Jumat, 30 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Ratusan Keluarga di Meranti Pilih Mundur dari Bansos

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO)Di tengah mayoritas warga Kabupaten Kepulauan Meranti yang masih masuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan bergantung pada bantuan sosial, ratusan keluarga justru memilih keluar secara sukarela dari daftar penerima bantuan pemerintah.

Data Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dissos P3AP2KB) Kepulauan Meranti mencatat, hingga Desember 2025 terdapat 167.676 jiwa yang masuk dalam kelompok Desil 1 hingga 5 pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kelompok ini dikategorikan sebagai masyarakat miskin hingga rentan miskin.

Sementara itu, penduduk yang tergolong relatif mampu atau masuk Desil 6 hingga 10 hanya berjumlah 41.228 jiwa.

Di balik tingginya angka tersebut, tercatat sebanyak 280 keluarga memilih melakukan graduasi mandiri, yakni mengundurkan diri dari status Keluarga Penerima Manfaat (KPM), meskipun masih tercatat dalam kelompok desil penerima bantuan.

“Graduasi ini adalah keluarga yang sebelumnya masuk Desil 1 sampai 5 dan berhak menerima bantuan, namun memilih keluar secara mandiri,” ujar Kepala Dissos P3AP2KB Kepulauan Meranti, Rokhaizal, didampingi Kabid Sosial Hasbul Munzir kepada RIAUPOS.CO, Kamis (29/1/2026).

Baca Juga:  KPK: Hajar Serangan Fajar Presiden Tegaskan Tak Akan Kampanye

Langkah ini dinilai mencerminkan mulai tumbuhnya kesadaran dan kemandirian ekonomi pada sebagian masyarakat, meskipun secara umum tingkat ketergantungan terhadap bantuan sosial masih tergolong tinggi.

Dari total penduduk kelompok desil rendah tersebut, penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari Desil 1 hingga 5 tercatat sebanyak 18.949 jiwa. Sementara penerima dari Desil 6 hingga 10 hanya 55 jiwa. Selain itu, penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) di Kepulauan Meranti mencapai 47.374 jiwa.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih membutuhkan intervensi negara, terutama untuk pemenuhan kebutuhan dasar di sektor pangan dan kesehatan.

Rokhaizal merinci, Kecamatan Tebing Tinggi menjadi wilayah dengan jumlah graduasi mandiri tertinggi, yakni 78 keluarga. Disusul Kecamatan Rangsang sebanyak 67 keluarga dan Kecamatan Tebing Tinggi Barat sebanyak 34 keluarga.

Baca Juga:  Pemko Pekanbaru Salurkan Bantuan Rp300 Ribu per Bulan untuk 424 KK Miskin Ekstrem

Selanjutnya, Kecamatan Rangsang Barat dan Pulau Merbau masing-masing mencatat 29 keluarga, Kecamatan Rangsang Pesisir 18 keluarga, Kecamatan Merbau 17 keluarga, Kecamatan Tasik Putri Puyu tujuh keluarga, serta Kecamatan Tebing Tinggi Timur menjadi yang terendah dengan satu keluarga.

“Ini menjadi indikator bahwa sebagian masyarakat mulai berupaya mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan, meskipun secara keseluruhan jumlah warga yang membutuhkan perlindungan sosial masih sangat besar,” ujarnya.

Fenomena graduasi mandiri ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah. Di satu sisi menunjukkan keberhasilan pemberdayaan pada kelompok tertentu, namun di sisi lain menegaskan bahwa tantangan utama Kepulauan Meranti masih terletak pada tingginya jumlah penduduk miskin dan rentan miskin yang memerlukan kebijakan ekonomi jangka panjang, bukan hanya bantuan bersifat sementara.

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO)Di tengah mayoritas warga Kabupaten Kepulauan Meranti yang masih masuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan bergantung pada bantuan sosial, ratusan keluarga justru memilih keluar secara sukarela dari daftar penerima bantuan pemerintah.

Data Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dissos P3AP2KB) Kepulauan Meranti mencatat, hingga Desember 2025 terdapat 167.676 jiwa yang masuk dalam kelompok Desil 1 hingga 5 pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kelompok ini dikategorikan sebagai masyarakat miskin hingga rentan miskin.

Sementara itu, penduduk yang tergolong relatif mampu atau masuk Desil 6 hingga 10 hanya berjumlah 41.228 jiwa.

Di balik tingginya angka tersebut, tercatat sebanyak 280 keluarga memilih melakukan graduasi mandiri, yakni mengundurkan diri dari status Keluarga Penerima Manfaat (KPM), meskipun masih tercatat dalam kelompok desil penerima bantuan.

“Graduasi ini adalah keluarga yang sebelumnya masuk Desil 1 sampai 5 dan berhak menerima bantuan, namun memilih keluar secara mandiri,” ujar Kepala Dissos P3AP2KB Kepulauan Meranti, Rokhaizal, didampingi Kabid Sosial Hasbul Munzir kepada RIAUPOS.CO, Kamis (29/1/2026).

- Advertisement -
Baca Juga:  Tinjau Karhutla, Plt Bupati Asmar Disambut Hujan Deras

Langkah ini dinilai mencerminkan mulai tumbuhnya kesadaran dan kemandirian ekonomi pada sebagian masyarakat, meskipun secara umum tingkat ketergantungan terhadap bantuan sosial masih tergolong tinggi.

Dari total penduduk kelompok desil rendah tersebut, penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari Desil 1 hingga 5 tercatat sebanyak 18.949 jiwa. Sementara penerima dari Desil 6 hingga 10 hanya 55 jiwa. Selain itu, penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) di Kepulauan Meranti mencapai 47.374 jiwa.

- Advertisement -

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih membutuhkan intervensi negara, terutama untuk pemenuhan kebutuhan dasar di sektor pangan dan kesehatan.

Rokhaizal merinci, Kecamatan Tebing Tinggi menjadi wilayah dengan jumlah graduasi mandiri tertinggi, yakni 78 keluarga. Disusul Kecamatan Rangsang sebanyak 67 keluarga dan Kecamatan Tebing Tinggi Barat sebanyak 34 keluarga.

Baca Juga:  Dosen UIR Turun ke Kampung Tengah, Berdayakan Ibu-Ibu PKH Lewat Pelatihan Kerajinan

Selanjutnya, Kecamatan Rangsang Barat dan Pulau Merbau masing-masing mencatat 29 keluarga, Kecamatan Rangsang Pesisir 18 keluarga, Kecamatan Merbau 17 keluarga, Kecamatan Tasik Putri Puyu tujuh keluarga, serta Kecamatan Tebing Tinggi Timur menjadi yang terendah dengan satu keluarga.

“Ini menjadi indikator bahwa sebagian masyarakat mulai berupaya mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan, meskipun secara keseluruhan jumlah warga yang membutuhkan perlindungan sosial masih sangat besar,” ujarnya.

Fenomena graduasi mandiri ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah. Di satu sisi menunjukkan keberhasilan pemberdayaan pada kelompok tertentu, namun di sisi lain menegaskan bahwa tantangan utama Kepulauan Meranti masih terletak pada tingginya jumlah penduduk miskin dan rentan miskin yang memerlukan kebijakan ekonomi jangka panjang, bukan hanya bantuan bersifat sementara.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO)Di tengah mayoritas warga Kabupaten Kepulauan Meranti yang masih masuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan bergantung pada bantuan sosial, ratusan keluarga justru memilih keluar secara sukarela dari daftar penerima bantuan pemerintah.

Data Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dissos P3AP2KB) Kepulauan Meranti mencatat, hingga Desember 2025 terdapat 167.676 jiwa yang masuk dalam kelompok Desil 1 hingga 5 pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kelompok ini dikategorikan sebagai masyarakat miskin hingga rentan miskin.

Sementara itu, penduduk yang tergolong relatif mampu atau masuk Desil 6 hingga 10 hanya berjumlah 41.228 jiwa.

Di balik tingginya angka tersebut, tercatat sebanyak 280 keluarga memilih melakukan graduasi mandiri, yakni mengundurkan diri dari status Keluarga Penerima Manfaat (KPM), meskipun masih tercatat dalam kelompok desil penerima bantuan.

“Graduasi ini adalah keluarga yang sebelumnya masuk Desil 1 sampai 5 dan berhak menerima bantuan, namun memilih keluar secara mandiri,” ujar Kepala Dissos P3AP2KB Kepulauan Meranti, Rokhaizal, didampingi Kabid Sosial Hasbul Munzir kepada RIAUPOS.CO, Kamis (29/1/2026).

Baca Juga:  Meranti Waspada Omicron di Jalur Internasional 

Langkah ini dinilai mencerminkan mulai tumbuhnya kesadaran dan kemandirian ekonomi pada sebagian masyarakat, meskipun secara umum tingkat ketergantungan terhadap bantuan sosial masih tergolong tinggi.

Dari total penduduk kelompok desil rendah tersebut, penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari Desil 1 hingga 5 tercatat sebanyak 18.949 jiwa. Sementara penerima dari Desil 6 hingga 10 hanya 55 jiwa. Selain itu, penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN) di Kepulauan Meranti mencapai 47.374 jiwa.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih membutuhkan intervensi negara, terutama untuk pemenuhan kebutuhan dasar di sektor pangan dan kesehatan.

Rokhaizal merinci, Kecamatan Tebing Tinggi menjadi wilayah dengan jumlah graduasi mandiri tertinggi, yakni 78 keluarga. Disusul Kecamatan Rangsang sebanyak 67 keluarga dan Kecamatan Tebing Tinggi Barat sebanyak 34 keluarga.

Baca Juga:  Pemko Pekanbaru Salurkan Bantuan Rp300 Ribu per Bulan untuk 424 KK Miskin Ekstrem

Selanjutnya, Kecamatan Rangsang Barat dan Pulau Merbau masing-masing mencatat 29 keluarga, Kecamatan Rangsang Pesisir 18 keluarga, Kecamatan Merbau 17 keluarga, Kecamatan Tasik Putri Puyu tujuh keluarga, serta Kecamatan Tebing Tinggi Timur menjadi yang terendah dengan satu keluarga.

“Ini menjadi indikator bahwa sebagian masyarakat mulai berupaya mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan, meskipun secara keseluruhan jumlah warga yang membutuhkan perlindungan sosial masih sangat besar,” ujarnya.

Fenomena graduasi mandiri ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah. Di satu sisi menunjukkan keberhasilan pemberdayaan pada kelompok tertentu, namun di sisi lain menegaskan bahwa tantangan utama Kepulauan Meranti masih terletak pada tingginya jumlah penduduk miskin dan rentan miskin yang memerlukan kebijakan ekonomi jangka panjang, bukan hanya bantuan bersifat sementara.

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari