Sabtu, 2 Maret 2024

Fenomena Pejabat Transaksional

(RIAUPOS.CO) – Masalah besar yang sering dialami pemimpin adalah terjadinya perubahan sikap mental, dimana setelah memegang jabatan seketika terjadi perubahan yang berbalik arah. Mengapa sikap mental mereka berubah arah setelah duduk menjadi pemimpin, ia lupa berdiri seolah-olah jabatan dan kekuasaan miliknya.

Mereka memanfaatkan kekuasaan yang melekat pada dirinya guna untuk kepentingan kenyamanan pribadi dan kelompoknya. Akibatnya keputusan yang diambil bersifat diskriminatif dan menimbulkan kontroversi yang hanya memihak pada orang-orang tertentu disekitarnya.

Siapa yang dekat akan mendapat berkah, siapa yang kritis akan terancam dan siapa yang menjauh akan semakin tak terperhatikan. Tidak semua orang akan berubah arah setelah duduk sebagai pejabat. Bahkan Ada diantara mereka setelah menduduki suatu jabatan justru semakin santun dan baik hati. Ia bukan tipe orang ambisius yang mengejar jabatan.

Bermodal kreativitas dan inovasi yang dilandasi dengan sikap mental terpuji, mengantarkan seseorang meraih suatu jabatan, sehingga baginya jabatan adalah sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat.

Jabatan transaksional diperoleh oleh orang yang ambisius dan ingin cepat sukses meraih jabatan, meskipun dengan cara-cara yang tidak terhormat; misalnya melalui manajemen transaksional “ada uang ada jabatan”. Pejabat transaksional sulit diidentifikasi dan dibuktikan.

- Advertisement -

Dalam teori johari window dikenal dengan istilah bidang buta dan bidang misteri. Disebut sebagai bidang buta karena berisi hal hal yang tidak diketahui oleh diri sendiri namun diketahui oleh orang lain. Bidang misteri karena berisi hal-hal yang tidak diketahui oleh diri sendiri dan orang lain.

Semuanya serba dirahasiakan, namun faktanya telah terjadi transaksi yang sulit dicari sumbernya, dengan siapa bertransaki dan bagaimana mekanisme mata rantainya. Mirip-mirp dengan transaksi narkoba yang tidak bisa dicari mata rantai jalur distribusinya.

- Advertisement -

Tipe pejabat transaksional seperti ini yang diindikasikan berubah sikap dan perilakunya setelah meraih jabatan demi untuk mengembalikan modal transaksi. Mereka menjadi pejabat karena hasil hubungan gelap antara makelar jabatan dengan perilaku calon pejabat ambisius yang minus prestasi.

Baca Juga:  Kurban atau Hanya Korban

Perubahan perilaku transaksional seorang pejabat bisa juga terlahir dari hubungan dalam bentuk balas budi. Seseorang yang berambisi untuk meraih jabatan, masih punya celah untuk masuk melalui pintu hati yang masih terkunci yaitu melalui pintu balas budi. Balas budi adalah membalas kebaikan orang, atau mendapat kebaikan hati dari orang lain dalam bentuk sesuatu yang menyenangkan dan wajib dibalas.

Hutang emas boleh dibayar, namun hutang budi dibawa mati. Budi baik orang hendaklah dikenang selama lamanya. Karena budi baik tidak semata mata dapat dibayar dengan uang sehingga dalam kontek pekerjaan, budi baik sering diberikan dalam bentuk imbal jabatan.

Kini budi baikpun sudah direkayasa sedemikian rupa, sehingga orang berupaya menanamkan budi baik dengan mengharapkan imbal jasa transaksi jabatan. Misalnya menjadi tim sukses dan berjuang secara total untuk seseorang, dan jika yang bersangkutan sukses terpilih menjadi pejabat maka tinggal menunggu saatnya ia akan mendapatkan jatah jabatan dari hasil transaksi hubungan budi baik.

Dalam realitasnya Apapun kondisinya yang pasti utang budi sebagai gangguan terberat seorang pemimpin terutama dari aspek kenyamanan dalam persahabatan, apalagi yang bersangkutan telah membantu kita.

Jalur lainnya yang bersifat transaksional adalah melalui jalur jalan tol untuk mendapatkan surat rekomendasi, surat memo, surat sakti, surat titipan dari orang-orang yang disegani atau orang kuat dan berpengaruh.. Berbekal surat sakti itulah seseorang dapat meraih jabatan, meskipun diperoleh dengan cara-cara yang tidak etis.

Fakta transaksional dalam meraih jabatan terjadi karena kurangnya penghayatan masyarakat terhadap makna dari pekerjaan dan jabatan. Orang yang Bekerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya untukkebaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara tanpa menyusahkan orang lain.

Baca Juga:  "Drama Politik" Negeri Ringgit

Bekerja adalah manifestasi amal saleh, bila kerja itu amal saleh, maka kerja adalah ibadah. Karena itu bekerja mengandung aspek nilai-nilai kemuliaan yang perlu dijadikan falsafah dalam kehidupan..

Bukti seorang pemimpin yang paham dengan nilai-nilai kemuliaan dapat dilihat dari beberapa suasana kepemimpinan berikut. Pertama, pemimpin merasa bangga dengan personelnya sekaligus merasakan bahwa personel itu adalah miliknya. Sebaliknya, personel merasa bangga dengan pemimpin mereka dan merasakan bahwa pemimpin mereka adalah milik mereka.

Kedua, Pemimpin bersama-sama dengan seluruh personelnya merasa bangga bahwa seluruh aset organisasi , termasuk citra organisasi, adalah milik mereka. Merasa memiliki artinya menumbuhkan rasa kewajiban untuk memelihara dengan baik seluruh aset organisasi.

Ketiga, Pola pikir objektif, yang mengutamakan kepentingan organisasi dan selalu memperhatikan ketentuan-ketentuan yang ada. Syarat untuk dapat menjadi seseorang yang memiliki pola pikir objektif dan bertanggung jawab adalah dengan cara membebaskan diri dari berbagai keterikatan, tekanan, dan keterpaksaan, di samping mampu menahan diri.

Keempat, Sikap keterbukaan yang dapat menumbuhkan semangat bagi kehidupan organisasi, karena dengan sikap keterbukaan pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi dapat mengikuti jalannya roda organisasi lebih mendetail, sekaligus memberikan dukungannya demi kemajuan organisasi.

Sikap keterbukaan merupakan keharusan bagi setiap organisasi karena dengan keterbukaann jalannya organisasi akan terkontrol dengan baik, tetapi masih perlu dilakukan pembatasan dan disesuaikan dengan keadaan. Kelima, sebelum dilantik menjadi pejabat, yang bersangkutan diambil janji dan sumpah jabatan. Hal tersebut sebagai pengingat bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Semoga…***

 

Oleh: Machasin, Dosen Prodi Doktor Ilmu ManajemenFEB Unri

(RIAUPOS.CO) – Masalah besar yang sering dialami pemimpin adalah terjadinya perubahan sikap mental, dimana setelah memegang jabatan seketika terjadi perubahan yang berbalik arah. Mengapa sikap mental mereka berubah arah setelah duduk menjadi pemimpin, ia lupa berdiri seolah-olah jabatan dan kekuasaan miliknya.

Mereka memanfaatkan kekuasaan yang melekat pada dirinya guna untuk kepentingan kenyamanan pribadi dan kelompoknya. Akibatnya keputusan yang diambil bersifat diskriminatif dan menimbulkan kontroversi yang hanya memihak pada orang-orang tertentu disekitarnya.

Siapa yang dekat akan mendapat berkah, siapa yang kritis akan terancam dan siapa yang menjauh akan semakin tak terperhatikan. Tidak semua orang akan berubah arah setelah duduk sebagai pejabat. Bahkan Ada diantara mereka setelah menduduki suatu jabatan justru semakin santun dan baik hati. Ia bukan tipe orang ambisius yang mengejar jabatan.

Bermodal kreativitas dan inovasi yang dilandasi dengan sikap mental terpuji, mengantarkan seseorang meraih suatu jabatan, sehingga baginya jabatan adalah sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat.

Jabatan transaksional diperoleh oleh orang yang ambisius dan ingin cepat sukses meraih jabatan, meskipun dengan cara-cara yang tidak terhormat; misalnya melalui manajemen transaksional “ada uang ada jabatan”. Pejabat transaksional sulit diidentifikasi dan dibuktikan.

Dalam teori johari window dikenal dengan istilah bidang buta dan bidang misteri. Disebut sebagai bidang buta karena berisi hal hal yang tidak diketahui oleh diri sendiri namun diketahui oleh orang lain. Bidang misteri karena berisi hal-hal yang tidak diketahui oleh diri sendiri dan orang lain.

Semuanya serba dirahasiakan, namun faktanya telah terjadi transaksi yang sulit dicari sumbernya, dengan siapa bertransaki dan bagaimana mekanisme mata rantainya. Mirip-mirp dengan transaksi narkoba yang tidak bisa dicari mata rantai jalur distribusinya.

Tipe pejabat transaksional seperti ini yang diindikasikan berubah sikap dan perilakunya setelah meraih jabatan demi untuk mengembalikan modal transaksi. Mereka menjadi pejabat karena hasil hubungan gelap antara makelar jabatan dengan perilaku calon pejabat ambisius yang minus prestasi.

Baca Juga:  Hati-Hati Berinvestasi

Perubahan perilaku transaksional seorang pejabat bisa juga terlahir dari hubungan dalam bentuk balas budi. Seseorang yang berambisi untuk meraih jabatan, masih punya celah untuk masuk melalui pintu hati yang masih terkunci yaitu melalui pintu balas budi. Balas budi adalah membalas kebaikan orang, atau mendapat kebaikan hati dari orang lain dalam bentuk sesuatu yang menyenangkan dan wajib dibalas.

Hutang emas boleh dibayar, namun hutang budi dibawa mati. Budi baik orang hendaklah dikenang selama lamanya. Karena budi baik tidak semata mata dapat dibayar dengan uang sehingga dalam kontek pekerjaan, budi baik sering diberikan dalam bentuk imbal jabatan.

Kini budi baikpun sudah direkayasa sedemikian rupa, sehingga orang berupaya menanamkan budi baik dengan mengharapkan imbal jasa transaksi jabatan. Misalnya menjadi tim sukses dan berjuang secara total untuk seseorang, dan jika yang bersangkutan sukses terpilih menjadi pejabat maka tinggal menunggu saatnya ia akan mendapatkan jatah jabatan dari hasil transaksi hubungan budi baik.

Dalam realitasnya Apapun kondisinya yang pasti utang budi sebagai gangguan terberat seorang pemimpin terutama dari aspek kenyamanan dalam persahabatan, apalagi yang bersangkutan telah membantu kita.

Jalur lainnya yang bersifat transaksional adalah melalui jalur jalan tol untuk mendapatkan surat rekomendasi, surat memo, surat sakti, surat titipan dari orang-orang yang disegani atau orang kuat dan berpengaruh.. Berbekal surat sakti itulah seseorang dapat meraih jabatan, meskipun diperoleh dengan cara-cara yang tidak etis.

Fakta transaksional dalam meraih jabatan terjadi karena kurangnya penghayatan masyarakat terhadap makna dari pekerjaan dan jabatan. Orang yang Bekerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya untukkebaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara tanpa menyusahkan orang lain.

Baca Juga:  Tragedi Minyak Goreng Indonesia

Bekerja adalah manifestasi amal saleh, bila kerja itu amal saleh, maka kerja adalah ibadah. Karena itu bekerja mengandung aspek nilai-nilai kemuliaan yang perlu dijadikan falsafah dalam kehidupan..

Bukti seorang pemimpin yang paham dengan nilai-nilai kemuliaan dapat dilihat dari beberapa suasana kepemimpinan berikut. Pertama, pemimpin merasa bangga dengan personelnya sekaligus merasakan bahwa personel itu adalah miliknya. Sebaliknya, personel merasa bangga dengan pemimpin mereka dan merasakan bahwa pemimpin mereka adalah milik mereka.

Kedua, Pemimpin bersama-sama dengan seluruh personelnya merasa bangga bahwa seluruh aset organisasi , termasuk citra organisasi, adalah milik mereka. Merasa memiliki artinya menumbuhkan rasa kewajiban untuk memelihara dengan baik seluruh aset organisasi.

Ketiga, Pola pikir objektif, yang mengutamakan kepentingan organisasi dan selalu memperhatikan ketentuan-ketentuan yang ada. Syarat untuk dapat menjadi seseorang yang memiliki pola pikir objektif dan bertanggung jawab adalah dengan cara membebaskan diri dari berbagai keterikatan, tekanan, dan keterpaksaan, di samping mampu menahan diri.

Keempat, Sikap keterbukaan yang dapat menumbuhkan semangat bagi kehidupan organisasi, karena dengan sikap keterbukaan pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi dapat mengikuti jalannya roda organisasi lebih mendetail, sekaligus memberikan dukungannya demi kemajuan organisasi.

Sikap keterbukaan merupakan keharusan bagi setiap organisasi karena dengan keterbukaann jalannya organisasi akan terkontrol dengan baik, tetapi masih perlu dilakukan pembatasan dan disesuaikan dengan keadaan. Kelima, sebelum dilantik menjadi pejabat, yang bersangkutan diambil janji dan sumpah jabatan. Hal tersebut sebagai pengingat bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Semoga…***

 

Oleh: Machasin, Dosen Prodi Doktor Ilmu ManajemenFEB Unri

Berita Lainnya

Mutasi Penyegaran yang (tidak) Segar

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari