Minggu, 30 November 2025
spot_img

Nikki Haley Bisa Jadi ’’Kartu’’ Melawan Harris

Demokrat tak ingin mengulang sejarah. Menang suara, tetapi tak duduk di singgasana. Kamala Harris diharapkan membawa perubahan. Namun, Trump masih bisa membalik keadaan.

(RIAUPOS.CO) – Pioneer (perintis). Nama itu dipilih Kamala Harris sebagai kode untuk petugas Dinas Rahasia yang menjaganya setelah dipilih Joe Biden sebagai kandidat wakil presiden (Wapres). Harris adalah perempuan kulit hitam pertama yang menjadi kandidat Wapres AS. Menang atau tidak, dia tetap perintis.

Harris menjadi ’’senjata’’ Biden untuk mengumpulkan pundi-pundi suara sekaligus memangkas peluang kemenangan Trump. Lembaga survei memang memperkirakan Biden unggul, jauh sebelum memilih Harris. Namun, dukungan untuk wakil presi­den pada era Obama itu lebih kuat setelah ada Harris.

Baca Juga:  Kompolnas Sebut Ulah Kompol Y Coreng Nama Baik Polwan

The Economist memprediksi peluang Biden mengalahkan Trump dalam pemilu 3 November sangat besar. Trump hanya memiliki satu di antara tujuh peluang memenangi electoral college atau setara 12 persen. Meski begitu, tim kampanye Biden tak mau pongah. Mereka belajar dari pengalaman pahit Pemilu 2016.

Saat itu berbagai lembaga survei mengunggulkan Hillary Clinton. Nahas, pada hari H, Clinton kalah. Dia menang popular vote, tetapi kalah di perolehan electoral vote. Trump berhasil memerahkan empat swing state, yaitu Florida, Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin.

Trump tentu masih mau berkuasa. Dia punya satu ’’senjata’’ . Mengganti Mike Pence dengan sosok perempuan kulit berwarna. Komentator politik CNN Paul Begala memprediksi sosok tersebut adalah Nikki Haley. Mantan duta besar AS untuk PBB itu dikenal sebagai pendukung Trump.

Baca Juga:  Pastikan Aspirasi Masyarakat Terserap dan Terealisasi

Haley bisa mengumpulkan suara dari para perempuan simpatisan Republik. Apalagi, Haley adalah perempuan kulit berwarna. Dia merupakan keturunan Amerika-India. Jika Trump memilih Haley, siapa pun yang menang, AS bakal memiliki wakil presiden perempuan untuk kali pertama.

Begala menilai Haley bisa menjadi ’’tiket’’ untuk mencuri perhatian dari Konvensi Nasional Demokrat (DNC). Memilih Haley membuat Trump kembali mendapat sorotan tanpa beriklan. (sha/c14/fat/jpg)

Laporan JPG, Jakarta

 

Demokrat tak ingin mengulang sejarah. Menang suara, tetapi tak duduk di singgasana. Kamala Harris diharapkan membawa perubahan. Namun, Trump masih bisa membalik keadaan.

(RIAUPOS.CO) – Pioneer (perintis). Nama itu dipilih Kamala Harris sebagai kode untuk petugas Dinas Rahasia yang menjaganya setelah dipilih Joe Biden sebagai kandidat wakil presiden (Wapres). Harris adalah perempuan kulit hitam pertama yang menjadi kandidat Wapres AS. Menang atau tidak, dia tetap perintis.

Harris menjadi ’’senjata’’ Biden untuk mengumpulkan pundi-pundi suara sekaligus memangkas peluang kemenangan Trump. Lembaga survei memang memperkirakan Biden unggul, jauh sebelum memilih Harris. Namun, dukungan untuk wakil presi­den pada era Obama itu lebih kuat setelah ada Harris.

Baca Juga:  Keterbukaan Informasi Indragiri Hulu Diapresiasi 5 Kali KI Award

The Economist memprediksi peluang Biden mengalahkan Trump dalam pemilu 3 November sangat besar. Trump hanya memiliki satu di antara tujuh peluang memenangi electoral college atau setara 12 persen. Meski begitu, tim kampanye Biden tak mau pongah. Mereka belajar dari pengalaman pahit Pemilu 2016.

Saat itu berbagai lembaga survei mengunggulkan Hillary Clinton. Nahas, pada hari H, Clinton kalah. Dia menang popular vote, tetapi kalah di perolehan electoral vote. Trump berhasil memerahkan empat swing state, yaitu Florida, Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin.

- Advertisement -

Trump tentu masih mau berkuasa. Dia punya satu ’’senjata’’ . Mengganti Mike Pence dengan sosok perempuan kulit berwarna. Komentator politik CNN Paul Begala memprediksi sosok tersebut adalah Nikki Haley. Mantan duta besar AS untuk PBB itu dikenal sebagai pendukung Trump.

Baca Juga:  Harga Karet Paling Rendah Sepanjang Sejarah

Haley bisa mengumpulkan suara dari para perempuan simpatisan Republik. Apalagi, Haley adalah perempuan kulit berwarna. Dia merupakan keturunan Amerika-India. Jika Trump memilih Haley, siapa pun yang menang, AS bakal memiliki wakil presiden perempuan untuk kali pertama.

- Advertisement -

Begala menilai Haley bisa menjadi ’’tiket’’ untuk mencuri perhatian dari Konvensi Nasional Demokrat (DNC). Memilih Haley membuat Trump kembali mendapat sorotan tanpa beriklan. (sha/c14/fat/jpg)

Laporan JPG, Jakarta

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Demokrat tak ingin mengulang sejarah. Menang suara, tetapi tak duduk di singgasana. Kamala Harris diharapkan membawa perubahan. Namun, Trump masih bisa membalik keadaan.

(RIAUPOS.CO) – Pioneer (perintis). Nama itu dipilih Kamala Harris sebagai kode untuk petugas Dinas Rahasia yang menjaganya setelah dipilih Joe Biden sebagai kandidat wakil presiden (Wapres). Harris adalah perempuan kulit hitam pertama yang menjadi kandidat Wapres AS. Menang atau tidak, dia tetap perintis.

Harris menjadi ’’senjata’’ Biden untuk mengumpulkan pundi-pundi suara sekaligus memangkas peluang kemenangan Trump. Lembaga survei memang memperkirakan Biden unggul, jauh sebelum memilih Harris. Namun, dukungan untuk wakil presi­den pada era Obama itu lebih kuat setelah ada Harris.

Baca Juga:  Pelajaran SD hingga SMA Disiarkan lewat TVRI

The Economist memprediksi peluang Biden mengalahkan Trump dalam pemilu 3 November sangat besar. Trump hanya memiliki satu di antara tujuh peluang memenangi electoral college atau setara 12 persen. Meski begitu, tim kampanye Biden tak mau pongah. Mereka belajar dari pengalaman pahit Pemilu 2016.

Saat itu berbagai lembaga survei mengunggulkan Hillary Clinton. Nahas, pada hari H, Clinton kalah. Dia menang popular vote, tetapi kalah di perolehan electoral vote. Trump berhasil memerahkan empat swing state, yaitu Florida, Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin.

Trump tentu masih mau berkuasa. Dia punya satu ’’senjata’’ . Mengganti Mike Pence dengan sosok perempuan kulit berwarna. Komentator politik CNN Paul Begala memprediksi sosok tersebut adalah Nikki Haley. Mantan duta besar AS untuk PBB itu dikenal sebagai pendukung Trump.

Baca Juga:  Puncaki Top Billboard 200, SuperM Ucapkan Terima Kasih

Haley bisa mengumpulkan suara dari para perempuan simpatisan Republik. Apalagi, Haley adalah perempuan kulit berwarna. Dia merupakan keturunan Amerika-India. Jika Trump memilih Haley, siapa pun yang menang, AS bakal memiliki wakil presiden perempuan untuk kali pertama.

Begala menilai Haley bisa menjadi ’’tiket’’ untuk mencuri perhatian dari Konvensi Nasional Demokrat (DNC). Memilih Haley membuat Trump kembali mendapat sorotan tanpa beriklan. (sha/c14/fat/jpg)

Laporan JPG, Jakarta

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari