Usai masuk perangkap, harimau Sumatera yang menerkam manusia hingga tewas di Pelalawan masih menjalani observasi. Ia direncakan akan dilepasliarkan kembali.
Fakta baru terungkap pada kasus pembantaian harimau Sumatera yang terjerat di Desa Tibawan, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Satwa terancam punah itu masih hidup sebelum para tersangka datang ke lokasi jerat, membunuh lalu mengulitinya.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengecam keras perbuatan oknum masyarakat yang mengakhiri hidup satwa dilindungi dan terancam punah yakni harimau Sumatera di Rokan IV Koto, Rokan Hulu (Rohul).
Seekor harimau sumatera yang muncul di kawasan hutan yang ada di Desa Tibawan, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Provinsi Riau, Ahad (2/3) siang, terperangkat jerat babi oleh masyarakat setempat.
Ketua DPRD Siak, Indra Gunawan, menyampaikan harapannya agar tidak ada korban jiwa akibat serangan harimau. “Saya berdoa agar tidak ada korban jiwa, karena harimau bisa muncul kapan saja dan membahayakan warga,”
Memasuki dua pekan harimau Sumatera yang meneror warga Mempura dan Sungai Apit tidak terdeteksi. Hewan buas dilindungi tersebut berada di luar radar Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.