Ahad (4/8), penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Jawa Barat dan sebagian Jawa mengalami pemadaman total satu hari. Jakarta ibarat kampung tanpa listrik, warga yang sangat tergantung pada listrik pun merana.
Bagi warga desa, untuk mandi tak perlu listrik, tapi bagi warga Jakarta, untuk mendapatkan air harus menggunakan pompa air, tentunya memerlukan listrik. Bagi warga yang bermukim di rumah susun, untuk naik ke lantai atas tentunya menggunakan lift, dan menggunakan listrik. Begitu juga bagi yang bekerja di perkantoran, tentunya menggunakan lift untuk naik ke lantai atas, juga menggunakan listrik.
Jakarta yang panas dan penduduknya padat, sehingga bangunan pun dibangun bertingkat, maka setiap kamar memerlukan AC. Tak bisa dibayangkan jika satu hari duduk di kamar tanpa AC, tentunya pengap.
Dalam kehidupan modern saat ini ketergantungan pada handphone sangat tinggi, tak terbayangkan jika warga Jakarta yang super sibuk hidup tanpa handphone, tentu sangat stres.

Demikian juga dunia industri tentunya memerlukan listrik, baik industri besar, menengah dan kecil, semua memerlukan listrik. Tanpa listrik satu hari tentunya mereka rugi. Jabodetabek sebagai wilayah basis industri nasional, mereka sangat tergantung pada listrik. Jumlah pekerja pun ribuan, semuanya tergantung pada listrik.
Itu sebagian dari gambaran Jakarta tanpa listrik. Banyak kondisi masyarakat yang tidak bisa kita gambarkan dengan kata-kata. Ada hal kecil, yang diungkap seorang ibu, yang kita anggap hal ini sederhana, yakni kebiasaan ibu-ibu Jakarta yang bekerja satu hari penuh meninggalkan bayinya, maka sang ibu pun menyimpan air susu ibu di freezer, tapi ternyata freezer tidak berpungsi karena listrik padam, akhirnya bayi pun terpaksa tidak minum asi, karena padam listrik.
Kondisi Jakarta benar-benar sepi, tentu karena kehidupan kota besar sangat tergantung pada listrik. PLN seharusnya bertanggung jawab atas kondisi ini. Di Australia, satu jam listrik padam tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, maka pihak pengelola listrik akan menggratiskan satu hari bagi konsumen. Karena warga sangat tergentung pada listrik tentunya warga dirugikan. Itulah ciri negeri maju, semuanya terukur, tidak semena-mena tanpa ganti rugi.
PLN sebagai perusahaan tunggul milik BUMN yang bertanggung jawab atas ketersediaan listrik, hendaknya lebih profesional ke depannya. Di Taiwan, satu hari padam, Presidennya langsung mohon maaf, dan direktur perusahaan listriknya mundur. Demikian tanggung jawab moral atas pekerjaan mereka. Lalu bagaimana di negeri kita? Cukup diulang lagi saja sudah cukup hebat.***