Minggu, 21 April 2024

Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan Pendidikan Tinggi

Globalisasi telah memasuki era yang bernama Revolusi Industri 4.0. Ujung dari revolusi industri 4.0 adalah otomatisasi untuk efisiensi dan kinerja handal. Berbagai jenis pekerjaan berubah. Era ini akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam bidang tekonologi saja, namun juga bidang yang lain seperti ekonomi, sosial, dan politik.

Indonesia termasuk yang cukup sukses dan aktif misalnya di dalam menghasilkan perusahaan rintisan industri baru berbasis teknologi. Konsep industri 4.0 muncul pertama kali pada sebuah artikel Pemerintah Jerman, November 2011, merujuk pada strategi high-tech untuk 2020. Pada 2013, istilah industri 4.0 muncul lagi pada sebuah pameran di Hannover, Jerman. Pada perkembangan selanjutnya industri 4.0 menjadi istilah yang sering digunakan untuk merujuk proses perkembangan manajemen produksi dan rantai produksi. Istilah ini juga mengacu pada revolusi industri keempat.

- Advertisement -

Dalam perkembangannya, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia telah menekankan pentingnya penerapan industri 4.0. Sejumlah sektor industri nasional telah memasuki era tersebut, diantaranya industri semen, petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman. Sebagai contoh industri otomotif, dalam proses produksinya, mereka sudah menggunakan sistem robot dan infrasatruktur lnternet of Things (loT). Karena itu Indonesia benar-benar telah merasakan dampak industri 4.0. Jumlah perangkat IoT, hal-hal yang terkait dengan internet, akan meningkat drastis, teknologi informasi berbasis kecerdasan buatan juga telah mendisrupsi berbagai bidang bisnis.

Demikian halnya di bidang transportasi konvensional misalnya, kini beralih ke model transportasi yang memanfaatkan sistem aplikasi berbasis internet, menjadi alat tranportasi yang dimanfaatkan masyarakat untuk kepentingan mobilitas manusia. Dampaknya publik menjadi lebih mudah mendapatkan pelayanan transportasi dan bahkan dengan harga yang sangat terjangkau.

Baca Juga:  Transformasi Birokrasi: Harga Mati

Perangkat-perangkat baru dan peranti lunak cerdas yang dihasilkan tentu memunculkan bidang kerja baru yang inovatif, dan bidang bisnis baru. Dapat disimpulkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat telah melahirkan tekonologi informasi dan proses produksi yang dikendalikan secara otomatis.

- Advertisement -

Berkenaan dengan itu perguruan tinggi diharapkan bergerak cepat agar sesuai dengan dinamika digital, penerapan kecerdasan buatan, pengambilan keputusan dan perencanaan strategis dengan memanfaatkan big data analytics dan loT di segala bidang serta perkembangan pesat model bisnis. Jika tidak disesuaikan, lulusan perguruan tinggi tidak akan sesuai untuk menjadi pemikir dan pekerja di era ini.

Kalau kemudian kesuaian itu tidak terpenuhi, menurut Yudi Latif (2020), berarti perguruan tinggi gagal dan akan dihukum dengan malapetaka. Pada bangsa-bangsa yang kurang terdidik, lebih banyak malapetaka dalam kehidupannya. Keterdidikan menjadi paspor meraih kebaikan dan kebahagiaan hidup bersama.

Efektivitas

Sosialisasi Norma

Meski demikian, tidaklah berarti bahwa semua orang berpendidikan tinggi akan senantiasa seperti itu. Sangat bergantung pada tingkat intensitas dan efektivitas sosialisasi norma, nilai, dan model perilaku kewargaan dalam dunia pendidikan. Apalagi kalau dunia pendidikan cenderung mengabaikan pendidikan nilai dan lebih mengutamakan pendidikan instrumental, sikap-sikap eksklusif dan intoleran itu bisa melanda kalangan pendidikan tinggi.

Dalam kaitan itu, perlu dilihat juga faktor yang memengaruhi watak pendidikan. Salah satunya adalah faktor budaya politik. Frederick D Weil (1985) mengajukan tesis bahwa nilai-nilai yang ditransmisikan oleh sistem pendidikan suatu negara merefleksikan budaya politik (resmi) negara tersebut, yang pada gilirannya ditentukan oleh bentuk rezim yang berkembang.

Menghadapi tantangan itu, Kemenristek dan Dikti menekankan memandang akan pentingnya pengembangan kurikulum Pendidikan Tinggi Berorientasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dalam rangka implementasi Standar Nasional (SN Dikti) pada era industri 4.0 dengan menjunjung tinggi etika kewargaan bangsa dan negara, sekaligus komitmen untuk menghadirkan life-long learning (belajar sepanjang hayat) agar para lulusan dan siapa saja yang ingin belajar dapat terus meng-update pengetahuan dan keahlian, karena masa depan lebih membutuhkan tenaga yang lebih trampil dengan kemampuan yang spesifik.

Baca Juga:  Tumbuh Bersatu di Tengah Pandemi

Dari gambaran di atas, jelas industri 4.0 perlu mendapat perhatian khusus perguruan tinggi. Kita mengharapkan perguruan tinggi perlu mengembangkan sistem assessment yang optimal bagi mahasiswa di saat ini, teknologi informasi berbasiskan kecerdasan buatan artificial intelegence (AI) tentunya dapat digunakan pada tes sumatif.

Pendidikan masa depan memiliki ciri kebutuhan akan pengetahuan yang tepat bagi mahasiswa dan di mana memperolehnya daripada mengisi pikiran mahasiswa dengan segala materi pembelajaran yang di masa depan mungkin sudah tidak dipakai, serta belajar bersama di mana dosen lebih sebagai fasilitator.

Selain itu, tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan setara dengan mahasiswa lainnya, dan sudah saatnya diberikan penyesuaian tingkat kesulitan terhadapnya. Mahasiswa akan belajar dengan fasilitas yang disediakan oleh universitas yang mampu mengadaptasi kemampuan mahasiswa. Ini akan menghemat waktu studi mahasiswa, di samping menghasilkan pengalaman belajar yang positif, dan akan meningkatkan kepercayaan mahasiswa di dalam dunia akademiknya.

Revolusi industri 4.0 menyebabkan terjadinya sesuatu yang dapat mengurangi keberadaan dan peran manusia pada industri dan jasa. Yang tidak kalah pentingnya perlu penyesuaian kurikulum dan metode pembelajaran yang tepat serta kesiapan tekonolgi pendukung yang sesuai di perguruan tinggi.***

Oleh Mohamad Azam Kamil, Karyawan PTPN IV Regional III

Globalisasi telah memasuki era yang bernama Revolusi Industri 4.0. Ujung dari revolusi industri 4.0 adalah otomatisasi untuk efisiensi dan kinerja handal. Berbagai jenis pekerjaan berubah. Era ini akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam bidang tekonologi saja, namun juga bidang yang lain seperti ekonomi, sosial, dan politik.

Indonesia termasuk yang cukup sukses dan aktif misalnya di dalam menghasilkan perusahaan rintisan industri baru berbasis teknologi. Konsep industri 4.0 muncul pertama kali pada sebuah artikel Pemerintah Jerman, November 2011, merujuk pada strategi high-tech untuk 2020. Pada 2013, istilah industri 4.0 muncul lagi pada sebuah pameran di Hannover, Jerman. Pada perkembangan selanjutnya industri 4.0 menjadi istilah yang sering digunakan untuk merujuk proses perkembangan manajemen produksi dan rantai produksi. Istilah ini juga mengacu pada revolusi industri keempat.

Dalam perkembangannya, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia telah menekankan pentingnya penerapan industri 4.0. Sejumlah sektor industri nasional telah memasuki era tersebut, diantaranya industri semen, petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman. Sebagai contoh industri otomotif, dalam proses produksinya, mereka sudah menggunakan sistem robot dan infrasatruktur lnternet of Things (loT). Karena itu Indonesia benar-benar telah merasakan dampak industri 4.0. Jumlah perangkat IoT, hal-hal yang terkait dengan internet, akan meningkat drastis, teknologi informasi berbasis kecerdasan buatan juga telah mendisrupsi berbagai bidang bisnis.

Demikian halnya di bidang transportasi konvensional misalnya, kini beralih ke model transportasi yang memanfaatkan sistem aplikasi berbasis internet, menjadi alat tranportasi yang dimanfaatkan masyarakat untuk kepentingan mobilitas manusia. Dampaknya publik menjadi lebih mudah mendapatkan pelayanan transportasi dan bahkan dengan harga yang sangat terjangkau.

Baca Juga:  Lingkungan; Tantangan Kepala Daerah Baru

Perangkat-perangkat baru dan peranti lunak cerdas yang dihasilkan tentu memunculkan bidang kerja baru yang inovatif, dan bidang bisnis baru. Dapat disimpulkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat telah melahirkan tekonologi informasi dan proses produksi yang dikendalikan secara otomatis.

Berkenaan dengan itu perguruan tinggi diharapkan bergerak cepat agar sesuai dengan dinamika digital, penerapan kecerdasan buatan, pengambilan keputusan dan perencanaan strategis dengan memanfaatkan big data analytics dan loT di segala bidang serta perkembangan pesat model bisnis. Jika tidak disesuaikan, lulusan perguruan tinggi tidak akan sesuai untuk menjadi pemikir dan pekerja di era ini.

Kalau kemudian kesuaian itu tidak terpenuhi, menurut Yudi Latif (2020), berarti perguruan tinggi gagal dan akan dihukum dengan malapetaka. Pada bangsa-bangsa yang kurang terdidik, lebih banyak malapetaka dalam kehidupannya. Keterdidikan menjadi paspor meraih kebaikan dan kebahagiaan hidup bersama.

Efektivitas

Sosialisasi Norma

Meski demikian, tidaklah berarti bahwa semua orang berpendidikan tinggi akan senantiasa seperti itu. Sangat bergantung pada tingkat intensitas dan efektivitas sosialisasi norma, nilai, dan model perilaku kewargaan dalam dunia pendidikan. Apalagi kalau dunia pendidikan cenderung mengabaikan pendidikan nilai dan lebih mengutamakan pendidikan instrumental, sikap-sikap eksklusif dan intoleran itu bisa melanda kalangan pendidikan tinggi.

Dalam kaitan itu, perlu dilihat juga faktor yang memengaruhi watak pendidikan. Salah satunya adalah faktor budaya politik. Frederick D Weil (1985) mengajukan tesis bahwa nilai-nilai yang ditransmisikan oleh sistem pendidikan suatu negara merefleksikan budaya politik (resmi) negara tersebut, yang pada gilirannya ditentukan oleh bentuk rezim yang berkembang.

Menghadapi tantangan itu, Kemenristek dan Dikti menekankan memandang akan pentingnya pengembangan kurikulum Pendidikan Tinggi Berorientasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dalam rangka implementasi Standar Nasional (SN Dikti) pada era industri 4.0 dengan menjunjung tinggi etika kewargaan bangsa dan negara, sekaligus komitmen untuk menghadirkan life-long learning (belajar sepanjang hayat) agar para lulusan dan siapa saja yang ingin belajar dapat terus meng-update pengetahuan dan keahlian, karena masa depan lebih membutuhkan tenaga yang lebih trampil dengan kemampuan yang spesifik.

Baca Juga:  Eksistensi Komunitas BSLADY: Sebuah Komunikasi dan Lifestyle

Dari gambaran di atas, jelas industri 4.0 perlu mendapat perhatian khusus perguruan tinggi. Kita mengharapkan perguruan tinggi perlu mengembangkan sistem assessment yang optimal bagi mahasiswa di saat ini, teknologi informasi berbasiskan kecerdasan buatan artificial intelegence (AI) tentunya dapat digunakan pada tes sumatif.

Pendidikan masa depan memiliki ciri kebutuhan akan pengetahuan yang tepat bagi mahasiswa dan di mana memperolehnya daripada mengisi pikiran mahasiswa dengan segala materi pembelajaran yang di masa depan mungkin sudah tidak dipakai, serta belajar bersama di mana dosen lebih sebagai fasilitator.

Selain itu, tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan setara dengan mahasiswa lainnya, dan sudah saatnya diberikan penyesuaian tingkat kesulitan terhadapnya. Mahasiswa akan belajar dengan fasilitas yang disediakan oleh universitas yang mampu mengadaptasi kemampuan mahasiswa. Ini akan menghemat waktu studi mahasiswa, di samping menghasilkan pengalaman belajar yang positif, dan akan meningkatkan kepercayaan mahasiswa di dalam dunia akademiknya.

Revolusi industri 4.0 menyebabkan terjadinya sesuatu yang dapat mengurangi keberadaan dan peran manusia pada industri dan jasa. Yang tidak kalah pentingnya perlu penyesuaian kurikulum dan metode pembelajaran yang tepat serta kesiapan tekonolgi pendukung yang sesuai di perguruan tinggi.***

Oleh Mohamad Azam Kamil, Karyawan PTPN IV Regional III

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img
spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari