Minggu, 11 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Mengawasi Protokol Kesehatan di Sekolah

Kemarin, Senin (16/11), pelajar mulai sekolah. Walau tak lama jam belajarnya, tetapi bagi mereka ini sangat dirindukan, sebab sudah lama tak sekolah tatap muka langsung di lokal.

Bagaimana pun memulai sekolah tatap muka langkah berisiko, sebab jumlah penularan Covid-19 masih meluas. Untuk itu, perlu penerapan protokol kesehatan yang ketat, agar guru dan anak-anak tidak tertular.

Kita ketahui bersama bahwa saat ini orang tanpa gejala (OTG) sangat banyak, dan jangan dikira orang yang sehat mereka bebas dari Covid-19. Mungkin saja mereka nampak sehat karena daya tahan tubuhnya (imunitas) masih kuat, sementara anak-anak belum tentu mereka semua imunitasnya kuat, maka dalam sekolah tatap muka ini harus menerapkan protokol kesehatan, salah satunya 3 M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak).

Memakai masker adalah salah satu syarat bagi guru, anak-anak, pengantar anak ke sekolah, staf dan komunitas lainnya di sekolah. Dengan memakai masker, maka penularan Covid-19 pun terhalang.

Namun itu tidak cukup, harus juga mencuci tangan. Kelihatannya mencuci tangan sepele, tetapi dengan mencuci tangan, anak-anak, guru dan komunitas sekolah lainnya akan selamat. Sebab tangan yang terkena virus akan menularkan ke dalam tubuh melalui mata, hidung, mulut atau anggota tubuh lainnya, makanya cuci tangan dengan sabun itu sangat penting.

Kemudian, menjaga jarak. Jaga jarak bukan hanya pada orang yang kurang kita kenal, tetapi dengan sahabat dekat yang lama tak jumpa dan orang terdekat kita harus diterapkan. Kita tidak tahu apakah mereka terkena Covid-19 atau tidak. Makanya sebaiknya jaga jarak.

Terkait dengan 3 M ini makanya sekolah harus menyediakan fasilitas cuci tangan, sabun, dan hand sanitize di lingkungan sekolah.

Idealnya memang seluruh komunitas di sekolah; guru, staf, satpam, petugas kebersihan, penjaga kantin dan lainnya sudah dilakukan tes swab atau minimal rapid test, sehingga wilayah sekolah steril (aman) dari Covid 19). Bila perlu setiap hari, dipantau kebersihan sekolah, sehingga menjelang anak-anak masuk sekolah dipastikan sekolah sudah aman dari ancaman Covid-19.

Khusus pelajar yang akan sekolah, pastikan mereka dan keluarganya sudah sehat, bila perlu rapid test, sehingga anak-anak lainnya di sekolah pun aman dari Covid-19. Kelihatannya kebijakan ini merepotkan, tetapi aturan ini untuk menjaga komunitas sekolah aman dari Covid-19, jika tidak, maka dikhawatirkan , akan memunculkan klaster-klaster baru di sekolah-sekolah.

Demikian juga, bila suhu tubuh pelajar, keluarganya, guru, staf dan lainnya yang terkait dengan komunitas sekolah, atau demam atau gejala-gejala lainnya seperti gejala flu, maka sebaiknya tidak masuk ke sekolah. Karena ini akan menyebabkan penularan ke komunitas lainnya di sekolah.

Sebaiknya sosialisasi kepada orang tua anak dan semua komunitas sekolah tentang pentingnya mematuhi protokol kesehatan, agar komunitas sekolah tetap waspada. Bila perlu dibuat pengumuman atau baliho bagaimana proktol kesehatan di sekolah. Begitu juga anak-anak, dan komunitas lainnya di sekolah, dilarang berkerumun, karena khawatir akan menularkan Covid-19. Semoga usaha yang dilakukan pemerintah untuk peningkatan pendidikan ini aman dan seluruh komponen sekolah selamat.***

 

Kemarin, Senin (16/11), pelajar mulai sekolah. Walau tak lama jam belajarnya, tetapi bagi mereka ini sangat dirindukan, sebab sudah lama tak sekolah tatap muka langsung di lokal.

Bagaimana pun memulai sekolah tatap muka langkah berisiko, sebab jumlah penularan Covid-19 masih meluas. Untuk itu, perlu penerapan protokol kesehatan yang ketat, agar guru dan anak-anak tidak tertular.

Kita ketahui bersama bahwa saat ini orang tanpa gejala (OTG) sangat banyak, dan jangan dikira orang yang sehat mereka bebas dari Covid-19. Mungkin saja mereka nampak sehat karena daya tahan tubuhnya (imunitas) masih kuat, sementara anak-anak belum tentu mereka semua imunitasnya kuat, maka dalam sekolah tatap muka ini harus menerapkan protokol kesehatan, salah satunya 3 M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak).

Memakai masker adalah salah satu syarat bagi guru, anak-anak, pengantar anak ke sekolah, staf dan komunitas lainnya di sekolah. Dengan memakai masker, maka penularan Covid-19 pun terhalang.

Namun itu tidak cukup, harus juga mencuci tangan. Kelihatannya mencuci tangan sepele, tetapi dengan mencuci tangan, anak-anak, guru dan komunitas sekolah lainnya akan selamat. Sebab tangan yang terkena virus akan menularkan ke dalam tubuh melalui mata, hidung, mulut atau anggota tubuh lainnya, makanya cuci tangan dengan sabun itu sangat penting.

- Advertisement -

Kemudian, menjaga jarak. Jaga jarak bukan hanya pada orang yang kurang kita kenal, tetapi dengan sahabat dekat yang lama tak jumpa dan orang terdekat kita harus diterapkan. Kita tidak tahu apakah mereka terkena Covid-19 atau tidak. Makanya sebaiknya jaga jarak.

Terkait dengan 3 M ini makanya sekolah harus menyediakan fasilitas cuci tangan, sabun, dan hand sanitize di lingkungan sekolah.

- Advertisement -

Idealnya memang seluruh komunitas di sekolah; guru, staf, satpam, petugas kebersihan, penjaga kantin dan lainnya sudah dilakukan tes swab atau minimal rapid test, sehingga wilayah sekolah steril (aman) dari Covid 19). Bila perlu setiap hari, dipantau kebersihan sekolah, sehingga menjelang anak-anak masuk sekolah dipastikan sekolah sudah aman dari ancaman Covid-19.

Khusus pelajar yang akan sekolah, pastikan mereka dan keluarganya sudah sehat, bila perlu rapid test, sehingga anak-anak lainnya di sekolah pun aman dari Covid-19. Kelihatannya kebijakan ini merepotkan, tetapi aturan ini untuk menjaga komunitas sekolah aman dari Covid-19, jika tidak, maka dikhawatirkan , akan memunculkan klaster-klaster baru di sekolah-sekolah.

Demikian juga, bila suhu tubuh pelajar, keluarganya, guru, staf dan lainnya yang terkait dengan komunitas sekolah, atau demam atau gejala-gejala lainnya seperti gejala flu, maka sebaiknya tidak masuk ke sekolah. Karena ini akan menyebabkan penularan ke komunitas lainnya di sekolah.

Sebaiknya sosialisasi kepada orang tua anak dan semua komunitas sekolah tentang pentingnya mematuhi protokol kesehatan, agar komunitas sekolah tetap waspada. Bila perlu dibuat pengumuman atau baliho bagaimana proktol kesehatan di sekolah. Begitu juga anak-anak, dan komunitas lainnya di sekolah, dilarang berkerumun, karena khawatir akan menularkan Covid-19. Semoga usaha yang dilakukan pemerintah untuk peningkatan pendidikan ini aman dan seluruh komponen sekolah selamat.***

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Kemarin, Senin (16/11), pelajar mulai sekolah. Walau tak lama jam belajarnya, tetapi bagi mereka ini sangat dirindukan, sebab sudah lama tak sekolah tatap muka langsung di lokal.

Bagaimana pun memulai sekolah tatap muka langkah berisiko, sebab jumlah penularan Covid-19 masih meluas. Untuk itu, perlu penerapan protokol kesehatan yang ketat, agar guru dan anak-anak tidak tertular.

Kita ketahui bersama bahwa saat ini orang tanpa gejala (OTG) sangat banyak, dan jangan dikira orang yang sehat mereka bebas dari Covid-19. Mungkin saja mereka nampak sehat karena daya tahan tubuhnya (imunitas) masih kuat, sementara anak-anak belum tentu mereka semua imunitasnya kuat, maka dalam sekolah tatap muka ini harus menerapkan protokol kesehatan, salah satunya 3 M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak).

Memakai masker adalah salah satu syarat bagi guru, anak-anak, pengantar anak ke sekolah, staf dan komunitas lainnya di sekolah. Dengan memakai masker, maka penularan Covid-19 pun terhalang.

Namun itu tidak cukup, harus juga mencuci tangan. Kelihatannya mencuci tangan sepele, tetapi dengan mencuci tangan, anak-anak, guru dan komunitas sekolah lainnya akan selamat. Sebab tangan yang terkena virus akan menularkan ke dalam tubuh melalui mata, hidung, mulut atau anggota tubuh lainnya, makanya cuci tangan dengan sabun itu sangat penting.

Kemudian, menjaga jarak. Jaga jarak bukan hanya pada orang yang kurang kita kenal, tetapi dengan sahabat dekat yang lama tak jumpa dan orang terdekat kita harus diterapkan. Kita tidak tahu apakah mereka terkena Covid-19 atau tidak. Makanya sebaiknya jaga jarak.

Terkait dengan 3 M ini makanya sekolah harus menyediakan fasilitas cuci tangan, sabun, dan hand sanitize di lingkungan sekolah.

Idealnya memang seluruh komunitas di sekolah; guru, staf, satpam, petugas kebersihan, penjaga kantin dan lainnya sudah dilakukan tes swab atau minimal rapid test, sehingga wilayah sekolah steril (aman) dari Covid 19). Bila perlu setiap hari, dipantau kebersihan sekolah, sehingga menjelang anak-anak masuk sekolah dipastikan sekolah sudah aman dari ancaman Covid-19.

Khusus pelajar yang akan sekolah, pastikan mereka dan keluarganya sudah sehat, bila perlu rapid test, sehingga anak-anak lainnya di sekolah pun aman dari Covid-19. Kelihatannya kebijakan ini merepotkan, tetapi aturan ini untuk menjaga komunitas sekolah aman dari Covid-19, jika tidak, maka dikhawatirkan , akan memunculkan klaster-klaster baru di sekolah-sekolah.

Demikian juga, bila suhu tubuh pelajar, keluarganya, guru, staf dan lainnya yang terkait dengan komunitas sekolah, atau demam atau gejala-gejala lainnya seperti gejala flu, maka sebaiknya tidak masuk ke sekolah. Karena ini akan menyebabkan penularan ke komunitas lainnya di sekolah.

Sebaiknya sosialisasi kepada orang tua anak dan semua komunitas sekolah tentang pentingnya mematuhi protokol kesehatan, agar komunitas sekolah tetap waspada. Bila perlu dibuat pengumuman atau baliho bagaimana proktol kesehatan di sekolah. Begitu juga anak-anak, dan komunitas lainnya di sekolah, dilarang berkerumun, karena khawatir akan menularkan Covid-19. Semoga usaha yang dilakukan pemerintah untuk peningkatan pendidikan ini aman dan seluruh komponen sekolah selamat.***

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari