Selasa, 23 April 2024

FORUM GURU - Joni Hendri (Guru SD Negeri 153 Pekanbaru)

Beratnya Tantangan Pendidik

“Tidak ada keabadian dalam kehidupan manusia dan lingkungannya. Pengaruh alam dan jaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Anak-anak adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka.”( Ki Hadjar Dewantara).

Ketika tenaga pendidik atau guru ditanya oleh seorang murid tentang bapak pendidikan, maka jawaban yang dikeluarkan dari mereka adalah Ki Hadjar Dewantara” Seorang tokoh kelahiran Yogyakarta, 26 April 1959 yang berperan penting dalam pergerakan dunia pendidikan Indonesia pada masanya. Tapi saya kira di saat sekarang, bagi anak-anak yang hidup hari ini, dapatkah kita memastikan bahwa mereka bisa mengenal atau menjawab dengan nama tersebut?

- Advertisement -

Sebab, mereka mengalami kerumitan untuk bertanya dalam proses belajar. Apalagi teknologi semakin mempengaruh kreativitas setiap hari. Dampaknya pasti sangat besar kepada generasi kita hari ini.

Ada tiga peran yang saling keterkaitan yang harus digabungkan menjadi tali untuk mengikat mereka dalam belajar, yaitu peran guru, peran orang tua dan peran anak.

Mungkin, pelajar kita hari ini lebih paham tentang hal yang bersangkutan dengan game yang bisa mengisi ruang hidup mereka saat waktu luang. Arus teknologi begitu cepat, secepat kilat, dan digital menjadi kebutuhan yang dianggap sebagai bahan pangan pokok yang menyentuhnya setiap waktu. Apakah hal itu sebagai perubahan yang harus memaksakan orang tua dan pendidik untuk lebih paham merumuskan pemikiran anak-anak hari ini?

- Advertisement -
Baca Juga:  Gelombang 2 UTBK-SBMPTN Unri 28 Mei-3 Juni

Awal kutipan Ki Hadjar Dewantara tadi, andai yang mempunyai pemikiran (tulisan) itu seorang peramal, agaknya kita bisa maklumi. Tapi, karena Ki Hajdjar Dewantara seorang tokoh pelopor pendidikan kaum pribumi di zaman penjajah, sudah mempunyai pandangan jauh. Sebagai tanda yang perlu dilihat dan diungkapkan tetntang sesuatu yang telah terjadi. Maka pada kondisi saat ini bisa dikaitkan dengan hal tersebut. Memberi isyarat bahwa tidak ada yang abadi dalam dunia pendidik dalam kehidupan ini. Termasuk lingkungan yang nyaman yang kini diambang kehancuran. Itu tidak bisa dihindari, karena kondisi pemikiran anak yang semakin memburuk.

Belakangan ini saya merasa dunia pendidikan adalah dunia istirahat untuk para pengajar. Di mana terlalu banyak pengajar hendak membuat sesuatu yang bisa menyenangkan saat jam kerja. Saya tidak tahu persis, apakah orentasi dari cara memberi tugas kepada anak-anak itu sebagai “pengajar” atau melepas tugas yang sedang diperankan. Seharusnya pendidik harus mahir dalam menerapkan metode di zaman ini. Walaupun keterpurukan pendidikan sedang menurun, namun pengetahuan harus semakin meninggi. Sebagaimana cita-cita kita Indonesia yang terpapar dalam Undang-Undang 1945 yaitu “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Ungkapan inilah sebagai cita-cita besar bagi perkembangan negeri ini.

Baca Juga:  Hasil UTBK-SBMPTN Diumumkan 23 Juni, Ini Cara Cek Hasil Kelulusan

Atau jangan-jangan setiap pengajar maupun dunia pendidikan ini tidak penting lagi untuk dipertanyakan di masa sekarang? Demi kemajuan dunia pendidikan apa yang harus dikerjakan saat melawan kelemaha kita? Tapi, mungkin agaknya demikianlah takdir yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara: “Pengaruh alam dan zaman adalah pengusa yang tidak bisa dihindari oleh manusia.”

Namun apakah ia akan berubah nantinya atau mati keisengan. Padahal pendidikan adalah ujung tombak peradaban suatu negeri demi menuntaskan bermacam-macam problematika di tengah masyarakat. Mari menjengah dunia pendidikan hari ini. Lihat efek di tengah-tengah masyarakat apakah prioritas utama? Anak-anak hari ini seperti memiliki jalan hidupnya sendiri. Lahir sebagai intelektual yang cerdas atau yang gagal, dalam jangka waktu yang panjang.

Produktivitas mereka akan terjebak dalam lingkaran struktural yang buruk. Ketakutan semacam ini memperoleh sebuah totalitas untuk bersuara lantang di bangku-bangku sekolah dalam proses penyatuan suasana yang sesulit. Antara teknologi dan diri sendiri (pendidik) lalu menjadi kesadaran dari dalam. Lalu bagaimana bentuk kerisaun kita dalam menghadapi masalah ini? Membangun generasi dalam kondisi yang sulit, mari kita jawab bersama.***

Oleh: Joni Hendri, Guru SD Negeri 153 Pekanbaru

 

“Tidak ada keabadian dalam kehidupan manusia dan lingkungannya. Pengaruh alam dan jaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Anak-anak adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka.”( Ki Hadjar Dewantara).

Ketika tenaga pendidik atau guru ditanya oleh seorang murid tentang bapak pendidikan, maka jawaban yang dikeluarkan dari mereka adalah Ki Hadjar Dewantara” Seorang tokoh kelahiran Yogyakarta, 26 April 1959 yang berperan penting dalam pergerakan dunia pendidikan Indonesia pada masanya. Tapi saya kira di saat sekarang, bagi anak-anak yang hidup hari ini, dapatkah kita memastikan bahwa mereka bisa mengenal atau menjawab dengan nama tersebut?

Sebab, mereka mengalami kerumitan untuk bertanya dalam proses belajar. Apalagi teknologi semakin mempengaruh kreativitas setiap hari. Dampaknya pasti sangat besar kepada generasi kita hari ini.

Ada tiga peran yang saling keterkaitan yang harus digabungkan menjadi tali untuk mengikat mereka dalam belajar, yaitu peran guru, peran orang tua dan peran anak.

Mungkin, pelajar kita hari ini lebih paham tentang hal yang bersangkutan dengan game yang bisa mengisi ruang hidup mereka saat waktu luang. Arus teknologi begitu cepat, secepat kilat, dan digital menjadi kebutuhan yang dianggap sebagai bahan pangan pokok yang menyentuhnya setiap waktu. Apakah hal itu sebagai perubahan yang harus memaksakan orang tua dan pendidik untuk lebih paham merumuskan pemikiran anak-anak hari ini?

Baca Juga:  Belajar Ilmu Grafologi, Baca Karakter Lewat Tulisan Tangan

Awal kutipan Ki Hadjar Dewantara tadi, andai yang mempunyai pemikiran (tulisan) itu seorang peramal, agaknya kita bisa maklumi. Tapi, karena Ki Hajdjar Dewantara seorang tokoh pelopor pendidikan kaum pribumi di zaman penjajah, sudah mempunyai pandangan jauh. Sebagai tanda yang perlu dilihat dan diungkapkan tetntang sesuatu yang telah terjadi. Maka pada kondisi saat ini bisa dikaitkan dengan hal tersebut. Memberi isyarat bahwa tidak ada yang abadi dalam dunia pendidik dalam kehidupan ini. Termasuk lingkungan yang nyaman yang kini diambang kehancuran. Itu tidak bisa dihindari, karena kondisi pemikiran anak yang semakin memburuk.

Belakangan ini saya merasa dunia pendidikan adalah dunia istirahat untuk para pengajar. Di mana terlalu banyak pengajar hendak membuat sesuatu yang bisa menyenangkan saat jam kerja. Saya tidak tahu persis, apakah orentasi dari cara memberi tugas kepada anak-anak itu sebagai “pengajar” atau melepas tugas yang sedang diperankan. Seharusnya pendidik harus mahir dalam menerapkan metode di zaman ini. Walaupun keterpurukan pendidikan sedang menurun, namun pengetahuan harus semakin meninggi. Sebagaimana cita-cita kita Indonesia yang terpapar dalam Undang-Undang 1945 yaitu “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Ungkapan inilah sebagai cita-cita besar bagi perkembangan negeri ini.

Baca Juga:  73 Guru MAN 2 Kota Pekanbaru Ikuti Bimtek Kurikulum Merdeka Belajar

Atau jangan-jangan setiap pengajar maupun dunia pendidikan ini tidak penting lagi untuk dipertanyakan di masa sekarang? Demi kemajuan dunia pendidikan apa yang harus dikerjakan saat melawan kelemaha kita? Tapi, mungkin agaknya demikianlah takdir yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara: “Pengaruh alam dan zaman adalah pengusa yang tidak bisa dihindari oleh manusia.”

Namun apakah ia akan berubah nantinya atau mati keisengan. Padahal pendidikan adalah ujung tombak peradaban suatu negeri demi menuntaskan bermacam-macam problematika di tengah masyarakat. Mari menjengah dunia pendidikan hari ini. Lihat efek di tengah-tengah masyarakat apakah prioritas utama? Anak-anak hari ini seperti memiliki jalan hidupnya sendiri. Lahir sebagai intelektual yang cerdas atau yang gagal, dalam jangka waktu yang panjang.

Produktivitas mereka akan terjebak dalam lingkaran struktural yang buruk. Ketakutan semacam ini memperoleh sebuah totalitas untuk bersuara lantang di bangku-bangku sekolah dalam proses penyatuan suasana yang sesulit. Antara teknologi dan diri sendiri (pendidik) lalu menjadi kesadaran dari dalam. Lalu bagaimana bentuk kerisaun kita dalam menghadapi masalah ini? Membangun generasi dalam kondisi yang sulit, mari kita jawab bersama.***

Oleh: Joni Hendri, Guru SD Negeri 153 Pekanbaru

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Penerapan TPBIS di Perpustakaan Sekolah

spot_img
spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari