Jumat, 29 Agustus 2025
spot_img

Iran dan Israel Mulai Hitung Dampak Perang, Kerusakan Serius dan Korban Besar

TEHERAN (RIAUPOS.CO) – Usai meredanya konflik selama hampir dua pekan, Iran dan Israel kini mulai menghitung kerusakan dan dampak kemanusiaan akibat perang yang meletus sejak 13 Juni lalu. Pemerintah Iran menyebut dampak yang ditimbulkan sangat serius, terutama di sektor militer, nuklir, hingga kawasan permukiman sipil.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa proses penilaian kerusakan sedang dilakukan secara rinci. “Para ahli dari organisasi energi atom kami tengah melakukan evaluasi menyeluruh,” ujarnya, seperti dikutip dari Al Arabiya, Jumat (27/6).

Selama 12 hari konflik berlangsung, data dari Kementerian Kesehatan Iran mencatat 606 korban jiwa dan lebih dari 5.300 orang luka-luka. Serangan udara Israel menyasar sejumlah fasilitas strategis milik Iran, termasuk instalasi nuklir, bandara, dan wilayah permukiman. Kerusakan diperparah setelah Amerika Serikat meluncurkan bom ke tiga situs nuklir Iran di Fordo, Natanz, dan Isfahan.

Baca Juga:  Jerawat Bisa Disembuhkan dengan Toner?

Iran pun melancarkan serangan balasan. Rudal dan drone menyerang wilayah Israel, menyebabkan sedikitnya 29 orang meninggal dan lebih dari 3.400 lainnya mengalami luka, berdasarkan data dari Universitas Ibrani di Yerusalem.

Konflik akhirnya terhenti sementara melalui gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, dan mulai berlaku pada 24 Juni. Namun, Araghchi membantah adanya kesepakatan untuk memulai perundingan baru. “Kami tegaskan, tidak ada pembicaraan atau pengaturan baru yang disepakati,” ujarnya kepada Anadolu Agency.

Israel Tutupi Dampak Serangan Rudal demi Keamanan Nasional

Di sisi lain, Israel juga mulai mengevaluasi kerusakan akibat lebih dari 50 rudal yang diluncurkan Iran. Meski demikian, pemerintah Israel belum mengungkapkan secara resmi detail kerusakan dengan alasan menjaga keamanan nasional.

Baca Juga:  Serangan Rudal Israel ke Syria Tewaskan Lima Tokoh Garda Revolusi Iran

Menurut laporan AFP, peliputan media di lokasi terdampak pun sangat dibatasi. Bahkan media milik pemerintah harus memperoleh izin militer terlebih dahulu sebelum melaporkan kondisi di lapangan.

“Ini menyangkut keamanan nasional. Anda tidak ingin musuh tahu di mana rudal mereka mendarat atau membantu mereka menyempurnakan serangan berikutnya,” ujar Jerome Bourdon, Profesor Sosiologi Media dari Universitas Tel Aviv.

Selama konflik berlangsung, Israel lebih banyak merilis informasi soal keberhasilan operasi mereka daripada dampak yang diderita. Menurut Bourdon, itu bisa menjadi strategi komunikasi untuk mengendalikan narasi perang di mata publik.

TEHERAN (RIAUPOS.CO) – Usai meredanya konflik selama hampir dua pekan, Iran dan Israel kini mulai menghitung kerusakan dan dampak kemanusiaan akibat perang yang meletus sejak 13 Juni lalu. Pemerintah Iran menyebut dampak yang ditimbulkan sangat serius, terutama di sektor militer, nuklir, hingga kawasan permukiman sipil.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa proses penilaian kerusakan sedang dilakukan secara rinci. “Para ahli dari organisasi energi atom kami tengah melakukan evaluasi menyeluruh,” ujarnya, seperti dikutip dari Al Arabiya, Jumat (27/6).

Selama 12 hari konflik berlangsung, data dari Kementerian Kesehatan Iran mencatat 606 korban jiwa dan lebih dari 5.300 orang luka-luka. Serangan udara Israel menyasar sejumlah fasilitas strategis milik Iran, termasuk instalasi nuklir, bandara, dan wilayah permukiman. Kerusakan diperparah setelah Amerika Serikat meluncurkan bom ke tiga situs nuklir Iran di Fordo, Natanz, dan Isfahan.

Baca Juga:  Peduli Lingkungan, Pemkab Rohil Gencarkan Penghijauan

Iran pun melancarkan serangan balasan. Rudal dan drone menyerang wilayah Israel, menyebabkan sedikitnya 29 orang meninggal dan lebih dari 3.400 lainnya mengalami luka, berdasarkan data dari Universitas Ibrani di Yerusalem.

Konflik akhirnya terhenti sementara melalui gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, dan mulai berlaku pada 24 Juni. Namun, Araghchi membantah adanya kesepakatan untuk memulai perundingan baru. “Kami tegaskan, tidak ada pembicaraan atau pengaturan baru yang disepakati,” ujarnya kepada Anadolu Agency.

- Advertisement -

Israel Tutupi Dampak Serangan Rudal demi Keamanan Nasional

Di sisi lain, Israel juga mulai mengevaluasi kerusakan akibat lebih dari 50 rudal yang diluncurkan Iran. Meski demikian, pemerintah Israel belum mengungkapkan secara resmi detail kerusakan dengan alasan menjaga keamanan nasional.

Baca Juga:  Tuntutan Trump Ditolak di Georgia dan Michigan

Menurut laporan AFP, peliputan media di lokasi terdampak pun sangat dibatasi. Bahkan media milik pemerintah harus memperoleh izin militer terlebih dahulu sebelum melaporkan kondisi di lapangan.

- Advertisement -

“Ini menyangkut keamanan nasional. Anda tidak ingin musuh tahu di mana rudal mereka mendarat atau membantu mereka menyempurnakan serangan berikutnya,” ujar Jerome Bourdon, Profesor Sosiologi Media dari Universitas Tel Aviv.

Selama konflik berlangsung, Israel lebih banyak merilis informasi soal keberhasilan operasi mereka daripada dampak yang diderita. Menurut Bourdon, itu bisa menjadi strategi komunikasi untuk mengendalikan narasi perang di mata publik.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

TEHERAN (RIAUPOS.CO) – Usai meredanya konflik selama hampir dua pekan, Iran dan Israel kini mulai menghitung kerusakan dan dampak kemanusiaan akibat perang yang meletus sejak 13 Juni lalu. Pemerintah Iran menyebut dampak yang ditimbulkan sangat serius, terutama di sektor militer, nuklir, hingga kawasan permukiman sipil.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa proses penilaian kerusakan sedang dilakukan secara rinci. “Para ahli dari organisasi energi atom kami tengah melakukan evaluasi menyeluruh,” ujarnya, seperti dikutip dari Al Arabiya, Jumat (27/6).

Selama 12 hari konflik berlangsung, data dari Kementerian Kesehatan Iran mencatat 606 korban jiwa dan lebih dari 5.300 orang luka-luka. Serangan udara Israel menyasar sejumlah fasilitas strategis milik Iran, termasuk instalasi nuklir, bandara, dan wilayah permukiman. Kerusakan diperparah setelah Amerika Serikat meluncurkan bom ke tiga situs nuklir Iran di Fordo, Natanz, dan Isfahan.

Baca Juga:  Menteri LHK Paparkan Langkah Nyata Indonesia Hapus Merkuri

Iran pun melancarkan serangan balasan. Rudal dan drone menyerang wilayah Israel, menyebabkan sedikitnya 29 orang meninggal dan lebih dari 3.400 lainnya mengalami luka, berdasarkan data dari Universitas Ibrani di Yerusalem.

Konflik akhirnya terhenti sementara melalui gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, dan mulai berlaku pada 24 Juni. Namun, Araghchi membantah adanya kesepakatan untuk memulai perundingan baru. “Kami tegaskan, tidak ada pembicaraan atau pengaturan baru yang disepakati,” ujarnya kepada Anadolu Agency.

Israel Tutupi Dampak Serangan Rudal demi Keamanan Nasional

Di sisi lain, Israel juga mulai mengevaluasi kerusakan akibat lebih dari 50 rudal yang diluncurkan Iran. Meski demikian, pemerintah Israel belum mengungkapkan secara resmi detail kerusakan dengan alasan menjaga keamanan nasional.

Baca Juga:  Bikin Bangga Dumai, Haviz Guncang Panggung KDI

Menurut laporan AFP, peliputan media di lokasi terdampak pun sangat dibatasi. Bahkan media milik pemerintah harus memperoleh izin militer terlebih dahulu sebelum melaporkan kondisi di lapangan.

“Ini menyangkut keamanan nasional. Anda tidak ingin musuh tahu di mana rudal mereka mendarat atau membantu mereka menyempurnakan serangan berikutnya,” ujar Jerome Bourdon, Profesor Sosiologi Media dari Universitas Tel Aviv.

Selama konflik berlangsung, Israel lebih banyak merilis informasi soal keberhasilan operasi mereka daripada dampak yang diderita. Menurut Bourdon, itu bisa menjadi strategi komunikasi untuk mengendalikan narasi perang di mata publik.

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari