dengan menjalankan program agroforestri.

Mereka pun mulai menanam tanaman yang tidak disukai gajah, namun memiliki nilai ekonomi tinggi di lahan-lahan mereka.

“Kami diberikan edukasi oleh PHR dan RSF, hingga terbentuklah KTH Alam Pusaka Jaya ini,” kenangnya.(bersambung/ade)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Petani Keluhkan Harga Pakan Mahal

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari