Minggu, 6 April 2025
spot_img

Masjid Pengobat Rindu Kampung Halaman

Catatan: UMI ILLIYINA SH MH*

PENGUJUNG musim semi di Belanda, siang hari lebih panjang. Puasa dijalani selama 18-19 jam. Tapi itu masih lumayan dibanding Islandia dan Finlandia yang berpuasa hingga 22-23 jam. Kondisi alam yang berbeda memunculkan banyak pendapat para ulama tentang waktu berpuasa.

Dini hari, tangan saya sibuk memilah dan memperhatikan setiap lembar foto kenangan di album bewarna biru. Foto dari kampung halaman itu menyimpan kenangan-kenangan masa lalu. Ada teman sepermainan waktu kecil. Ada masjid tempat saya belajar mengaji dulu. Ada jalanan yang biasa saya telusuri setelah subuh.

Saya lahir dan besar di Pekanbaru. Kenangan Ramadan di Pekanbaru adalah pemasangan lampu colok/obor pada malam-malam terakhir Ramadan yang tidak ada di tempat lain. Apalagi di Negeri Kincir Angin ini. Penjual takjil di Pasar Ramadan yang tidak akan dapat ditemui di Belanda. Suara tadarus anak-anak dari pengeras masjid.

Baca Juga:  Inhu Siapkan Rp90,2 M untuk Skenario Terburuk Dampak Corona

Kumandang suara adzan pun tak pernah lagi terdengar bersahut-sahutan, teriakan anak-anak memukul perkakas sambil berteriak lantang “sahuuurrr” membangunkan warga yang masih terlelap pulas menjadi kenangan yang paling dirindukan. Lampu colok yang menghias setiap persimpangan jalan tak lagi dapat dilihat. Lamunan jauh melayang ke kampung halaman, namun jarum jam terus berdenting, waktu imsak sebentar lagi.

Leiden semakin cepat terang menjelang musim panas. Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, pesan dari seorang kolega masuk, “Hallo allemaal, morgen hebben we weer les. Komen jullie allemaal? Tot morgen!”“Halo semuanya. Besok kita akan mendapat pelajaran lagi. Apakah kamu semua datang? Sampai jumpa besok! “ Ternyata pesan itu datang dari Ilse, dosen di kelas bahasa Belanda. “Hmmm.. dia pasti tidak tahu saya hanya tidur empat jam selama Ramadan ini,” gumam saya dalam hati.(bersambung)

Baca Juga:  Terus Menggelora di Tengah "Tsunami" Covid-19

>>>Selengkapnya baca Harian Riau Pos
Editor: Eko Faizin

Catatan: UMI ILLIYINA SH MH*

PENGUJUNG musim semi di Belanda, siang hari lebih panjang. Puasa dijalani selama 18-19 jam. Tapi itu masih lumayan dibanding Islandia dan Finlandia yang berpuasa hingga 22-23 jam. Kondisi alam yang berbeda memunculkan banyak pendapat para ulama tentang waktu berpuasa.

Dini hari, tangan saya sibuk memilah dan memperhatikan setiap lembar foto kenangan di album bewarna biru. Foto dari kampung halaman itu menyimpan kenangan-kenangan masa lalu. Ada teman sepermainan waktu kecil. Ada masjid tempat saya belajar mengaji dulu. Ada jalanan yang biasa saya telusuri setelah subuh.

Saya lahir dan besar di Pekanbaru. Kenangan Ramadan di Pekanbaru adalah pemasangan lampu colok/obor pada malam-malam terakhir Ramadan yang tidak ada di tempat lain. Apalagi di Negeri Kincir Angin ini. Penjual takjil di Pasar Ramadan yang tidak akan dapat ditemui di Belanda. Suara tadarus anak-anak dari pengeras masjid.

Baca Juga:  Inhu Siapkan Rp90,2 M untuk Skenario Terburuk Dampak Corona

Kumandang suara adzan pun tak pernah lagi terdengar bersahut-sahutan, teriakan anak-anak memukul perkakas sambil berteriak lantang “sahuuurrr” membangunkan warga yang masih terlelap pulas menjadi kenangan yang paling dirindukan. Lampu colok yang menghias setiap persimpangan jalan tak lagi dapat dilihat. Lamunan jauh melayang ke kampung halaman, namun jarum jam terus berdenting, waktu imsak sebentar lagi.

Leiden semakin cepat terang menjelang musim panas. Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, pesan dari seorang kolega masuk, “Hallo allemaal, morgen hebben we weer les. Komen jullie allemaal? Tot morgen!”“Halo semuanya. Besok kita akan mendapat pelajaran lagi. Apakah kamu semua datang? Sampai jumpa besok! “ Ternyata pesan itu datang dari Ilse, dosen di kelas bahasa Belanda. “Hmmm.. dia pasti tidak tahu saya hanya tidur empat jam selama Ramadan ini,” gumam saya dalam hati.(bersambung)

Baca Juga:  Kenali dan Cegah Penyakit Asma

>>>Selengkapnya baca Harian Riau Pos
Editor: Eko Faizin
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Masjid Pengobat Rindu Kampung Halaman

Catatan: UMI ILLIYINA SH MH*

PENGUJUNG musim semi di Belanda, siang hari lebih panjang. Puasa dijalani selama 18-19 jam. Tapi itu masih lumayan dibanding Islandia dan Finlandia yang berpuasa hingga 22-23 jam. Kondisi alam yang berbeda memunculkan banyak pendapat para ulama tentang waktu berpuasa.

Dini hari, tangan saya sibuk memilah dan memperhatikan setiap lembar foto kenangan di album bewarna biru. Foto dari kampung halaman itu menyimpan kenangan-kenangan masa lalu. Ada teman sepermainan waktu kecil. Ada masjid tempat saya belajar mengaji dulu. Ada jalanan yang biasa saya telusuri setelah subuh.

Saya lahir dan besar di Pekanbaru. Kenangan Ramadan di Pekanbaru adalah pemasangan lampu colok/obor pada malam-malam terakhir Ramadan yang tidak ada di tempat lain. Apalagi di Negeri Kincir Angin ini. Penjual takjil di Pasar Ramadan yang tidak akan dapat ditemui di Belanda. Suara tadarus anak-anak dari pengeras masjid.

Baca Juga:  Haris: KPK Tahu Nurhadi dan Menantunya Sembunyi di Apartemen Mewah

Kumandang suara adzan pun tak pernah lagi terdengar bersahut-sahutan, teriakan anak-anak memukul perkakas sambil berteriak lantang “sahuuurrr” membangunkan warga yang masih terlelap pulas menjadi kenangan yang paling dirindukan. Lampu colok yang menghias setiap persimpangan jalan tak lagi dapat dilihat. Lamunan jauh melayang ke kampung halaman, namun jarum jam terus berdenting, waktu imsak sebentar lagi.

Leiden semakin cepat terang menjelang musim panas. Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, pesan dari seorang kolega masuk, “Hallo allemaal, morgen hebben we weer les. Komen jullie allemaal? Tot morgen!”“Halo semuanya. Besok kita akan mendapat pelajaran lagi. Apakah kamu semua datang? Sampai jumpa besok! “ Ternyata pesan itu datang dari Ilse, dosen di kelas bahasa Belanda. “Hmmm.. dia pasti tidak tahu saya hanya tidur empat jam selama Ramadan ini,” gumam saya dalam hati.(bersambung)

Baca Juga:  Camat Hulu Kuantan Apresiasi Kades Dalam Penanganan Covid-19

>>>Selengkapnya baca Harian Riau Pos
Editor: Eko Faizin

Catatan: UMI ILLIYINA SH MH*

PENGUJUNG musim semi di Belanda, siang hari lebih panjang. Puasa dijalani selama 18-19 jam. Tapi itu masih lumayan dibanding Islandia dan Finlandia yang berpuasa hingga 22-23 jam. Kondisi alam yang berbeda memunculkan banyak pendapat para ulama tentang waktu berpuasa.

Dini hari, tangan saya sibuk memilah dan memperhatikan setiap lembar foto kenangan di album bewarna biru. Foto dari kampung halaman itu menyimpan kenangan-kenangan masa lalu. Ada teman sepermainan waktu kecil. Ada masjid tempat saya belajar mengaji dulu. Ada jalanan yang biasa saya telusuri setelah subuh.

Saya lahir dan besar di Pekanbaru. Kenangan Ramadan di Pekanbaru adalah pemasangan lampu colok/obor pada malam-malam terakhir Ramadan yang tidak ada di tempat lain. Apalagi di Negeri Kincir Angin ini. Penjual takjil di Pasar Ramadan yang tidak akan dapat ditemui di Belanda. Suara tadarus anak-anak dari pengeras masjid.

Baca Juga:  Enam PDP di Rohul Meninggal, tapi Hasil Swab Negatif 

Kumandang suara adzan pun tak pernah lagi terdengar bersahut-sahutan, teriakan anak-anak memukul perkakas sambil berteriak lantang “sahuuurrr” membangunkan warga yang masih terlelap pulas menjadi kenangan yang paling dirindukan. Lampu colok yang menghias setiap persimpangan jalan tak lagi dapat dilihat. Lamunan jauh melayang ke kampung halaman, namun jarum jam terus berdenting, waktu imsak sebentar lagi.

Leiden semakin cepat terang menjelang musim panas. Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, pesan dari seorang kolega masuk, “Hallo allemaal, morgen hebben we weer les. Komen jullie allemaal? Tot morgen!”“Halo semuanya. Besok kita akan mendapat pelajaran lagi. Apakah kamu semua datang? Sampai jumpa besok! “ Ternyata pesan itu datang dari Ilse, dosen di kelas bahasa Belanda. “Hmmm.. dia pasti tidak tahu saya hanya tidur empat jam selama Ramadan ini,” gumam saya dalam hati.(bersambung)

Baca Juga:  Sudah 8 Wanita yang Mengaku Diduga Pernah Dilecehkan Gofar Hilman

>>>Selengkapnya baca Harian Riau Pos
Editor: Eko Faizin
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari