Senin, 19 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Meski Berkonflik dengan PABSI Saat Pelatnas, Eko Harumkan Indonesia

Eko Yuli Irawan berhasil menyumbangkan medali perak untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo. Atlet 31 tahun itu merebutnya dari cabang angkat besi, Ahad (25/7/2021).

Editor: Hary B Koriun

Keberhasilan itu sekaligus memupus kekhawatiran bahwa Eko akan terganggu performanya di Olimpiade Tokyo karena masalah yang muncul selama persiapan.  

Menjelang Olimpiade Tokyo, Eko sempat berpolemik dengan Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI). Namun, ia tetap dimasukkan dalam kontingen yang dikirim ke Jepang.
 
Eko meninggalkan Pelatnas pada 15 Januari lalu karena Pengurus Besar  (PB) PABSI tak memenuhi permintaannya menambah pelatih.

"Seminggu latihan di sana dikasih jawaban ditolak. Padahal sudah komitmen," kata Eko saat ditemui Tempo di Hotel Century Park, Jakarta, Rabu, 14 April lalu.

Polemik antara Eko dengan PB PABSI itu sudah berlangsung sejak pertengahan tahun lalu ketika dia memutuskan meninggalkan Pelatnas dan berlatih mandiri di rumahnya di Bekasi, Jawa Barat.

Baca Juga:  Manajemen Pengelolaan Dana BOS Harus Transparan

Menurut Eko, keinginannya memasukkan Lukman sebagai pelatih tambahan, karena merasa cocok dengan program yang diberikan. Di Olimpiade Beijing 2008 dan Olimpiade London 2012, Lukman melatih Eko yang berhasil meraih medali perunggu. Adapun, di Olimpiade Rio de Jainero 2016, ia dilatih Dirdja Wihardja dan menyumbang medali perak.

Eko mengaku telah mengkomunikasikan keinginannya dilatih Lukman kepada Wakil Ketua Umum PB PABSI Djoko Pramono, pelatih Dirja Wihardja, dan Erwin Abdullah, serta Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PB PABSI, Hadi Wihardja.

"Setelah itu disampaikan ke ketua umum, dengan komitmen masuk ke mess pada 11 Januari," ujar lelaki asal Lampung itu.

Djoko, kata Eko, menolak permintaannya karena khawatir akan merusak harmonisasi tim yang telah terbentuk.

Baca Juga:  Warga Rohil Diingatkan Disiplin Masker

Menurut Eko permintaannya itu tidak otomatis mengganti Erwin Abdullah yang selama ini mendampinginya dan memberikan program latihan.

"Tak ada masalah, Pak Erwin terbuka kok. Kita bisa berkolaborasi bareng," ucap dia seperti dilansir Majalah Tempo edisi 17 April 2021 dalam artikel berjudul "Pilih-pilih Pelatih Angkat Besi".

Namun keputusan PB PABSI telah bulat, Eko diberi pilihan bergabung atau mundur dari pelatnas.

“Latihan di sini silakan, mau di luar silakan, tetapi tidak bisa pakai uang APBN karena ada aturan yang dibuat pemerintah,” kata Djoko di Wisma Kwini, tempat latihan lifter Pelatnas, Senin, 12 April lalu.

Eko Yuli Irawan berhasil menyumbangkan medali perak untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo. Atlet 31 tahun itu merebutnya dari cabang angkat besi, Ahad (25/7/2021).

Editor: Hary B Koriun

Keberhasilan itu sekaligus memupus kekhawatiran bahwa Eko akan terganggu performanya di Olimpiade Tokyo karena masalah yang muncul selama persiapan.  

Menjelang Olimpiade Tokyo, Eko sempat berpolemik dengan Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI). Namun, ia tetap dimasukkan dalam kontingen yang dikirim ke Jepang.
 
Eko meninggalkan Pelatnas pada 15 Januari lalu karena Pengurus Besar  (PB) PABSI tak memenuhi permintaannya menambah pelatih.

"Seminggu latihan di sana dikasih jawaban ditolak. Padahal sudah komitmen," kata Eko saat ditemui Tempo di Hotel Century Park, Jakarta, Rabu, 14 April lalu.

- Advertisement -

Polemik antara Eko dengan PB PABSI itu sudah berlangsung sejak pertengahan tahun lalu ketika dia memutuskan meninggalkan Pelatnas dan berlatih mandiri di rumahnya di Bekasi, Jawa Barat.

Baca Juga:  Aplikasi Helo Resmi Hadir di Indonesia, Simak Keunggulannya

Menurut Eko, keinginannya memasukkan Lukman sebagai pelatih tambahan, karena merasa cocok dengan program yang diberikan. Di Olimpiade Beijing 2008 dan Olimpiade London 2012, Lukman melatih Eko yang berhasil meraih medali perunggu. Adapun, di Olimpiade Rio de Jainero 2016, ia dilatih Dirdja Wihardja dan menyumbang medali perak.

- Advertisement -

Eko mengaku telah mengkomunikasikan keinginannya dilatih Lukman kepada Wakil Ketua Umum PB PABSI Djoko Pramono, pelatih Dirja Wihardja, dan Erwin Abdullah, serta Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PB PABSI, Hadi Wihardja.

"Setelah itu disampaikan ke ketua umum, dengan komitmen masuk ke mess pada 11 Januari," ujar lelaki asal Lampung itu.

Djoko, kata Eko, menolak permintaannya karena khawatir akan merusak harmonisasi tim yang telah terbentuk.

Baca Juga:  Terkait Teror Gerombolan Bertopeng, Mahasiswa India Gelar Unjuk Rasa

Menurut Eko permintaannya itu tidak otomatis mengganti Erwin Abdullah yang selama ini mendampinginya dan memberikan program latihan.

"Tak ada masalah, Pak Erwin terbuka kok. Kita bisa berkolaborasi bareng," ucap dia seperti dilansir Majalah Tempo edisi 17 April 2021 dalam artikel berjudul "Pilih-pilih Pelatih Angkat Besi".

Namun keputusan PB PABSI telah bulat, Eko diberi pilihan bergabung atau mundur dari pelatnas.

“Latihan di sini silakan, mau di luar silakan, tetapi tidak bisa pakai uang APBN karena ada aturan yang dibuat pemerintah,” kata Djoko di Wisma Kwini, tempat latihan lifter Pelatnas, Senin, 12 April lalu.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Eko Yuli Irawan berhasil menyumbangkan medali perak untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo. Atlet 31 tahun itu merebutnya dari cabang angkat besi, Ahad (25/7/2021).

Editor: Hary B Koriun

Keberhasilan itu sekaligus memupus kekhawatiran bahwa Eko akan terganggu performanya di Olimpiade Tokyo karena masalah yang muncul selama persiapan.  

Menjelang Olimpiade Tokyo, Eko sempat berpolemik dengan Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI). Namun, ia tetap dimasukkan dalam kontingen yang dikirim ke Jepang.
 
Eko meninggalkan Pelatnas pada 15 Januari lalu karena Pengurus Besar  (PB) PABSI tak memenuhi permintaannya menambah pelatih.

"Seminggu latihan di sana dikasih jawaban ditolak. Padahal sudah komitmen," kata Eko saat ditemui Tempo di Hotel Century Park, Jakarta, Rabu, 14 April lalu.

Polemik antara Eko dengan PB PABSI itu sudah berlangsung sejak pertengahan tahun lalu ketika dia memutuskan meninggalkan Pelatnas dan berlatih mandiri di rumahnya di Bekasi, Jawa Barat.

Baca Juga:  Aktivis Perempuan Tewas Usai Demo Anti-Taliban

Menurut Eko, keinginannya memasukkan Lukman sebagai pelatih tambahan, karena merasa cocok dengan program yang diberikan. Di Olimpiade Beijing 2008 dan Olimpiade London 2012, Lukman melatih Eko yang berhasil meraih medali perunggu. Adapun, di Olimpiade Rio de Jainero 2016, ia dilatih Dirdja Wihardja dan menyumbang medali perak.

Eko mengaku telah mengkomunikasikan keinginannya dilatih Lukman kepada Wakil Ketua Umum PB PABSI Djoko Pramono, pelatih Dirja Wihardja, dan Erwin Abdullah, serta Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PB PABSI, Hadi Wihardja.

"Setelah itu disampaikan ke ketua umum, dengan komitmen masuk ke mess pada 11 Januari," ujar lelaki asal Lampung itu.

Djoko, kata Eko, menolak permintaannya karena khawatir akan merusak harmonisasi tim yang telah terbentuk.

Baca Juga:  Meninggal, Eks Panglima TNI Djoko Santoso Dimakamkan di Sandiego Hills

Menurut Eko permintaannya itu tidak otomatis mengganti Erwin Abdullah yang selama ini mendampinginya dan memberikan program latihan.

"Tak ada masalah, Pak Erwin terbuka kok. Kita bisa berkolaborasi bareng," ucap dia seperti dilansir Majalah Tempo edisi 17 April 2021 dalam artikel berjudul "Pilih-pilih Pelatih Angkat Besi".

Namun keputusan PB PABSI telah bulat, Eko diberi pilihan bergabung atau mundur dari pelatnas.

“Latihan di sini silakan, mau di luar silakan, tetapi tidak bisa pakai uang APBN karena ada aturan yang dibuat pemerintah,” kata Djoko di Wisma Kwini, tempat latihan lifter Pelatnas, Senin, 12 April lalu.

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari