Senin, 7 April 2025
spot_img

Nasib Putin Bisa seperti Hitler dan Napoleon Bonaparte

YOGYAKARTA (RIAUPOS.CO) – Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menggunakan kekuatan besar-besaran dalam melancarkan invasi ke Ukraina dianggap akan bernasib sama dengan pemimpin Nazi, Adolf Hitler.

Pengamat dari Universitas Gadjah Mada, Muhadi Sugiono, mengatakan bahwa penggunaan kekuatan Putin terlalu agresif, sama dengan pasukan Hitler.

"Kekuatan yang sangat besar sering kali akhirnya jatuh karena dia terlalu agresif. Itu dulu kasus Hitler dan Napoleon Bonaparte, mereka jatuh karena setelah melakukan ekspansi," kata Muhadi.

Pernyataan Muhadi merujuk pada saat Hitler menjadi Kanselir Jerman dan berambisi ekspansi ke Eropa Timur pada 1941.

Ekspansi itu disebut untuk mengantisipasi penduduk Jerman yang membeludak. Mereka pun berupaya mendapatkan tambahan wilayah lain meski harus ditempuh dengan cara perebutan.

Selain Hitler, tokoh yang punya reputasi soal ekspansi yakni Kaisar Prancis era 1804-1814, Napoleon Bonaparte. Ia berhasil menguasai nyaris seluruh Eropa pada 1805.

Baca Juga:  Tanggapi Pernyataan Presiden soal 75 Pegawai, Begini Kata KPK

Mereka fokus mengerahkan pasukan ke luar wilayah dan melupakan kondisi internal. Pihak oposisi lantas memanfaatkan kesempatan ini di dalam negeri.

"Secara internasional mereka ditekan dan itu membuka ruang oposisi di dalam," ucap Muhidi.

Ia kemudian menegaskan tak ingin menyamakan Putin dengan Hitler. Muhidi hanya ingin menyoroti bahwa kebijakan yang berdampak besar kerap menjadi bumerang.

Menurutnya, kebijakan itu biasanya menuai respons internasional yang luar biasa.

"Saya hanya ingin menunjukkan dalam sejarah Eropa, Napoleon akhirnya jatuh setelah mengambil tindakan besar yang menghasilkan perang," tutur dia.

Komunitas internasional kemudian merespons dengan melumpuhkan mereka. Napoleon ditangkap dan diasingkan, sementara Hitler pada akhirnya bunuh diri.

"Apakah kondisi yang terjadi saat ini akan mengikuti pola yang sama? Tentu perlu kajian lebih lanjut. Banyak hal yang perlu dilihat," kata Muhidi.

Namun, Muhidi juga menyoroti kepemimpinan Putin sekarang nyaris serupa dengan kondisi dalam sejarah sebelumnya.

Baca Juga:  Kemungkinan Adanya Peretasan Data BPJS Kesehatan Didalami Polri

Di awal invasi, banyak warga Rusia menggelar aksi menolak perang di Ukraina. Sementara itu, dari sisi internasional banyak negara yang mengecam Moskow dan menjatuhkan embargo hingga sanksi ekonomi. Rusia bak terisolir dari dunia global.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), misalnya, dilaporkan akan mencabut Rusia dari daftar negara paling disukai atau most favoured nations. Imbasnya, Rusia akan dikenakan tarif impor lebih tinggi.

Alhasil, Rusia akan kelelahan dan kehabisan sumber daya jika tak setop invasi. Pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah, Fahmi Salsabila, menyatakan bahwa ini bisa menjadi awal mula kejatuhan Putin.

"Putin bisa habis karena energi terkuras habis untuk perang, sementara ekonomi dan kebutuhan rakyat akan terganggu karena embargo dan sanksi dari AS dan negara-negara pendukungnya," kata Fahmi.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

YOGYAKARTA (RIAUPOS.CO) – Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menggunakan kekuatan besar-besaran dalam melancarkan invasi ke Ukraina dianggap akan bernasib sama dengan pemimpin Nazi, Adolf Hitler.

Pengamat dari Universitas Gadjah Mada, Muhadi Sugiono, mengatakan bahwa penggunaan kekuatan Putin terlalu agresif, sama dengan pasukan Hitler.

"Kekuatan yang sangat besar sering kali akhirnya jatuh karena dia terlalu agresif. Itu dulu kasus Hitler dan Napoleon Bonaparte, mereka jatuh karena setelah melakukan ekspansi," kata Muhadi.

Pernyataan Muhadi merujuk pada saat Hitler menjadi Kanselir Jerman dan berambisi ekspansi ke Eropa Timur pada 1941.

Ekspansi itu disebut untuk mengantisipasi penduduk Jerman yang membeludak. Mereka pun berupaya mendapatkan tambahan wilayah lain meski harus ditempuh dengan cara perebutan.

Selain Hitler, tokoh yang punya reputasi soal ekspansi yakni Kaisar Prancis era 1804-1814, Napoleon Bonaparte. Ia berhasil menguasai nyaris seluruh Eropa pada 1805.

Baca Juga:  Fahri Hamzah Usulkan Pembubaran, Ini Reaksi Pimpinan MPR

Mereka fokus mengerahkan pasukan ke luar wilayah dan melupakan kondisi internal. Pihak oposisi lantas memanfaatkan kesempatan ini di dalam negeri.

"Secara internasional mereka ditekan dan itu membuka ruang oposisi di dalam," ucap Muhidi.

Ia kemudian menegaskan tak ingin menyamakan Putin dengan Hitler. Muhidi hanya ingin menyoroti bahwa kebijakan yang berdampak besar kerap menjadi bumerang.

Menurutnya, kebijakan itu biasanya menuai respons internasional yang luar biasa.

"Saya hanya ingin menunjukkan dalam sejarah Eropa, Napoleon akhirnya jatuh setelah mengambil tindakan besar yang menghasilkan perang," tutur dia.

Komunitas internasional kemudian merespons dengan melumpuhkan mereka. Napoleon ditangkap dan diasingkan, sementara Hitler pada akhirnya bunuh diri.

"Apakah kondisi yang terjadi saat ini akan mengikuti pola yang sama? Tentu perlu kajian lebih lanjut. Banyak hal yang perlu dilihat," kata Muhidi.

Namun, Muhidi juga menyoroti kepemimpinan Putin sekarang nyaris serupa dengan kondisi dalam sejarah sebelumnya.

Baca Juga:  Kemungkinan Adanya Peretasan Data BPJS Kesehatan Didalami Polri

Di awal invasi, banyak warga Rusia menggelar aksi menolak perang di Ukraina. Sementara itu, dari sisi internasional banyak negara yang mengecam Moskow dan menjatuhkan embargo hingga sanksi ekonomi. Rusia bak terisolir dari dunia global.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), misalnya, dilaporkan akan mencabut Rusia dari daftar negara paling disukai atau most favoured nations. Imbasnya, Rusia akan dikenakan tarif impor lebih tinggi.

Alhasil, Rusia akan kelelahan dan kehabisan sumber daya jika tak setop invasi. Pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah, Fahmi Salsabila, menyatakan bahwa ini bisa menjadi awal mula kejatuhan Putin.

"Putin bisa habis karena energi terkuras habis untuk perang, sementara ekonomi dan kebutuhan rakyat akan terganggu karena embargo dan sanksi dari AS dan negara-negara pendukungnya," kata Fahmi.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos
spot_img

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

spot_img

Nasib Putin Bisa seperti Hitler dan Napoleon Bonaparte

YOGYAKARTA (RIAUPOS.CO) – Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menggunakan kekuatan besar-besaran dalam melancarkan invasi ke Ukraina dianggap akan bernasib sama dengan pemimpin Nazi, Adolf Hitler.

Pengamat dari Universitas Gadjah Mada, Muhadi Sugiono, mengatakan bahwa penggunaan kekuatan Putin terlalu agresif, sama dengan pasukan Hitler.

"Kekuatan yang sangat besar sering kali akhirnya jatuh karena dia terlalu agresif. Itu dulu kasus Hitler dan Napoleon Bonaparte, mereka jatuh karena setelah melakukan ekspansi," kata Muhadi.

Pernyataan Muhadi merujuk pada saat Hitler menjadi Kanselir Jerman dan berambisi ekspansi ke Eropa Timur pada 1941.

Ekspansi itu disebut untuk mengantisipasi penduduk Jerman yang membeludak. Mereka pun berupaya mendapatkan tambahan wilayah lain meski harus ditempuh dengan cara perebutan.

Selain Hitler, tokoh yang punya reputasi soal ekspansi yakni Kaisar Prancis era 1804-1814, Napoleon Bonaparte. Ia berhasil menguasai nyaris seluruh Eropa pada 1805.

Baca Juga:  URP CPI Beri Peluang Mahasiswi UIR ke Korsel

Mereka fokus mengerahkan pasukan ke luar wilayah dan melupakan kondisi internal. Pihak oposisi lantas memanfaatkan kesempatan ini di dalam negeri.

"Secara internasional mereka ditekan dan itu membuka ruang oposisi di dalam," ucap Muhidi.

Ia kemudian menegaskan tak ingin menyamakan Putin dengan Hitler. Muhidi hanya ingin menyoroti bahwa kebijakan yang berdampak besar kerap menjadi bumerang.

Menurutnya, kebijakan itu biasanya menuai respons internasional yang luar biasa.

"Saya hanya ingin menunjukkan dalam sejarah Eropa, Napoleon akhirnya jatuh setelah mengambil tindakan besar yang menghasilkan perang," tutur dia.

Komunitas internasional kemudian merespons dengan melumpuhkan mereka. Napoleon ditangkap dan diasingkan, sementara Hitler pada akhirnya bunuh diri.

"Apakah kondisi yang terjadi saat ini akan mengikuti pola yang sama? Tentu perlu kajian lebih lanjut. Banyak hal yang perlu dilihat," kata Muhidi.

Namun, Muhidi juga menyoroti kepemimpinan Putin sekarang nyaris serupa dengan kondisi dalam sejarah sebelumnya.

Baca Juga:  Fahri Hamzah Usulkan Pembubaran, Ini Reaksi Pimpinan MPR

Di awal invasi, banyak warga Rusia menggelar aksi menolak perang di Ukraina. Sementara itu, dari sisi internasional banyak negara yang mengecam Moskow dan menjatuhkan embargo hingga sanksi ekonomi. Rusia bak terisolir dari dunia global.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), misalnya, dilaporkan akan mencabut Rusia dari daftar negara paling disukai atau most favoured nations. Imbasnya, Rusia akan dikenakan tarif impor lebih tinggi.

Alhasil, Rusia akan kelelahan dan kehabisan sumber daya jika tak setop invasi. Pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah, Fahmi Salsabila, menyatakan bahwa ini bisa menjadi awal mula kejatuhan Putin.

"Putin bisa habis karena energi terkuras habis untuk perang, sementara ekonomi dan kebutuhan rakyat akan terganggu karena embargo dan sanksi dari AS dan negara-negara pendukungnya," kata Fahmi.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

YOGYAKARTA (RIAUPOS.CO) – Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menggunakan kekuatan besar-besaran dalam melancarkan invasi ke Ukraina dianggap akan bernasib sama dengan pemimpin Nazi, Adolf Hitler.

Pengamat dari Universitas Gadjah Mada, Muhadi Sugiono, mengatakan bahwa penggunaan kekuatan Putin terlalu agresif, sama dengan pasukan Hitler.

"Kekuatan yang sangat besar sering kali akhirnya jatuh karena dia terlalu agresif. Itu dulu kasus Hitler dan Napoleon Bonaparte, mereka jatuh karena setelah melakukan ekspansi," kata Muhadi.

Pernyataan Muhadi merujuk pada saat Hitler menjadi Kanselir Jerman dan berambisi ekspansi ke Eropa Timur pada 1941.

Ekspansi itu disebut untuk mengantisipasi penduduk Jerman yang membeludak. Mereka pun berupaya mendapatkan tambahan wilayah lain meski harus ditempuh dengan cara perebutan.

Selain Hitler, tokoh yang punya reputasi soal ekspansi yakni Kaisar Prancis era 1804-1814, Napoleon Bonaparte. Ia berhasil menguasai nyaris seluruh Eropa pada 1805.

Baca Juga:  Habiskan Dana Miliaran, Istana Kampa Disebut Pelepas Tanya

Mereka fokus mengerahkan pasukan ke luar wilayah dan melupakan kondisi internal. Pihak oposisi lantas memanfaatkan kesempatan ini di dalam negeri.

"Secara internasional mereka ditekan dan itu membuka ruang oposisi di dalam," ucap Muhidi.

Ia kemudian menegaskan tak ingin menyamakan Putin dengan Hitler. Muhidi hanya ingin menyoroti bahwa kebijakan yang berdampak besar kerap menjadi bumerang.

Menurutnya, kebijakan itu biasanya menuai respons internasional yang luar biasa.

"Saya hanya ingin menunjukkan dalam sejarah Eropa, Napoleon akhirnya jatuh setelah mengambil tindakan besar yang menghasilkan perang," tutur dia.

Komunitas internasional kemudian merespons dengan melumpuhkan mereka. Napoleon ditangkap dan diasingkan, sementara Hitler pada akhirnya bunuh diri.

"Apakah kondisi yang terjadi saat ini akan mengikuti pola yang sama? Tentu perlu kajian lebih lanjut. Banyak hal yang perlu dilihat," kata Muhidi.

Namun, Muhidi juga menyoroti kepemimpinan Putin sekarang nyaris serupa dengan kondisi dalam sejarah sebelumnya.

Baca Juga:  Yasonna Minta Gugatan Asimilasi dan Integrasi Segera Dicabut

Di awal invasi, banyak warga Rusia menggelar aksi menolak perang di Ukraina. Sementara itu, dari sisi internasional banyak negara yang mengecam Moskow dan menjatuhkan embargo hingga sanksi ekonomi. Rusia bak terisolir dari dunia global.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), misalnya, dilaporkan akan mencabut Rusia dari daftar negara paling disukai atau most favoured nations. Imbasnya, Rusia akan dikenakan tarif impor lebih tinggi.

Alhasil, Rusia akan kelelahan dan kehabisan sumber daya jika tak setop invasi. Pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah, Fahmi Salsabila, menyatakan bahwa ini bisa menjadi awal mula kejatuhan Putin.

"Putin bisa habis karena energi terkuras habis untuk perang, sementara ekonomi dan kebutuhan rakyat akan terganggu karena embargo dan sanksi dari AS dan negara-negara pendukungnya," kata Fahmi.

Sumber: JPNN/News/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari