Kamis, 19 Februari 2026
- Advertisement -

Wimbledon Catat Rekor Hadiah di Tengah Sanksi

LONDON (RIAUPOS.CO) – Di tengah kontroversi yang mereka buat dengan melarang petenis Rusia dan Belarus ambil bagian, penyelenggara grand slam Wimbledon memberi kabar baik.

Ajang tenis tertua itu mengumumkan penambahan total hadiah bagi atlet yang akan bertanding. Chairman All England Club Ian Hewitt selaku penyelenggara Wimbledon menyebutkan, total hadiah uang tunai yang mereka siapkan untuk pemenang tahun ini meningkat 11 persen jika dibandingkan edisi tahun lalu.

Hal itu membuat total hadiah yang disiapkan panitia untuk pemenang memecahkan rekor baru selama pergelaran grand slam itu dilaksanakan sejak 1877. Atau di usia turnamen 145 tahun.

’’Peningkatan distribusi hadiah uang tunai yang kami siapkan tahun ini adalah bentuk refleksi yang menunjukkan betapa pentingnya arti para atlet bagi kami. Ini juga bagian dari upaya kami terus menjadi salah satu turnamen olahraga terdepan di dunia,’’ ucap Hewitt, dilansir Associated Press.

Total hadiah yang disebutkan di atas tidak termasuk uang tunai yang disiapkan panitia untuk petenis setiap kali memenangi satu pertandingan. Ganjaran untuk itu juga naik 11 persen dari edisi 2019.

Baca Juga:  Hudson-Odoi Pemuda Bergaji Paling Tinggi

Total hadiah uang yang panitia siapkan untuk kemenangan petenis setiap pertandingan mencapai USD 48,8 juta (Rp711 miliar).

’’Setiap petenis yang mampu melewati babak pertama mendapatkan USD 62.700 (Rp914 juta),’’ tambah Hewitt.

Tahun ini, juara tunggal putra maupun tunggal putri  ajang mayor lapangan rumput tersebut masing-masing akan mendapat hadiah uang tunai USD 2,5 juta (Rp36 miliar).

Jumlah itu meningkat 17,6 persen dari yang didapat Novak Djokovic dan Ashleigh Barty sebagai juara tunggal putra dan tunggal putri tahun lalu.

Sementara itu, Asosiasi Tenis Profesional Putra (ATP) dan Asosiasi Tenis Profesional Putri (WTA) terus meminta Wimbledon untuk mencabut aturan independen yang mereka buat.

Baca Juga:  Kalah dari Vietnam, Tim Voli Putri Indonesia Bertekad Bekuk Malaysia

Yakni, soal larangan atlet Rusia dan Belarusia ambil bagian di ajang tersebut. Itu sebagai bentuk protes atas invasi Rusia ke Ukraina.

Padahal, di turnamen lain yang berada di bawah naungan ATP dan WTA, petenis Rusia dan Belarusia, tetap bisa tampil dengan bendera netral.

Namun, Wimbledon tetap menjalankan aturan independen itu. Sebagai sanksi, ATP dan WTA memutuskan bahwa keikutsertaan seluruh petenis yang ambil bagian di Wimbledon tahun ini tidak akan masuk dalam sistem poin ATP maupun WTA. (irr/c18/bas/jpg)

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

LONDON (RIAUPOS.CO) – Di tengah kontroversi yang mereka buat dengan melarang petenis Rusia dan Belarus ambil bagian, penyelenggara grand slam Wimbledon memberi kabar baik.

Ajang tenis tertua itu mengumumkan penambahan total hadiah bagi atlet yang akan bertanding. Chairman All England Club Ian Hewitt selaku penyelenggara Wimbledon menyebutkan, total hadiah uang tunai yang mereka siapkan untuk pemenang tahun ini meningkat 11 persen jika dibandingkan edisi tahun lalu.

Hal itu membuat total hadiah yang disiapkan panitia untuk pemenang memecahkan rekor baru selama pergelaran grand slam itu dilaksanakan sejak 1877. Atau di usia turnamen 145 tahun.

’’Peningkatan distribusi hadiah uang tunai yang kami siapkan tahun ini adalah bentuk refleksi yang menunjukkan betapa pentingnya arti para atlet bagi kami. Ini juga bagian dari upaya kami terus menjadi salah satu turnamen olahraga terdepan di dunia,’’ ucap Hewitt, dilansir Associated Press.

Total hadiah yang disebutkan di atas tidak termasuk uang tunai yang disiapkan panitia untuk petenis setiap kali memenangi satu pertandingan. Ganjaran untuk itu juga naik 11 persen dari edisi 2019.

- Advertisement -
Baca Juga:  Atlet Dayung Maizir Riyondra Sumbang Emas Pertama Riau

Total hadiah uang yang panitia siapkan untuk kemenangan petenis setiap pertandingan mencapai USD 48,8 juta (Rp711 miliar).

’’Setiap petenis yang mampu melewati babak pertama mendapatkan USD 62.700 (Rp914 juta),’’ tambah Hewitt.

- Advertisement -

Tahun ini, juara tunggal putra maupun tunggal putri  ajang mayor lapangan rumput tersebut masing-masing akan mendapat hadiah uang tunai USD 2,5 juta (Rp36 miliar).

Jumlah itu meningkat 17,6 persen dari yang didapat Novak Djokovic dan Ashleigh Barty sebagai juara tunggal putra dan tunggal putri tahun lalu.

Sementara itu, Asosiasi Tenis Profesional Putra (ATP) dan Asosiasi Tenis Profesional Putri (WTA) terus meminta Wimbledon untuk mencabut aturan independen yang mereka buat.

Baca Juga:  Gelar Laga Amal untuk Taufik Ramsyah

Yakni, soal larangan atlet Rusia dan Belarusia ambil bagian di ajang tersebut. Itu sebagai bentuk protes atas invasi Rusia ke Ukraina.

Padahal, di turnamen lain yang berada di bawah naungan ATP dan WTA, petenis Rusia dan Belarusia, tetap bisa tampil dengan bendera netral.

Namun, Wimbledon tetap menjalankan aturan independen itu. Sebagai sanksi, ATP dan WTA memutuskan bahwa keikutsertaan seluruh petenis yang ambil bagian di Wimbledon tahun ini tidak akan masuk dalam sistem poin ATP maupun WTA. (irr/c18/bas/jpg)

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

LONDON (RIAUPOS.CO) – Di tengah kontroversi yang mereka buat dengan melarang petenis Rusia dan Belarus ambil bagian, penyelenggara grand slam Wimbledon memberi kabar baik.

Ajang tenis tertua itu mengumumkan penambahan total hadiah bagi atlet yang akan bertanding. Chairman All England Club Ian Hewitt selaku penyelenggara Wimbledon menyebutkan, total hadiah uang tunai yang mereka siapkan untuk pemenang tahun ini meningkat 11 persen jika dibandingkan edisi tahun lalu.

Hal itu membuat total hadiah yang disiapkan panitia untuk pemenang memecahkan rekor baru selama pergelaran grand slam itu dilaksanakan sejak 1877. Atau di usia turnamen 145 tahun.

’’Peningkatan distribusi hadiah uang tunai yang kami siapkan tahun ini adalah bentuk refleksi yang menunjukkan betapa pentingnya arti para atlet bagi kami. Ini juga bagian dari upaya kami terus menjadi salah satu turnamen olahraga terdepan di dunia,’’ ucap Hewitt, dilansir Associated Press.

Total hadiah yang disebutkan di atas tidak termasuk uang tunai yang disiapkan panitia untuk petenis setiap kali memenangi satu pertandingan. Ganjaran untuk itu juga naik 11 persen dari edisi 2019.

Baca Juga:  Gelar Laga Amal untuk Taufik Ramsyah

Total hadiah uang yang panitia siapkan untuk kemenangan petenis setiap pertandingan mencapai USD 48,8 juta (Rp711 miliar).

’’Setiap petenis yang mampu melewati babak pertama mendapatkan USD 62.700 (Rp914 juta),’’ tambah Hewitt.

Tahun ini, juara tunggal putra maupun tunggal putri  ajang mayor lapangan rumput tersebut masing-masing akan mendapat hadiah uang tunai USD 2,5 juta (Rp36 miliar).

Jumlah itu meningkat 17,6 persen dari yang didapat Novak Djokovic dan Ashleigh Barty sebagai juara tunggal putra dan tunggal putri tahun lalu.

Sementara itu, Asosiasi Tenis Profesional Putra (ATP) dan Asosiasi Tenis Profesional Putri (WTA) terus meminta Wimbledon untuk mencabut aturan independen yang mereka buat.

Baca Juga:  Bang Beckham Ucapkan Selamat Idul Fitri dengan Bahasa Indonesia

Yakni, soal larangan atlet Rusia dan Belarusia ambil bagian di ajang tersebut. Itu sebagai bentuk protes atas invasi Rusia ke Ukraina.

Padahal, di turnamen lain yang berada di bawah naungan ATP dan WTA, petenis Rusia dan Belarusia, tetap bisa tampil dengan bendera netral.

Namun, Wimbledon tetap menjalankan aturan independen itu. Sebagai sanksi, ATP dan WTA memutuskan bahwa keikutsertaan seluruh petenis yang ambil bagian di Wimbledon tahun ini tidak akan masuk dalam sistem poin ATP maupun WTA. (irr/c18/bas/jpg)

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari