Sabtu, 21 Februari 2026
- Advertisement -

Sampah Plastik Kepung Pantai Padang, Minta Penanganan Serius

PADANG (RIAUPOS.CO) – Kawasan Pantai Padang, khususnya di sekitar Masjid Al-Hakim, kembali menjadi sorotan akibat tumpukan sampah yang mengganggu estetika dan kenyamanan. Jumat (20/2), hamparan limbah plastik dan kayu terlihat menyelimuti bibir pantai tepat di depan rumah ibadah yang menjadi ikon wisata religi Sumatera Barat tersebut.

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan wisatawan. Vahid Ahmad (28), pengunjung asal Malaysia yang datang bersama keluarga besarnya, mengaku terkejut melihat kontras antara arsitektur masjid yang megah dengan lingkungan sekitar yang tampak kumuh akibat sampah.

Sambil memandang ke arah laut, Vahid menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai potensi wisata Pantai Padang sangat besar, namun terkendala persoalan kebersihan yang belum tuntas.

“Sangat disayangkan, kawasan ini sudah cukup cantik dengan Masjid Al-Hakim yang megah seperti Taj Mahal itu. Tapi saat melihat ke bawah, ke pantai, banyak sekali sampah plastik. Tidak nyaman rasanya ingin berfoto atau membawa anak-anak jalan. Seharusnya tempat suci seperti ini harus bersih, barulah tenang untuk beribadah,” ujarnya, Jumat (20/2).

Baca Juga:  Korban Bencana Sumatera Tembus 961 Jiwa, Identitas Banyak Sulit Dikenali

Ia berharap ada langkah nyata dari pemerintah dan meningkatnya kesadaran masyarakat. Menurutnya, pembersihan perlu dilakukan lebih sering dan penggunaan plastik sebaiknya dikurangi.

Secara visual, kawasan ini menghadirkan ironi. Masjid Al-Hakim dengan cat putih bersih berdiri megah sebagai kebanggaan warga. Namun, hanya beberapa meter dari gerbang masjid, terlihat tumpukan limbah rumah tangga dan kayu-kayu lapuk.

Fenomena ini dipicu faktor geografis dan alam. Sebagai kota dengan banyak muara sungai, Padang kerap menerima sampah kiriman saat hujan deras di wilayah hulu. Sampah terbawa arus sungai menuju laut, lalu terdampar kembali ke daratan akibat ombak.

Letak Pantai Padang yang berada di cekungan teluk membuat arus laut cenderung menjebak sampah di titik tersebut, sehingga limbah dari berbagai penjuru seolah berkumpul dan menetap.

Masalah ini juga memunculkan kontradiksi nilai. Kebersihan yang merupakan bagian dari iman menjadi sorotan ketika kawasan wisata religi dipenuhi sampah. Bau tidak sedap dan pemandangan kotor tentu mengurangi kenyamanan pengunjung yang datang untuk beribadah.

Baca Juga:  Menuju Green City, Pekanbaru Tegaskan Aturan Wajib Tanpa Kantong Plastik

Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah berupaya melakukan pembersihan dengan mengerahkan petugas secara rutin. Namun, upaya tersebut kerap berkejaran dengan waktu. Area yang dibersihkan pada pagi hari bisa kembali dipenuhi sampah pada sore harinya, terutama setelah pasang naik atau hujan di perbukitan.

Selain faktor alam, kurangnya kedisiplinan sebagian pengunjung dan pedagang kaki lima turut memperburuk keadaan. Meski tempat sampah tersedia di sepanjang jalur pedestrian, perilaku membuang sampah sembarangan masih menjadi tantangan.

Situasi ini menunjukkan pembangunan infrastruktur fisik, seperti Masjid Al-Hakim, perlu diiringi pembangunan karakter masyarakat. Sinergi antara pemerintah dalam penyediaan sarana dan kesadaran warga menjaga lingkungan menjadi kunci utama.

Jika kondisi ini terus berlanjut, pencemaran mikroplastik dan limbah dikhawatirkan menurunkan minat kunjungan wisatawan secara permanen dan berdampak pada ekonomi daerah yang bergantung pada sektor pariwisata. (rpg)

PADANG (RIAUPOS.CO) – Kawasan Pantai Padang, khususnya di sekitar Masjid Al-Hakim, kembali menjadi sorotan akibat tumpukan sampah yang mengganggu estetika dan kenyamanan. Jumat (20/2), hamparan limbah plastik dan kayu terlihat menyelimuti bibir pantai tepat di depan rumah ibadah yang menjadi ikon wisata religi Sumatera Barat tersebut.

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan wisatawan. Vahid Ahmad (28), pengunjung asal Malaysia yang datang bersama keluarga besarnya, mengaku terkejut melihat kontras antara arsitektur masjid yang megah dengan lingkungan sekitar yang tampak kumuh akibat sampah.

Sambil memandang ke arah laut, Vahid menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai potensi wisata Pantai Padang sangat besar, namun terkendala persoalan kebersihan yang belum tuntas.

“Sangat disayangkan, kawasan ini sudah cukup cantik dengan Masjid Al-Hakim yang megah seperti Taj Mahal itu. Tapi saat melihat ke bawah, ke pantai, banyak sekali sampah plastik. Tidak nyaman rasanya ingin berfoto atau membawa anak-anak jalan. Seharusnya tempat suci seperti ini harus bersih, barulah tenang untuk beribadah,” ujarnya, Jumat (20/2).

Baca Juga:  Aturan Kantong Plastik Ditetapkan, DPRD Dorong Peran Aktif Masyarakat

Ia berharap ada langkah nyata dari pemerintah dan meningkatnya kesadaran masyarakat. Menurutnya, pembersihan perlu dilakukan lebih sering dan penggunaan plastik sebaiknya dikurangi.

- Advertisement -

Secara visual, kawasan ini menghadirkan ironi. Masjid Al-Hakim dengan cat putih bersih berdiri megah sebagai kebanggaan warga. Namun, hanya beberapa meter dari gerbang masjid, terlihat tumpukan limbah rumah tangga dan kayu-kayu lapuk.

Fenomena ini dipicu faktor geografis dan alam. Sebagai kota dengan banyak muara sungai, Padang kerap menerima sampah kiriman saat hujan deras di wilayah hulu. Sampah terbawa arus sungai menuju laut, lalu terdampar kembali ke daratan akibat ombak.

- Advertisement -

Letak Pantai Padang yang berada di cekungan teluk membuat arus laut cenderung menjebak sampah di titik tersebut, sehingga limbah dari berbagai penjuru seolah berkumpul dan menetap.

Masalah ini juga memunculkan kontradiksi nilai. Kebersihan yang merupakan bagian dari iman menjadi sorotan ketika kawasan wisata religi dipenuhi sampah. Bau tidak sedap dan pemandangan kotor tentu mengurangi kenyamanan pengunjung yang datang untuk beribadah.

Baca Juga:  Korban Bencana Sumatera Tembus 961 Jiwa, Identitas Banyak Sulit Dikenali

Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah berupaya melakukan pembersihan dengan mengerahkan petugas secara rutin. Namun, upaya tersebut kerap berkejaran dengan waktu. Area yang dibersihkan pada pagi hari bisa kembali dipenuhi sampah pada sore harinya, terutama setelah pasang naik atau hujan di perbukitan.

Selain faktor alam, kurangnya kedisiplinan sebagian pengunjung dan pedagang kaki lima turut memperburuk keadaan. Meski tempat sampah tersedia di sepanjang jalur pedestrian, perilaku membuang sampah sembarangan masih menjadi tantangan.

Situasi ini menunjukkan pembangunan infrastruktur fisik, seperti Masjid Al-Hakim, perlu diiringi pembangunan karakter masyarakat. Sinergi antara pemerintah dalam penyediaan sarana dan kesadaran warga menjaga lingkungan menjadi kunci utama.

Jika kondisi ini terus berlanjut, pencemaran mikroplastik dan limbah dikhawatirkan menurunkan minat kunjungan wisatawan secara permanen dan berdampak pada ekonomi daerah yang bergantung pada sektor pariwisata. (rpg)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PADANG (RIAUPOS.CO) – Kawasan Pantai Padang, khususnya di sekitar Masjid Al-Hakim, kembali menjadi sorotan akibat tumpukan sampah yang mengganggu estetika dan kenyamanan. Jumat (20/2), hamparan limbah plastik dan kayu terlihat menyelimuti bibir pantai tepat di depan rumah ibadah yang menjadi ikon wisata religi Sumatera Barat tersebut.

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan wisatawan. Vahid Ahmad (28), pengunjung asal Malaysia yang datang bersama keluarga besarnya, mengaku terkejut melihat kontras antara arsitektur masjid yang megah dengan lingkungan sekitar yang tampak kumuh akibat sampah.

Sambil memandang ke arah laut, Vahid menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai potensi wisata Pantai Padang sangat besar, namun terkendala persoalan kebersihan yang belum tuntas.

“Sangat disayangkan, kawasan ini sudah cukup cantik dengan Masjid Al-Hakim yang megah seperti Taj Mahal itu. Tapi saat melihat ke bawah, ke pantai, banyak sekali sampah plastik. Tidak nyaman rasanya ingin berfoto atau membawa anak-anak jalan. Seharusnya tempat suci seperti ini harus bersih, barulah tenang untuk beribadah,” ujarnya, Jumat (20/2).

Baca Juga:  Galodo Terjang Maninjau, Akses Bukittinggi–Lubukbasung Lumpuh

Ia berharap ada langkah nyata dari pemerintah dan meningkatnya kesadaran masyarakat. Menurutnya, pembersihan perlu dilakukan lebih sering dan penggunaan plastik sebaiknya dikurangi.

Secara visual, kawasan ini menghadirkan ironi. Masjid Al-Hakim dengan cat putih bersih berdiri megah sebagai kebanggaan warga. Namun, hanya beberapa meter dari gerbang masjid, terlihat tumpukan limbah rumah tangga dan kayu-kayu lapuk.

Fenomena ini dipicu faktor geografis dan alam. Sebagai kota dengan banyak muara sungai, Padang kerap menerima sampah kiriman saat hujan deras di wilayah hulu. Sampah terbawa arus sungai menuju laut, lalu terdampar kembali ke daratan akibat ombak.

Letak Pantai Padang yang berada di cekungan teluk membuat arus laut cenderung menjebak sampah di titik tersebut, sehingga limbah dari berbagai penjuru seolah berkumpul dan menetap.

Masalah ini juga memunculkan kontradiksi nilai. Kebersihan yang merupakan bagian dari iman menjadi sorotan ketika kawasan wisata religi dipenuhi sampah. Bau tidak sedap dan pemandangan kotor tentu mengurangi kenyamanan pengunjung yang datang untuk beribadah.

Baca Juga:  Pekanbaru Resmi Larang Kantong Plastik, Warga Diminta Mulai Bawa Tas Belanja Sendiri

Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah berupaya melakukan pembersihan dengan mengerahkan petugas secara rutin. Namun, upaya tersebut kerap berkejaran dengan waktu. Area yang dibersihkan pada pagi hari bisa kembali dipenuhi sampah pada sore harinya, terutama setelah pasang naik atau hujan di perbukitan.

Selain faktor alam, kurangnya kedisiplinan sebagian pengunjung dan pedagang kaki lima turut memperburuk keadaan. Meski tempat sampah tersedia di sepanjang jalur pedestrian, perilaku membuang sampah sembarangan masih menjadi tantangan.

Situasi ini menunjukkan pembangunan infrastruktur fisik, seperti Masjid Al-Hakim, perlu diiringi pembangunan karakter masyarakat. Sinergi antara pemerintah dalam penyediaan sarana dan kesadaran warga menjaga lingkungan menjadi kunci utama.

Jika kondisi ini terus berlanjut, pencemaran mikroplastik dan limbah dikhawatirkan menurunkan minat kunjungan wisatawan secara permanen dan berdampak pada ekonomi daerah yang bergantung pada sektor pariwisata. (rpg)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari